
Tersenyum dianya padaku, manis, manis, manis, 😘😘😘😘
...*H A P P Y R E A D I N G*...
Semalam susah tidur dan sekarang terbangun di pagi buta. Rina tak pernah mengira perkenalan dengan Dika akan membawanya pada takdir yang tak pernah ia sangka.
Namun dia masih didera resah, jika ijab kabul belum disambung dengan kata sah. Namun ia juga belum siap Menanggalkan status lajang diusia yang bahkan belum genap 20 tahun.
Matanya sudah terjaga di bawah selimut yang menutup hingga sebatas dada. "Masa iya aku harus nikah muda? Tapi Dika bahkan punya segalanya, kecuali usia yang bisa dikatakan cukup untuk membina rumah tangga."
Rina bergumam dalam kamarnya yang temaram. Dia meraih ponselnya di atas nakas, membuka sosmed yang yang sudah jarang di jamahnya.
R_Malinda02
Hai dunia, aku bahagia.
#latepost #nightbeach
Ia segera menutup laman instagramnya. Dan kembali meletakkan ponselnya di atas nakas.
Baru saja ia ingin kembali memejamkan mata, ponselnya tiba-tiba bergetar.
Rina langsung menggeser tombol hijau saat melihat nama Dika yang tertera di sana.
"Halo..."
"Ngapain jam segini masih sempet posting di instahram?"
"Aku, kebangun..." jujur Rina.
"Mikirin aku?"
Rina diam. Terlalu biasa jika ia harus menjawab iya.
"Iya kan?"
"Emmm...." meskipun benar, Rina masih gengsi untuk menjawab iya. "Kamu juga kenapa bangun?" Rina balik bertanya agar Dika tak terus menggodanya.
"Aku baru selesai kerja sayang, ini baru mau tidur..."
Rina menghela nafas. "Kamu nggak capek? Perasaan papa nggak pernah deh kerja sampai selarut ini."
"Aku belum mampu bekerja secepat mereka yang sudah punya pengalaman lama sayang, nanti kalau udah biasa juga nggak sampe jam segini selesainya."
"Kamu kenapa nggak minta bantuan sama siapa gitu?"
"Ini semua tanggungjawab aku, kalau aku terus minta bantuan, kapan aku bisanya." Dika menghela nafas saat mendengar Rina diam saja. "Apa kamu takut dengan masa depan yang akan kamu jalani bersamaku?"
"Nggak," jawab Rina dengan menggeleng kan kepala.
"Ya udah, kamu sekarang tidur, berangkat sekolah aku jemput."
__ADS_1
"Jang..."
"Nggak usah ngebantah sayang ya, belajar nurut sama calon suami." Dika terkekeh di ujung kalimatnya.
"Dih..."
"Kenapa, nggak mau?"
"Iihh, mending kamu tidur deh, besok mau nganter calon istri sekolah." Rina juga geli mendengar bagaimana ia menyebut dirinya.
"Oke, bye sayang."
"Bye..."
Rina segera mematikan sambungan telponnya. Ya Tuhan, semoga semua berjalan baik-baik saja.
***
"Mama..." Rina dengan handuk di kepalanya menghampiri sang mama yang sedang menyiapkan sarapan.
"Udah wangi nih anak Mama. Tadi sempet subuh nggak?"
"Sempet dong Ma, kalau nggak solat kan dosa," jawab Rina sambil menggosok rambutnya yang basah.
"Nah itu tahu. Lha terus yang hampir tiap pagi bangunnya hampir jam setengah tujuh itu siapa ya..."
Rina nyengir, "Ita sebelum dapet hidayah Ma."
"Belum dapet hidayah apa belum diklaim jadi calon istri orang?" tanya Ririn dengan tatapan menggoda.
"Ih Mama apaan sih..."
"Oke Ma..."
Rina terus berada di dapur dengan Ririn hingga semua tertata rapi di meja makan.
"Kamu mending cepet siap-siap terus kita sarapan bareng."
"Dika nanti sarapan sini lagi ya Ma?"
"Kok malah nanyain Dika sih?"
"Ya jadi inget waktu itu aja, pas Rina bantuin Mama terus di suruh cepet siap-siap. Nggak tahunya Dika mau ikut sarapan."
Ririn terkekeh. "Mama juga kena prank waktu itu, katanya dia mau magang, nggak tahunya malah yang punya perusahaan."
Ririn dan Rina tertawa mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu. Kemudian Rina segera ke kamar dan bersiap untuk pergi ke sekolah.
Hingga waktu sarapan tiba, Rina dan orang tuanya sarapan bersama.
"Rina nanti berangkat sama siapa?" tanya Reno pada putri semata wayangnya.
"Dijemput Dika Pa..." jawab Rina sambil menikmati sarapan di hadapannya.
"Dia nggak ke kantor?"
Rina meletakkan sendoknya. "Dika kayaknya kok sibuk banget sih Pa, apa emang seribet itukah orang kerja."
__ADS_1
Reno menatap lekat putrinya. "Dika itu beda, dia butuh lebih banyak waktu untuk bekerja dari pada Papa." Reno menghela nafas. "Kamu tahu kan kalau Papa hanya memimpin 1 perusahaan saja? Itupun di waktu tertentu Papa masih harus lembur. Sedangkan Dika, dia itu bisa dikata pemilik perusahaan. Yang ia urus tak hanya 1 perusahaan induk tapi beserta cabang-cabangnya. Kamu tahu kan seberapa besar Surya Group."
Rina mengangguk paham. "Apa dia mampu?"
Reno tersenyum saat menatap Rina. "Ada peran penting wanita di sini, yang mensupport dia, yang menjadi sandaran dalam lelahnya, yang bisa mendengar keluh kesahnya, dan menjadi rumah yang dirindukan untuk pulang. Tidak mudah untuk menjadi wanita yang kelak bersanding dengan Dika, untuk itu Papa tadi malam tak mau buru-buru membahas pernikahan, meskipun orang tua Dika sepertinya tak keberatan dengan pernikahan usia muda. Papa ingin yang terbaik untuk kamu Nak, dan itu semua tak melulu berkaitan dengan uang."
"Udah dulu ngobrolnya, cepet habisin ya sarapannya."
Saat Ririn menyelesaikan ucapannya, terdengar seru mobil yang berhenti di depan rumah mereka.
"Udah, Mama aja," kata Ririn saat melihat Rina hendak bangkit dari tempat duduknya.
Tak berselang lama, Ririn sudah berjalan beriringan dengan Dika.
"Om..." Dika mencium tangan Reno.
"Sarapan dulu ya..." Ririn meletakkan sebuah piring di hadapan Dika.
"Makasih Tan, tadi udah sarapan di rumah Ayah.
"Jadi nginep di sana?" tanya Reno.
"Iya Om, semalem dipaksa sama mama," jawab Dika dengan senyum di wajahnya.
"Nih, minum ini aja." Ririn menyodorkan segelas susu segar di hadapan Dika.
"Dikasih susu terus kalau Dika ketinggian gimana Tan..." canda Dika sambil meraih susu di hadapannya.
"Nggak apa-apa. Kali aja jodoh kamu tingginya mepet, kan lumayan bisa memperbaiki keturunan..."
"Uhuk..."
Rina cepat-cepat meraih lap untuk membersihkan susu yang baru saja di semburkannya.
"Kamu kenapa, Mama kan nggak lagi nyindir." Ririn tertawa geli melihat tingkah konyol putrinya.
Dika meraih tissue yang berada tak jauh darinya. Dia mendekat dan mulai membersihkan seragam Rina.
"Sini." Rina meraih tissue itu dari Dika dan mulai membersihkan dirinya sendiri. "Berangkat aja yuk..."
"Bentar ini aku habisin..." Dika meraih gelas susu di hadapannya dan mulai meminumnya.
Rina segera bangkit saat melihat Dika telah menghabiskan susunya. "Ma, Pa..., kita berangkat ya..." pamit Rina pada kedua orang tuanya.
"Hati-hati..."
"Iya, kita pamit Om, Tante..."
Mereka berlalu setelah bersalaman dengan Reno dan Ririn.
"Masih mikirin semalem?" tanya Dika ketika mobilnya mulai melaju.
Rina mengangguk. "Aku pikir semua akan berakhir..."
"Enggak sayang." Dika meraih tangan Rina untuk digenggamnya. "Aku sayang banget sama kamu..."
"Aku juga. Aku bahkan sekarang takut banget kehilangan kamu..."
__ADS_1
Dika mencium tangan Rina yang digenggamnya. Aku berharap kamu mampu terus bertahan di sampingku.
TBC