
Kandungan Hana selamatkan.
*Say ***alhamdulillah dulu dong, hehehe
Kasih selamat juga buat Rina yang akhirnya hamil padahal lagi break program promil karena tubuhnya nggak mampu menerima hormon tambahan yang dimasukkan.**
HAPPY READING
Lili sudah pulang dan malam ini hanya tersisa Andre yang menemani Hana. Andre sedikit lega karena salah satu ketakutan terbesarnya sudah dapat ia atasi. Dika sudah tahu perihal hubungannya dengan Hana. Masalah suka atau tidak itu masalah belakangan yang jelas hubungannya sudah diketahui dan diterima.
Sekarang yang jadi masalah adalah orang tuanya dan Galih Rahardja. Orang tuanya yang belum tentu bisa menerima Hana dengan asal-usulnya, dan Galih Rahardja yang sepertinya belum mau melepas Hana meskipun ia enggan mengakui wanita ini sebagai anaknya.
Malam semakin larut dan dipastikan tidak akan ada perawat atau dokter yang akan masuk. Andre mengunci setelah menutup pintu dan jendela, Andre berjalan menghampiri Hana. Entah parno atau apa, yang jelas dia bahkan menyiagakan dua orang demi keamanan wanitanya.
“Ndre…”
Andre yang sedang menutup tirai langsung balik badan saat mendengar Hana memnggil namanya.
“Kamu belum tidur?” tanya Andre yang semula mengira Hana sudah jauh terbang ke alam mimpi. Ia kemudian berjalan menghampiri wanitanya.
Hana tersenyum dan menggeleng ke arahnya. “Kamu pulang aja, aku nggak apa-apa sendiri,” ujar Hana karena yakin papa dari anak yang dikandungnya ini pasti lelah sekarang.
“Ya mana bisa.” Andre berhenti tepat di samping Hana. Ia meletakkan tangannya di atas kepala wanitanya, dan mengusap lembut surai lembutnya.
“Ya bisa, tinggal pulang aja kan.”
Andre menggeleng. “No. Aku takut kalau balik ke sini besok kamu hilang lagi.”
“Tenang. Selama aku nggak di suruh pulang, aku bakal tetep stay di sini.”
“Aku tetep nggak mau ninggalin kamu,” kekeh Andre. Ia kemudian mencium kening Hana. Entah sudah berapa kali ia mencium kening Hana hari ini, tapi rasanya tak pernah cukup dan ia ingin terus melakukannya. Tangannya bergerak turun dan berhenti di perut Hana. Ia mengusap lembut perut berisi anaknya yang sebenarnya masih rata ini.
“Hi Andre Junior. Baik-baik ya di perut Mommy, jangan bikin Mommy sedih, jangan bikin Mommy susah…” Andre mengakhiri ujarannya dengan mencium perut Hana sebelum kembali menegakkan tubuhnya.
“Masih sakit nggak?” tanya Andre yang masih mengusap lembut perut Hana.
__ADS_1
“Nggak sih, cuma kenceng aja rasanya. Kayak ketarik gitu perutnya…” ujar Hana sambil menatap Andre yang mengusap-usap perutnya. “Apa kamu benar-benar menginginkan dia?” lirih Hana sambil menatap Andre.
Andre mengangkat wajahnya dan pandangannya langsung bertemu dengan Hana. Saling tatap seperti ini ternyata membuat keduanya berdebar. Ujung bibir Andre dan Hana sama-sama tertarik dan keduanya saling membuang wajah karena mendadak salah tingkah.
Tiba-tiba Andre naik ke atas brankar dan mengambil posisi di samping Hana.
“Kamu mau ngapain?” kaget Hana.
“Mau tidur di sini. Emang mau ngapain lagi?” jawab Andre sambl ikut berbaring di samping Hana.
“Tapi…”
“Sssttt.” Andre meletakkan telunjuknya di depan bibir Hana. “Aku mau deketan sama Andre junior,” ujar Andre tak terbantahkan. Seharian tadi Andre benar-benar bersikap lembut, tapi sepertinya kini ia sudah berubah menjadi dia seperti biasanya. Kini ia menelusupkan lengannya bawah kepala Hana dan sebelah lengannya lagi ia letakkan di perut Hana.
“Hana…”
“Hmm…”
“Keluar dari sini kamu tinggal lagi sama aku ya,” pinta Andre dengan suara rendak karena kini ia berbicara persis di belakang telinga Hana.
“Kenapa? Bukankah kamu juga baru mengenal mereka?” protes Andre tak terima karena Hana memilih untuk tinggal dengan orang lain ketimbang dengannya.
“Ya, at least aku merasa punya harga diri kalau aku tinggal di sana.”
“Maksud kamu?” Andre benar-benar tak paham dengan cara Hana berfikir ini.
Hanya deru nafas yang menjadi jawaban Hana atas pertanyaan Andre.
Andre memiringkan tubuhnya dan menarik lengannya yang semula ia tempatkan di bawah kepala Hana. Sekarang ia menggunakan lengan itu untuk menyangga kepalanya. “Kenapa kamu sekarang jadi hobi sekali diam. Apa mulut yang ini tak mau bersuara jika mulut yang satunya tak diberi umpan?” tanya Andre dengan bibir tersenyum dan alis naik turun.
“Ngomong apa sih?”
Tangan Andre bergerak menyusuri wajah Hana. Ia sempat mencubit hidung lancip Hana sebelum berhenti di dagunya. “Otak cerdasmu memang tak berfungsi dengan baik untuk masalah semacam ini. Tunggu kamu baikan, nanti akan aku peragakan.”
Andre merebahkan kepalanya dan memeluk Hana lagi sebelum bersiap memejamkan mata. Benar perkiraan Hana, ia sangat lelah dan ia harus istirahat meski besok ia tak akan bekerja dan memanfaat hari terakhir masa liburnya untuk seharian bersama Hana.
__ADS_1
***
Setelah menempuh perjalanan selama hampir 8 jam, akhirnya Ken dan Dian tiba juga di tempat tujuan. Mereka tak langsung menuju kediaman sang nenek, melainkan singgah di hotel terlebih dahulu karena Dian sudah mengeluh kelelahan.
“Apa kamu tak sanggup membayar dua kamar?” tanya Dian pada Ken saat melihat Ken memasukkan barang keduanya ke kamar yang sama.
“Uangku sudah habis untuk menyewa pesawat tadi, jadi aku sekarang sudah tak punya uang lagi,” ujar Andre sambil melepas sepatunya.
“Kalau memang nggak ada kenapa nggak bilang. Kamu pikir aku perempuan yang maunya semua gratisan,” kesal Dian.
“Aku tahu kamu punya banyak uang, makanya aku gengsi kalau sampai ketahuan miskinnya. Eh, eh mau kemana?” cegah Ken saat Dian tiba-tiba berjalan melewatinya.
“Aku mau sewa kamar, aku nggak sekamar sama kamu.”
Ken segera menahan tangan Dian saat wanita ini hendak menarik handle. “Apa kamu berfikir kalau aku akan berbuat macam-macam?”
“Emm…" Meskipun iya tapi Dian tak enak kalau harus berkata jujur tantang apa yang ada di kepalanya. "Enggak sih, ya aneh aja kalau aku harus tidur dengan laki-laki.” Dan akhirnya Dian bisa berbohong dengan mulusnya.
“Yakin?”
“Ya yakin.”
“Gimana caranya kamu bisa yakin, sedangkan aku saja tidak yakin?”
Dian menghela nafas. “Ya…” Dian berusaha mencari alasan sambil membuang tatapannya ke sembarang arah. “Ya aku sudah lama kenal sama kamu Ken, dan kamu sekali pun tak pernah mencoba untuk berbuat lebih padaku.”
Perlahan Ken mendorong tubuh Dian untuk merapat ke tembok. “Aku tak pernah mau melakukan apa pun jika itu berdasarkan paksaan. Dan di hari-hari yang lalu kamu belum bersedia menerimaku.”
Ken membawa wajah Dian kehadapannya sehingga mata keduanya kini bertemu dan saling menatap. “Dian, aku benar-benar menyayangimu, aku benar-benar mencintaimu, aku benar-benar menginginkamu.”
“Now, please answer me. Apa kamu benar-benar mencintaiku, apa kamu benar-benar menginginkanku, apa kamu benar-benar yakin ingin hidup bersamaku?”
Dian menatap mata Ken. Matanya sipit tapi tajam, kulitnya begitu putih tak seperti dirinya yang memiliki tone dibawahnya meskipun tak kalah cerah karena banyaknya perawatan yang ia lakukan. Rambut Ken lurus, perawakannya bagus dan tubuhnya atletis. Perawakannya juga tinggi membuat Dian terlihat mungil dengan tingginya yang 173.
“Ken, I wanna be yours…”
__ADS_1
Bersambung…