
HAPPY READING
“Terus aku kudu ngapain?” kembali Hana bertanya karena Andre masih belum menjawabnya.
“Kamu nggak perlu ngapa-ngapain. Kamu hanya perlu ada di jangkauan mataku. Dengan begitu aku merasa kamu menyemangatiku untuk bisa mengerjakan tugas tak masuk akal yang kerap aku dapatkan.”
“Tapi aku bisa apa? Jangan-jangan aku malah bikin kamu kehilangan konsentrasi?” Mengingat Andre yang saat ada orang lain saja sering tak bisa menjaga sikap, Hana ragu apa kekasihnya ini akan bisa dengan baik bekerja kalau ada dia bersamanya.
“Banyak yang bisa kamu lakukan, dan aku memang benar-benar butuh bantuan.”
Ucapan Andre nampak meyakinkan sehingga Hana mengangguk akhirnya. “Tapi nggak ada yang kaya kemarin kan?”
“Enggak, tenang saja…”Andre menanggapi dengan senyum
bahagia.
Andre kemudian menunggu Hana bersiap-siap sembari melanjutkan pekerjaannya.
Sudah lewat jam delapan dan Andre baru berangkat sekarang. Itu semua karena Hana butuh waktu lebih untuk mempersiapkan dirinya.
“Maaf ya…” ujar Hana kala melihat Andre berkali-kali melihat jam di pergelangan tangannya.
“Nggak apa-apa. Aku yang mau juga.” Mulutnya berkata tak apa, tapi jujur Andre tak nyaman juga kalau sampai Dika tiba lebih dulu darinya.
“Kamu nggak sungkan sama pak Restu?”
“Kenapa harus sungkan,” bohong Andre.
“Ini sudah siang Andre. Bagaimana kalau kamu yang hanya sekertaris datang lebih siang daripada pemilik perusahaan?”
“Dia tak akan memecatku.”
“Ya tapi kamu nggak bisa seenaknya dong…”
“Enaknya cuma sama kamu…”
Hana mendengus. “Tumben nggak menthelengin data. Emang kerjaan kamu sudah beres semua?”
Hana sengaja mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin sopir yang tengah mengatarkan perjalanan mereka sekarang harus mendengar konten pembicaraan tak pantas yang akan Andre ucapkan jika tak segera Hana hentikan. Di sisi lain Andre juga merasa lega. Akhirnya Hana tak membahas masalah mereka yang datang terlambat. Ia yakin tak akan ada sanksi yang harus ia hadapi, tapi tetap saja ini bertentangan dengan profesionalisme kerja yang ia junjung tinggi selama ini.
“Yang urgent sudah teratasi?”
“Yang nggak urgent?”
__ADS_1
“Bisa nanti…” Andre masih berusaha bersikap santai.
Andre memang menata hidupnya dengan baik. Sehingga saat ia memutuskan sesuatu, ia sudah memikirkan dengan mantab segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Jadi menginteruspi sesuatu yang sudah Andre putuskan bukanlah pilihan yang bijak.
Dua sejoli ini mulai melepas semua yang berkaitan dengan hal-hal yang membebani kehidupan. Mereka mulai mengobrol dan bercanda membahas hal-hal yang membuat syaraf mereka mengendur sementara sebelum kembali kencang saat mereka sudah dihadapkan dengan berbagai masalah kehidupan.
Dan tanpa terasa mereka pun tiba kantor pusat Surya Group. Tepat saat Andre dan Hana menginjakkan kali di lobi nampak sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti. Tanpa perlu bertanya semua juga tahu itu siapa yang ada di dalamnya. Menyadari hal itu, Andre memutuskan berhenti dan menunggu mereka keluar.
Dika yang terlebih dahulu keluar berhenti sejenak sesaat setelah dia keluar. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya yang masih di dalam. Keduanya kemudian berjalan disambut sapaan dari semua karyawan.
Saat menyadari Andre yang ia yakini baru tiba juga, Dika lantas menghentikan langkah di dekat sekertarisnya. Ia melihat sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangannya sebelum membalas tatapan Andre yang terlebih dahulu menatapnya.
“Apa kamu selalu seenaknya seperti ini?” tanya Dika dengan tatapan dinginnya.
“Aku tak biasa seperti ini, hanya saja kamu kemarin nyaris membuat aku gila sehingga aku sempat lupa waktu untuk bekerja,” jawab Andre dengan wajah tanpa senyumnya.
Hana menelan ludah. Ia tak dapat membayangkan bagaimana jika sampai Dika marah karena Andre baru tiba di kantor sesiang ini. Namun tanpa di duga, tiba-tiba Dika justru tertawa dan merangkul Andre dengan sebelah tangan karena yang sebelahnya masih menggenggam tangan Rina. Mereka kemudian mulai kembali berjalan.
Melihat hal ini, Hana hanya mampu nyengir dan ikut melangkah bersama tiga orang yang lainnya.
“Kamu dipaksa ikut ya Han?” Rina harus menoleh untuk menatap Hana di belakangnya karena ia berjalan di samping Dika.
“Maaf ya…” entah untuk apa Hana minta maaf, namun ia merasa benar-benar tak pantas berada di sana sekarang.
“Kenapa? Apa dia sakit?”
Rina melepaskan tautannya dengan Dika danbergabung bersama Hana mengekori para pria dari belakang. Hal ini bukan semata Rina ingin berjalan dengan Hana namun karena ia sadar jika dua pria ini sudah membahas pekerjaan, maka ia akan diacuhkan.
“Sepertinya Lili lebih nyaman mengurus toko bunga jadi setelah kontrak berakhir mungkin dia tak akan bekerja dengan ku lagi…”
“Masa iya?”
“Maksudnya?”
“Ya kan, emm…” Hana bingung bagaimana mengungkap maksudnya. Gaji yang Rina berikan sangat fantastis nominalnya jika dibanding dengan hasil dari berjualan bunga yang belum pasti nominalnya. Apa mungkin Lili rela meninggalkan pekerjaan dengan alasan tersebut atau jangan-jangan ada alasan lain yang belum orang lain ketahui.
“Malah bengong…” ujar Rina saat Hana sibuk dengan pikirannya.
Hana tersadar dari lamunannya dan tersenyum membalas Rina. Dua pasangan ini kemudian masuk lift yang akan membawa mereka ke lantai teratas gedung ini.
Bisik-bisik dimulai saat pintu lift tertutup. Kemunculan Hana beberapa kali di kantor ini mulai mencuri perhatian para karyawan. Terlebih sekarang ia juga nampak akrab dengan pemilik perusahaan ini.
Sebenarnya siapa wanita ini? Itu lah yang paling mereka ingin tahu sebenarnya. Apakah ia bagian dari perusahaan atau hanya sebagai orang dekat Andre saja.
__ADS_1
“Rencana kamu apa sekarang?” tanya Rina saat mereka tiba di lantai tempat ruang kerja Dika dan Andre berada.
Hana menatap Andre sekilas sebelum menggelengkan kepala.
“Ya udah ikut aku aja,” putus Rina.
Hana hanya diam saja, karena sejak kemunculan Dika, Andre sama sekali belum berbicara padanya. Sehingga ia belum tahu harus berbuat apa karena ia ke sini akibat Andre memaksanya.
“Ruanganku di sini Hana…”
Andre menahan tangan Hana saat wanita cantik ini terus berjalan saat ia menghentikan langkahnya.
“Dia mau aku bawa. Di ruangan kamu tak ada ruang tambahan untuk Hana menunggu, jadi lebih baik Hana ikut aku saja ke ruangan Dika,” jelas Rina.
“Ya jangan. Aku membawanya untuk membantuku di dalam,” ujar Andre yang ingin mempertahankan Hana.
“Buat apa?” tanya Dika menatap curiga.
Andre meghela nafas. Ia harus sedikit mengangkat dagunya untuk bisa membalas tatapan bosnya yang tinggi saat berdiri seperti ini. “Asal kamu tahu ya Bos, kemarin Hana yang membantu pekerjaan kami. Sampai-sampai untuk urusan client dia juga yang tangani. Terserah apa pendapat kamu tentang ini, yang jelas aku kemarin pasti gila kalau tak ada dia.”
Elis yang mejanya berada tak jauh dari mereka menghentikan gerakan tangannya saat mendengar ucapan Andre.
Hana tak hanya cantik, tapi dia memang luar biasa. Pantas saja pak Andre nampak begitu mencintainya dan melupakan hal buruk apa yang telah Hana lakukan sebelumnya. Batin Elis yang menangisi nasibnya yang serba kalah dengan Hana.
“Wah…” hanya itu yang keluar dari mulut Dika. Ia menatap Andre dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Dan kamu tahu perusahaan mana yang ia kalahkan?” tanya Andre memancing rasa ingin tahu bosnya.
“Perusahaan mana?” tanya Dika yang berhasil merasa terpancing untuk bertanya.
“Perusahaan Rahardja…” jawab Andre dengan tatapan lurus kepada atasannya.
Dika memutus kontak. Ia tersenyum sekilas dan menatap Hana.
“Terimakasih banyak…” ucapan Dika terdengar menggantung sehingga tak ada yang berani bersuara setelahnya. “Surya Group membuka pintu leba-lebar jika kamu ingin kembali ke perusahaan ini, Hana…”
Andre tersenyum samar. Di balik keramahan Dika, ia tahu bosnya ini masih menyimpan ragu untuk Hana selama ini. Meski demikian, ia sangat menghargai usaha Dika untuk menjaga perasaannya, sehingga Andre tak putus memberikan penghormatan pada bos mudanya.
“Tapi…”
“Tak usah terburu-buru menjawab.” Dika berucap tanpa peduli Hana yang hendak bicara. Ia kemudian meraih tangan Rina untuk masuk ke ruangannya.
Bersambung….
__ADS_1