
^^^Minta sarannya dong dari temen-temen author yang ngerjain cerita on-going lebih dari 1 buat ngejaga mood.^^^
^^^Selamat membaca.^^^
^^^Jangan lupa tinggalkan jejak.^^^
Di sebuah rumah besar dengan pagar bercat hitam, menjadi tempat dimana Dika menghentikan mobilnya.
"Lhah, ini rumah siapa?" Rina yang baru sadar ini bukan rumahnya sontak menanyakan itu kepada Dika.
"Rumah aku, maaf ya ada urusan mendadak jadi batu bisa nganter kamu pulang abis ini." Dika kembali melajukan mobilnya saat pagar besar itu terbuka.
Rina memandang takjub rumah megah di hadapannya. Baru kali ini memang dia berkunjung ke rumah mantan kekasihnya ini. Besar juga rumah Dika, sebenarnya cukup asri, bersih, dan rapi namun nampak begitu sepi. "Kamu tinggal sendiri di sini?" Ditolehnya Dika yang nampak serius menatap sebuah tablet di tangannya.
"Enggak, kan sama Rista," sambung Rista dari jok belakang karena yang di tanya tampak sibuk dengan hal lain.
"Aku masuk dulu ya, sudah ditunggu Pak Edo," ucap Dika yang sesaat setelah keluar melesat memasuki rumahnya.
"Pak Edo orang kepercayaan Almarhum Papa Kak," ucap Rista kala dia menangkap raut tak mengerti dari Rina. "Yuk Kak masuk."
Rina dan Rista segera mengikuti Dika untuk masuk ke rumah.
"Ke kamar Rista aja ya Kak..." ajak Rista.
Rina mengangguk saja, pasrah ditarik Rista berjalan menuju kamarnya. Saat melewati ruang tamu, tak sengaja ia melihat Dika duduk dengan tumpukan kertas ditangannya. Menatap serius setiap lembar kertas itu dengan membolak-balikkannya sesekali.
"Kak Restu emang mulai terjun ke perusahaan peninggalan almarhum Papa Kak." Rista segera menjelaskan kala Rina tampak memperhatikan kakaknya dengan sorot penasaran.
Rina terkejut setelah mendapat fakta baru mantan kekasihnya. Pacar macam apa aku ini. 2 bulan pacaran kenapa aku seperti tak tahu apa-apa tentang Dika. Rina menghela nafas, dia menyesal melewatkan banyak hal saat masih menjalin kasih dengan Dika. Kenapa semua harus terungkap sekarang saat aku dan dia tak ada hubungan apa-apa.
"Masuk Kak."
Rina pun masuk ke kamar Rista. Ia tertegun, bahkan kini dia berada di salah kamar di rumah Dika.
"Napa sih Kak, Rista perhatiin dari tadi bengong terus?" Rista melatakkan tasnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Rina berjalan mendekati Rista dan duduk disampingnya. "Kamu nggak benci sama aku Ris?"
Rista segera bangkit. "Benci? Untuk apa?"
Rina kembali menghela nafas. "Aku kan mantan pacar Kakak kamu."
"Terus kalau mantan kenapa Kak?"
"Ya...." Rina bingung harus mengatakan apa. Meskipun tubuh mereka besarnya sama, bahkan Rista lebih tinggi darinya, tetaplah dia masih anak kelas 1 SMP. "Pertama aku mantan Kakak kamu, kedua aku udah punya cowok, ketiga aku dengan nggak tahu dirinya nemplok terus sama Kakak kamu."
"Terus?"
"Terus ya kamu nggak sebel apa gimana gitu sama aku." Rina geram sendiri berbicara dengan Rista.
"Enggak," jawab Rista sambil kembali menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kok enggak?"
"Kak Rina pengennya apa sih?"
"Emm....." Rina tak berhasil menemukan alasan dibalik kengeyelannya.
"Kak Restu dulu pernah pacaran sama temen sekolahnya namanya Lusi."
__ADS_1
Lusi? Kayaknya aku nggak asing dengan nama itu. Batin Rina.
Rista diam sambil menatap langit-langit kamarnya. "Aku dulu suka banget sama dia. Tiap ketemu dia pasti bawain aku hadiah." Rista terkekeh hingga ucapannya harus terjeda. Kemudian ia menghela nafas dan kembali berkata, "tapi tiba-tiba Kak Restu mutusin dia. Aku bahkan sampai marah sama Kak Restu, namun dia masih kekeh sama keputusannya. Setelah itu Lusi jadi sering nemuin aku. Tujuannya adalah agar aku membujuk Kak Restu agar bersedia kembali dengannya." Rista kembali terdiam.
Awalnya Rina mengira, Rista akan melanjutkan ucapannya, namun hingga beberapa waktu lamanya, ternyata Rista masih diam saja. "Terus gimana Ris?" Rina turut merebahkan tubuhnya di samping Rista.
Rista menghela nafas dengan wajah yang berubah sendu. "Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja aku mendengar suara gaduh dari kamar Mama. Karena penasaran, aku segera mendekat dan membuka pintunya begitu saja." Rista kembali diam. Kembali menghela nafas berat. "Aku ngelihat Papa Rudi sama Lusi di kamar. Dan..."
"Dan apa?" desak Rina tak sabar.
"Lusi nyaris telanjang di atas tubuh Papa Rudi."
Mata Rina membola, tubuhnya menegang. Dia duduk dan menyentuh bahu Rista. "Jangan terusin ya kalau kamu nggak sanggup." Ya ampun Rista, bocah sekecil kamu harus mengalami kejadian seperti ini.
Rista bangkit dan duduk ditepian ranjang di samping Rina. Setelah berhasil mengatur nafasnya yang memburu, dia kembali berucap. "Aku marah saat itu juga sama Lusi, sama Om Rudi. Tapi apa, aku malah ditampar dan diusir!" Matanya berkaca-kaca dan wajahnya memerah karena emosi.
"Ris..."
"Makanya sekarang aku di sini Kak. Aku takut pulang ke sana."
"Terus Mama kamu gimana?"
"Mama? Nggak tahu. Mama nggak mau percaya sama aku."
Rina turut merasakan kepiluan kakak beradik ini.
"Rina, Dik, turun yuk makan!!!" Dika berteriak dari bawah.
"Turun yuk Kak." Mereka berdua kemudian bangkit. "Eh, mau ganti baju dulu?" tawar Rista.
"Enggak deh. Makasih."
Akhirnya Rina turun terlebih dahulu meninggalkan Rista. Saat baru menuruni tangga, Rina sudah disambut dengan senyum oleh Dika di meja makan.
"Eh, ada Eneng cakep. Temennya Non ya?" tanya ART di rumah Dika sambil menata makanan di meja.
Rina hanya tersenyum. Mau bilang iya tapi kok bohong. Tapi kalau nggak bohong masak iya mau ngaku kalau aku mantannya Dika.
"Eh, tapi kayak pake seragam SMA, pacarnya Den Restu ya?"
"Bibi jangan kepo deh." Dika cepat-cepat menyahut saat melihat Rina yang bingung dan salah tingkah.
"Ya abis Aden biasanya sendiri, makanya Bibi kepo kalau rame gini. Sok atuh dimakan. Bibi permisi kebelakang."
"Iya Bi," jawab Rina dengan senyum di wajahnya.
"Rista mana?" tanya Dika sebelum menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Masih ganti baju."
"Kamu cepet makan, abis itu aku anter pulang."
"Kamu ngusir aku?" tanya Rina dengan wajah memelas.
Dika meletakkan sendok dan garpunya seketika. "Rin..."
"Iya, iya. Aku paham kok."
Ddrrttt ddrrttt drrttt
__ADS_1
Dika dan Rina kompak melirik ponsel yang tengah bergetar itu. Tertera nama Rio dalam sebuah incoming call.
Dika mempersilahkan Rina untuk menjawabnya. Namun Rina menggeleng. Dika kembali fokus menatap makanannya. "Masalah itu dihadapi, jangan dihindari," ucap Dika tanpa sedikitpun menatap Rina. Aku nggak tahu masalahmu, tapi aku bakal selalu ada buat kamu.
Rina menghela nafas, sebelum akhirnya menggeser tombol hijau di layar ponselnya. "Halo Mas."
^^^"Lagi di mana?"^^^
"Emm,,,," Rina bingung.
"Mbak Riiinnnnaaa!!!!" tiba-tiba Rista datang dengan meneriakkan nama Rina.
Saat itu juga Rina segera meletakkan telunjuk di depan bibirnya agar Rista diam. Rista membekap mulutnya saat itu juga.
^^^"Rin, itu suara siapa?"^^^
"Anu, itu Mas." Rina menatap Dika, namun yang ditatap justru memalingkan muka.
"Itu suara Rista," ucap Rina akhirnya.
^^^"Rista? Dia siapa? Kayaknya kamu nggak punya temen namanya Rista"^^^
"Dia... emmmm...." Rina memandang Rista.
"Adik, adik..." ucap Rista tanpa suara dengan menunjuk dirinya.
"Aaa, dia adik aku Mas."
Dika menegang dengan mata melotot tajam menatap sang adik yang memberi ide aneh itu. Ris, aku emang masih berharap sama dia, tapi nggak gini juga caranya.
"Udah ya Mas, aku lagi makan siang nih, nggak enak sama keluarga yang lain."
^^^"Oke, perlu dijemput pulangnya?"^^^
Rina menggeleng cepat seolah Rio berada di hadapannya. "Enggak Mas, aku dianter saudaraku." Rina berucap dengan memandang Dika.
^^^"Ya udah, aku lanjut dulu."^^^
"Oke..."
Bip
"Ehm, ehm... saudara? Saudara jenis apa nih." Ucap Rista pada kedua orang dihadapannya dengan tatapan menggoda.
"Rista, kalau makan mulutnya diem!"
Rista tak berani kembali bersuara. Sepertinya Sang Kakak sedang ada pada mood yang tidak bisa diajak bercanda.
Akhirnya semua melanjutkan makan siang dalam diam. Asli, aku berasa kayak selingkuhan kalau gini. Batin Dika.
TBC.
Alhamdulillah, selesai juga part ini dear.
Makasih ya yang udah bersedia mampir.
Semoga suka sama ceritanya.
Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan jejak pada setiap kunjungan kalian.
__ADS_1
Happy reading, love you all.