Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Intimidasi


__ADS_3

HAPPY READING


“Astaga bocah. Sudah demen wanita kenapa di suruh makan sama mandi masih susah saja.”


Andre yang bermandikan peluh di malam hari hanya meringis sambil menatap sang mama. Ia memang tak berniat berkata apa-apa sehingga ia kembali asik dengan game di ponselnya. Ia saat ini memang masih lelah, karena bergulat dengan samsak yang ia gantung di sudut balkon kamarnya. Dulu samsak itu setia menemaninya saat melatih kemampuan bela dirinya, namun semakin kesini, samsak itu sudah beralif fungsi menjadi sasaran emosi saat Andre marah, kecewa, atau kalut seperti ini.


“Bagaimana kabar hubungan kamu sama wanita itu?” tanya Heni yang duduk di samping putranya.


“Namanya dia Hana Ma,” jawab Andre membenarkan.


“Iya, iya… Gimana?”


Andre menggeleng sebelum meletakkan ponselnya dan beralih meraih botol soda yang sudah ia siapkan sebelumnya.


“Jangan-jangan itu cuma alasan dia untuk lepas dari kamu.”


“Ma please. Hana bukan wanita seperti itu, Andre yakin.”


“Tapi keyakinan kamu berbanding terbalik dengan kenyataan.”


Andre menghela nafas. Ia menenggak minumannya sekali lagi dan meletakkan botolnya yang telah kosong kemudian.


“Ma. Andre yakin Hana wanita yang baik. Akan Andre buktikan,” ujar Andre dengan yakin.


Ada lelah di wajah Heni saat melihat putra tunggalnya seperti ini. “Nak, sebenarnya apa sih yang membuat kamu secinta ini dengan Hana?” tanya Heni akhirnya.


“Susah Ma dijelasinnya, tapi please mama percaya ya.”


Heni menghela nafas. “Sudah lah. Mama cuma orang yang melahirkan dan membesarkan kamu, jadi tak penting juga menjelaskan semua."


“Nggak gitu Ma…”


“Mama ngerti. Berusaha mengerti lebih tepatnya.”


Heni sempat memegang puncak kepala anaknya sebelum bangkit meninggalkan Andre di kamarnya.


Dengan tatapan nanar Andre melihat punggung mamanya yang bergerak ke arah pintu kamarnya dan menghilang bersama pintu yang tertutup.


“Kamu bisa stroke Ma kalau tahu kebejatanku yang sebenarnya. Kalau sama-sama kebablasan saat pacaran itu aku rasa manusiawi dan lebih mudah di terima, tapi kalau tahu aku mengambilnya dengan paksa aku yakin kamu bisa shock ma saat tahu,” gumam Andre saat mamanya sudah tak lagi di sana.


Menjelang tengah malam Andre baru membersihkan dirinya. Ia melewatkan makan karena ia sama sekali tak lapar sekarang. Ia langsung berbaring di atas ranjang meski nyatanya matanya enggan diajak terpejam.


Karena tak ingin bengong seperti orang gila, akhirnya Andre memutuskan untuk bekerja saja. Di samping kesibukannya di Surya Group, dia punya usaha sampingan yang ia garap di sela waktu senggangnya. Jadi sekarang ia mengecek bisnis di bidang otomotif yang sudah ia jalankan dalam beberapa waktu terakhir. Usahanya yang ini tak ada hubungannya sama sekali dengan Surya Group, hanya saja ia merasa suka jadi ia memutuskan untuk merintisnya.


“Wah, ternyata…” gumamnya saat melihat progress usahanya yang berada di luar espektasinya selama ini. Ia juga punya usaha di bidang property yang dijalankan oleh teman kuliahnya dulu. Ia jadi penasaran bagaimana progressnya sekarang. Sayang ini sudah terlalu malam untuk menghubungi kawan yang ia amanahkan untuk mengelola, jadi ia harus bersabar menunggu hingga esok pagi untuk meminta data.

__ADS_1


Ddrrttt dddrrtt ddrrtt


Saat Andre merasa segan untuk menghubungi seseorang, justru ponselnya sekarang bergetar karena dihubungi oleh orang lain di seberang. Ia segera meraih ponselnya dan menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan itu.


“Halo Vin…” sapanya dengan sedikit malas. Pasalnya ia tak mau terlalu berharap akan adanya titik terang keberadaan Hana. Sehebat-hebatnya Melvin, ia tetaplah manusia bukan Allah yang Maha tahu segalanya.


“Sudah tidur Ndre?” tanya Melvin di seberang sana.


“Lagi di kamar tidur.” Ditanya apa jawabnya apa. Entah lah, mungkin Andre hanya lelah. “Ada apa?” tanyanya pada Melvin kemudian.


“Anak buah gue tadi ngelihat Hana lagi.”


“Dimana?” tanya Andre dengan santai.


“Lah. kok nggak semangat gitu suaranya?”


“Nggak butuh komen gue, lagian ini tengah malam Vin, bisa ditimpuk mama kalau aku teriak-teriak. Jawab aja di mana?”


Terdengar gelak tawa di seberang sana. Dan masih dengan gaya yang sama Andre menunggu hingga tawa itu reda.


“Masih area yang sama dengan beberapa hari yang lalu,” jawab Melvin akhirnya.


“Oh…”


Andre tak langsung menjawab. Ia menghela nafas karena keruwetan yang terjadi di kepalanya.


“Mau distop nyarinya?” todong Melvin.


“Jangan. Awasi terus,” sahut Andre cepat.


“Buat apa. Elunya sudah nggak semangat gitu,” sindir Melvin.


“Aku yang memutuskan, bukan kamu,” sombong Andre.


“Iye, iye. Jadi gimana?”


“Awasi terus, aku ingin tahu apa yang akan Hana lakukan setelah ini.”


“Oke, oke… Itu aja yang mau  aku sampaikan.”


“Hmm.”


Melvin segera memutus panggilannya sementara Andre kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia lupa jika tadi sedang asik mengamati setiap usaha yang dimilikinya. Meskipun terdengar cuek, nyatanya isi kepalanya hanya seputar Hana.


Ponsel yang baru saja diletakkan ia ambil lagi untuk melihat gambar Hana yang tersimpan di sana. “Aku tak mau hanya bisa menguasai ragamu, tapi hati dan pikiranmu juga. Percuma kalau kamu di sini tapi kamu tak tenang, tak nyaman dan akhirnya pergi lagi,” gumam Andre seakan Hana dapat ia ajak bicara.

__ADS_1


Andre kemudian mendekatkan ponselnya di depan dada dan memeluknya. Tanpa terasa ia mulai memejamkan mata dan terbang ke alam mimpi dengan sendirinya.


***


Pagi ini Hana sudah siap untuk berangkat bekerja bersama Risma. Jika kemarin ia terlihat mencolok diantara para karyawan yang lain dengan warna pakaiannya yang tak senada, kali ini ia terlihat serupa karena memakai pakaian dengan warna yang sama. Aturan di toko tempat Risma bekerja adalah setiap hari pegawainya harus mengenakan pakaian dengan warna senada, namun modelnya bebas. Dan kali ini Hana terlihat cantik dengan kaos o-neck berwarna pink milik Risma yang terlihat longgar di tubuhnya. Ia juga mengenakan rok span yang saat dikenakan Risma di bawah lutut namun ketika Hana yang mengenakan jadi beberapa cm diatas lututnya. Sehingga paha mulusnya harus terekspos sedikit saat ini.


“Duh pendek ya…” ujar Hana saat melihat pantulan tubuhnya di dalam cermin.


Hana berusaha menarik roknya namun yang ada bagian atas yang terncam.


“Maaf ya Han. Tapi nggak pendek banget kok. Biasanya mbak Ning pakainya lebih pendek dari kamu,” ujar Risma menenangkan Hana.


“Tapi aku nggak PD.”


“PD aja lagi. Nanti kalau sudah gajian cus deh beli baju,” usul Risma.


Hana mengangguk pasrah.


“Ya udah berangkat yuk.”


Jika biasanya Risma berangkat kerja dengan ojek motor, kini Risma memesan taksi online. Karena selain mereka yang berdua, tapi juga karena kasihan Hana yang pakai rok pendek kalau harus naik motor.


Sesampainya di toko, Hana dan Risma bukan menjadi yang pertama, tapi Haning dan Anin. Mereka harus menunggu di luar karena semalam Risma yang membawa kunci.


“Mentang-mentang direkrut langsung sama mbak Nuke kamu jangan seenaknya. Sebagai karyawan baru seharusnya kamu datang lebih pagi daripada kami,” sinis Haning.


“Maaf Mbak, kita tadi sudah berusaha on time, tapi gara-gara kita naik taksi online jadi telat karena ternyata naik mobil tak selincah naik motor,” jelas Risma.


“Risma yang biasanya naik motor jadi naik mobil karena ada kamu, memangnya kamu siapa?” tanya Haning dengan mengangkat dagunya.


Hana menelan ludah mendapat perlakuan semacam ini dari Haning. Ternyata perilaku intimidasi semacam ini sudah membudaya ya, mau di kantor mau di toko kecil seperti ini, mau dimana saja.


“Diem aja, bukannya kamu lancar banget kalau ngomong di depan pelanggan,” sarkas Haning.


“Mbak, jangan…”


Hana menahan tangan Risma saat wanita ingin sepertinya ingin membelanya.


“Kan memang itu pekerjaan kita Mbak, berbicara dan bersikap baik kepada customer dan membuat mereka berbelanja sebanyak mungkin di tempat kita, bukannya meladeni perdebatan yang Mbak Haning mulai,” jawab Hana dengan tenang.


“Kamu…”


“Ma, bukannya kita harus membuka toko segera dan bersih-bersih dulu sebelum ada pelanggan datang.” Hana dengan santainya mengambil alih kunci yang semula Risma pegang dan membuka pintu melewati Haning yang masih berapi-api.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2