
...*HAPPY READING*...
"Sayang, beneran cukup ini aja?"
Rina mengangguk dengan dengan memegang kotak susu kemasan di tangannya.
Dika mengacak rambutnya dan segera bangkit. Dia berdiri dan menatap laut lepas.
Tak hanya Dika, Rina juga sudah lelah. Ia bangkit dan memeluk lelaki ya dari belakang.
"Aku bingung."
Dika melepaskan tangan Rina dan membawanya ke muka.
"Bingung kenapa?"
"Aku tahu hubungan kita ini udah nggak sehat, tapi..."
Dika menunduk untuk mensejajarkan tingginya dengan Rina.
"Tapi apa..."
Dika menyambar kilat bibir indah itu.
Ah sudah lah, toxic ini mah. Author juga pusing ngasih tahu Dika sama Rina.
Kedua mata itu bertemu. Saling menatap dan menyelami masing-masing diri.
Rina POV
Aku tak tahu harus mengatakan diriku ini bagaimana. Lebih tepat mana, aku nggak mau munafik atau aku emang nggak baik.
Setiap kali bersama, aku memang sering menolak ketika Dika mulai men**mahku. Tapi jujur, itu hanya di bibir saja. Karena faktanya, aku juga menginginkannya. Aku merasa aman, aku merasa nyaman, aku merasa dipuja saat bersama Dika.
Apa ini ada hubungannya dengan harta?
Jawabannya adalah iya. Pasti kalian akan berfikir aku matre. Hey, aku nggak matre ya, aku realistis.
Kita hidup nggak cuma butuh cinta, tapi juga butuh uang untuk memenuhi kebutuhan. Yes I know, sebanyak apapun harta jika Allah sudah berkehendak, maka tak sulit untuk membuatnya hilang tiba-tiba. Tapi jika bersama Dika, aku yakin dia akan menemukan cara untuk membuat aku bertahan bersamanya. Dia akan menemukan cara untuk bangkit karena dia adalah pekerja keras.
Saat ini Dika mulai mengoleskan sun Block di tubuhku. Darahku bahkan langsung berdesir saat ia masih baru saja membuka tubenya. Saat mengoles di bagian punggung, aku tahu dia masih menahan diri. Hingga akhirnya saat tiba di area kaki, aku tahu dia tinggal menunggu responku.
Saat aku tak berbuat apa-apa, barulah ia melepaskan kungkungan terhadap dirinya.
Dia laki-laki yang baik bukan. Setiap kekhilafan kami lakukan, ia tak pernah melakukannya dengan kasar dan memaksa. Memang mulutku berkata tidak, tapi faktanya aku sama sekali tak mencegah dia berbuat.
Dan tadi, jika bukan gara-gara perutku yang berbunyi, mungkin kini aku sudah tak perawan lagi.
Apakah aku yang bejat?
Entahlah.
Masih di hari yang sama dengan tenggang tak lebih dari 10 menit. Bahkan mungkin kutaksir hanya beberapa menit kami sudah mulai lagi.
Tunggu-tunggu. Entah berapa menit tepatnya, karena jedanya hanya selama membenahi pakaian dan meminum 200 ml susu kotak.
Aku yang datang memeluknya, menyatakan kegundahanku atas ajakannya untuk menata hidup bersama namun masih belum sejalan dengan kehendak orang tua.
Kini kami kembali saling men***bu.
__ADS_1
"Rina."
Aku meletakkan telunjukkku di depan bibir Dika.
"Aku sayang kamu."
Aku tak mau terlalu lama menatapnya. Aku berjinjit dan menarik tengkuknya. Sudah lah, aku sudah tak bisa berfikir.
Rina POV End
Dika membawa Rina memasuki sebuah ruang di dalam kapalnya. Rina tampak takjub dengan desain interior pada kapal ini. Ada beberapa kamar yang nampak nyaman untuk merebahkan diri.
"Kamu suka?"
Rina mengangguk.
"Apa kamu ingin menghabiskan waktu di sini?"
"Tentu. Apa lagi dengan kamu."
Duh, duh, duh. Gawat ini.
"Kamu pengen masuk?"
"Mau?"
"Kamu pengen masuk yang mana?"
"Kemanapun kamu ngajak aku."
Habis sudah logika mereka. Dika sudah pernah bilang jika untuk yang satu ini seseorang bisa begitu mahir tanpa belajar. Dan kini sepertinya dua remaja ini telah menjadi profesional pada hal yang tengah mereka lakukan.
Dalam kapal ini sebebarnya ada beberapa awak yang menghandle masing-masing tugasnya. Namun mencampuri dan mengganggu kesenangan Dika adalah larangan untuk mereka.
Dedi menjadi yang paling akhir keluar dari air. Ia duduk di samping Rista dan segera melepas helm yang mirip dikenakan astronout itu.
"Kamu seneng?" tanya Dedi sambil merapikan rambut Rista yang diikat asal.
"Banget, banget, banget. Eh tadi aku tu bisa pegang ikan yang lagi berenang tahu nggak."
Dedi mengangguk. "Aku tahu apa pun yang kamu lakukan tadi. Kamu lupa kalau tadi tangannya nggak mau lepas."
"Iya."
"Kak Nita, aku bisa minta rekaman sama foto tadi nggak? Mau aku kasih lihat kak Rina biar dia nyesel nggak ikut kita tadi."
Nita memang membawa kamera ke dalam air dan berakhir dengan Miko yang menjadi fotografer dan kameramen bawah laut.
Sepintas yang Nita bawa adalah sebuah benda mungil yang imut, namun di luar itu performanya tangguh dan menghasilkan kualitas gambar profesional.
Kamera Action cam Sony DSC-RX0 milik Nita mampu mengeluarkan video 4K UHD dan juga merekam hingga 1080p. Lensa Zeiss dengan bukaan f/4.0 atau equivalent 24mm memungkinkan hasil yang lebar dan luas, tanpa distorsi.
Sensor Exmor RS CMOS yang berukuran 21 MP 1″ menghasilkan minimal rolling-shutter artifact, dan kamera ini juga dilindungi oleh body yang tahan air, tahan benturan, dan bantingan.
Hal ini yang membuat Dian girang bukan main karena sebegai selebgram ia mampu memberikan konten yang luar biasa untuk ribuan folowers yang dimilikinya.
Kamera dengan harga 10 jutaan itu benar-benar berhasil mengabadikan momen mereka.
"Eh, btw Rina kemana."
__ADS_1
Degh!
Dedi ingat betul bagaimana ia memergoki dua sejoli yang sering tak waras ini. Matanya bergerilya, mencari Azimut 40s yang membawa sahabatnya itu.
"Astagfirullah..."
Dedi berhasil menemukan kapal itu, namun tak nampak Dika dan Rina dalam jangkauan matanya.
"Haha, mereka kayak honeymoon ya, main ngilang-ngilang gitu aja," kata Andre dengan botol minuman ditangannya.
Dedi segera bangkit namun Rista menahannya. Keduanya berdiri berhadapan.
"Mau ke mana?"
Otak encer Dedi tiba-tiba mengental. Ia kehabisan stok alasan untuk menjawab pertanyaan Rista.
"I've told yo many things. And I'll tell you about this matter too, later. Now, let me see over there first."
"Why?"
"Please, jangan mempersulit atau kita semua akan menyesal."
Rista langsung menurut jika sudah disuguhkan nada bicara seperti ini. Dia segera melepaskan tangan Dedi.
Dedi meraih kepala Rista dan meraih puncak kepalanya untuk mendaratkan sebuah ciuman.
Byur!
Dedi melompat ke dalam air. Ia harus berenang kurang lebih 100 meter untuk menemui Dika.
Semoga belum terlambat ya Allah. Batin Dedi.
"Ada masalah Ta?"
Rista menatap Nita yang baru saja menanyainya.
"Duduk sini deh..."
Dian bangkit dan mengajak Rista untuk duduk di sampingnya saat melihat ekspresi tak biasa gadis kecil ini dan keengganak untuk menjawab pertanyaan Nita.
Andre menatap Dedi yang hampir tiba di kapal yang membawa Dika. Interaksi mereka tak biasa. Dedi anak buah dan Dika adalah bosnya. Semua juga tahu tanpa harus dijelaskan. Tapi kenapa kadang Dedi terlihat seperti tengah mengontrol Dika.
Saat dua gadis itu tengah berusaha mengajak Rista bercanda, para laki-laki sedang menyelam rasa penasaran mereka.
Miko penasaran dengan apa yang tengah dilakukan dua sejoli di sana. Jangan-jangan mereka nyolong start lagi.
Tawa kecil lolos begitu dari bibir Miko.
"Kamu kenapa sih?" tanya Nita karena sang pacar tiba-tiba tertawa tanpa sebab.
Miko tak menjawab dan justru mencium pipi Nita.
"Wow, diem-diem otak kamu isi juga ya bro."
"Apa kabar otak situ," balas Miko.
Dua pemuda itu tertawa.
"Ck, udah deh jangan dengerin mereka."
__ADS_1
Dian bangkit dan mengambil minum untuk semua yang ada di sana.
TBC