Zona Berondong

Zona Berondong
Kiss me


__ADS_3

^^^Pasangan ideal tu kalau ditinjau dari usia yang kayak gimana sih?^^^


^^^Happy reading, jangan lupa tinggalkan jejak biar author bisa menemukan keberadaan kalian, 🥰🥰🥰^^^


"Mas please, let me go," ucap Rina dengan bibir bergetar dan mata terpejam.


"Rin, kamu kenapa?"


Suaranya kok kayak Dika? Perlahan Rina membuka matanya. "Dika?" Rina terpaku menatap orang yang kini di hadapannya. "Dika, please, cepat bawa aku pergi dari sini." Rina berbisik lirih dengan bibir bergetar.


Dika mengernyitkan dahi menatap Rina yang kondisinya tampak tak baik-baik saja.


"Dika please," kembali Rina memohon.


Terdengar derap langkah yang kian mendekat.


Rina kian gelisah, dia benar-benar gemetar. Dika segera menarik tubuh Rina dan membawanya masuk ke sebuah sebuah ruangan. Dika membawa tubuh Rina ke atas ranjang dan mendudukkannya di sana. "Kamu duduk ya..." Rina kenapa? Dika merapikan rambut Rina yang berantakan. "Aku keluar bentar ya."


Rina segera menahan tangan Dika.


"Kenapa?"


Rina menggeleng.


"Aku janji nggak akan lama." Bujuk Dika. Dia ingin melihat apa yang sebenarnya membuat Rina ketakutan.


"Jangan tinggalin aku..." cicit Rina lirih.


Dika akhirnya duduk dan membawa Rina ke dalam pelukannya. Rina menenggelamkan wajahnya di sana. Setelah sekian waktu, tubuhnya sudah tak lagi bergetar namun dia masih enggan untuk bicara.


"Sekarang kita jemput Rista ya..." ajak Dika karena ia baru ingat kalau harus segera menjemput adiknya.


Rina tak mau berdiri bahkan mempererat pelukannya. "Dika, aku takut keluar dari sini."


"Tapi Rista gimana?"


Rina melepaskan cengkeramannya. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya luruh juga.


"Ssttt, jangan nangis ya, maafin aku. Udah, udah." Dika kembali membawa Rina ke dalam pelukannya.


Cklek


Rina mengeratkan pelukannya kala mendengar suara pintu terbuka. Dika dengan sabar mengelus surainya.


"Lhah, masih di sini kamu?!" Dedi yang baru kembali sehabis mencari makan siang dikejutkan dengan pemandangan Dika yang membawa seorang gadis ke dalam kamarnya.


"Pinjem kamar bentar," ucap Dika pada Rina.


Dedi menatap Rina penuh tanya.


Seakan paham maksud sahabatnya, Dika hanya menggelengkan kepala. "Ded, bisa minta tolong nggak?"


"Apa?! Asalkan nggak ngusir gue karena elu mau mesum disini."


Bugh!


Sebuah bantal mengenai wajahnya tepat saat Dedi menyelesaikan ucapannya. "Bang**t!" umpat Dedi.


"Jemput Adik gue ya."


"Bensin gue..."


Spontan Dika melempar kunci mobilnya pada Dedi.


Dedi menangkapnya dengan sigap. "Bensin full kan?"


"Aman. Tolong ya, sekarang dia pasti udah nunggu."

__ADS_1


"Anter kemana?" tanya Dedi sambil mengenakan hoodie nya.


"Kalau mau bawa ke sini, kalau nggak mau tolong anger ke rumah Rina."


"Ke rumah...".ucap Dedi sambil menunjuk Rina yang kini berada di pelukan Dika.


"Iya. Udah jangan banyak tanya."


"Awas lu, jangan macem-macem!" ancam Dedi sambil menunjukkan kepalan tangannya.


Dika hanya menggerakkan tangannya seolah mengusir Dedi.


Cklek


"Rin..., udah dong nangisnya." Dika menangkup wajah Rina.


Rina yang kini berderai air mata beradu pandang dengan mantan kekasihnya.


"Tuh kan jelek kalau merah semua." Dika menghapus air mata Rina dengan lembut. "Mana ingusnya banyak lagi."


Spontan Rina menarik wajahnya. "Masa sih?!"


Dika kembali meraih wajah Rina namun Rina menepisnya. "Jangan pegang-pegang!" ketus Rina dengan suara paraunya.


Bukannya menjauh, Dika justru mendorong tubuh Rina hingga mendarat di atas ranjang. "Yang tadi nemplok tuh siapa ya?" bisik Dika tepat di telinga Rina.


Rina mengatupkan bibirnya rapat. Wajahnya kini mendadak terasa panas. "Pulang yuk..."


Dika mendekatkan wajahnya hingga hangat nafasnya dapat Rina rasakan. Refleks Rina memejamkan mata.


satu detik


dua detik


tiga detik


lima detik


enam detik


...


n detik.


Kok aku nggak ngerasain apa-apa? Rina membuka matanya perlahan. Ternyata Dika sudah menarik wajahnya dan kini tengah tersenyum menatap gadis cantik di hadapannya.


"Apa boleh?" tanya Dika dengan tatapan penuh makna.


Rina mengangguk pasrah. Saat itu juga mereka menanggalkan logika dan mengandalkan naluri. Naluri saling membutuhkan dan memiliki. Menyingkirkan pembalut raga sedikit demi sedikit, kemudian mulai menyelami masing-masing diri.


***


Tin tin


"Rista..." Dedi menurunkan kaca mobil agar Rista dapat melihat dirinya.


"Loh, kok...?" Rista menunjuk Dedi dan mobil yang dikendarainya secara bergantian.


"Iya. Kakak kamu lagi sama ceweknya di kos aku. Buruan masuk."


Rista berjalan memutar dan masuk duduk di samping Dedi. "Cewek baru ya?" tanya Rista sambil memasangkan seat belt-nya.


Dedi kembali menjalankan mesin mobil dan menjalankannya pelan. "Kamu pengennya pulang ke mana?" tanya Dedi.


"Emmm, ceweknya Kakak siapa?"


"Apa hubungannya antara tujuan kamu pulang sama ceweknya Dika?"

__ADS_1


"Jawab Kak..." Rista merengek manja.


Dedi menatap Rista malas. Kalau aku nggak tahu umur kamu mungkin udah tak pacarin kamu Ris. "Aku juga nggak ngerti mereka statusnya gimana."


"Iya, terus namanya siapa?"


Dedi menghela nafas. "Dia Rina."


"Kak Rina?"


Dedi mendelik melihat perubahan ekspresi Rista. "Girang banget kamu?"


"Hehehe, Rista kan lagi senang, sekarang Kak Dedi traktir Rista ya," kata Rista lengkap dengan puppy eyes-nya yang membuat Dedi gemas.


"Ehm," Dedi berdehem untuk menyamarkan ekspresi suka yang tercetak di wajahnya. "Ck, yang lagi seneng kan kamu, harusnya kan kamu yang nraktir, bukan minta traktir."


"Yah, Kak Dedi nggak asik, kan tinggal minta ganti sama Kakak, sekalian kita jalan-jalan. Ya Kak, please...."


Dedi menghela nafas berat. Ris, kamu tumbuh terlalu cepat. Aku jadi repot kalau tingkah kamu kayak gini. Dedi menatap lengan kirinya yang kini digelayuti Rista. Sangat jelas terasa benda empuk yang menempel di lengannya. "Rista apaan sih, lepasin nggak!" Dedi yang tengah berusaha keras mengontrol kewarasannya tak sengaja membentak Rista.


Bentakan itu membuat Rista langsung memundurkan tubuhnya. Ia menunduk dan mulai terisak.


"Yah, yah bocah. Duh nangis lagi." Dedi bingung hingga menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ris udah dong, jangan nangis dong. Maafin Kak Dedi ya..." Dedi menepikan mobilnya. Tangannya terulur untuk memeluk Rista, namun urung dan kini menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kalau cewek sedih biasanya di peluk kalau cewek yang ini isi kepalanya kan masih bocah. Duh, Dika kampret. Dedi terus merutuki Dika yang memberikan tugas tak menyenangkan ini untuknya. Ralat bukan tak menyenangkan tapi dia harus menahan diri untuk tak kesenengan selama menjalankan tugas.


"Kak Dedi jahat, huwwaaaa....!!" Bukannya berhenti menangis, Rista justru kian mengencangkan tangisnya.


Dedi benar-benar kelimpungan dibuatnya. "Ris." Dedi benar-benar geram. Dia melepas seat belt dan merengkuh tubuh bocah berseragam SMP itu ke dalam pelukannya. "Udah, diem ya, jangan nangis lagi." Dedi mengelus rambut Rista yang sebatas pundak itu.


"Hiks hiks," idaman kecil masih sesekali terdengar. Rista kemudian mendongak menatap Dedi.


Dedi tersenyum melihat kulit yang putih bersih itu memerah di bagian hidung dan kedua pipinya basah terkena air mata. Dedi meraih tisu dan membersihkan wajah Rista dengan lembut. "Cantik." Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Dedi.


Rista kian merapatkan tubuhnya hingga membuat wajahnya begitu dekat dengan Dedi. "Kalau cantik cium."


Mata Dedi terbelalak seketika. Ya Tuhan, cobaan apa ini.


Mata Rista kembali berkaca-kaca saat Dedi tak juga menciumnya. Dia segera menjauhkan tubuhnya dari Dedi. "Kak Dedi barusan bohongin Rista kan? Rista tahu Rista nggak cantik, makanya Kak Dedi nggak mau cium." Bulir bening itu kembali jatuh.


Dedi yang tak tahu harus berbuat apa kembali merengkuh tubuh gadis di hadapannya. Bolehkan Rista di sebut gadis, nyatanya dia sudah mengalami menstruasi setiap bulan.


"Rista cantik, cantik banget." Dedi mendaratkan ciuman di puncak kepala Rista dan mengeratkan pelukan setelahnya.


"Papa sama Mama dulu bilang, mereka suka nyium Rista kerena Rista cantik."


Dedi menghela nafas. "Rista denger ya, Rista itu cantik tapi Kakak nggak bisa nyium Rista."


"Kenapa?"


"Karena..."


Cup


Dedi menelan ludah bersama dengan kata-kata yang tak mampu diteruskannya saat Rista tiba-tiba mencium pipinya. "Ris..."


Rista masih setia menatap sahabat Kakaknya ini.


Dedi tak bisa berpaling. Matanya terkunci pada gadis kecil di hadapannya. "Kamu benar-benar pengen Kakak cium?"


Rista mengangguk.


Dedi perlahan mendekatkan wajahnya, kemudian mencium kedua pipi Rista lembut, dan diakhiri dengan sebuah ciuman yang dalam di kening Rista. Setelah itu dia kembali memeluk Rista dengan lebih erat.


Rista begitu bahagia karena setelah sekian lama akhirnya datang seseorang yang memberinya kecupan sayang.


TBC.


Say something dear.

__ADS_1


__ADS_2