
HAPPY READING
“Hayo loh. Pada ngapain berdua di sini?” Lutfi muncul tiba-tiba dan duduk diantara Risma dan Bayu.
“Pak Dosen ngapain juga jam segini baru pulang?”
balas Risma langsung mengena.
Lutfi menyambar minuman yang Risma pegang. Ia menyeruputnya begitu saja mengacuhkan Bayu yang tampak sekali tak terima.
“Kenapa mata Lu Bay. Mau juga?” dengan wajah tanpa dosa Lutfi menyodorkan minuman yang baru saja ia seruput.
Bayu mendorong tangan Lutfi. “Itu gua yang kasih kampreeeettt….”
“He he he, sorry.” Lutfi segera memberikan minuman itu pada Risma lagi.
“Ini tadi buat Hana, karena dia nggak pulang ke sini jadinya gua yang dapet deh…” jelas Risma sambil memandangi minuman di tangannya.
“Ketiban rejeki dong kamu gara-gara Hana,” canda Lutfi.
“Ya gitu deh.” Risma bangkit dan menepuk-nepuk pantatnya beberapa kali untuk membersihkan debu yang mungkin menempel di sana. “Aku masuk dulu,” ujar Risma pada kedua pria itu sebelum berlalu.
“E tunggu…” Lutfi menahan Risma dengan menghalangi langkahnya.
“Ada apa Luth?” tanya Risma kala merasa langkahnya terhadang.
“Emm..." Lutfi menggaruk kepalanya. Duh, mau ngomong apa sih? Sudah berhasil menahan Risma, namun ia malah bingung apa yang harus ia katakan. "Hana kapan balik?” tanya Lutfi akhirnya.
Risma menghela nafas. “Nggak tahu. Tadi dia juga ke sini tapi cuma bentar," ujar Risma sedikit tak berminat. "Dah aku masuk…” lanjutnya kembali melanjutkan langkah.
Risma berjalan cepat dan segera mengunci pintu setelah masuk ke dalam kamarnya. Ia punggungnya di daun pintu dengan wajah sendu tersenyum kecut.
“Aku kenal kalian sudah lama, tapi nampaknya hanya Hana yang ada di benak kalian,” gumam Risma seorang diri.
“Hana memang cantik sih, jadi ya sudahlah dia nikmati apa yang memang dia miliki,” lanjutnya lagi.
Risma berjalan melewati hamparan pakaian yang sebenarnya milik Hana namun ia acak-acak bersama tiga orang rekannya yang lain. Ia membungkuk untuk memungut beberapa diantaranya dan dilipatnya agar lebih tertata.
Risma memangku pakaian yang baru saja dilipatnya.
“Kamu bahkan dengan suka rela membagi apa yang kamu punya, mana mungkin aku bisa benci sama kamu.”
Setelah itu Risma mulai membereskan pakaian-pakaian yang berserak memenuhi kamar kosnya. Setelah semuanya terlipat, ia meletakkannya di salah satu sudut kamar karena lemarinya pasti tak akan muat untuk menampung semuanya.
“Mandi saja lah, masalah gombal ini bisa dipikirkan nanti,” gumam Risma lagi sebelum menghilang di kamar mandi. Ia sempat tertawa saat membahas masalah gombal ini kala ingat obrolannya dengan Hana dan Lutfi beberapa waktu lalu.
"Gombal, gombal."
__ADS_1
***
“Kita nggak bisa terus-terusan seperti ini Han…”
Andre memiringkan tubuhnya dan menghadap Hana. Wanita ini hanya diam saja memegangi ujung selimut yang menutupi tubuhnya yang terbuka karena pakaiannya sudah porak-poranda karena ulah Andre.
“Ya gimana lagi. Aku benar-benar nggak punya tempat kalau orang tua kamu menolakku,” ujar Hana.
“Oke, mungkin papa sama mama tidak begitu suka dengan hubungan kita. Tapi coba kamu ingat-ingat, apa kamu pernah mendengar secara langsung penolakan mereka?”
Hana terdiam. Ia memang tak pernah mendapatkan ucapan semacam itu secara langsung. Tapi bukankan terkadang sesuatu yang sudah jelas itu tak butuh pengungkapan?
“Tapi dari sikap mama dan papa kamu aku sadar benar kalau mereka nggak suka sama aku,” ungkap Hana terkait isi kepalanya.
“Ini bukan semata tentang kamu Han, tapi siapa pun itu yang namanya orang tua nggak kan ada yang rela anaknya punya hubungan yang kelewat batas seperti kita?”
Andre segera bangkit dan menyugar rambutnya dengan punggung tersandar.
“Jangankan yang sampai berhubungan intim dan hamil seperti yang kamu alami, yang jalan dan pulang kemalaman saja sudah bikin orang tua naik pitam.”
Hana ikut duduk dan menyandarkan kepalanya di pundak Andre. “Terus gimana dong…?”
“Ya ayo kita mulai. Kita mulai masing-masing atau bareng-bareng terserah deh, intinya jangan terus melarikan diri seperti ini, karena aku nggak tahu sampai kapan bisa tahan untuk nggak bikin kamu hamil lagi.” Andre nampak kesal dan membuang pandangannya ke sembarang arah, mengabaikan Hana yang menundukkan kepala.
“Kamu mau kemana?” tanya Hana saat Andre tiba-tiba menyibak selimutnya.
Hana menyentuhkan punggung tangannya di depan hidung karena tiba-tiba ia nyaris tertawa. “Maaf,” ujarnya yang geli-geli kasihan dengan kondisi Andre saat ini.
“Bukan salah kamu tapi salah kita. Besok kita ke dokter ya, kamu nggak boleh nolak. Aku nggak mau nantinya ada masalah kalau pengobatannya tidak tuntas.”
Andre melangkah meninggalkan Hana yang masih diam di ranjangnya. Hana yang ditinggalkan diam-diam meraba sisi perut yang masih menampakkan bekas bekas tusukan itu. Ia harus memutar otaknya agar Andre tak perlu membawanya ke dokter. Jika memeriksakan diri sebuah keharusan, maka bagaimana caranya agar Andre tak ikut saja. Ia takut jika bekas lukanya ini ketahuan, toh sekarang tak ada lagi yang mengancamnya, bahkan Risma juga bisa hidup tenang tanpa dikejar-kejar lagi oleh penagih hutang..
Hingga hampir satu jam, akhirnya Hana mendengar pintu kamar mandi diputar handlenya. Ia segera berbaring lagi seolah sudah lelap dalam dalam tidurnya. Andre sempat berhenti di dekat ranjang dan menatap Hana yang berbaring di ranjangnya. Dengan tubuh dan kepala yang masih basah, Andre merasa ia harus segera mengeringkanya sebelum berpakaian dengan benar dan mengistirahatkan raga lelahnya.
Saat yakin Andre tak lagi menatapnya, Hana diam-diam membuka mata dan mencuri pandang ke arah punggung tegap Andre yang tengah berganti pakaian. Pria ini benar-benar telah mengubah hidupnya.
Andre, aku bingung. Batin Hana sebelum benar-benar memejamkan mata.
***
“Dika…” Rina mengguncang-guncang tubuh besar suaminya yang terlelap di sampingnya.
“Sayaaaaang…” Sekali berusaha membangunkan suaminya dengan guncangan yang lebih kencang.
“Eeennnggg…” Bukannya bangun namun Dika justru melengguh dan menarik selimutnya.
“Saayyyyaaaannngggg,” Rina kembali mengguncang tubuh suaminya karena usahanya belum berhasil juga.
__ADS_1
“Apa sayang…” jawab Dika akhirnya. Ia berusaha menjawab dengan suara seraknya.
“Melek dulu dong…”
“Kamu ngomong aja. Telingaku tetap berfungsi dengan baik meski mataku masih terpejam,” ujar Dika.
Rina menghela nafas. “Aku pengen martabak.”
“Apa…?!”
“Nah kan nggak denger. Aku bilang pengen martabak. Martabak manis…”
Tak hanya matanya terbuka lebar, tapi sekarang Dika langsung bangun dan duduk. Ini bukan masalah denar atau tidak Rina, tapi Dika terkejut dengan permintaanmu yang sangat tidak sesuai dengan waktu.
“Nggak denger lagi ya. Makanya tadi sebelum ngomong aku minta kamu beneran bangun,” omel Rina karena tak bisa menangkap keterkejutan suaminya.
Dika menyugar rambutnya. Jemarinya sempat berhenti di atas kepala sebelum ia menurunkan tangannya.
“Bukan nggak denger sayang, tapi mana ada martabak manis jam…” Dika mencari kesana-kemari untuk dapat menemukan apa pun yang bisa ia lihat untuk memberi kepastian waktu untuknya. Akhirnya ia melihat ada ponselnya yang tergeletak di atas nakas, sehingga dengan gerakan cepat ia meraihnya.
“Mana hampir jam 2 pagi lagi,” lanjut Dika setelah ia tahu ini jam berapa.
“Tapi aku pengen…” rengek Rina.
Dika tahu istrinya sedang ngidam, tapi kali ini benar-benar sulit untuk diwujudkan. Kalapun mau membangunkan koki yang ia pekerjakan di rumah, belum tentu bahan-bahan yang dibutuhkan sudah tersedia sekarang.
Sekelebat ide muncul di otaknya saat ia melihat ponsel yang masih ia pegang erat di tangan kirinya. Dengan gerakan cepat ia mendial nomor seseorang yang kerap kali memberinya jalan keluar kala pikirannya buntu seperti ini.
“Kamu mau nelfon siapa jam segini?” tanya Rina saat melihat Dika menempelkan ponselnya di telinga.
Meski nampak sekali dipaksa, Dika berusaha menarik kedua sudut di bibirnya. “Kamu tenang ya…”
Dika menunggu seseorang di sana menjawab panggilannya.
“Halo….”
“Kamu belum tidur kan?” todong Dika saat mendengar kejernikan suara orang yang baru menjawab panggilannya.
“Ada apa?” orang itu pun balik bertanya.
“Rina pengen martabak manis sekarang. Menurut kamu apa yang harus kamu lakukan?” tanya Dika pada orang itu.
“Ya diturutin dong, namanya juga ngidam,” saran orang itu dari seberang.
“Oke. Aku tunggu kamu nganter martabaknya sekarang…”
Dika langsung memutus panggilannya. Ia tertawa kecil membayangkan orang yang dibeberang sana pasti tengah mengumpatinya sekarang.
__ADS_1
Bersambung...