
Kangen sih, tapi mereka masih belum bisa ketemu.
^^^Jangan capek dulu ya temen-temen.^^^
^^^Siap-siap mabok sama part-part manis setelah ini.^^^
...*H A P P Y R E A D I N G*...
Diam-diam Dian mengikuti mobil Dika. Dia penasaran kemana tujuan pemuda tampan ini dengan pakaian yang tak biasanya. Cukup aneh dan mencolok ketika kamu melihat teman sebayamu tampil dengan jas lengkap dan sepatu mengkilap di ruang publik seperti ini bukan?
Dian selama ini sudah merasa aneh dengan Dika sejak pertemuan tak sengaja di time zone saat itu, ditambah saat melihat interaksinya dengan Rio. Awalnya ia mengira mereka akan bertengkar memperebutkan Rina, tapi saat itu ada Indah juga yang baru diketahui Dian adalah pacar Rio sebenarnya.
"Sial! Kenapa harus merah sih lampunya." Dian mengumpat saat ia harus berhenti sementara mobil Dika bisa lolos di lampu merah ini.
"Nah kan, bisa ketinggalan gue." Dian benar-benar ingin tahu siapa Dika. Entah mengapa ia bisa sepebasaran ini. Terlebih ketika ia berharap bahwa Dika sudah tak berhubungan dengan Rina. Dian memang kurang suka berkomitmen. Dia lebih senang dekat dan tak perlu ribet harus saling memutuskan jika tak lagi menemukan kecocokan dengan pria yang dekat dengannya.
Dian memacu mobilnya dengan kencang, berharap masih bisa menyusul mobil yang membawa Dika. Hingga akhirnya bagian belakang mobil Dika berhasil tertangkap matanya.
"Loh! Ngapain Dika ke rumah Nita? Jangan-jangan dia mau menangkap basah Rina." Entah ia sedang senang atau tidak dengan dugaannya. Yang jelas ia penasaran.
"Eh kok bablas dianya," gumam Dian saat melihat mobil Dika lewat begitu saja.
Dian menginjak pedal rem saat merasa tak ingin melanjutkan misi membuntutinya. "Ke Ana aja kali ya."
Dian meraih ponselnya untuk segera menghubungi Ana.
"Halo. Kamu di mana An?"
"Lagi jalan nih? Ada apa?"
"Enggak lagi kangen doang. Ya udah lanjut aja."
"Eh, eh. Kenapa nggak gabung aja. Kamu susulin ya, aku shareloc."
"Oh, oke deh."
Dian segera memutuskan panggilannya dan tak berselang lama sebuah pesan ia dapat dari Ana. Ia segera menuju tempat itu.
Kebetulan lokasi Ana berada tak jauh dari lokasinya, untuk itu hanya butuh 10 menitan Dian sudah sampai di tempat Ana berada.
Dian berjalan menghampiri Ana dan menyapanya. "Hai..."
"Haaiii..." Ana bangkit dan memeluk Dian. "Kok cepat banget?" kaget Ana.
"Iya, kebetulan aku lagi nggak jauh dari sini." Dian celingak-celinguk saat tak mendapati orang lain bersama Ana. "Sendirian aja?" tanya Dian kemudian.
__ADS_1
Ana mengaduk dan menyeruput minumannya. "Sama cowok aku, tapi lagi ke belakang dia."
Seorang pelayan datang dan Dian segera memesan. Pelayan itu segera berlalu saat Dian telah nenyelesaikan pesanannya.
"Lu punya cowok?" tanya Dian.
Ana mengangguk.
"Gue kirain jomblo, makanya kayak ngebet banget sama Dika."
Ana terkekeh. "Gue emang suka sama Dika. Dan sama yang ini cuma sebetas friend with benefit."
"E gila lu ya. Hubungan kayak gini tuh yang enak cowoknya doang, yang dapat benefit doi doang, kalau elu tambah bobrok iya."
"Sembarangan. Ya nggak lah."
Pesanan Dian datang. "Makasih," ucap Dian saat menerima pesanannya. "Sekarang gue mau tanya, benefit apa yang lu dapet dari cowok elu? Sedangkan lu udah kaya, nggak mungkin kan demi uang?" tanya Dian setelah pelayan itu berlalu meninggalkan mereka.
"I got a great service," ujar Ana dengan tersenyum nakal.
"Lu gila tahu nggak."
"Not at all. Kamu nggak bakal kayak gini kalau udah tahu rasanya."
"Iya deh iya."
Dian menggelengkan kepala. "Nggak deh," ucapnya dengan tersenyum paksa.
Tak lama nampak seorang pemuda yang cukup tampan menurut Dian sedang berjalan ke arah mereka. "Dia temen sekolah kamu?" lirih Dian.
Ana mengangguk.
"Tahu di SMK cowoknya keren, dari dulu aku sekolah di sana," kata Dian dengan nada menyesal. "Kamu kenal Dedi juga berarti?"
"Dedi temennya Dika," tebak Ana.
Dian sempat tersenyum saat Uka bergabung bersama mereka. Dia kemudian mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Ana.
"Dua-duanya temen sekelas dia, iya kan?"
"Apanya?" tanya Uka yang tak paham dengan apa yang tengah dibicarakan Ana dan Dian.
"Dika dan Dedi."
"Ooo, iya. Tapi Dika homeschooling terus Dedi nggak tahu deh sekarang gimana. Ikutan sering nggak masuk dianya." Uka menyeruput minumannya. "Dedi hidupnya kan disponsori Dika, jadi mungkin sekerang dia nggak kuat bayar uang sekolah."
"Lah, emang Dedi..." Ucapan Dian menggantung.
"Dia kan dapet beasiswa Ka," timpal Ana.
__ADS_1
"Ya kita mana tahu nominal beasiswa. Sedangkan beasiswa kan cuma untuk sekolah, dan untuk hidup nggak termasuk. Dia kan yatim piatu, jadi nggak ada yang ngebiayain dia."
"Wah, padahal dia keren loh," celetuk Dian.
"Jangan bilang lu naksir Dedi?" tanya Ana dengan tatapan tak percaya begitu pula dengan Uka.
Dian hanya meringis. "Awalnya. Tapi sekarang nggak kayaknya."
"Mending jangan deh. Surem masa depan lu kalau sama dia," kata Ana yang disusul tawa olehnya dan Uka.
"Berarti mending Dika ya."
Tawa Ana dan UKS berhenti seketika.
"Mau ngegebet Dika lu?!" tanya Ana lengkap dengan wajah terkejutnya.
"E, e, enngg. Ya lu apaan sih. Mana mungkin. Kan doi lagi pacaran sama Rina."
Ana menatap lekat sepupunya ini. "Kalau pun iya, gue siap nih ngasih jempol plus support."
Dian memaksakan senyumnya dan mengibaskan tangan di depan muka. "Gue cuma asal ngomong," lanjut Dian yang juga masih terkejut dengan ucapannya sendiri.
Ana, atau Lusiana Sukma Santoso masih menatap lekat gadis yang body dan parasnya cukup sebanding dengan dirinya. Sama-sama cantik dan berperawakan tinggi semampai.
Apakah dia tak rela jika Dian juga mengincar Dika. Tidak sepenuhnya iya, karena ia tak keberatan jika harus bersaing meskipun Dian adalah sepupunya.
Apakah keduanya tahu bahwa Dika bergelimang harta? Jawabannya adalah tidak dan mereka tak begitu peduli akan hal itu. Keduanya berasal dari keluarga kaya, jadi seberapa kaya pasangannya hanya agar mereka berada dalam lingkup pergaulan yang sama bukan semata untuk menambah pundi-pundinya.
Uka masih santai dengan ponselnya. Dia tak begitu peduli kalaupun Ana membicarakan laki-laki lain di hadapannya. Meskipun terkadang tak begitu suka, namun dari awal mereka sepakat menjalin hubungan sebatas berenang-senang dan tak boleh mencampuri urusan masing-masing.
Sementara itu Dika di kantor masih disibukkan dengan tumpukan berkas-berkas yang harus ia selesaikan agar ia benar-benar bebas di akhir pekan.
"Ded, kamu segera kembali ke kantor?" tanya Dika dengan memegang ponsel di sebelah tangannya.
"Aku lagi otw dari Pinang."
"Usahain sebelum isya' kamu udah nyampe."
"Oke, insyaallah."
Bip
Dika menyunggingkan senyum di bibirnya. Ia menatap lekat ponsel yang baru saja digunakannya. Ded, kalau saja aku mampu, pasti aku bakal ngebimbing kamu dan kita sama-sama berjalan di jalan Allah.
Adzan asyar berkumandang. Dika mencoba mengikuti dan menjawabnya sesuai yang ia pelajari belum lama ini. Tak lupa ia berdoa setelah adzan selesai dikumandangkan meskipun ia harus melihat catatan karena belum hafal sepenuhnya.
Dika melepas jas dan meletakkan semua pekerjaan di meja. Mengganti sepatu dengan sendal yang sudah disiapkannya. Mengambil wudhu dan segera menunaikan kewajibannya.
TBC
__ADS_1