
Bagi temen-temen yang udah pernah hamil atau pun lihat orang hamil,****what’s on your mind?
HAPPY READING
Yang diambil darahnya Rina yang nyaris pingsan Dika. Padahal semula ia sudah berkoar-koar akan menjadi suami dan calon papa siaga, kini justru ia lemas dan tak mau jauh dari mamanya. Saat baru saja menemui dokter Halima, kabar kebahagiaan ini tak bisa dibendung lagi. Santi dengan tak sabar langsung menghubungi besannya, dan kini Ririn tengah dalam perjalanan dengan perasaan bahagia.
Kandungan Rina baru berusia sepuluh minggu, jadi di usia kehamilan yang masih sangat muda ini semua harus dijaga, semua harus mendapat pengawasan ekstra, dan semua harus berhati-hati. Terlebih mengingat ini adalah kehamilan yang tak diperkirakan sehingga di tengah kepasarahan mereka setelah gagal mencoba program hamil untuk yang sempat mereka upayakan.
“Badan aja digedein sama jarum suntik saja takut, bikin malu,” omel Santi kepada anak sulungnya.
“Mestinya yang didampingi itu Rina bukan kamu.” Santi sepertinya belum puas juga mengomeli anaknya.
“Padahal ini masih awal. Rina masih hamil sepuluh minggu, dan dia masih harus hamil sekitar 30 minggu lagi. Perutnya akan membesar, makan tak enak, jalan susah, tidur tak nyenyak. Dan selain ini dia masih harus berkali-kali bertemu dengan jarum. Makan dan minum sekarang nggak hanya memikirkan lidah sendiri, tapi harus mempertimbangkan juga nutrisi buat anak yang sedang di dalam kandungan. Belum lagi nanti proses persalinan akan lebih sakit lagi. Tapi seorang ibu harus mengesampingkan rasa sakit itu dan segera disibukkan dengan aktivitas baru yaitu menyusui. Meyusui bayi juga sakit, masih ditambah dengan begadang jaga anak…” Santi terus mengatakan banyak hal yang harus dipersiapkan oleh perempuan yang tengah hamil. Ia ingi Dika tahu sehingga bisa lebih menjaga dan mengerti istrinya.
Dika tertegun mendengar omelan mamanya. Jika tadi telingnya terasa panas dan ingin mencari apa pun yang bisa membuat mamanya berhenti bicara, namun kini tidak lagi. Ia merenung dan memikirkan apa yang Santi katakan. Rina begitu ingin hamil padahal Dika yakin jika istrinya ini sebenarnya tahu jika ia hamil, ia harus bersiap dengan berbagai rasa tak nyaman saat hamil dan rasa sakit saat melahirkan. Namun entah mengapa ia begitu egois yang mementingkan rasa takutnya terhadap jarum dari pada mendampingi sang istri melalui setiap rangkaian pemeriksaan.
“Ma, bisa minta tolong nggak,” ujar Dika tiba-tiba.
“Tolong apa lagi?” jawab Santi masih dengan nada ketusnya.
“Ambilin minum Ma. Sekali ini aja.”
“Mama nggak percaya,” jawab Santi. Meski demikian, ia tetap melakukan apa yang anaknya minta.
Setelah meminum air dari botol yang Santi sodorkan, Dika membenahi penampilannya dan bangkit dari kursinya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Santi saat melihat anak sulungnya tiba-tiba berdiri. Ia memegangi lengan anaknya karena khawatir putranya ini kenapa-kepana. Karena dulu Dika pernah sampai pingsan karena saking takutnya dengan jarum.
“Mau menemani Rina,” jawab Dika sebelum berjalan untuk menyusul ke tempat di mana istrinya berada.
Santi melepaskan cekalannya dengan suka rela. Ia tersenyum melihat perubahan anaknya. Sejujurnya ia tak benar-benar marah saat mengomeli Dika. Ia hanya ingin Dika tahu seberapa besar pengorbanan perempuan yang tengah berusaha meneruskan keturunan bersama pasangannya. Dan melihat perubahan Dika yang secepat ini tentu saja Santi bahagia.
“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri.”
Santi menoleh ke arah sumber suara dan di sana ia melihat keberadaan suaminya yang sedang berdiri menatapnya. “Restu Mas.”
__ADS_1
“Dia kenapa?” tanya Rudi yang tak tahu apa maksud istrinya karena ia baru datang sehabis memeriksa pasien.
“Dia mencoba mengatasi ketakutannya dan berani menemani Rina untuk menjalani berbagai pemeriksaan,” jawab Santi masih dengan senyum terpatri indah di wajah cantiknya.
“Ya bagus kan?”
“Iya bagus, makanya aku seneng.”
Rudi kemudian duduk di samping istrinya. “Bagaimana ceritanya dia nggak takut lagi sama jarum?” tanya Rudi.
“Takut awalnya. Pas Rina baru mau diambil darah tadi dia yang panic dan nyaris pingsan. Jadinya Rina dibiarkan sendiri dan aku nemenin dia,” kesal Santi saat mengingat ulah anaknya tadi.
Rudi segera menutup mulutnya yang dengan lancang melepaskan tawa mendengar penuturan istrinya.
“Jangan tertawa kamu,” ketus Santi.
Dan ternyata tawa yang berusaha ditutupi ini ketahuan juga oleh istrinya. Untuk itu Rudi cepat-cepat menuruti ucapan istrinya sebelum muncul deretan kata sepanjang jalan kereta.
“Rista nggak coba kamu hubungi?” tanya Rudi saat ingat masih ada satu anak lagi dalam keluarga mereka.
"Bagaimana pun juga ini kabar bahagia, bukankah dia juga belum pulang sejak mulai kuliah?" lanjut Rudi.
Santi masih diam dan menatap suaminya. “Mas…”
Hanya dengan satu kata, Rudi langsung paham akan maksud istrinya. Ia menyamankan duduknya dan bersiap mendengarkan apa yang akan istrinya ini katakan.
“Ada apa?” tanya Rudi kala melihat Santi tak kunjung bicara.
“Apa tak sebaiknya kita lebih tegas sama Rista?” tanya Santi dengan menatap suaminya.
“Tegas? Untuk apa? Bukankan tak ada kesalahan fatal yang Rista lakukan?" Rudi sama sekali tak tahu apa yang sedang dipikirkan istrinya ini.
“Ya aku ngerasa kita terlalu lembut sama dia.” Santi coba menjelaskan, namun Rudi belum juga mengerti.
“Ya kalau dengan kelembutan saja bisa kenapa harus menggunakan cara keras? Saya bisa memastikan Rista baik-baik saja meski pun dia tak berada dekat dengan kita.”
__ADS_1
Bukan hanya berbekal keyakinan Rudi berkata seperti itu, karena ia menyiagakan banyak orang untuk mengawal dan mengawasi putrinya. Baik yang Rista tahu maupun tak tahu.
“Nggak gitu Mas. Rista itu terlalu menutup diri. Apa kamu rela jika ia masih mau melanjutkan hubungan main-mainnya dengan Dedi.”
Rudi menatap Santi dengan serius. “Sebenarnya maksud kamu itu apa, kamu mau mengatakan apa pada saya?”
Rudi tak menaikkan nada bicaranya. Ia masih kalem seperti biasanya, hanya saja pemilihan bahasa yang ia gunakan sedikit berbeda sehingga Santi tahu jika suaminya ini sedang dalam keadaan tak biasa pula.
“Mas, Rista itu berubah sejak berhubungan dengan Dedi. Makin parah lagi begitu Dedi pergi ke Amerika. Apa kamu akan diam saja melihat anak gadismu jadi seperti ini?”
Rudi bangkit tak lama setelah Santi menyelesaikan ucapannya. “Ikut saya…”
Rudi melangkah tanpa melihat apakah Santi mengikutinya atau masih bertahan di tempatnya. Ia berjalan menuju lift yang akan mengantarkannya menuju lantai dimana ruangannya berada. Saat menunggu lift terbuka, Santi juga berhenti di sampingnya.
“Bagaimana kalau Rina dan Dika mencari kita Mas?” tanya Santi saat berdiri di samping suaminya.
“Mereka sudah dewasa, dan sudah sangat mandiri sejak lama. Jangan terlalu khawatir.”
Ting!
Pintu lift terbuka dan Rudi segera masuk ke sana bersama Santi.
“Mas Rudi sebenarnya mau membicarakan apa? Kenapa tidak di sana saja?”
Rudi tersenyum menatap Santi yang menunggu jawaban di sampingnya. “Saya hanya tak ingin ada orang yang tak sengaja mendengar masalah keluarga kita.”
Perasaan Santi tiba-tiba tak enak. Semoga Mas Rudi tidak terus-terusan menganak emaskan Dedi. Dia memang anak baik, tapi dia adalah orang lain yang notabene tak ada hubungan saudara dengan mereka.
Ting!
Pintu terbuka dan keluarlah Rudi dan Santi dari sana. “Kamu masuk ya, saya mau mengambil sesuatu sebentar.”
Santi tak menjawab dan langsung melaksanakan apa yang Rudi katakan.
Bersambung…
__ADS_1