
^^^Orang Trenggalek kembali menyapa, hai temen-temen semua.^^^
^^^By the way, ini novel genrenya apa sih?^^^
^^^Author kok suka bingung ya, hehehe^^^
^^^-Happy reading-^^^
Dika dan Rina baru saja menceburkam diri mereka ke dalam kolam renang. Di sana hanya ada mereka berdua sedangkan Dedi belum kembali dari mengantarkan Dian ke tempat saudaranya.
"Wah, nggak nyangka ya kamu bisa renang juga..." kata Dika yang sebelumnya meremehkan kemampuan berenang Rina.
"Makanya jangan suka ngeremehin orang," kata Rina sambil terkekeh sebelum kembali mengayunkan lengan dan kaki di tengah jernihnya kolam renang di villa ini. "Rista kok betah banget ya di kamar?"
"Iya, tumbenan dia. Atau jangan-jangan dia patah hati. Tapi masa iya?"
Rina mendesah. Cinta pertama kamu rumit Ta. Aku dulu seusia kamu juga udah tertarik sama cowok, tapi nggak ribet gini. Rina berenang menepi. "Aku lihat Rista ya..." pamitnya pada Dika setelah ia berada di tepian kolam.
"Iya..."
Rina mengambil kimono dan berjalan ke dalam villa. Dia langsung menuju kamar yang semalam ditempatinya bersama Dian dan Rista, karena ia yakin akan menemukan Rista di sana.
"Dikaaaa....!"
Dika yang terkejut dengan teriakan itu langsung menghentikan aktivitasnya dan mengambil handuk untuk mengurangi basah ditubuhnya.
"Kenapa?" tanyanya pada Rina yang nampak panik dan berlari ke arahnya.
Terdengar deru mobil yang berhenti di depan villa. Spontan kedua orang itu berlari ke depan berharap Rista ada di sana.
"Kalian kenapa?" tanya Dedi yang baru saja keluar dari mobil Dika.
"Rista hilang Ded, dia nggak sama kamu?"
Dedi mengernyit. "Terakhir sama aku persis sebelum aku nganterin Dian. Dan...." Dedi memperhatikan penampilan Rina dan Dika yang terlihat basah dan tertutup handuk dan kimono.
"Kamu jangan mikir aneh-aneh. Kita habis renang," ujar Dika yang paham maksud tatapan Dedi.
"Aku cari Rista," kata Dedi yang hendak kembali masuk mobil.
"Aku ganti baju bentar," kata Dika yang langsung lari ke kamar.
Dedi sempat menatap Rina yang terlihat bingung dan diam di tempat. "Mending kamu juga ikut kita, daripada ada apa-apa kalau kamu sendiri di sini."
Rina segera melakukan apa yang Dedi katakan. Tak lama berselang, ketiganya sudah berkumpul di depan villa.
Dika segera mengambil kemudi karena dia yang paling tahu daerah sini.
"Apa mending kamu ke Dian aja, daripada ikut nyari Rista," kata Dika.
"Jangan." Cegah Dedi.
"Kenapa?" serempak Dika dan Rina.
__ADS_1
Dedi menghela nafas. "Dian lagi sama Lusi."
"Lusi?" beo keduanya lagi. "Bukannya kata Dian nama saudaranya, Ana kalau nggak salah namanya?" lanjut Rina.
"Lusiana Sukma Santoso," ujar Dedi datar.
Dika mencengkeram erat setir mobilnya.
Rina masih mencoba mengingat nama orang yang tengah dibicarakan Dika dan Dedi ini. "Lusi. Apa dia mantan kamu?" tanya Rina pada Dika.
Dika mengangguk.
"Aku tadi juga lihat...."
"Lihat siapa?" ulang Rina.
Dedi nampak berusaha mengingat-ingat sesuatu. "Aku nggak yakin namanya. Aku cuma ingat mereka mahasiswa universitas NN yang sedang PPL di Karya Bangsa." Dedi menjeda ucapannya. "Itu sekolah kamu kan Rin?"
Rina menelan ludah. "Kamu bilang mereka?"
Dedi mengangguk. "Seorang laki-laki dan perempuan. Aku ngerti mereka karena mereka berdua tinggal di kosku."
"Rio." Rina membekap mulutnya.
"Apa Rin?" tanya Dedi.
"Apa yang cowok kulitnya putih, idungnya mancung alisnya tebel, perawakannya sedeng lah, nggak setinggi kalian. Terus yang cewek tinggi, ramping, cantik kulitnya putih,..." Rina mulai mendeskripsikan ciri-ciri Rio dan Indah dan mendapat anggukan dari Dedi.
"Kok kamu kayak tahu banget Rin sama mereka?" heran Dedi.
"Jelas lah, orang demi cowok itu Rina rela mutusin aku," jawab Dika datar.
Rina hanya bisa merengut dari jok belakang.
Dedi menghela nafas. "Mungkin aku bakal ketawa kalau tahu sekarang di mana Rista berada."
Tiba-tiba Dika menepikan mobilnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Rina.
Dika menoleh sejenak, seakan berkata semua baik-baik saja.
Dedi sadar sekali jika kini Dika tengah serius mematapnya. Dia bersiap untuk berbagai kemungkinan yang akan dihadapinya.
"Aku pengen nanya serius." Dika menjeda ucapannya dengan sebuah helaan nafas. "Kamu nganggep Rista apa?"
Dedi memejamkan mata dan menarik nafas setelahnya. "Aku sayang sama dia dan maaf...., aku menyayangi dia sebagai wanita bukan adik perempuan."
Dika paham maksud sahabatnya ini, namun dia tak menunjukkan reaksi apapun. Ia masih menunggu apa lagi yang akan Dedi katakan padanya.
"Tapi aku tadi bilang kalau ingin jaga jarak dengan dia. Aku bilang kalau aku akan kerja sama kamu jadi aku nggak bisa terus-terusan jaga dia."
__ADS_1
"Kamu menolak perasaan Rista?" tanya Dika.
Dedi menggeleng. "Sekali lagi maaf, aku tak berani menolak, karena itu juga yang aku rasa. Tapi Dika, aku nggak mau pacaran sama adik kamu, aku takut mengorbankan persahabatan kita jika suatu saat aku harus berpisah dengan dia. Namun jika aku ingin memantapkan sebuah hubungan dengan dia, aku takut ini akan menekan Rista mengingat usianya yang masih terlalu belia, bahkan dibawah umur untuk sebuah cinta."
Dika meletakkan sebelah tangannya di bahu Dedi. Mulutnya masih terkatub, memberi kesempatan pada Dedi untuk lebih banyak berbicara.
"Tapi aku beneran sayang sama dia Dik."
"Aku percaya sama kamu. Apapun keputusan kamu, aku yakin itu demi kebaikan adikku."
"Intinya kamu menolak pernyataan Rista tadi kan?" tanya Rina tiba-tiba.
"Aku nggak nolak Rin, aku juga sayang sama dia, tapi aku nggak bisa pacaran sama dia."
"Sama aja, astaga..." Rina geram dengan ketidak pekaan 2 laki-laki di hadapannya. "Harga diri Rista sebagai cewek pasti hancur saat menyatakan cinta tapi malah cowoknya minta jaga jarak. Bagi kami itu sebuah penolakan, ngerti nggak!"
"Jadi Rista patah hati?" serempak Dika dan Dedi.
"Iya, apa lagi abis itu kamu nganterin Dian. Lengkap sudah kecewa yang dirasa Rista."
Dika dan Dedi beradu pandang. "Sekarang kudu gimana?" tanya Dika.
"Emm, Rista punya tempat favorit nggak?"
"Ada." Dika langsung melakukan mobilnya sedikit lebih cepat dari sebelumnya. "Dia belum pernah ke sana tapi dia pengen banget ke sana," gumam Dika setelahnya.
Dedi mengernyit saat Dika mulai memelankam laju mobilnya. "Ini kan tempat Dian tadi," ujar Dedi tiba-tiba.
"Astaga."
"Kenapa Rin?" tanya Dedi.
"Di sana ada Rio kan, dia ngincar kamu kan Ka?"
"Sial! Di sana ada Lusi juga, dia tahu betul kalau Rista adik gue." Dika memukul setirnya. "Lusiana Sukma Santoso."
"Ngapain kamu nyebutin nama Lusi?" tanya Dedi.
"Namanya Santoso, dan tak ada perusahaan dengan pemilik bermarga Santoso yang berpeluang bersaing dengan Surya. Lalu kenapa Rio di sana. Perusahaan mana yang ingin menghancurkan Surya. Aaarrrgghhh!" Dika mengacak rambutnya frustrasi.
"Apa menurutmu Rio saudaranya Lusi?" tanya Dedi.
"Mungkin, dia kawasan ini adalah villa dengan konsep keluarga. Jadi kebanyakan yang datang adalah keluarga, atau setidaknya ramai-ramai seperti kita," terang Dika.
"Rio kan namanya Rio Rahardja bukan Rio Santoso."
"Kamu ngomong apa Rin?" tanya Dika yang tak begitu mendengar dengan jelas ucapan Rina.
"Rio, nama belakangnya Rahardja bukan Santoso," jawab Rina dengan suara yang lebih jelas.
"Astaga! Kenapa aku nggak dari kemarin-kemarin nanya sama kamu..."
Dika segera menepikan mobilnya dan berusaha menghubungi seseorang. Di saat yang sama, Dedi ternyata juga terus berhubungan dengan seseorang yang juga sangat mencemaskan keselamatan Rista.
__ADS_1
TBC