
^^^Nanya nih, serius nanya.^^^
^^^Status itu penting nggak sih?^^^
^^^Soalnya author pas banget dapet suami yang nggak pernah peduli sama status sejak belum nikah.^^^
^^^Dan author sering banget uring-uringan masalah ini, tapi dianya nggak pernah peduli.^^^
^^^Kasian ya, 🙄🙄🙄^^^
...*H A P P Y R E A D I N G*...
"Bu, di depan ada Den Restu..."
"Sama siapa Bi?" tanya Santi sambil melipat mukenanya.
"Sendiri Bu."
"Sudah disuruh masuk?"
"Sudah Bu."
"Terimakasih Bi. Tolong bikin minum ya langsung bawa ke depan," titah Santi pada asisten rumah tangganya.
"Baik Bu."
Setelah itu Santi bergegas untuk menemui putra sulungnya.
"Mama." Dika langsung berdiri saat menyadari kehadiran Santi.
"Kamu udah pulang Nak? Adik mana?" tanya Santi yang segera duduk di samping Dika.
"Sama Dedi."
"Di mana?"
Dika menggeleng. "Lupa nggak nanya."
Santi mengusap punggung putra sulungnya. "Ada apa sih anak Mama? Pusing sama kerjaan ya?" tanya Santi saat melihat putranya yang nampak kusut.
"Ma, Restu boleh nanya nggak?" bukannya menjawab, Dika justru balik bertanya.
"Tanya apa?"
Dika menghela nafas. "Mama dulu pas nikah cinta nggak sih sama papa?"
Santi terbelalak. Kenapa Restu harus menanyakan pertanyaan seperti ini?
Santi menghela nafas. "Maafin Mama Nak."
"Maaaa. Restu butuh jawaban bukan permintaan maaf." Terlihat sekali Dika sedang penasaran.
"Nak..." Santi belum siap jika Dika kembali membencinya.
"Ma please Ma, jawab aja."
Santi membulatkan tekat untuk menjawab pertanyaan putranya. "Mama dulu memang menikah karena diminta oleh kakek nenek kamu. Mereka menyukai almarhum papa kamu karena beliau memang baik dan bertanggung jawab. Awalnya memang tak ada cinta, tapi Mama selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk mas Hendro."
"Lalu perasaan Mama sama ayah gimana?"
Santi menghela nafaf. "Ayah kamu sudah lama dekat dengan Mama, namun dia hanya diam. Mama tahu dia menyukai Mama, tapi sekalipun tak pernah ia ungkapkan bahkan saat Mama bilang menyukainya, dia hanya diam." Santi menjeda ucapannya. "Hingga akhirnya papa kamu datang dan menyatakan ketertarikannya sama Mama."
__ADS_1
"Mama terima, atau semua kakek dan nenek yang memutuskan?"
"Mama yang menerima." Santi menunduk. Sepertinya ada sesal yang ia rasa saat ini.
Dika mengusap kasar wajahnya kemudian menyugar rambutnya.
"Nak, tapi Mama nggak pernah mempermainkan pernikahan Nak. Mama berani bersumpah kalau pun ada kesalahan, itu benar-benar kare khilaf, dan Mama sangat menyesal telah melakukannya." Santi meraih tangan Dika dan menggenggamnya.
"Go on Ma, Restu hanya ingin tahu. Jangan lagi disesali apa yang telah terjadi, karena tak akan pernah bisa merubah takdir."
Santi menghapus air mata emtah sejak kapan keluarnya.
"Kalau Mama tak mencintai papa, kenapa mama mau menerima pinangan beliau?"
Santi menghela nafas. "Karena Mama putus asa dan kecewa sama ayah. Awalnya Mama cuma mau mas Rudi segera memberi kepastian sama Mama, ternyata dia tak melakukan apapun. Mama yang kecewa akhirnya menerima lamaran almarhum papa kamu."
"Jadi Mama menerima lamaran papa karena ingin membuat ayah menyesal?"
Santi mengangguk. "Itu hanya awalnya Nak, tapi Mama tak pernah mempermainkan pernikahan."
Keduanya diam hingga seorang pelayan mengantarkan minuman.
"Kamu minum dulu ya Nak."
"Ma, apa status itu penting untuk perempuan?" tanya Dika tiba-tiba.
Santi mengernyit. "Perempuan itu butuh kepastian Nak. Meskipun diperlakukan sebaik apapun oleh laki-laki, jika tak diberikan status yang jelas, pasti akan berontak. Meskipun mulutnya diam, tapi Mama yakin perasaan setiap perempuan itu sama. Butuh kepastian dalam sebuah hubungan."
Dika diam. Dia seakan merenungkan setiap kata yang baru saja mamanya ucapkan.
"Nak..." Santi ingin sekali bertanya, namun ia takut putranya ini akan tersinggung karena ia terlalu ikut campur dalam urusannya. Karena bagaimana pun juga, Dika masih baru saja menerima kembali dia dan Rudi sebagai orang tuanya.
Santi mengernyit. "Ada yang bisa Mama bantu?"
Flashback On 1 jam yang lalu.
"Dika!" Rina Rina menjerit saat Dika menambah laju ya saat melewati rumah Rina.
Dika sempat melirik Rina yang duduk di sampingnya. Dapat ia lihat ada takut di sorot matanya yang membuat Dika menginjak pedal remnya dengan tiba-tiba.
Dika mencengkeram kuat setir di hadapannya berusaha menyalurkan emosi di sana.
"Dika, kamu jangan gini..." lirih Rina.
Dika diam dan tak bereaksi.
"Kalau kamu marah ngomong aja marah, nggak suka ya bilang aja nggak suka, kalau kamu nggak ngerti itu tanya, jangan diam aja dan kayak gini..."
Dika menghela nafas. "Itu tadi siapa?" tanya Dika dingin.
"Dia Awan."
"Dia siapa?"
"Dia tetangga Nita."
"Selebihnya?"
Dada Rina naik turun, antara marah dan takut. "Dia mantan aku!" Suara Rina meninggi.
"Kamu kenapa bisa diam-diam ketemuan sama mantan kamu. Kamu nganggep aku apa, ha?!"
__ADS_1
Air mata Rina luruh juga. Ia mau marah, tapi ia takut karena Dika tampak tak sedang baik-baik saja.
"Kamu ngehargain aku nggak sih." suara Dika melunak saat melihat air mata Rina luruh.
"Ngehargain? Ngehargain sebagai apa, sebagai bosnya papa, iya?" ucap Rina dengan suara bergetar.
"Rin, maksud aku...."
"Maksud kamu apa? Mentang-mentang kamu kaya, kamu bisa seenaknya. Iya aku cinta kamu, iya! Tapi aku cinta Dika yang dulu, yang tinggi empatinya, yang peka tanpa aku harus terlalu banyak berkata, yang nggak berbuat seenaknya tanpa ngasih aku kepastian status aku apa." Rina menumpahkan amarah dalam tangisnya.
Dika terdiam. Rina tak pernah seperti ini sebelumnya. Dia blak-blakan tapi tak pernah sampai terlihat frustrasi seperti ini.
"Aku capek Dik. Aku ngerasa mestinya kita saling memiliki, tapi aku takut itu hanya perasaanku saja, karena kamu tak pernah sekalipun memperjelas hubungan kita..." lolos juga kegundahan yang selama ini dipendam Rina
Dika meraih wajah Rina dan menghapus jejak air matanya. "Aku cinta sama kamu Rin, aku juga udah bilang sama masing-masing orang tua kita bahwa aku serius sama kamu. Jadi apanya lagi yang kurang jelas?"
Rina mendesah lelah. Dia melepas seatbelt dan keluar dari mobil Dika begitu saja.
"Rin..." Dika keluar dan mengejar Rina. "Kamu masuk ya, aku antar."
"Aku jalan aja."
"Rin, please..." Dika memohon masih dengan memegang pergelangan tangan Rina.
Rina menghempaskan tangan Dika dan berjalan kembali ke mobilnya.
Dika segera mengantar Rina kembali ke rumahnya.
Flashback off
Santi masih memperhatikan dengan seksama apa yang diceritakan putranya.
"Apa boleh saya yang bicara."
Dika dan Santi serempak menoleh ke arah pintu karena tiba-tiba ada yang berbicara di sana.
Dika mengangguk saat menyadari itu adalah ayah tirinya.
Rudi berjalan menghampiri keduanya. "Assalamualaikum..." ucapnya sebelum Santi mencium punggung tangannya.
"Waalaikum salam..."
Rudi kemudian duduk di kursi single di hadapan Dika.
"Ayah hanya mau kasih saran, mantab kan dulu hatimu, setelah itu berikan kepastian pada Rina. Setelahnya, kamu harus benar-benar komit terhadap apa yang telah kamu putuskan."
Dika nampak mengangguk.
"Karena yang ayah tahu, wanita tak hanya butuh bukti tapi juga diakui."
Dika mengangguk paham. "Terimakasih Ayah," ucapnya kemudian.
Kembali air mata Santi turun.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Rudi yang pertama menyadari kelakuan Santi.
"Saya terlalu bahagia Mas." Santi meneluk erat Dika.
Ketiganya tertawa, dan kemudian mulai mengobrol bersama.
TBC
__ADS_1