
HAPPY READING
“Kita pamit ya…” ujar Hana.
“Beneran nggak mau nginep?” tanya Rina.
“Em…” Hana menatap Andre sekilas sebelum menggelengkan kepala. “Mungkin kalau baby sudah lahir aku akan bermalam di sini. Siapa tahu butuh bantuan buat jaga.”
“Janji ya…”
“Iya…”
Hana harus sedikit menunduk untuk dapat memeluk Rina. Dua wanita ini juga sempat cipika-cipiki sebelum sama-sama melambaikan tangan melepas Hana pergi.
“Kalian ini. Besok juga ketemu lagi,” ujar Dika sambil merangkul istrinya.
“Iya juga…” Rina menyandarkan kepala di dada suaminya. Jika kebanyakan adegan wanita menyandarkan kepala di bahu suaminya, tapi untuk Dika dan Rina adegan ini tak bisa digunakan jika mereka sedang ada di posisi berdiri. Apa lagi yang menjadi masalah jika bukan tinggi badan dua orang ini yang terpaut lebih dari 30 centi.
“Hati-hati yaaaa!!!!” teriak Rina saat Hana Andre membawa Hana pergi meninggalkan gedung apartemennya.
Rina kembali memeluk pinggang suaminya selepas Hana pergi dari sana.
“Nah sekarang kasih penjelasan, kenapa kita harus mengantar mereka sampai sini dan sekarang harus naik ke lantai atas lagi,” tanya Dika karena Rina tadi memaksa dia yang baru tiba di rumah untuk mengantar Hana sampai bawah. Padahal Andre saja tak menjemput sampai ke atas dan hanya menunggu di bawah.
“Ya karena aku pengen saja…” ujar Rina dengan santai.
Dika menghela nafas. Kalau Rina sudah ada ingin tak akan bisa ditawar lagi, terlebih sejak hamil. Jika keinginan Rina tak Dika turuti, maka seabrek masalah akan menanti, termasuk kemarahan mamanya yang akan ia terima bertubi.
“Apa pun boleh lah buat princess Rina. Ya sudah, kita masuk ya…”
Rina mengangguk dan ikut saat Dika membawanya kembali ke tempat yang menjadi huniannya saat ini.
“Tadi ngobrolin apa?” tanya Dika saat kini mereka hanya di lift berdua.
“Emmm, banyak sih. Hana banyak cerita.”
“Cerita apa?”
“Curhat sih tepatnya,” ralat Rina agar Dika berhenti bertanya. Karena menurut Rina jika sesuatu yang merupakan curahan hati maka tak baik diceritakan meski itu dengan suaminya.
“Apa curhatan Hana ada hubungannya dengan Andre?” tanya Dika to the point.
“Emmm, gimana ya?” Rina masih berusaha tak menceritakan obrolannya dengan Hana.
Ting!
__ADS_1
Dika dan Rina keluar dari lift dan berjalan menuju unit yang mereka tempati.
Dika tak lagi mendesak istrinya. Ia ingin segera merebahkan tubuh lelahnya barang sejenak sebelum membersihkan diri dan makan malam bersama sang istri. Di apartemen ini mereka masih membawa asisten karena Rina yang sama sekali tak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mereka harus mempekerjakan asisten terutama untuk masalah makan, karena tak akan begitu baik jika mereka delivery atau makan di luar setiap hari.
Memang Dika menerapkan standard yang tinggi terhadap tempat-tempat yang sering menjadi tujuan makannya, namun Rina terkadang menginginkan menu yang tak terdaftar di restoran tersebut. Jika sudah demikian Rina akan jajan sembarangan asal inginnya tersampaikan, karena meski itu hanya menu sederhana, sama sekali ia tak bisa membuatnya. Sehingga keberadaan asisten memang sangat dibutuhkan.
“Mau makan malam dulu apa mau mandi dulu?” tanya Rina yang duduk di samping suaminya yang sedang merebahkan diri.
“Aku mau mandi dulu…” jawab Dika seperlunya.
“Ya udah. Kamu mandi, nanti gantinya aku siapkan di sini. Aku mau melihat Embak nyiapin makanan.”
Dika mengangguk dan merenganggangkan badan. Ia kemudian menyambar handuk dan menghilang di balik pintu kamar mandi.
Selepas mandi Dika mengajak istrinya untuk terlebih dahulu sholat isya’ sebelum makan malam dan bercengkerama untuk melepas kepenatan karena seharian bekerja.
“Beneran nggak ada yang pengen kamu ceritain soal perbincangan kamu sama Hana tadi?” lagi-lagi Dika menanyakan hal ini.
Meski ini adalah pertanyaan yangsudah Dika ulang beberapa kali, ia masih bisa menanyakannya dengan santai seakan tak peduli Rina akan menjawabnya atau tidak.
“Emm, e em…” kembali Rina menggeleng. “Kita cuma ngobrol biasa masalah wanita.”
Dika tak lagi mendesak istrinya. Ia mengusap-usap perut Rina sambil menatap langit yang bertabur bintang yang kini dapat mereka lihat dengan jelas dari balkon kamarnya.
“Oh iya, aku tadi cerita sedikit tentang kita dari sebelum menikah hingga kita akhirnya kita mempublikasi pernikahan yang kita simpan bertahun-tahun lamanya.”
Dika tak bereaksi dan terus membiarkan istrinya bicara apa yang ia ingin katakan.
“Sayang, apa iya kita diam saja melihat Hana sama Andre keblinger seperti sekarang?” tanya Rina tiba-tiba.
“Menurut kamu?” Dika balik bertanya karena ingin Rina yang berinisiatif sebelum ia mengungkap motif.
“Ya sebenernya itu urusan mereka, tapi kita ikut dosa nggak sih kalau membiarkan mereka berjalan dengan kesalahannya?” kembali Rina bertanya untuk menjawab kala Dika menanyakan pendapatnya.
“Aku dari tadi nanyain apa aja yang kamu bahas sama Hana ya salah satunya karena hal itu,” jelas Dika tentang maksud pertanyaan yang malam ini saja sudah ia ulang sebanyak dua kali.
“Itu apa?” tanya Rina tak mengerti.
“Now answer my question, sekarang Hana tinggal dimana?” alih-alih menjelaskan, Dika justru memberi Rina pertanyaan. Entah sampai kapan pasutri ini akan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi.
“Sama Andre sepertinya?” jawab Rina tanpa basa-basi.
Dika menjentikkan jarinya. “Aku tadi sudah coba ngomong sama Andre untuk segera menikahi Hana. Aku bilang kalau mereka tetap bertahan di jalan yang salah, masalah akan terus datang dan bahkan bertambah. Beda lagi kalau mereka mau coba berlaih ke jalan yang benar, meski terjal tapi setiap masalah pasti akan menemukan solusi dan jalan keluar.”
Rina yang semula menyenderkan kepalanya pada DIka kini tiba-tiba menegakkannya. “Terus-terus.”
__ADS_1
“Kata Andre dia sudah coba buat ngajak Hana nikah, tapi Hananya yang nggak mau.”
“Apa pak Edo sama tante Heni yang jadi alasannya?” tanya Rina sebelum menceritakan versi dari Hana yang ia dapatkan.
“Sepertinya mereka belum bicara, hanya saja mungkin mereka berdua tak siap mendapat tentangan. Jadi ya gitu, mainnya sembunyi-sembunyi tiba-tiba jadi calon bayi…” ujar Dika dengan nada jenaka.
Rina mendelik saat suaminya justru menjadikan masalah sahabatnya sebagai guyonan.
“Kok gitu sih…”
“Ya gimana lagi. Mau dilarang kaya apa ya Andre nggak bakal kehabisan cara untuk memuaskan ha***nya.”
“Iya juga sih. E tapi aku setuju sama kamu. Hana takut dirinya tak sepadan dengan Andre yang bisa dikatakan punya paket lengkap untuk ukuran seorang pria.”
“Persis kamu,” celetuk Dika tiba-tiba.
“Kok aku?” protes Rina yang tia-tiba dilibatkan dalam masalah hubungan haram sahabat mereka.
“Iya. Coba inget lagi, siapa dulu yang nolak pas aku ajak nikah?”
“Ya aku lah. Emang kamu pernah ngajak nikah orang lain?”
“Jangan playing victim sayang. Terus lagi, siapa yang pas udah nikah nggak mau pernikahannya diketahui orang?”
“Ak ku…” sedikit ragu namun RIna harus tetap mengakui.
“Alasannya apa? Coba katakan, aku mau dengar?”
“Kan kamu udah tahu…”
“Aku mau dengan sekali lagi.”
“Aaahhh, kamu ah.”
Dika kembali membawa Rina ke dalam pelukannya. “Bukankah kamu takut akan tuduhan dan pandangan orang terkait keberadaanmu yang tiba-tiba muncul sebagai istriku. Bahkan kamu khawatir papa sengaja mendekatkanmu denganku hanya untuk mendapatkan posisi di perusahaan, itu benar?”
RIna menghela nafas. “Benar…” sedikit tak rela tapi Rina benar-benar tak bisa mangkir dari terkaan suaminya.
“Tapi apa kekhawatiranmu ada yang terjadi setelah public tahu pernikahan kita?”
Rina meggeleng.
Dika menjentikkan jarinya. “Kenapa kamu tak coba menceritakan hal itu sama Hana? Aku nggak mau kita dapat transferan dosa cuma-cuma hanya karena membiarkan Andre dan Hana nyaman berendam dalam kubangan dosa.”
“Terus kudu gimana?”
__ADS_1
Bersambung…