Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Fokus


__ADS_3

HAPPY READING


“Dari tadi kamu belum selesai?” tanya Andre saat masuk ke ruangan Dika dengan membawa setumpuk berkas di tangannya.


“Belum,” Ujar Dika tanpa memandang Andre yang baru saja membawa pekerjaan tambahan untuknya.


“Tumben kerja kamu lemot. Ada apa gerangan?” tanya Andre yang kini sudah duduk di depan Dika tanpa dipersilahkan.


“Tadi Rina ngajakin makan pudding, jadinya waktuku tersita hampir setengah jam,” jelas Dika sebelum menutup lembar terakhirnya.


Andre menghela nafas. Tiba-tiba ia teringat Hana yang ia tinggalkan di rumah. Hana itu wanita yang tangguh dan mandiri. Ia tak biasa dilayani atau ditemani seperti Rina. Namun sekarang jelas sekali bahwa wanita ini selalu ingin di dekatnya. Mungkin ini yang biasa disebut bawaan bayi atau perubahan hormon kehamilan yang tengah Hana alami. Tapi sayang ia tak bisa mewujudkan apa yang Hana inginkan seperti Dika yang menuruti keinginan istrinya.


“Apa semua wanita hamil akan seperti itu?” tanya Andre ragu-ragu.


Dika mengalihkan sejenak pekerjaan yang baru saja dimulainya. Ia menatap Andre yang nampak menyimpan sejuta tanya dari sorot matanya. “Seperti itu bagaimana maksudnya?” Dika balik bertanya akhirnya karena tak paham dengan maksud ucapan sekertarisnya.


“Rina ingin selalu dekat dengan kamu kan?” Bukannya menjelaskan, Andre justru mengumpankan pertanyaan.


Dika menganggukkan kepala sebagai jawabannya. “Kalau Hana bagaimana?” Dika ganti mengumpankan pertanyaan lagi.


Andre meletakkan sebelah tangannya di tepian meja, dan menggerakkan jarinya perlahan. “She has the same willing I think.”


“So…?”


Entah sampai kapan mereka akan saling melempar pertanyaan, yang jelas kali ini Andre hanya menggidikkan bahu sebagai jawaban atas pertanyaan yang kembali Dika ungkapkan padanya.


“Kondisi dia gimana sekarang?” tanya Dika saat melihat ada hal yang mengganggu pikiran Andre saat ini.


“Dia masih lemah, dan dia juga…” Andre bimbang. Apakah mengatakan hal ini pada Dika adalah perlu dan merupakan keputusan yang tepat?


“Dia mau selalu bersamamu juga?” tebak Dika.


Kembali anggukan kepala menjadi jawaban Andre atas tebakan bosnya ini.


Dika benar-benar meletakkan pekerjaannya, bahkan ia sampai melepas kacamata yang kerap kali ia kenakan saat matanya lelah ketika bekerja.

__ADS_1


“Ndre, sebenarnya apa rencana ke depan kamu dengan Hana?”


Andre yang semula menatap ke sembarang arah tanpa fokus yang jelas kini perlahan membalas tatapan Dika yang fokus terhadapnya.


“Aku mau menikah dengannya Dik, tapi aku bingung bagaimana cara menghadapi mama dan papa. Aku nggak sanggup kalau melihat mereka kecewa.”


Dika tak langsung merespon ucapan Andre. Ia masih menunggu apa yang akan Andre ucapkan selanjutnya, karena dari nada bicaranya Dika tahu jika Andre belum menyelesaikan ucapannya.


“Aku khawatir Hana tertekan jika aku tak lekas menikahinya, namun jika aku buru-buru menikahinya sekarang, bukan berarti pula dia bebas tekanan.”


Dika mengangguk paham. Semua alasan Andre masuk akal. Ia bisa membayangkan bagaimana kacaunya pikiran Andre saat ini. Menyalahkan Andre yang kurang hati-hati pun rasanya percuma karena jika itu dilakukan tak akan bisa merubah keadaan jadi baik seperti sedia kala. Yang ada adalah semua makin kacau dan mungkin akan menimbulkan masalah baru yang mau tak mau harus tetap dihadapi dan diselesaikan dengan baik pula.


Tak ada yang mampu Dika lakukan selain menghela nafas dan diam. Karena jujur saja yang ada di pikirannya adalah menyalahkan Andre atas kecerobohannya.


“Ndre, apa masih ada pekerjaan di meja kamu sekarang?” tanya Dika sambil kembali memasang kacamatanya.


Andre menggeleng. “Sementara belum ada.”


“Bagaimana kalau kamu membantuku mengerjakan ini semua. Jujur aku tak bisa membantu kamu, tapi aku ingin mengajakmu menemui seseorang yang mungkin saja bisa mencarikan jalan keluar untuk masalahmu ini.”


“Ndre. Dalam pekerjaan kamu memang sekertarisku, tapi dalam kehidupan pribadi kamu tetaplah saudaraku. Sudah tak terhitung berapa banyak jasamu yang turut berjuang untuk urusan pribadiku, jadi sekarang ijinkan aku untuk ganti membantumu.”


“Thanks a lot Dika. Tak salah memang aku mengabdikan diriku padamu selama ini.”


“Tapi tetap aku tak bisa menggantikanmu mengambil keputusan meski tak masalah jika aku yang harus tanda tangan," lanjut Andre yang masih bertahan dengan pendiriannya.


“Ndre…, berapa lama sih kita bekerja bersama. Apa kamu masih belum tahu apa yang akan ku setujui dan apa yang akan aku tolak.”


Andre merenung sejenak. Sebenarnya ia sudah hafal dengan karakter Dika, namun menggantikannya mengambil keputusan, dia masih belum punya cukup keberanian.


“Apa kamu menunggu kandungan Hana membesar baru bertindak? Apa kamu ingin mengatakan jika ini karma yang Hana bawa dari masa lalunya?”


Andre terdiam. Ia merenungkan apa yang baru saja Dika katakan. “Oke. Akan aku lakukan sebaik yang aku mampu,” putus Andre setelah sebuah helaan nafas.


Dika tersenyum menang melihat reaksi Andre. Dia hanya mengeluarkan sekian persen kemampuan provokatifnya ternyata sudah berhasil menggoyahkan pendirian sekertarisnya ini. Pikiran Andre tengah kalut, sehingga cukup mudah untuk Dika membelokkan isi otaknya.

__ADS_1


Hampir satu jam mereka bekerja dalam diam, hingga suara pintu terbuka berhasil menginterupsi keduanya.


Dari balik pintu muncullah Rina dengan dress pink dan sneaker bermotif strawberry yang lagi-lagi merupakan hasil kerajinan tangan Lili.


“Kerjaan kamu masih banyak nggak?” tanya Rina yang berjalan perlahan ke arah suaminya.


Dika tak langsung menjawab. Ia menghitung berapa banyak berkas lagi yang harus ia singkirkan atau tanda tangani. "Tinggal dikit nih, Alhamdulillah Andre bantuin,” jelas Dika pada istrinya.


“Emm, aku laper,” ujar Rina yang melingkarkan lengannya di leher Dika dari belakang.


“Mau delivery atau mau makan kemana gitu?” tawar Dika yang siap dengan apa pun pemintaan istrinya.


“Aku mau makan di tempat Dian, tapi aku mau Dian yang masak.”


Dika melepaskan tangan Rina, dan menarik dengan lembut tubuh istrinya ke sisi depan tubuhnya. Rina memainkan jarinya di dada Dika saat ia sudah berada di pangkuan suaminya. Dika menyentuh puncak kepala Rina dan mengusapnya dengan penuh sayang. Ia jadi ingat peristiwa malam itu, saat Rina memaksa ingin makan di tempat Dian, mencoba menu baru yang restorannya saja belum resmi dibuka. Dika menyesal karena waktu itu ia begitu marah pada istrinya, karena Rina mendadak menyebalkan. Tidak tahunya karena pengaruh hormone kehamilan yang kini tengah dialaminya.


“Coba telpon Dian gih…” ujar Dika pada istrinya.


“HP aku ketinggalan, makanya aku nggak bisa hubungin Dian.”


“Aku kan juga nggak punya nomer dia,” timpal Dika.


Pandangan Dika dan Rina sempat beradu beberapa saat, sebelum keduanya serempak melempar pandangannya ke arah Andre yang sibuk dengan berkas-berkas di tangannya hingga sama sekali tak menghiraukan sepasang suami istri yang bermesaraan di hadapannya ini.


“Andre…”


Nampaknya Andre benar-benar fokus sehingga ia sama sekali tak mendengar jika Rina memanggilnya.


“Andre Wiguna!”


“Iya.”


Setelah Rina mengeluarkan nada tingginya barulah Andre menyahut.


“Ada apa Rin?”

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2