Zona Berondong

Zona Berondong
Kekasih Kecil


__ADS_3

...*HAPPY READING*...


"Ta, pulang ya abis ini..."


"Kenapa?"


"Masih banyak yang harus aku kerjain di kantor."


"Tapi aku masih kangen Kak..."


"Lagian aku juga udah minta supir untuk langsung balik tadi."


Dedi mengacak rambut kekasih kecilnya.


"Sekolah dulu yang bener, jangan pacaran terus."


"Ish..." Rista menyingkirkan tangan Dedi dari kepalanya.


"Pacarannya sama kamu juga."


"Iya deh."


"Kayak ogah-ogahan gitu jawabnya."


Dedi beringsut ke belakang tubuh gadisnya.


"Mau iya-iya tapi belum bisa," bisik Dedi tepat di belakang telinga.


Bukannya menghindar, Rista justru menyandarkan punggungnya di dada bidang kekasihnya. Ia bergerak-gerak untuk mencari posisi yang nyaman. Tak mau kalah, Dedi pun menyandarkan kepalanya di ceruk leher gadisnya dan menautkan kedua tangannya di depan perut Rista.


"Capek ya?"


Dedi mengangguk dengan mata terpejam.


"Kamu kurusan?"


"Enggak," jawab Rista yang juga ikut memejamkan mata.


"Tapi lingkar pinggang kamu mengecil."


"Tapi berat badanku naik."


"Mungkin kamu tambah tinggi."


"Tinggiku tetep sepundak kamu."


Rista memang terlalu tinggi untuk gadis seusianya.


"Berarti ada bagian lain di tubuh kamu yang lagi tumbuh."


"Apa?"


Dedi sudah gila. Ia melepaskan tangannya dan mulai bergerak mencari bagian tubuh yang dimaksud kepada Rista.


Hubungan tak sehat yang terlanjur dikenal keduanya membuat Rista diam saja saat Dedi menyentuhnya. Ada gelenyar aneh yang gadis ini rasa, namun ia masih diam saja karena menganggap Dedi adalah bagian dari hidupnya.


"Gimana?"


Entah bodoh apa gimana, Rista justru menanyakan kondisi tubuhnya pada orang lain yang malangnya dia adalah pria.


"Sudah penuh di tangan."


Dedi sedikit menekan saat Rista hanya diam.


"Is this mine?"


"No it just. But all off me."


Dedi sudah gila. Ini anak kecil Ded, kenapa kamu harus menganggap serius omongannya.


Ddrrrtttt dddrrttttt


Seketika Dedi melepaskan kuasanya pada tubuh Rista, dan meraih cepat ponsel di sakunya.


"A_assalamu alaikum, Om...." Dedi sedikit tergagap saat tahu Rudi yang menelfonnya.


"...."

__ADS_1


"Iya, sama saya."


"..."


"Iya Om, saya akan mengantarnya pulang setelah membereskan pekerjaan."


"..."


"Iya Om, tak masalah."


"..."


"Waalaikum salam warahmatullah..."


Dedi mengantongi ponselnya dan mengecup puncak kepala Rista.


"Kamu tadi nggak pamit sama Tante?"


Rista menggeleng.


"Lain kali jangan gitu ya. Mereka nyariin. Mana ponsel nggak kamu bawa."


Rista hanya diam dan menatap kekasihnya.


"Yuk balik ke kantor, abis itu aku anter kamu pulang."


Mereka berjalan meninggalkan privat room tempat mereka makan. Dedi tak lagi sembarangan saat mengajak Rista makan. Ia selalu memberikan yang terbaik untuk kekasihnya ini.


***


Untuk kali pertama Rina menginjakkan kakinya di kantor pusat Surya Group sebagai istri sah sang CEO muda. Sayang, tak ada yang mengetahuinya kecuali segelintir petinggi perusahaan yang loyalitasnya sudah tak diragukan.


Begitu turun dari mobil, ia sudah disambut dengan hormat oleh setiap stafnya, terlebih setelah kepergiannya selama beberapa waktu lamanya.


Tatapan tak suka jelas sekali Rina rasa, terlebih dari para pegawai wanita melihat Rina bisa sedekat ini dengan atasannya. Meskipun mereka tak berani menunjukkan rasa tak suka secara terang-terangan, namun Rina cukup peka sepertinya.


Dika sempat menatap sekilas wajah wanitanya. Melihat Rina menunduk ia lekas menghentikan langkahnya. Dengan telunjuk ia perlahan mengangkat dagu istrinya.


"Tegakkan wajahmu sayang."


"Mereka..." Rina ragu untuk melanjutkan ucapannya.


Dika meraih jemari Rina dan menggenggamnya. Rina menyambutnya dengan lebih erat. Kemudian mereka berjalan dengan wajah tegak mengabaikan berbagai jenis tatapan dari para manusia bermuka dua yang populasinya banyak tersebar di alam semesta.


Cklek


Diam-diam Dika merindukan ruangan yang hampir setahun ini menjadi tempatnya menghabiskan hari.


"Kok sepi?" tanya Rina saat tak melihat ada manusia padahal di dalam nampak terdapat dua buah meja kerja.


Cklek


Dika perlahan menutup pintu dan mengajak Rina untuk duduk di sofa.


"Sepertinya mereka sedang keluar," jawab Dika.


Tok tok tok


Dika tak langsung menjawab. Ia justru diam sembari menatap pintu.


Tok tok tok


"Masuk..." jawab Dika akhirnya setelah pintu diketuk untuk kedua kalinya.


Cklek


Pintu terbuka dengan menampakkan Andre di sana. Pemuda itu masih diam ditempat karena bingung harus bersikap. Ia sedang ingin mengkonsultasikan berkas dengan Dedi selaku wakil Dika selama bosnya ini tak ada. Tapi saat ini, ia malah berhadapan langsung dengan Dika sementara Dedi tak ada.


"Kok bengong Ndre, masuk aja."


Perlahan Andre berjalan menghampiri Dika, tentunya setelah ia menutup pintu dengan baik sebelumnya. Andre berhenti di depan Dika dan Rina.


"Kapan kalian balik?"


"Sekitar 2 jam yang lalu."


"Barusan banget berarti?"

__ADS_1


"Iya. Dedi ke mana?"


"Dia keluar. Tadi adik kamu ke sini?"


"Dia keluar sama Rista?"


Andre mengangguk. Ia kembali mengingat adegan 17+ yang dilakukan Dedi bersama adik bosnya ini. Ia ragu apakan harus mengatakannya pada Dika atau diam saja seolah tak tahu apa-apa.


"Hey..."


"Ha, iya gimana?" Andre tergagap.


"Dedi lagi keluar sama Rista?" ulang Dika.


"I_iya..."


Dika merasa ada yang aneh dengan sikap Andre. Ah, palingan dia nganggeo Dedi gila karena pacaran sama anak kecil.


"O, iya. Kamu tadi ke sini..." ucapan Dika menggantung.


Andre langsung teringat tujuan utamanya menemui Dedi. Sebelum tahu ada Dika di dalam, ia mengira Dedi sudah kembali ke tempatnya.


"Ini, tolong kamu periksa ulang sebukeum kamu tanda tangani."


Dika menerima map yang diulurkan Andre.


"Apa Dedi sudah memeriksanya?" tanya Dika sembari membolak-balik kertas yang dipegangnya.


"Belum. Dia melarangku bertanya apa pun sebelum aku berhasil menyelesaikannya."


Kedua sudut bibir Dika tertarik, menampilkan senyum palsu yang justru nampak pilu.


"Duduk Ndre."


Andre baru berani duduk setelah Dika mempersilahkan.


"Kamu pasti tertekan selama bekerja berdua dengan Dedi?"


Andre menatap Dika dengan mulut terkatup rapat. Ia tak paham kemana arah pembicaraan ini nantinya. Jadi ia memilih untuk diam.


"Perlahan kamu harus bisa menjalankan apa yang Dedi kerjakan untukku selama ini jika kamu masih ingin bertahan, jika tidak terpaksa pak Edo yang saya seret kembali ke posisi ini."


Andre menelan ludah.


"Tenang, hanya tugas utama sebagai sekretaris pribadi, tapi untuk yang seperti ini tetap aku yang akan melakukan."


Tanpa sadar Andre mengurut dadanya membuat Dika tertawa kecil melihat tingkah bawahannya ini. Saat tak sengaja menoleh, ia dapat melihat wajah istrinya yang tak sumringah.


"Sayang, kamu bisa istirahat kalau capek?"


Rina tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Atau mau keliling kantor mungkin?" tawar Dika.


"Boleh kah?"


"Ya boleh lah, siapa juga yang melarang."


Tiba-tiba bayangan para pegawai wanita yang menatapnya sinis mampir di benak Rina. Ia merasa jalan-jalan sendirian keliling kantor bukanlah suatu pilihan yang tepat.


"Kok diem. Go on kalau mau lihat-lihat kantor ini."


"Nggak deh. Enakan ngelilingin ruangan kamu?"


Rina mulai berjalan dan berhenti di salah satu pintu di sudut ruangan.


"Masuk aja, di sana ada ranjang kalau kamu mau istirahat."


Rina memegang handle pintu dan perlahan menariknya.


Kreiyt


Mata Rina membola saat melihat pemandangan tak terduga di hadapannya. Cepat-cepat ia menutup pintu, sebelum Dika dan Andre juga melihatnya.


" Kenapa sayang?" tanya Dika saat ekor matanya menangkap ada yang tak biasa dengan istrinya.


"Nggak apa-apa, aku masuk dulu."

__ADS_1


Rina segera masuk dan menguncinya dari dalam.


TBC


__ADS_2