
...*HAPPY READING* ...
Menjelang tengah hari, pasangan pengantin baru Rina dan Dika masih belum juga keluar dari kamarnya. Dengan handuk yang masih melilit kepala, Rina kembali merebahkan tubuhnya.
"Sayang, kok tiduran lagi. Bangun yuk, kita keluar."
"Aku ngantuk. Merem bentaaarrrr aja..."
Dika perlahan membawa tubuh Rina untuk duduk.
"Kita harus keluar sayang. Malu sama Papa Mama..."
Spontan mata Rina terbuka. Wajahnya memanas saat bayangan adegan dewasa yang pagi tadi mereka mainkan.
"Dih, pipinya merah...."
Dika mencubit pipi kanan dan kiri Rina, sebelum akhirnya menciumnya dengan penuh cinta.
"Eh tahu nggak, kamu tadi hebat, hhhbbbffftt....."
Spontan Rina membekap mulut Dika sebelum suaminya ini terus berbicara.
"Hahh, hahhh, hahhh..."
Dika terengah-enggah setelah berhasil melepaskan diri dari bekapan istrinya.
"Mau jadi janda selepas malam pertama, ha?"
"Diiaaaammm!" Rina berteriak dengan mata terpejam.
"Stt."
"Jangan teriak-teriak, malu." Ucap Dika memperingatkan.
"Biarin!"
Dika ganti menutup mulut istrinya, saat nada tinggi kembali di teriakkan. Rina berontak dan membuat keduanya sama-sama terjatuh dan berguling-guling diatas kasur.
Kimono yang membalut tubuh keduanya koyak karena adegan berbalas serangan yang dilakukan. Dan ya semua tahu apa yang terjadi selanjutnya. Adegan dewasa kembali terulang, padahal rambut mereka saja belum kering sempurna.
...***...
Jam 4 petang, Dika dan Rina baru menampakkan diri di luar kamarnya. Tak ada Reno dan Ririn, hanya ada asisten yang menyampaikan pada pasangan pengantin baru ini bahwa mereka tengah ada keperluan ke luar.
Rasa lapar yang tak tertahankan membuat keduanya langsung menyerbu makanan yang telah terhidang di meja.
"Besok kita pindah ke rumah ya..."
Spontan Rina meletakkan sendok dan garpunya.
"Kenapa?" tanya Dika yang menyadari air muka istrinya yang langsung berubah.
Rina tak lantas menjawab. Matanya memanas dan cairan bening meluncur begitu saja tanpa diundang. Rina berlari menyusuri tangga dan segera masuk ke kamarnya.
"Ya ampun. Bisa nggak sih ngomong dulu, nggak main kabur sambil nangis."
Dika menggerutu sambil kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut. Perutnya yang lapar mendadak kenyang. Akhirnya ia meletakkan peralatan makannya dan memacu langkah panjangnya untuk menyusul Rina.
Cklek!
__ADS_1
Pintu terbuka dan menampakkan Rina yang tengah tengkurap dengan bahu bergetar.
Dika memilih untuk diam dan merebahkan diri di samping istrinya. Ia dengan sabar menunggu hingga istrinya tenang, baru kemudian ia akan berbicara.
Tanpa diduga, Rina beringsut dan memeluk Dika dari samping. Dia masih terisak dengan menjadikan Lengan Dika sebagai bantalnya.
"Kamu kenapa, hmm?"
Rina masih enggan bersuara. Ia memilih untuk mengeratkan pelukannya.
"Kalau kamu cuma nangis tanpa bicara ya mana aku ngerti maunya apa?"
Rina menggerak-gerakkan kepalanya. Menggesek-gesekkan wajahnya di baju Dika untuk membersihkan sisa air mata. Dika tertawa kecil melihat tingkah gadisnya. Ini kaki pertama ia melihat kelakuan absurd Rina. Bukannya illfeel, Dika justru gemas dan spontan mengacak rambut istrinya.
Dengan wajah cemberut, Rina menatap wajah Dika.
"Katanya aku bebas mau tinggal di sini meskipun udah nikah."
"Ya Tuhaaaann..." ternyata ini yang bikin kamu nangis.
"Kalau nggak mau kan tinggal ngomong sayang, jangan langsung ngambek dan ngacir gitu aja. Apa lagi sampai nangis-nangis kayak gini."
"Apa kata papa mama kalau mereka tahu aku bikin putri kesayangannya nangis sehari setelah pernikahan, hmm?"
Rina menghela nafas.
"Jadi masih boleh aku di sini?"
Dika menangkup wajah Rina.
"Boleh lah, tapi kamu harus ingat, tempat kamu adalah di sampingku, jadi aku berharap kamu tak terlalu lama membiarkan jarak terbentang diantara kita."
Senyum akhirnya terbit di wajah Rina. Ia kembali memeluk dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Dika.
Ah sudah lah. Adegan selanjutnya adalah adegan dewasa. Entahlah ini namanya maruk atau apa, yang jelas mereka merasa tak pernah cukup hanya dengan memeluk saja.
...***...
Dedi hari ini benar-benar sibuk. 4 hari terhitung sejak h-1 pernikahan Dika, ia harus berjuang sendiri. Memang ada Andre, namun Andre belum mampu berbuat banyak. Edo sudah punya tugas sehingga tak bisa turun untuk membantu urusan Dedi, sehingga Dedi nyaris seperti bekerja sendiri.
Pukul 8 malam Dedi masih berkutat dengan tumpukan berkas. Andre masih ada, namun bukan untuk bekerja namun lebih seperti murid yang menunggu Dedi untuk mengajarinya.
Tanpa lelah Dedi terus memberi arahan dan koreksi pada Andre sembari ia melanjutkan pekerjaannya.
Kurang dari 5 menit lagi sudah pukul sepuluh, dan Andre sudah hampir kehabisan daya.
"Kamu istirahat aja Ndre, atau pulang dulu juga nggak masalah."
Inginnya berkata iya, sayang Andre masih punya etika. Ia tak enak jika harus meninggalkan Dedi berjuang sendiri.
"Aku tunggu deh. Otak aku udah nggak mampu ngimbangin kamu."
Dedi tertawa kecil sembari membenahi kacamatanya.
"Cuma belum biasa, nanti semua ini bukan lagi jadi masalah buat kamu."
Andre tak menjawab. Ia memilih untuk duduk di sofa sambari memijat pelipisnya.
Pantas saja Dika terlihat berat melepas Dedi. Dia jenius dan punya integritas tinggi. Dedi bisa menghandle masalah yang seorang profesional pun butuh waktu untuk mengatasinya.
__ADS_1
Hampir pukul 11, akhirnya Dedi berhasil menyelesaikan semua.
"Udah?"
Dedi mengangguk sambil menyambar jasnya.
"Kamu harusnya pulang dulu tadi."
"Ya nggak mungkin lah. Masa iya aku pulang dulu sementara kamu masih harus berhadapan dengan setumpuk pekerjaan."
"Meskipun aku nggak ikut kerja, seenggaknya aku bisa lihat kamu kerja dan pelan-pelan mempelajari semua."
"Biasanya nggak akan seperti ini. Terlihat banyak, karena pekerjaan yang seharusnya dihandle Dika juga aku kerjakan. Tahu sendiri doi baru..."
Dedi tak melanjutkan ucapannya saat ponsel di sakunya berdering.
"Halo, assalamualaikum."
"..."
"Iya, ini masih mau pulang."
Dedi tertawa kecil dengan ponsel menempel di telinganya.
"Iya sayang, kamu istirahat ya."
"..."
"Iya."
"..."
"Iya. Assalamualaikum."
Masih dengan senyum yang terbingkai manis di wajahnya, Dedi kembali mengantongi ponselnya.
"Adiknya Dika?"
Dedi mantap Andre dan mengangguk.
"Kamu serius sama dia?"
"Menurut kamu?"
Andre merasa tak pantas melanjutkan ucapannya.
"Kamu mungkin seperti kebanyakan orang yang menganggap aku gila, kelainan atau hanya memanfaatkan Rista untuk mengangkat derajat saat tahu aku berhubungan dengannya."
"Tapi jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku sangat mencintainya. Mencintai Rista sebagai wanita, bukan lagi menganggapnya adik atau anak kecil."
Andre menatap sekilas wajah serius Dedi.
"Aku hanya berharap, semoga aku memang berjodoh dengan Rista nanti."
"Sepertinya itu sudah pasti. Selain karena orang tua sudah merestui, Rista juga tampak sangat menyukai kamu."
"Tak ada yang pasti di dunia ini," jawab Dedi sebelum menghentikan langkah di samping mobilnya.
"Hati-hati," lanjut Dedi sebelum masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Andre pun melakukan hal yang sama. Ia ingin segera pulang dan berjumpa dengan kasur empuknya.
TBC