
HAPPY READING
Kini Andre sudah lupa semarah apa dia beberapa menit yang lalu.Tekanan pekerjaan yang tinggi ssrta Elis yang berulah membuat ia benar-benar marah. Untung Hana segera datang dan menjinakkannya. Jika tidak, mungkin akan ada lebih banyak bencana karenanya.
“Elis hanya manusia yang yang sedang merasakan cinta yang Tuhan berikan, Sayang...” ujar Hana saat Andre memberi kesempatan berbicara.
“Tapi yang menjadi objek cintanya itu adalah saya Hana…” ujar Andre sambil menunjuk dirinya.
“Lantas?”
“Apa kamu tidak merasa terganggu kalau pacar kamu disukai orang?”
Hana menggeleng dengan senyum terpatri indah di wajahnya. Namun seketika berganti dengan mode siaga saat ia merasa Andre hendak kembali menyerangnya.
“Janjinya gimana?” Hana coba mengingatkan saat merasa dirinya dalam bahaya.
“Aku hanya ingin sedikit memberimu pelajaran.”
“Pelajaran apa, pelajaran eemmm,” ucapan Hana terhenti. Ia melengos sambil menahan bajunya yang Andre tarik entah untuk apa.
“Pelajaran kalau aku bisa ngasih kamu kenik*atan...”
Mulai ngaco kan. Batin Hana.
Hana mendorong Andre sekuat tenaga sebelum kemudian berusaha melepaskan diri dari pangkuan kekasihnya.
“Ini di kantor ya Tuhan. Kalau dosa sudah jadi bagian dari diri kita, setidaknya aku tak mau menanggung malu karena ceroboh dan tak mencegahmu menciptakan lebih banyak dosa.”
Akhirnya Andre melonggarkan lengannya dan membiarkan Hana menyelamatkan diri dari terkamannya.
“Aku mumet Han…” Adu Andre pada kekasihnya. Tangan yang semua ia gunakan untuk memeluk Hana kini digunakan untuk memegangi kepala.
“Mumet kenapa?” tanya Hana iba.
“Mana bisa aku nyelesein ini semua, sedangkan rencananya bakal kita kerjain bertiga.”
“Bertiga?” ulang Hana.
“Iya bertiga. Aku, Dika, sama Dedi juga,” ujar Andre menjelaskan.
"Oh..." Hana megangguk saat paham jika pekerjaan yang sedang Andre bahas sekarang.
“Terus mereka sekarang dimana? Kok kamu di sini sendiri?” tanya Hana kemudian.
“Ya itu, Si Dika sok-sokan minta Dedi pergi dan nggak usah bantuin lagi, karena dia pengen Dedi bantuin Om Rudi yang sekarang lagi kelimpungan kekurangan tenaga ahli. Nah apesnya Si Dedi malah beneran pergi, padahal si Dika maunya si Dedi berhasil dia gertak dan melakukan apa maunya.”
Hana menutup mulutnya yang dengan kurang ajar menyemburkan tawa. “Terus?” tanyanya lagi setelah hajatnya dapat diredam.
“Ya terus Dika pasti mumet juga tuh dengan pekerjaan segini banyak, mana meeting juga padet. Jadi dia milih kabur dan semua ditumplekin sama gua. Gila nggak tuh.”
__ADS_1
“Lebih gila lagi kalau kamu sampai pecat Elis. Mbak Riza sama Rahma bisa botak Ndre…”
“Gimana lagi. Itu karena salah dia sendiri.”
“Tapi coba kamu pikirin deh. Cari pengganti Elis itu nggak mudah loh. Bahkan setelah aku pergi belum ada yang menggantikan sampai sekarang.”
Andre menyandarkan punggungnya dengan mata terpejam. Perlahan tangannya terangkat untuk memijat pangkal hidungnya.
“Ndre. Coba bicarakan dulu baik-baik ya. Jangan asal pecat…” pinta Hana sungguh-sungguh.
Andre perlahan membuka lagi matanya membuka matanya dan langsung disambut Hana yang telah menatapnya. “Pacar kamu ada yang suka loh. Nggak ada niatan untuk cemburu atau gimana gitu?”
Andre kian tak habis pikir saat dengan santainya Hana justru tertawa.
“Aku tahu kamu cinta sama aku,” ujar Hana dengan kadar percaya diri yang sangat tinggi.
“Tapi kamu nggak takut kalau dia melakukan berbagai cara untuk mendapatkan aku?”
“Andre. Aku setahun lebih kerja sama Elis. Aku tahu tadi itu adalah hal ternekat yang ia lakukan. Dia orang baik Andre, hanya saja mungkin cinta berhasil membuatnya kehilangan logika untuk sementara.”
Andre menegakkan tubuhnya dan meletakkan tangannya di atas meja. “Jadi menurut kamu apa yang harus aku lakukan?” Andre coba minta pendapat Hana.
“Biarkan dia bekerja dan pantau kinerjanya. Jika memang kamu merasa dia tak layak untuk dipertahankan, ya silahkan. Yang penting berikan dia kesempatan.”
Andre menghela nafas dan menyandarkan kembali punggungnya. “Panggil dia sekarang,” pintanya pada Hana.
Hana tertawa kecil mendengar bagaimana Andre berbicara padanya. “Saya bukan lagi staf Anda Bapak.”
“Duduk,” ujar Andre tanpa menatap Elis.
“Terimakasih Pak Andre,” ujar Elis sebelum ia menarik kursi.
“Mau ke mana kamu?” panggil Andre cepat saat melihat Hana mundur dengan gerakan perlahan.
”Saya ingin menunggu di luar,” jawab Hana seperlunya.
“Kamu ke sini,” titah Andre dengan menggerakkan kepalanya untuk menunjukkan ke arah mana Hana diminta.
Setelah sebuah helaan nafas, Hana berjalan ke arah yang telah Andre tunjukkan. Dan kini Hana berdiri di samping Andre yang duduk di kursi kebesarannya.
“Elis, ini adalah kekasih saya.” Tanpa basa-basi Andre memperkenalkan Hana pada Elis yang baru saja menyatakan perasaan padanya.
Hana memaksakan kedua sudut di bibirnya untuk tertarik ke dua sisi yang berbeda. Jujur ia ingin memukul Andre dengan apa pun benda keras di sekitarnya. Meski ia sangat bahagia saat Andre mengakuinya di depan wanita yang menaruh hati pada kekasihnya ini, tapi bukan berarti secepat ini. Ia tak bisa membayangkan betapa remuknya hati Elis meski yang Andre katakan adalah kenyataan.
Elis menunduk setelah sebelumnya sempat bertemu tatap dengan Hana. “Maafkan saya Nona.” Kata-kata itu meluncur dengan mulus dari bibir Elis.
“Saya tak meminta permintaan maaf kamu. Yang saya mau komitmen kamu.” Bukan Hana yang menjawab, melainkan Andre tanpa menatap.
Elis perlahan mengangkat wajahnya.
__ADS_1
“Kekasih saya yang minta untuk saya tak langsung memecat kamu,” lanjut Andre pada stafnya ini.
Elis nampak menelan ludah. Ia berusaha tersenyum meski pun terlihat susah. “Terimakasih Nona.”
“Lupakan semua itu. Sekarang jawab pertanyaan saya. Apa komitmen kamu setelah ini.” Baru saja Hana hendak membuka mulut, namun Andre sepertinya tak memberinya kesempatan untuk bicara dengan Elis sekarang.
“Saya…, saya…”
Hana tahu Elis gugup. Siapa yang tidak keder juga. Andre kalau sudah marah wajahnya menyeramkan seperti orang kesetanan. Dan ia sendiri pernah merasakan langsung menjadi sasaran kemarahan Andre hingga membuatnya menyerah dan tertawan seperti ini.
Hana tak mau bicara lagi, tapi ia tak bisa diam saja melihat Elis yang menurutnya tak sepatutnya diperlakukan seperti ini. Dengan tangan halusnya, Hana perlahan menyentuh pundak kekasihnya, berharap dengan begini Andre bisa sedikit menurunkan emosinya.
Cara Hana sepertinya berhasil. Andre menarik tatapan tajamnya dari Elis dan perlahan menatap Hana. Ia nampak tersenyum dan meraih tangan Hana yang bertengger manis di pundaknya.
“Apa saya boleh bicara?” tanya Hana pada Andre sebelum memulai ucapannya.
Andre enggan bersuara. Ia hanya menganggukkan kepala.
“Maksud Pak Andre, bagaimana komitmen kamu terhadap pekerjaan. Beliau ingin tahu sebelum yakin untuk tetap mempertahankan kamu sebagai stafnya…” jelas Hana dengan lembut pada Elis yang terlihat takut.
“Saya sangat menyesal dengan kobodohan yang baru saja saya lakukan. Saya tak akan mengulanginya lagi dan akan lebih giat bekerja. Saya juga berjanji akan selalu memberikan performa yang terbaik terhadap setiap pekerjaan yang saya terima.”
“Apa saya bisa pegang kata-kata kamu?” Baru saja Hana hendak bersuara, Andre terlebih dahulu kembali memotongnya.
“Iya Pak,” jawab Elis dengan anggukan mantab.
Andre perlahan menyandarkan kembali punggungnya. Ia nampak tak lagi peduli dengan keberadaan Elis di sana. Ia menarik tangan Hana dan membawanya turun dari pundaknya. Hana yang sebenarnya tak nyaman hanya pasrah saja dari pada Andre marah lagi dan berakibat buruk pada orang di sekitarnya, seperti Elis yang baru saja terlepas dari ancaman kehancuran karir.
Hal ini turut membuat Elis bingung sendiri. Haruskah ia tetap di sana atau segera pamitan untuk meninggalkan ruangan atasannya.
“Sepertinya semua sudah jelas ya. Untuk saudara Elis, apa ada yang ingin anda tanyakan?” tanya Hana memecah diam.
Elis yang semula belingsatan menatap ke sembarang arah, kini langsung membalas tatapan Hana. Hana pun tersenyum dan mempersilahkan Elis berbicara.
“Apa saya boleh bertanya?” tanya Elis akhirnya.
Hana menarik tangannya yang sedang Andre mainkan jemarinya karena merasa pertanyaan Elis pasti berhubungan dengan Andre bukan dengannya.
“Gimana?” tanya Andre yang sepertinya memang benar-benar mengacuhkan stafnya ini.
“Saudari Elis mau tanya,” lirih Hana menjelaskan.
“Ada apa Lis?” tanya Andre to the point.
“Saya mau tanya, tapi sama Nona.”
Hana hanya mampu mengerjab kala Andre tampak menarik diri dari obrolan ini. Tak ada pilihan lain selain menganggukkan kepala.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Elis yang tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanyaan saat Andre tampak lebih tenang.
__ADS_1
Bersambung…