
Yok, yok. Jempol digoyang.
Tinggalkan jejak kalian, biar Senja makin semangat ngehaluanya dan bisa update sehati 2 bab lagi.
Kiss, kiss, kiss.
*HAPPY READING*
Pandangan Dika dan Rina beradu saat pria tampan ini berdiri dengan memegang tepian kolam. Dengan mata teduh dan senyum tulusnya, Rina memandang lekat suami tampannya.
Tak heran Dika punya tubuh yang bugar, karena ia selalu berolahraga di waktu senganggnya.
“Nggak ada niat ngambilin handuk?” tanya Dika yang belum mampu menatap lama istrinya. Ia masih canggung jika ingat kejadian di rumah sakit tadi. Jelas ia malu karena berkelakuan seperti tadi, tapi apa daya. Dirinya begitu takut sehingga tidak bisa mengendalikan diri.
Rina bangkit mengikuti permintaan suaminya. Ia kembali dengan handuk dan minuman di tangan kanan dan kirinya.
“Makasih…”
Dika mengangkat tubuhnya dari dalam air dan duduk di tepian seperti Rina tadi. Mereka duduk berdampingan dengan mulut yang sama-sama diam.
“Sudah berapa lamu kamu nggak renang?” tanya Dika dengan menatap lurus ke depan.
“Entah lah, aku lupa," jawab Rina sedikit enggan.
“Olahraga itu bukan semata buat jaga bentuk tubuh, tapi jaga kesehatan sama stamina juga."
“Emang aku nggak sehat?”
“Sehat sih, tapi…” Dika mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Rina. “Tapi suka ngos-ngosan kalau abis main di ranjang.”
“Ihhh…”
Rina memukul lengan Dika dengan kesal.
“Nggak mengurangi kualitas service tapi kan?” dasar Rina. Masih dijawab ternyata.
Dika bangkit dan melilitkan handuk di pinggangnya.
“Eh…”
Rina kaget saat tubuhnya terasa melayang. “Mau kemana?” panic Rina saat Dika tiba-tiba menggendongnya ala bridal style.
Mereka masuk rumah dan melewati beberapa orang aisten yang tengah menjalankan tugasnya. Mereka membungkukkan badan dan sejenak menghentikan aktivitasnya saat Dika lewat dan berjalan tenang di depan mereka.
“Sayang, mereka pada lihat tuh.”
“Biarin, orang punya mata,” cuek Dika dengan terus melanjutkan langkahnya.
Rina mendengus. Perasaannya tak enak.
Cklek!
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, dan Dika segera masuk setelahnya.
Brak!
Pintu kembali tertutup saat Dika mendorong dengan kakinya. Ia berjalan ke arah ranjang dan membaringkan tubuh istrinya di sana dengan perlahan. Handuk yang melilit pinggang Dika merosot jatuh di dekat kakinya. Reflex Rina memegangi bagian depan kimononya.
“Mau ngapain?”
Rina langsung memasang mode siaga saat melihat bagian bawah tubuh suaminya menggembung dengan sempurna.
“Mau ngecek stamina.”
Dika tak memberi kesempatan pada Rina untuk berfikir lebih lama. Ia menarik tali kimono istrinya dan langsung menceburkan diri ke lautan cinta.
***
Andre berjalan dengan penuh wibawa melewati jajaran staf di kantor tempat ia bekerja. Entah mengapa ia begitu ingin mengunjungi restoran sahabatnya. Jika beruntung mungkin ia juga bisa bertemu dengan pemiliknya. Dian, adalah sahabat sekaligus mantan kekasihnya, yang sekarang sangat ingin ditemuinya.
Saat tiba di depan kantor, mobilnya sudah siap di sana. Ia langsung masuk dan membawanya berjalan setelahnya.
Saking sibuknya bekerja, Andre nyaris tak punya waktu untuk dirinya. Untung ia mendapat support penuh dari orang tuanya yang juga dengan sabar mendengar keluh kesahnya karena harus memikul beban berat sejak usia yang masih belia.
Jika pekerjaan sedang banyak dan dirasa hal tersebut diluar kapasitasnya, tak jarang ia mengeluh dan ingin menyerah saat itu juga. Ia iri pada mereka yang bisa menjalankan kehidupan normal sebagaimana remaja pada umumnya. Namun setelah kini ia bisa menuai hasil jerih payah yang telah dilakoninya, ia jadi bersyukur karena bisa memulai segala sesuatunya lebih awal dari pada mereka yang seusianya.
Saat ia melewati jalan yang cukup sepi, tak sengaja ia melihat perempuan muda yang nampak ketakutan karena diganggu oleh dua orang berandalan. Karena tak suka melihat yang demikian, akhirnya ia menepikan mobilnya.
“Dua pria mengganggu satu wanita, apa sebenarnya kalian ini banci yang masih suka tampil sebagai laki-laki.”
Ucapan Andre berhasil menghentikan dua orang preman yang tengah melancarkan aksinya. Salah satu diantaranya memutar tubuhnya dan menatap remeh kepada Andre yang muncul dengan beraninya, sedangkan yang satunya sedang memegangi perempuan cantik yang menjadi target buruan mereka.
“Sayangnya aku terlanjur tahu, jadi ini sekarang juga urusanku.”
Andre membuka kancing lengan kemejanya dan menggulungnya sesiku dengan santai.
“Bacot!”
Pria bertubuh dempal itu mulai memberikan serangan. Namun sayang kepalan tangan itu masih bisa Andre hindari sambil menekuk lengan kemaja yang belum tergulung dengan sempurna.
“Kenapa hanya menghindar. Nggak bisa bales, ha?!”
Pria kekar itu kembali menghujani Andre dengan serangan. Namun Andre masih terus menghindar. Perempuan itu terlihat sangat ketakutan, terlebih ketika seorang lagi yang semula memeganginya turut menyerang Andre.
“Tolonngg, tolooonngg!!!”
Perempuan ini berteriak dengan kencang. Berharap akan ada yang mendengar suaranya dan datang untuk membantu Andre melawan kedua preman ini.
Ternyata di luar dugaan. Andre dapat melumpuhkan kedua preman ini dengan sekali serangan.
“Nah kan, baru gini aja ambruk.”
Andre berjongkok tepat di hadapan mereka.
__ADS_1
“Lain kali coba targetin lawan yang seimbang, jangan cuma sama perempuan beraninya.”
Mereka tak berani menjawab. Mereka takut kalau Andre akan kembali menghajar mereka. Setelah yakin kedua orang ini sudah tak berdaya, ia bangkit dan menghampiri si wanita yang berdiri tak jauh darinya.
“Terimakasih Pak Andre…”
Andre terkejut saat wanita ini mengenalnya. Ia memicingkan mata karena pencahayaan yang sangat minim di tempat ini.
“Hana?” kaget Andre saat mengetahui siapa si
wanita.
“Iya. Terimakasih Bapak bersedia menolong saya. Saya permisi dulu.”
Andre menahan tangan Hana yang hendak pergi dari hadapannya. “Biar saya antar. Sangat
berbayahaya kalau seorang wanita berjalan sendiri di daerah sesepi ini.”
“Tidak perlu Pak. Saya benar-benar bisa sendiri.”
“Saya sedang tidak meminta pendapat anda.”
Andre membawa Hana menuju mobilnya. Ia meminta Hana masuk setelah membuka pintu untuknya. Ia kemudian berjalan memutar dan turut masuk segera.
“Kamu mau dari mana? Mana kendaraan kamu?” tanya Andre yang masih menatap heran Hana yang duduk di sebelahnya.
“Engg, papa mencabut semua fasilitas saya.”
Sekali lagi Andre menatap wanita di sebelahnya.
“Kok bisa. Bukankah beberapa hari yang lalu kalian masih bersama ke kantor saya?”
“Iya. Papa marah karena saya tak berhasil menjalankan misinya, sekarang saya harus berjuang untuk hidup saya.”
Andre tak menjawab. Hingga ia sampai di depan restoran Dian, ia mengajak Hana untuk turun dan ikut bersamanya.
“Ayo masuk. Tidak perlu saya bukakan pintu lagi kan?”
“Tidak Pak.”
Cepat-cepat Hana membuka seatbeltnya. Kemudian dia membuka pintu dan keluar dari sana.
“Kok malah diam di situ. Ayo masuk.”
Hana masih tak bergeming. “Saya pulang saja Pak.”
“Saya sudah bilang kalau saya tak lagi sedang meminta pendapat atau saran," ujar Andre dengan nada tak terbantahkan.
Hanya hanya mempu pasrah saat Andre menariknya ke dalam. Andre tersenyum simpul melihat Hana yang berjalan di sampingnya. Kali ini penampilan Hana tak seperti biasanya. Ia tampil polos tanpa polesan make up on point yang selalu menemani aktivitasnya saat masih menjadi bawahannya. Pakaiannya pun sederhana membuat ia
tampak lebih muda.
__ADS_1
Kenapa wanita semacam kamu harus secantik ini sih.
TBC