
HAPPY READING
Saat ini tinggal Ken dan Dian berdua, sementara Rina dan Dika sudahpergi untuk melanjutkan aktifitas mereka.
“Sumpah ya, aku nggak nyangka banget seorang Restu Andika bisa punya sifat se…” mendadak Ken kehilangan kata. “Egghh, apa ya? Ya pokoknya nggak kayak dia banget gitu lah.”
“Hu’um. Dia bakal balik jadi Dika yang bucin sama Rina dan menanggalkan image seoarang Restu Andika yang penuh wibawa kalau udah nanggalin urusan bisnisnya,” imbuh Dian.
Dian kembali mengaduk minumannya sementara Ken menatap Dian dalam diam.
"Aku kadang suka heran sama mereka. Nikah sudah sebegitu lama tapi bucinnya masih sama aja."
Dian tertawa kecil saat membayangkan bagaimana Dika dan RIna yang sama sekali tak berubah dari dulu hingga sekarang.
Melihat Dian yang asik tersenyum sendiri, membuat Ken juga ikut larus dalam angan. Dian, apa aku memang tak pernah bisa mendapat tempat di hatimu?
“Di…” ucap Ken yang mulai habis kesabaran jika harus terus diam.
Dian mendongak. Saat itu juga mata bulatnya bertemu pandang dengan mata sipit Ken.
“Maaf,” ujar Ken kemudian.
“Buat apa?” tanya Dian.
“Buat semalam…”
Dian menghela nafas. “Udah lah, lagi sama-sama oleng juga,” ujar Dian.
“Justru itu. harusnya aku nggak ikut minum biar nggak sama-sama oleng.”
“Dah lah.” Dian tak ingin melanjutkan pembahasan kali ini.
“Oh iya, Andre semalem kenapa ya?” tanya Ken tiba-tiba.
“Kenapa gimana?” tanya Dian yang tak paham.
Ken menghela nafas. “Apa ada sesuatu yang terjadi saat dia nganterin kamu?” tanya Ken hati-hati.
Dian mengernyit.
“Saat aku mau pulang, aku tak sengaja bertemu dia di jalan. Dia ngebut seperti orang kesetanan dan menghadangku tiba-tiba. Semula aku kira dia akan membuat perhitungan denganku karena aku berani dekat denganmu, tapi…” Ken menggeleng.
“Tapi apa?” tanya Dian penasaran.
“Setelah aku menurunkan kaca, ia seperti mencari sesuatu di dalam mobil, tapi sedetik kemudian dia pergi tanpa memberi keterangan.”
Dian mendorong minumannya, kemudian ia melipat tangannya di atas meja.
“Aku juga nggak tahu. Semalam itu dia sebenernya sempat turun tapi tanpa alasan yang jelas dia langsung cabut, dan sama kaya ang kamu bilang. Andre tak mengucapkan sepatah katapun sebelum pergi.”
Ken mengurut dada dan menyandarkan punggungnya. “Syukur deh.”
“Kok syukur?”
Ken mengangguk. “Aku takut jika sudah tak ada kesempatan dekat denganmu lagi jika Andre sudah memutuskan untuk
kembali.”
“Ck. Kamu pikir aku sebegitu berharapnya sama dia?”
“Sepertinya iya. Dan aku masih harus berjuang untuk membuatmu menyadari keberadaanku.”
“Udah jelas aku bisa ngobrol sama kamu. Mana mungkin kayak gini dikata nggak sadar.”
__ADS_1
Ken tersenyum lega. Kemudian ia mengecek jam yang tertera di pergelangan tanganya.
“Di, aku pergi dulu ya,” pamit Ken kemudian.
Dian menatap Ken tanpa bicara.
"Setengah jam lagi aku ada janji sama client."
Dian mengangguk kemudian. Ken pun segera pergi dari sana kemudian. Pria ini sempat berhenti di kasir untuk membayar makanannya. Meski Dian selalu menolak saat Ken ingin membayar, tapi Ken juga tak kalah kekeh untuk tetap membayar makanannya setiap kali ia ke sana.
Ken, apa kamu benar-benar menginginkanku ada di hidupmu?
Tiba-tiba Dian teringat Andre. Sejujurnya ia juga penasaran dengan tingkah sahabatnya semalam.
“Apa ada yang Andre sembunyikan?” gumam Dian pada dirinya sendiri.
“Ah sudah lah, biarin aja. Terlalu banyak mikirin dia cuma bikin pusing.”
Dian bangkit dan kembali ke ruangannya. Ia ingin mencari tahu apa yang bisa ia kerjakan saat ini.
***
“Sayang ke rumah sakit yuk…”
Rina tiba-tiba menahan tangan suaminya saat mereka berdua tiba di lobi kantornya.
“Kamu yakin?” tanya Dika.
“Yakin.”
Dika menghela nafas. “Tapi aku yang belum yakin. Aku takut kamu malah stress kalau kita terlalu keras berusaha.”
“Ya tapi kalau nggak berusaha keras sekarang harus nunggu sampai kapan?”
“Kok gitu sih?”
"Sayang, sebagus apa pun treatment yang akan kita jalani kalau kitanya tertekan dan nggak bahagia yang bakal sulit berhasilnya. Jadi mau aku sekarang yang terpenting kita bahagia. Jangan fokus hanya pada apa yang belum kita punya, hingga membuat kita lupa bersyukur dengan semua yang sudah ada di depan mata, paham?"
Rina yang tengah mendongak menagangguk kemudian.
“Kita masuk yuk.” Dika menunduk untuk mensejajarkan wajahnya dengan Rina. “Karyawan di bagian sini banyak yang masih single, kasihan kalau mereka nggak bisa berdiri tegak kalau terlalu lama ngelihatin kita.”
Spontan Rina melihat sekeliling. Ternyata benar. Banyak pasang mata yang mencuri pandang ke arah keduanya. Sehingga Rina berinisiatif untuk menarik tangan suaminya untuk segera pergi dari sana.
Dika tertawa kecil saat melihat wajah istrinya yang bersemu merah. Di dalam lift ini hanya ada mereka berdua sehingga
ia bisa dengan leluasa memandang wajah merona istri cantiknya.
“Kenapa bisa cantik sih,” ujar Dika sambil menatap lekat istrinya.
Rina makin tersipu. Ia paham siapa yang suaminya bicarakan.
“Sayang, udah dong. Pipiku bisa mateng nih lama-lama,” gerutu Rina.
“Kenapa?”
“Tauk.” Ketus Rina sambil memalingkan wajahnya.
Ting
Pintu lift terbuka dan Rina keluar meninggalkan suaminya begitu saja. Melihat istrinya berlari seperti ini Dika hanya mampu menggelengkan kepala. Sepertinya tak hanya tinggi badanmu yang tak mau tumbuh, tapi sikap kekanakanmu juga masih bertahan sampai sekarang. Dan sialnya aku sangat suka.
Dika berjalan dengan angkuh seperti biasa. Ia menatap lurus dan melangkah menuju ruangannya.
__ADS_1
“Sayang…” panggil Dika saat tak menemukan sosok istrinya.
“Kamu dimana?” panggilnya lagi saat tak juga menemukan sosok Rina.
“Ya udah kalau masih mau ngumpet, aku kerja dulu ya.”
Dika berbicara tanpa mencari dimana istrinya bersembunyi. Meskipun tak nampak, tapi Dika yakin jika istrinya bisa mendengar suaranya.
Happy terus sayang. Semoga Allah lekas menghadiahkan kehidupan dalam keluarga kecil kita.
Dika duduk di meja kerjanya dan mulai mengerjakan hal yang harus ia kerjakan sekarang. Andre benar-benar berjuan keras sepertinya. Semua file masuk sudah tertata rapi di mejanya saat ini. Ia yakin jika sekertarisnya ini sekarang sedang mempersiapka segala hal yang harus Rina lakukan saat ia tak di tempat.
Meskipun Andre sedikit kacau akhir-akhir ini, tapi ia sungguh bersyukur punya partner seperti dia. Meskipun tak seluar biasa Dedi, tapi Andre punya ketegasan dan keberanian di atas sahabat yang sudah hampir sebulan tak memberinya kabar ini.
Saat Dika mulai larut bekerja, tiba-tiba dering ponser berhasil membuyarkan konsentrasinya. Dika langsung meletakkan pekerjaannya dan mencari ponselnya. Ia yakin ini penting karena yang berdering adalah ponsel pribadinya.
Kedua sudut bibirnya tertarik saat melihat siapa yang kini menghubunginya.
“Hallo Pak Dokter, ternyata nomorku belum hilang ya?” sindir Dika karena Dedi yang cukup lama tak menghubunginya.
Terdengar tawa di seberang sana. “Kenapa nada bicara CEO ini tak enak sekali? Apakah saya menganggu.”
“Tai Lu. Kamu apa kabar?” tanya Dika yang tak segan mengungkap kebahagiaannya dapat kembali berbicara dengan sahabatnya.
“Baik Dik, kamu sendiri gimana?”
“Aku sendiri apa kita yang ada di Indonesia?”
Dedi menghela nafas. “Ya semua. Apa kabar Rina, Om, Tante?”
“Yakin itu doang?” goda Dika yang sudah sangat hafal siapa yang paling ingin diketahui kabarnya oleh sahabatnya ini.
Bukan suara Dedi yang ia dengar tapi helaan nafas dari sahabatnya ini.
“Kapan kalian bakal akur. Aku yakin kalian sama-sama tersiksa.”
Dedi masih belum mampu menjawab.
“Aku nggak mau memaksakan hubungan kalian, aku cuma berharap kalian bisa berjalan beriringan. Jika memang tak bisa
sebagai pasangan, ya setidaknya sebagai saudara.”
Dika menyerah. Jika ia memaksa Dedi bicara, ia yakin akan bicara sendiri seperti ini hingga panggilan berakhir.
“Rista sudah beberapa bulan nggak pulang. Dia sibuk dengan sekolah dan panggung-panggung off airnya. Banyak cowok
yang deketin dia, tapi…”
“Tapi apa?” sahut Dedi cepat.
Dika tersenyum miring. Kena kau.
“Tapi aku nggak tahu ada yang Rista terima apa enggak.”
“Freak! Bisa ngomong yang jelas nggak sih.”
“Whoaa, sabar Pak Dokter. Kalau mau tahu silahkan anda cari tahu sendiri.”
Dedi berkali-kali mengumpati Dika saat sahabatnya ini memupuk rasa penasaran di hatinya. Sebuah panggilan jarak
jauh berdurasi panjang tak terelakkan. Meski Dedi harus menahan kantuk karena ini sebenarnya adalah waktu tidurnya, tapi ia tak bisa jika berbicara hanya sebentar dengan Dika. Dia benar-benar merindukan sahabatnya ini. Sahabat yang telah berhasil merubah hidupnya dan mengobati kesepiannya yang sebatang kara di dunia.
Bersambung…
__ADS_1