Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Anak Pertama


__ADS_3

HAPPY READING


Setengah jam sudah Andre dan Hana membawa Rida bersama mereka. Untungnya Andre sudah pernah beberapa kali diajak Hana untuk bertemu dengan Rida, sehingga bocah TK ini sudah cukup akrab dengan pria ini. Sementara Rida sedang asik bersama Andre, Hana justru nampak gelisah dan mengacuhkan Andre dan Rida.


“Sayang, kita berdua sudah selesai, tinggal nunggu kamu…” ujar Andre karena Hana sejak tadi diam saja.


Dan benar saja. Meski Andre sudah coba bertanya, namun Hana masih terlarut dalam lamunannya.


“Apa?” Hana nampak terkejut tiba-tiba tangan Andre menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


“Aku tadi bilang, kita sudah selesai makan…” kembali Andre menjelaskan.


“Kita ke sana lagi apa gimana?” tanya Hana meletakkan garpu yang sedari tadi hanya ia mainkan.


Andre meraih tangan Hana dan membimbing tangan kekasihnya untuk kembali memegang garpunya.


“Kamu makan dulu. Kita tunggu. Ya kan Rida…” ujar Andre sambil menatap wajah imut gadis kecil yang sedari tadi menempel kepadanya.


Bocah berkulit putih dan berpipi tembem ini lantas menganggukkan kepalanya.


Ternyata setelah memegang garpu, Hana tak jua melakukan apa-apa. ia justru bengong dengan tatapan kosong.


“Han, jangan gitu dong. Rida takut kalau kamu cuma bengong…” kembali Andre menasehati kekasihnya.


Hana menempelkan sebelah tangannya di dada. Ia nampak beberapa kali menarik dan menghembuskan nafasnya.


“Doakan yang terbaik untuk Indah. Aku yakin semua akan baik-baik saja…” Andre menjeda ucapannya. “Sekarang kamu makan setelah itu kita susul Rio. Mungkin saja di sana dia akan butuh bantuan…”


Hana mengangguk patuh. Selanjutnya, Hana mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya sesuai yang Andre minta. Dasarnya memang ia memang sedikit susah makan ditambah situasi sekarang membuatnya sungguh tak tenang. Ada kemungkinan Galih akan datang bersama Mustika dan orang tua Indah juga. Lantas bagaimana ia harus bersikap? Dia siapa dan untuk apa ia ada di sana?


Andre tahu sebenarnya hal yang mungkin menjadi pengganggu pikiran Hana adalah adanya berbagai macam kecemasan termasuk kekhawatiran jika seandainya ada keadaan dimana ia harus bertemu dengan sang papa. Mungkin Hana takut, atau bisa juga gugup. Bagaimana pun juga selama ini hubungan keduanya tak baik terlebih saat Hana memutuskan lari dan bersembunyi di samping Andre hingga saat ini.


“Kok berhenti makannya?” tanya Andre setelah sebelumnya sempat bermain bersama Rida.


“Aku udah kenyang…” jawab Hana singkat.


“Ya sudah, kita susul Rio sekarang…” ajak Andre.


Hana mengangguk dan akhirnya mereka bertiga berjalan bersama meninggalkan restoran yan menjadi tempat mereka makan siang. Sebelum pergi, Hana tiba-tiba ingat untuk membelikan sesuatu untuk Rio. Melihat Rida yang belum makan, ia yakin Indah dan Rio juga belum. Dan karena itu mereka harus menunggu lagi beberapa waktu.


Saat pesanan mereka sudah jadi, Hana bangkit dan berjalan menuju kasir. Rida yang semula bersama Andre, tiba-tiba berlari dan menghampiri Hana.


“Apa sayang?” tanya Hana saat Rida menarik-narik ujung roknya.


“Rida mau es krim lagi, boleh?” tanya gadis kecil ini sambil mendongan menatap Hana.


“Tapi tadi kan sudah...” ujar Hana mengingatkan.


“Nggak apa-apa. Sekali-sekali juga…” ujar Andre yang menyusul keduanya dan segera menyela.


Hana menghela nafas dan kemudian membungkukkan badan. “Ya udah, mau rasa apa?” tanyanya dengan lembut pada keponakannya.

__ADS_1


“Mau strawberry…” ujar Rida dengan wajah berbinar dan senyum yang mekar.


Hana yang semula kacau mendadak ikut tersenyum seketika.


“Kamu kenapa?” tanya Andre yang kebetulan melihat perubahan drastis raut muka kekasihnya.


“Cuma ingat Rina. Sejak awal hamil sampai sekarang suka sekali sama strawberry,” jujur Hana tentang apa yang tiba-tiba melintas di kepalanya.


Andre turut tersenyum bibirnya sambil mengangkat Rida untuk kembali digendongnya.


“Ini es krimnya,” ujar seorang pegawai wanita sambil menyerahkan es krim pesanan Rida.


Rida dengan senang hati menerima es krim kesukaannya.


“Bilang apa Rida?” ujar Hana.


“Terimakasih…” ujar gadis kecil ini pada pegawai berbaju merah khas restoran fast food ini.


“Sama-sama… ya ampun cantik sekali. Anaknya masih satu ini ya?” tanya pegawai ini pada Andre dan Hana dengan menatapnya bergantian.


“Ini…”


“Iya…”


Saat Hana ingin mengelak, Andre dengan cepat mengiyakan. Alhasil Andre harus mendapat hadiah mata melotot oleh kekasihnya saat itu juga.


Dengan senyum lebar pada Hana, Andre menyerahkan uang kepada kasir di hadapan mereka. “Kembaliannya buat Mbak saja…”


“Kamu kenapa lagi?” tanya Andre saat melihat wajah Hana kembali pucat seperti saat tiba di rumah sakit tadi.


Hana menggeleng. Ia lantas memeluk tubuhnya dengan tangan menyilang memegang erat kedua lengannya. Memang ada AC di ruangan ini, tapi tentu tak terlalu dingin hingga membuat Hana sedemikian kedinginan.


Andre tak mau lebih banyak menanyai, ia memilih untuk menurunkan Rida dari pangkuannya dan segera melepas jasnya. Ia kemudian menyelimutkan jas yang baru ia lepas ke tubuh Hana.


Hana sempat mendongak dan menatap Andre, namun mulutnya tak bisa melakukan apa-apa kecuali tersenyum hambar.


“Kamu takut ya?” tanya Andre coba menerka.


Hana mengangguk dan menanggalkan senyum paksanya.


Ya Tuhan. Syukurlah kalau masalahnya hanya karena Hana takut, ujar Andre dalam hati.


Jika akar masalah sudah diketahui, maka akan lebih mudah untuk diatasi. Itulah yang kini Andre syukuri.


“Gimana Yo?” tanya Andre saat melihat Rio tiba-tiba keluar dari ruang persalinan istrinya.


“Oh God…” Rio menyugar rambutnya. Di sebelah tangannya sudah ada ponsel yang siap melakukan panggilan.


“Ada apa?” tanya Andre lagi.


Rio hanya menggeleng.

__ADS_1


Melihat Rio yang demikian, Andre segera bangkit dan membimbing Rio untuk duduk. “Ada aku ada Hana di sini. sekarang kamu bilang kita bisa bantu apa.”


Mendengar apa yang Andre ucapkan, Hana yang kini tengah memangku Rida langsung menganggukkan kepala.


“Aku pikir melahirkan yang ketiga kali nggak akan ada drama,” ujar Rio tiba-tiba.


“Emang kenapa?” tanya Andre yang belum paham situasi yang terjadi saat ini.


“Ketuban pecah, tapi bayi masih di atas,” jujur Rio memberitahu kondisi istrinya.


“Di atas gimana? Udah lahir terus ditaruh di atas gitu apa gimana?” tanya Andre bertubi. Pasalnya ia sama sekali tentang masalah seperti ini.


Rio mendelik sebelum akhirnya mendesah lelah. Kenapa aku bisa lupa. Meski Andre sudah bisa bikin anak, tapi kan dia belum paham soal perempuan melahirkan.


“Yo…” panggil Andre saat melihat Rio yang diam saja mengacuhkan pertanyaannya.


“Disarankan untuk SC tapi Indah masih ingin normal.” Bukannya menjawab Andre justru mengabarkan kondisi Indah selanjutnya.


“Bukannya lebih sakit kalau lahiran normal ya kak?” tanya Hana yang sejak tadi hanya diam saja.


Rio menggidikkan bahu. “Indah takut recoverynya lama.”


“Tapi kalau itu yang terbaik?” Entah ini pertanyaan atau saran yang diberikan Andre untuk Rio.


“Entah lah Ndre.” Rio kemudian bangkit dan menghampiri Rida yang masih memakan es krim di pangkuan Hana. “Rida pulang ya, biar diantar Om Andre sama Tante Hana,” ujar Rio pada anak pertamanya.


“Rida mau di sini…” kekeh bocah lima tahun ini.


“Tapi Rangga pasti sekarang lagi nungguin Kak Rida. Lagian Om sama Tante harus kembali bekerja, sayang,” ujar Rio membujuk anak perempuannya.


“Nggak apa-apa Yo. Nggak ada yang urgent kok,” timpal Andre tiba-tiba.


Rio menghela nafas. Ia kemudian meminta Andre untuk mengikutinya setelah ia berdiri dari hadapan Rida. Tak lama kemudian Andre kembali kepada Rida dan Hana.


“Rida pulang sama Om dan Tante ya…” kata Andre tiba-tiba.


“Loh…”


Hana hendak protes namun Andre berhasil mencegahnya. Padahal tadi bilang nggak apa-apa di sini, tapi kenapa sekarang tiba-tiba setuju untuk pulang? Racau Hana dalam hati.


“Tapi Rida mau lihat adik bayi…” Dan Rida pun masih menolak untuk diajak pulang.


“Adiknya masih lama. Nanti kalau sudah keluar Om janji akan bawa Rida dan Rangga ke sini lagi…” Andre masih berusaha membujuk keponakan Hana ini.


Rida kecil tampak berfikir. Rio segera mengambil alih ia dari pangkuan Hana. “Bener kata Om Andre, Rida sekarang pulang, nanti kalau adik bayi sudah lahir, ke sini lagi sama Rangga juga.”


“Terus sekarang Rida harus pulang ke mana? Kan Papa Mama di sini?” tanya Rida dengan polosnya.


“Ya ke rumah kita. Kan tadi Rangga ada sama nenek di rumah,” jelas Rio.


Hana menegang. Ini nenek siapa? Jangan-jangan tante Mustika. Aku harus gimana?

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2