
...*HAPPY READING*...
Ini sudah malam dan kantor mulai sepi. Dika akhirnya bisa menyelesaikan pekerjaan dan kini ia tengah berjalan keluar menuju mobilnya.
"Sayang, makan di luar aja ya?"
"Iya."
"Aku tadi bilang sama bibi nggak usah masak, soalnya kan nggak tahu kita bakal pulang jam berapa."
Dika meraih tangan Rina dan membawa ke dalam genggamannya.
"Sayang, jangaann...." ucap Rina berbisik.
"Kenapa?"
"Ya nanti kalau ada yang lihat gimana?"
"Ya hak mereka. Kan yang dipake mata mereka," jawab Dika cuek.
"Ih bukkaaaannn. Maksudku kalau kita dikira ada affair gimana?"
"Kan cerita macam itu sudah biasa, sekarang tugas kita tinggal merealisasikan di dunia nyata," lanjut Dika masih dengan gaya yang sama.
"Tapi biasanya yang jadi wanita suka kena sasaran bully."
"Terus?"
"Ya aku nggak mau kalau diperlakukan seperti itu."
"Kalau dalam cerita, biasanya sikap si wanita gimana kalau di bully?" tanya Dika yang terus berjalan sambil menggenggam tangan Rina.
"Biasanya wanita baik itu akan pasrah dan tak memberi tahu si bos akan perlakuan tak baik yang diterimanya."
"Terus kamu perasaan kamu gimana pas baca?"
Rina tak langsung menjawab, ia menunggu Dika membukakan pintu mobil untuknya.
"Ya kesel lah," jawab Rina saat keduanya sudah sama-sama di dalam mobil.
"Terus kalau kesel menurut kamu si wanita kudu gimana?"
"Ya kudunya dia nggak pasrah aja pas dibully, punya otak, tangan, mulut ya dipake jangan dianggurin," terang Rina menggebu-gebu.
"So, aku pikir kamu sudah siap menjadi pujaan hati CEO tampan dan kaya raya di dunia nyata."
Dengan wajah datar Rina menatap Dika yang berada di sampingnya. Pandai sekali suaminya ini. Tanpa terasa ia terjebak oleh permainannya sendiri.
"Mulai sekarang kita tak perlu menahan diri untuk saling memberi perhatian. Palingan mereka akan berfikir kita punya hubungan spesial. Dan percayalah, tak akan ada masalah karena di mata mereka kita sama-sama lajang."
Rina tak mampu berkata dibuatnya. Ia benar-benar mati karena jebakannya sendiri.
Dika ini memang cerdas sekali. Pantas saja sejak Dika memimpin, Surya Group yang sempat jalan di tempat mulai menggeliat. Bahkan kini berhasil merajai berbagai sektor bisnis di Indonesia dan mancanegara mengalahkan pencapaian saat mendiang papanya masih ada.
"Sayang."
"Hmm."
"Makan malam di resto Dian yuk."
"Dimana emang?"
"Daerah palem. Baru beberapa hari buka cabang di sana."
"Ayo."
Saat ini Dika menyetir sendiri. Ia tak merasa terlalu lelah jadi tak butuh sopir untuk mengantarnya bepergian.
__ADS_1
"Semoga Dian ada ya."
Rina membuka seatbelt dan segera keluar bersamaan dengan Dika dari pintu yang berbeda.
"Tetep dilayani kan meski nggak ada Dian?"
"Ya tetep lah."
"Syukur deh kalau gitu. Aku lapar soalnya."
"Kamu iiihhh. Bercanda terus dari tadi."
"Love you sayang."
"Nah kan, nggak nyambung."
"Love you sayang!!"
Sontak orang disekeliling mereka menatap aneh Dika yang tiba-tiba berteriak.
"Love..."
Buru-buru Rina berjinjit untuk membungkam mulut suaminya yang hendak kembali berteriak.
"Iya, iya. Love you too, love you too."
Dan Dika tak jadi berteriak lagi.
Rina segera menurunkan tangannya dan merapat saat Dika menarik pinggangnya.
"Sayang, bisa nggak sih jangan aneh-aneh," ucap Rina dengan berisik.
"Nggak bisa."
Dika menoleh dan mendapati Rina yang cemberut namun nampak imut. Tanpa ragu, ia mendaratkan sebuah ciuman di puncak kepala istrinya.
Dika dan Rina menuju sebuah meja yang berada di pojok. Entah mengapa berada di pojokan menjadi tempat favorit mereka sejak masih pacaran.
"Aku baru sadar kalau ini restoran makanan Jepang," gumam Rina saat menu sudah ditangannya.
"Masa? Aku pikir kamu ngajak ke sini karena pengen makan makanan jepang."
"Aku ke sini karena ini restonya Dian."
Pelayan pergi setelah Dika dan Rina selesai memesan.
"Dian udah nemuin apa yang dia mau, Nita udah co-***, sedangkan aku lagi sibuk menjadi simpanan CEO." Rina menutup mulut untuk menyembunyikan tawanya.
"Mau sampai kapan kamu jadi simpanan CEO?" wtanya Dika sambil mencolek dagu istrinya.
"Emm sayang. Kamu nggak bener-bener pengen aku kerja di kantor kan?"
Dika menatap manik mata istrinya.
"Aku tu pengennya kamu ada di dekatku, terserah kamu mau ambil bagian yang mana, mau jadi apa, yang penting kamu sama aku. Menyamar jadi lajang padahal sudah beristri itu rasanya melelahkan."
"Sayang, maaf ya."
Dika menggenggam kedua tangan istrinya.
"Rin, apa powerku tak cukup membuatmu marasa aman sehingga kamu harus susah payah mengumpulkan kekuatan?"
"Ya nggak gitu, cuma aku udah setengah jalan nih, masa nggak aku selesaikan?"
"Maksudnya?"
Rina mengeluarkan tab yang tersimpan di tasnya. Dika meletakkan lengannya di belakang tubuh Rina dan menantikan sesuatu yang akan ditunjukkan istrinya di sana.
__ADS_1
"Isi adalah beberapa desain yang aku buat. Awalnya aku ingin mengadakan pameran di galeri tante Jasmine, numpang gitu. Tapi setelah mendengar saran Mama kayaknya boleh juga aku coba buka sendiri."
Rina menjeda ucapannya saat pelayan datang mengantar makanan.
"Makasih," ucap Rina saat pelayan selesai menata pesanan mereka.
"Terus?"
"Ya udah, aku sekarang lagi proses desain, abis itu produksi dan menata galery. Atau gimana urutannya ya."
Suami istri ini terus mengobrol sambil makan. Rina hingga lupa kalau tujuan lain ke sini adalah untuk menemui Dian.
"Perusahaan punya gedung yang nggak dipakai. Mau dibongkar sayang, dijual apalagi. Kalau mau kamu bisa pakai jadi galery. Nanti pameran kamu, kita yang sponsori."
"Ya jangan. Ini bisnis sayang."
"Tahu. Kamu pikir aku mau kasih sponsor gitu aja. Aku juga mikir profit buat perusahaan juga."
"Masa?"
"Jelaslah."
Rina menghela nafas.
"Kok mukanya berubah?" tanya Dika.
"Aku cuma mikir, selama ini aku melakukan semuanya sendiri dan berfikiran melibatkan orang lain hanya akan membuat langkahku terhambat. Tapi sekarang aku baru mikir, kalau aku butuh tim untuk dapat mewujudkan semua ini."
Dika membersihkan mulutnya dengan tissu dan meletakkannya di atas piring.
" Lakukan semuanya dengan perlahan. Tetap fokus dan jangan terburu-buru. Aku siap membantu saat kamu membutuhkanku. "
" Makasih sayang. "
Dan Rina pun segera memeluk Dika.
" Hmmm, enak ya yang bisa mesra-mesraan."
Bukannya malu, Rina justri kian mengeratkan pelukannya.
" Makanya jangan jomblo. "
Dian segera menarik kursi dan ikut duduk bergabung bersama mereka.
" Kok nggak bilang-bilang sih kalau mau ke sini."
Rina melepaskan pelukan dari suaminya dan merentangkan tangan di hadapan Dian.
"Mau kasih sureprise."
"Uuuncccchh. Makasih..." Dian balas memeluk erat sahabatnya ini.
"Seneng ya, bisa ngerjain sesuatu yang kita suka. Udah seneng dapat duit pula," kata Rina setelah lepas pelukannya.
"Ngomong lu kayak orang susah. Gimana kabarnya kuliah?"
"Alhamdulillah selesai. Tinggal revisi dikit bulan depan wisuda."
"Terus apa kabar..." Dian menahan ucapannya. Ia justru menatap Rina dan Dika bergantian dengan menaik turunkan alisnya.
"Doakan suamiku masih bersabar dan aku bisa menyelesaikan semua."
Dian menghela nafas.
"Sini peluk lagi."
TBC
__ADS_1