Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Pulang


__ADS_3

HAPPY READING


“Assalamu alaikum…”


Sepasang suami istri yang sedang bersantai itu menatap ke arah pintu sebelum menjawab salam yang baru saja terucapkan.


“Waalaikum salam,” jawab Edo.


“Waalaikum salam.” Heni melakukan hal sama dengan yang suaminya lakukan.


Jika biasanya Andre langsung nyelonong, entah mengapa kini ia merasa ada segan saat menginjakkan kaki di rumah orang tuanya.


“Tumben ingat pulang? Sudah tidak ada yang menemani di apartemen lagi?” sarkas Heni yang masih ingat bagaimana ia menangkap basah putranya membawa wanita di apartemennya.


Andre meneruskan langkahnya dan untuk bergabung bersama papa mamanya.


“Apa aku sudah tak boleh lagi menjadikan rumah ini sebagai tujuan pulang?” tanya Andre saat sudah bergabung bersama kedua orang tuanya.


“Sini…” Heni menepuk tempat di sebelahnya meminta agar Andre duduk di sana.


Tanpa menjawab, Andre segera melakukan apa yang mamanya minta. Tak berhenti di situ, setelah Andre duduk di sampingnya, Heni menarik tubuh jangkung anak tunggalnya dan merebahkan kepala Andre di atas pangkuannya.


“Rasanya sudah lama sekali Mama tak memeluk kamu seperti ini...” ujar Heni sambil menyentuh puncak kepala anaknya.


“Sudah sangat lama Ma, karena Andre sudah tak bersama kita sejak lulus SMA,” lanjut Edo.


Heni membelai lembut kepala Andre. Refleks Andre memejamkan mata saat Heni memperlakukannya seperti ini.


“Kita sudah melewatkan terlalu banyak waktu Nak. Maafkan Mama Papa yang membuatmu harus merasakan kerasnya bekerja padahal kamu masih membutuhkan pelukan dan kasih sayang kami,” imbuh Heni lagi.


Andre yang semula telentang segera memiringkan tubuhnya. Mendengar ucapan Heni membuat air matanya keluar begitu saja. Hanya setitik tapi bagi seorang laki-laki ini sudah ini sudah kejadian yang luar biasa.


“Kamu sudah makan apa belum?” tanya Heni pada Andre.


“Sudah Ma…”


“Makan dulu ya. Sudah lama kamu tidak makan di rumah ini,” kata Heni.


“Baru juga seminggu yang lalu Andre menginap di sini,” ujar Andre mengingatkan.


“Iya juga. Tapi apa kamu tak rindu dengan masakan rumah ini?” tanya Heni.


“Ya rindu sih…”


“Oh iya, anak kita sudah punya pacar loh Pa…” ujar Heni saat baru saja ingat ia belum pernah membahas masalah ini dengan suaminya.


Andre memang datang untuk hal ini, tapi ia tak menyangka jika mamanya akan membahas sedini ini.


“Benarkah? Apa ada rencana nikah muda?” Edo bertanya dengan tatapan teduhnya.


Andre langsung bangkit dari pangkuan mamanya. Ia duduk dengan dengan gugup yang begitu terasa.


Ya Tuhan, aku memang datang untuk meminta restu mereka, namun kenapa aku jadi ragu untuk mengatakan semuanya saat ini saat mama sudah membuka akses untuk membahas hal ini.

__ADS_1


“Ma, Andre lapar,” ujar Andre tiba-tiba.


“Katanya tadi sudah makan?”


Andre menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Ternyata Andre lapar sekarang,” ujarnya kemudian.


“Dasar anak bandel.”


Heni mengomel sebelum akhirnya berjalan ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk anaknya. Meskipun mengomel, ia tetap melaksanakan apa yang diminta anaknya. Dan seperti itulah kebanyakan mama pada umumnya.


Seperginya Heni ke dapur, saat ini Andre tinggal berdua dengan sang papa. Andre orang yang jeli dan teliti. Salah satu kelebihan lain yang ia miliki adalah ia cukup peka dan pandai membaca situasi. Hal ini bukanlah sesuatu yang Tuhan berikan padanya secara cuma-cuma, melainkan hasil didikan


Edo sabagai papanya.


“Ada yang ingin kamu bicarakan?” tanya Edo sambil menatap lekat putra tunggalnya.


Andre menatap Edo. “Pa…”


Edo bangkit dan duduk di samping putranya. Ia meletakkan sebelah tanganya di bahu Andre. “Apa kamu perlu ruang agar dapat bicara?”


Sungguh Edo sebenarnya sudah sangat menantikan hal ini, namun ia tak mau memaksa dan mebiarkan Andre mengatasi semuanya.


Andre menelan ludahnya. Bagaimana ia bisa menyakiti orang yang begitu baik seperti ini.


“Pa…”


“Jangan dipaksa kalau memang belum bisa…” potong Edo yang yakin jika anaknya menyimpan suatu hal yang berat.


Sekarang Andre rasanya ingin menangis jika saja ia tak ingat bahwa ia adalah seorang lelaki.


Terdengar teriakan Heni dari ruang makan. Andre tak menjawab, ia juga enggan beringsut dari tempat duduknya.


Edo hanya menggerakkan kepalanya dan Andre mulai bangkit untuk menghampiri sang mama.


“Andre…”


Andre berbalik menatap sang papa yang masih setia di tempatnya. “Kamu adalah seorang pria. Takdir tak mengijinkan kamu untuk menjadi sosok yang lemah. Jangan kecewakan Papa dengan menjadi pria yang tak bertanggung jawab.”


Andre menghela nafas panjang. Ia kemudian menghembuskannya dengan kuat. “Terimakasih Pa…”


Andre melanjutkan langkahnya untuk menghampiri sang mama. Entah bagaimana scenario selanjutnya, yang jelas ia akan berusaha menjadi yang papanya minta.


***


“Ngobrolin apa sih? Lama banget?” tanya Rina saat melihat Dika baru saja muncul di kamarnya.


“Kamu tahu?” Bukannya menjawab, Dika malah balik bertanya.


“Tahu,” singkat Rina.


“Siapa yang bilang?” tanya Dika lagi.


“Rista," jawab Rina masih irit seperti tadi.

__ADS_1


“Rista bilang apa?” Dika kembali bertanya.


Rina menghela nafas. Dika belum menjawab pertanyaannya sama sekali, namun justru ia terus bertanya tanpa henti. “Katanya kamu lagi di ruang kerja video call sama temen lama. Siapa sih?”


Dika menghela nafas. Ternyata adiknya masih belum bisa berdamai dengan Dedi serta masa lalunya.


“Siapaaa?” tanya Rina penasaran.


“Dedi,” jawab Dika singkat.


Rina menutup mulutnya. “Terus reaksi Rista gimana? Apa tadi mereka sempet ngobrol?”


“Boro-boro ngobrol, tadi baru lihat saja langsung kabur,” jawab Dika.


Suami istri ini saling menatap beberapa saat, kemudian mereka serempak menggidikkan bahu bersama-sama.


“Rista cerita sesuatu nggak sama kamu?” tanya Dika.


Rina menggeleng. “Aku juga ngerasa aneh pas dia balik. Mendadak dia diam, eh nggak tahu Dedi yang jadi penyebabnya.”


Dika yang semula duduk di tepian ranjang beringsut untuk masuk di bawah selimut yang sama dengan istrinya. Ia kemudian membawa tubuh mungil Rina ke dalam pelukannya.


“Mereka sebenarnya gimana sih?” tanya Rina pada suaminya.


“Entahlah…”


“Kok entahlah?”


“Ya aku mesti jawab gimana dong. Aku memang benar-benar nggak tahu.”


“Ya sebagai kakak Rista dan sahabat Dedi masak kamu nggak ngerti apa-apa dan nggak mau berbuat apa-apa. Mereka berdua orang-orang dekat kamu loh?”


“Ya mereka sudah pada gede sayang. Rista sudah beranjak dewasa, dan Dedi… Ya kamu tahu lah, aku bahkan sering minta bantuan dia buat menyelesaikan berbagai jenis masalah.”


Rina terdiam. Pikirannya melayang ke masa di mana ia dan Dika masih belum menjadi pasangan resmi. Dedi harus bersusah payah demi menjaga mereka dari perbuatan dosa. Meskipun Dedi bukan manusia sempurna, tapi dia cukup besar jasanya. Jadi tak heran jika suaminya ini merasa sungkan jika harus terlalu menggurui sahatnya ini.


“Terus rencana kamu gimana?” tanya Rini.


“Rencana apa nih?”


“Ya rencana kamu buat mereka.”


“Dedi sama Rista?” ujar Rina menjelaskan.


“Iya…”


Dika mengeratkan pelukannya. “Apa pun yang menjadi pilihan mereka, setidaknya aku percaya bahwa Dedi tak akan berbuat gila pada Rista seperti yang dilakukan Andre pada Hana.”


“Oh iya, kabar Andre sama Hana gimana?” tanya Hana saat ingat pasangan ini.


Dika menyesal dengan apa yang baru saja ia ucapkan. “Udah stop. Jangan sampai kamu stress gara-gara terlalu banyak memikirkan orang lain. Sekarang rileks ya, biar anak aku tumbuh dengan baik di sini,” ujar Dika agar Rina tak terus mengajaknya membicarakan orang lain.


Dika perlahan mengusap perut Rina. “Baik-baik sayang ya… Mama sama Papa nunggu kamu di sini…”

__ADS_1


Rina membalas pelukan Dika dan keduanya mulai memejamkan mata.


Bersambung…


__ADS_2