Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Gaji Buta


__ADS_3

Kalian tim mana?


Andre Dian apa Andre Hana?


Sama saran visual dong?


HAPPY READING


Andre yang semula lemas mampu mengepalkan tangannya dengan kuat. Ada marah, kesal, lega, entahlah dia tak tahu persis bagaimana perasaannya saat ini. Ia sama sekali tak menambah tempo langkahnya dan berusaha tetap berjalan dengan tenang.


Greb!


“Andre…”


“Jangan bicara, suaramu jelek sekali.”


Andre memeluk erat tubuh Hana yang terasa dingin. Tangannya dingin, telinganya dingin, wajahnya dingin, semuanya dingin. Andre terus mendekap tubuh Hana dalam posisi berdiri.


Hana masih berdiri dengan kaku. Ia tak berani menenggelamkan wajahnya di dada bidang Andre meski dia sangat ingin melakukannya.


“Kamu beku ya?” tanya Andre sambil menarik bahu Hana. Ia menatap wajah cantik Hana setelah dilepaskan dari pelukannya.


Hana menggeleng.


“Lalu kenapa tidak begini?”


Andre kembali mendekap Hana dan menyandarkan kepala wanita ini di dadanya. Kedua sudut bibir wanita ini tertarik, tanpa banyak berfikir ia membalas pelukan Andre dengan sangat erat. Ia tak perduli jika nanti Andre akan memarahinya atau bagaimana, yang jelas sekarang ia ingin melakukan ini.


Mereka terus bertahan dalam posisi berpelukan sambil berdiri. Dinginnya angin pantai tak mampu mengusik keduanya. Hana


lupa rasa dingin yang bisa membuatnya kehilangan nyawa jika sampai membuatnya terjebak hingga pagi. Rasa hangat yang membuncah dari dalam dada membuat membunuh rasa dingin yang bisa membuatnya mati. Ia tak mau banyak berfikir tentang apa yang akan terjadi pada dirinya nanti, yang jelas ia ingin sekali menikmati saat ini.


Tiba-tiba Andre menarik Hana dari pelukannya.


Apakah waktuku sudah habis dan Andre akan menyebalkan lagi? Batin Hana yang sebenarnya masih betah bertahan di


posisi yang sama.


“Apa kamu kedinginan?” tanya Andre sambil menyentuh kedua telingan Hana.


Hana tak menjawab. Ia justru menatap mata Andre lekat. Kedua sudut bibir Hana kembali tertarik samar saat Andre mengikis jarak antara keduanya.


“Biasanya kamu akan menghindar saat kita berada dalam jarak sedekat ini?” lirih Andre dalam jarak begitu dekat.


Hana menggeleng. Perlahan tangannya merambat naik dan mengalung di leher pria ini. Hanya dalam satu tarikan, jarak keduanya langsung hilang.


Hana menumpahkan rasa takut, resah, dan gelisahnya yang muncul saat Andre pergi meninggalkannya tadi. Andre juga sama. Ia meluapkan rasa kesal dan menyesal telah  meninggalkan Hana sendiri di tempat sepi seperti ini. Keduanya tak tahu untuk apa varian perasaan itu ada. Yang jelas mereka tak nyaman saat salah satu hilang dari jangakauan. Mereka berdua memejamkan mata dan  membiarkan naluri mereka keluar dengan sempurna. Mereka sepakat tanpa kata untuk menanggalkan logika yang sering membuat mereka sulit dan harus merasakan sakit.


“Hana…”


Dengan mulut sedikit terbuka, Hana


menjawab panggilan Andre dengan tatapan matanya. Paru-parunya kekurangan pasokan udara sehingga membuatnya tak mampu bersuara.

__ADS_1


“Bisa kah kita menjadi apa adanya Andre dan Hana?”


Tangan kanan Andre yang semula menahan punggung Hana perlahan bergerak turun. Ia berhenti di jemari Hana dan menggenggamnya. Ia membawa tangan itu naik dan  menciumnya.


“Bisakah kita cukup menjadi Andre dan Hana, tanpa perlu memikirkan kamu siapa, dari latar belakang apa, bertemu


untuk apa, punya tujuan apa…”


Andre tak dapat meneruskan perkataannya saat Hana tiba-tiba berjinjit dan menarik tengkuk Andre. Andre kehilangan kata untuk mengungkapkan apa yang ia rasa. Ia bahagia karena berhasil menjadi gila karena kini bertekuk lutut pada wanita yang terang-terangan ditolak oleh logikanya. Untuk pertama kalinya Hana berani terlebih dahulu mencium pria dihadapannya. Dengan mata terpejam keduanya mulai memperdalam ciuman.


Tanpa melepas tautannya, Andre bergeser sedikit demi sediki bersama Hana untuk mendekat ke mobilnya. Ia membimbing Hana dengan perlahan dan bersama-sama masuk di jok belakang.


Pintu tertutup dan Andre membawa Hana untuk bersembunyi dari dinginnya angin malam di sana.


***


Dika tak mau mengambil resiko. Ia masih belum yakin performa Andre sudah kembali, jadi hari ini ia sengaja membawa Rina untuk ke kantor bersamanya. Ia ingin membuat istrinya sibuk sehingga sejenak mengalihkan pikirannya dari urusan anak.


“Emangnya Andre ada masalah apa sih?” tanya Rina saat mobil baru berjalan membawa keduanya.


“Entah lah. Yang jelas aku percaya dia akan kembali saat semuanya teratasi,” ujar Dika dengan santai.


“Kamu nggak marah?”


“Pengen marah sih, hanya saja Andre sudah banyak mengorbankan urusan pribadinya demi kita sayang.”


“Iya juga sih. Tapi masa iya kamu nggak ngasih tenggang waktu gitu? Kalau dia nggak kerja tapi gajinya tetap bukan itu namanya makan gaji buta.”


“Gaji itu nggak punya mata sayang, jadi nggak aka nada ceritanya mereka buta.”


Keduanya kemudian diam dan menikmati perjalanan.


“Rista betah banget sih nggak pulang?” ujar Rina tiba-tiba.


“Namanya juga sekolah sayang.”


“Udah hampir lima tahun, apa dia masih terus ingin mengasingkan diri?” tanya Rina sambil mengotak-atik ponselnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Dika.


Dika menghela nafas dan mengusap lembut kepala istrinya.


“Sebagai orang di luar kisah mereka aku sudah sangat capek, tapi herannya mereka masih sama sama keras kepala.”


“Mereka belum putus berarti kan ya?”


Dika menggidikkan bahu.


“Yang jelas mereka sama sekali tak melakukan komunikasi.”


“Ckckck…, hebat memang adikmu ini.”


“Kemampuan bertahan Rista sebagus ayah memang.”


Rina mengernyit.

__ADS_1


Damn! Kenapa mulutku harus berkata seperti itu.


“Ehm, maksudku Rista jadi bawa karakter ayah karena ia sejak kecil sudah berada dibawah asuhannya."


Rina masih menatap suaminya penuh selidik. Dika jadi salah tingkah ditatap seperti ini. Dia menghela nafas dan berlagak sibuk dengan tabnya. Dika benar-benar tak siap jika harus mengatakan rahasia keluarganya meskipun itu pada Rina.


“Eh tapi kalau dilihat-lihat Rista itu secara fisik banyak sekali miripnya sama ayah?”lanjut Rina yang masih penasaran dengan raut wajah suaminya yang terlihat tak biasa.


Jari Dika masih terus menari. Sebenarnya tak ada yang ia perhatikan benar-benar saat ini. Ia hanya berusaha terlihat sibuk agar Rina berhenti mencecarnya.


“Ya mungkin mereka berjodoh.”


“Maksud kamu?!”


Astaga. Salah ngomong lagi kan.


Dika benar-benar ingin memukul mulutnya saat ini. Kenapa ia bisa ngelantur dan berbicara aneh sejak tadi.


“Ya maksudku berjodoh sebagai orang tua dan anak.”


Dika menghela nafas. Dia harus berfikir dengan cepat.


“Kamu tidak pernah dengar kah istilah jodoh digunakan untuk anak dan orang tua?”


Rina menggeleng.


“Aku kasih contoh nih, orang adopsi anak, biasanya kalau besar anaknya mirip kan meskipun mereka nggak ada hubungan darah?”


Degh!


“Kamu pengen adobsi anak ya, kamu udah nyerah?”


Ya Tuhan!!!! Kenapa harus salah tafsir lagi.


Jika tak ingat ia sudah menata rambutnya dengan rapi, mungkin Dika sudah mengacaknya saat ini.


“Sayang. Bisa tolong jangan suka motong ucapanku nggak?” jelas Dika dengan nada frustasi.


Mata Rina sudah berkaca-kaca.


“Ya udah, ya udah. Sini peluk dulu.”


Dika membawa Rina ke dalam pelukannya.


“Orang itu kalau jodoh sering dikata mirip. Jodoh itu maknanya kan luas.”


Dika menghela nafas. “Bener deh aku  bingung jelasinnya gimana.”


Dika menyerah. Ia lebih memilih mendekap istrinya.


“Terus masalah adopsi tadi gimana?”


Kembali Dika menghela nafas. “Itu cuma analogi sayang, tapi nggak jadi. Intinya nggak ada hubungannya sama kita. Jadi kamu tenang ya…”

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2