
HAPPY READING
Setelah berbincang tadi malam, Dika dan Rina mencapai kata sepakat untuk bersama-sama meragkul sahabatnya. Menjadi orang baik tapi membiarkan kedzoliman terjadi begitu saja pada orang-orang dekat kita bisa membuat jalan menuju surga terhalang olehnya. Sehingga sebagai umat Tuhan yang taat kita harus turut mengajak mereka. Saling membantu, saling membimbing dan saling mengingatkan terhadap sesama manusia merupakan hak dan kewajiban sehingga kesempatan seperti ini harus benar-benar dimanfaatkan.
Pasutri yang sebentar lagi menjadi orang tua ini berjalan beriringan meninggalkan apartemennya. Mereka tak membawa mobil sendiri kali ini karena Andre dan Hana sudah menunggunya untuk berangkat bersama.
“Kalian sudah lama?” tanya Rina yang baru saja masuk di jok belakang.
“Belum kok,” jawab Hana dari samping Andre yang memegang kemudi.
“Siap untuk hari ini?” tanya Dika kepada semua yang ada .
Spontan Andre dan Hana yang berada di depan memutar kepala untuk menoleh ke belakang.
“Siap!” Serempak Andre dan Hana ditambah Rina dengan semangat empat lima.
Dan mobil mewah itu berjalan membelah padatnya jalanan pagi ini.
“Bos, Rio hubungin kamu nggak?” tanya Andre saat mobil yang ia kemudikan harus berhenti terhadang lamu merah.
“Nggak ada…” jawab Dika singkat.
“Dia mau menyampaikan laporan bulanan, tapi ada beberapa hal yang katanya ingin didiskusikan sama kamu terlebih dahulu,” jelas Andre dari tempatnya.
“Kenapa nggak kamu saja, kan sudah sempat ngobrol juga,” balas Dika.
“Ya even kamu sudah sering memberikan otoritas itu sama saya tapi saya tak sekurang ajar itu untuk memutuskan tanpa memberi tahu kamu terlebih dahulu,” sambil sekilas melihat Dika dari kaca.
Dika mencebik dan menaikan alisnya.
“Kita bahas nanti saja,” putus Dika saat melihat lampu hijau sekarang menyala.
Di sampingnya para wanita hanya diam. Hana sibuk dengan tugas barunya, sedangakn Rina dengan ponselnya.
Apa Rina juga tengah memeriksa pekerjaan?
Tidak. Dia sedang menuruti hasratnya untuk membeli segala sesuatu untuk menyambut kehadiran anak pertamanya meski perkiraan kelahiran masih lama. Bukan baju bukan aksesoris lucu yang Rina siapkan, melainkan dekorasi ruangan yang nanti akan digunakan untuk kamar anaknya.
“Yang ini bagus nggak?” tanya Rina sambil menunjukkan gambar pada suaminya.
“Emm…” Dika nampak menimbang dan mengamati gambar yang istrinya tunjukkan. “Yang netral aja sayang. Kita belum tahu yang akan lahir laki-laki apa perempuan…” tanya Dika mengutarakan saran
__ADS_1
“Ya kan tinggal bikin dua, jadi mau laki mau perempuan kita sudah ada persiapan,” ujar Rina tanpa nampak menimbang.
Sebuah helaan nafas terdengar Dika hembuskan. “Ya udah deh. Biar aku cari orang untuk mengurus hal ini,”putus Dika akhirnya.
“Nggak usah. Aku udah start.” Rina meringis sambil menatap suaminya yang terlihat surprise dengan apa yang baru diucapkannya.
“Terus untuk apa tadi pake nanya?” protes Dika menatap tak percaya.
“Aku cuma mau tahu kamu perduli apa tidak masalah ini,” jawab Rina dengan entengnya. Ia bahkan tersenyum dengan wajah tanpa dosa.
Dika ingin sekali marah, namun ia memilih untuk membuang muka, memutuskan tatapan dari wajah menyebalkan Rina yang seakan tak terjadi apa-apa.
Sementara Rina kembali larut memikirkan dekorasi, sepasang lagi sedang menahan tawa karena melihat tingkah konyol pasutri muda yang diam-diam kini menjadi idola mereka. Idola dimana mereka yang begitu muda sudah berpikiran jauh tak hanya memikirkan kesenangan dunia. Dibalik wibawa dan ketegasannya dalam berbisnis, Dika punya sisi lain yang konyol namun manis sepeti ini terhadap istrinya. Di balik wajah kesal yang sekarang terpancar, Andre dan Hana tahu jika pria sempurna ini sangat menyayangi istrinya.
Andre dan Hana, sempat sejenak saling tatap tanpa suara karena ingin menikmati romansa halal yang tersaji di depan mereka. Romansa penuh pahala yang tetap manis di bawah ridho Yang Maha Kuasa. Dalam diam pikiran mereka sama, alangkah bahagianya jika mereka bisa mendapatkan kesempatan serupa dalam hidupnya.
Tanpa mereka sadari kesempatan yang mereka inginkan itu tak tiba-tiba langsung datang, tapi harus diperjuangkan dan diusahakan.
Setibanya di kantor, para wanita punya urusan yang berbeda dengan para pria. Pekerjaan di kantor Dika memang seakan tak ada habisnya sehingga kini sehingga trio sekertaris tak sempat mengomentari masalah ini.
“Rina, ini ada beberapa desain yang sudah aku buat, coba kamu lihat…” Hana menghampiri Rina dengen beberapa lembar sketsa yang berhasil dibuatnya.
“Kamu sendiri yang membuat ini?” tanya Rina sambil membolak-balik beberapa gambar yang membuatnya tertarik
“Iya,” jawab Hana yang masih berdiri di samping Rina.
Rina kembali mengamati.
“Gimana? Ada yang masuk nggak, terus harus diapakan? Harus ada yang dihilangkan atau ditambahkan mungkin?” tanya Hana panjang lebar saat melihat Rina keningnya berkerut mengamati dengan baik setiap goresan hasil karya Hana.
“Persiapkan rapat dengan tim sekarang ya,” pinta Rina
tiba-tiba.
Mata Hana membola. Saat baru saja ia bertanya tentang pekerjaannya, Rina justru memberikan perintah kepadanya.
“Se, sekarang?” kaget Hana belum hilang ia harus tergagap saat memastikan.
“Iya sekarang. Di ruangan ini saja, saya tunggu.”
Baru saja Hana mau bertanya tempatnya, ternyata Rina sudah terlebih dahulu menjelaskan. Diluar dugaan Hana, ternyata Rina tak hanya cantik tapi kosong otaknya. ternyata ia tangkas dan cerdas seperti suaminya.
__ADS_1
Hana segera bergerak mengacuhkan ponselnya yang sedang ada panggilan. Memang sekarang Hana tak mengaktifkan dering atau getar untuk ponselnya, sehingga ia maupun Rina tak menyadari ada panggilan yang masuk ke sana.
Tak sampai lima belas menit Hana sudah kembali. Ia membawa beberapa staf yang Rina bentuk dalam tim yang mengerjakan proyeknya. Mereka sudah bersiap dengan data yang menjadi tugas mereka.
“Langsung saja ya, saya ingin produk es krim kita launching dalam waktu kurang dari dua bulan. Silahkan kalian sampaikan data yang kalian himpun dan sejauh mana progress berlangsung,” pinta Rina pada beberapa staf yang sudah bersiaga dengan datanya.
Rina mendengarkan dengan seksama laporan yang disampaikan padanya dan Hana dengan sigap mencatat setiap poin penting yang didengarnya. Hana masih sangat sibuk sehingga belum ada waktu untuk sekedar menilik ponselnya yang masih berdering sampai sekarang. Tanpa ia tahu ada yang cemas menantikan kabarnya.
Dan benar saja, di tempat lain, Marshal sedang kesal karena panggilannya tak terjawab. Dua hari pasca taken kontrak, Hana sama sekali belum terlihat update dengan karyanya. Padahal dia sekarang merupakan penulis tetap platform Newrite miliknya.
“Kenapa Shal?” tanya David saat melihat muka masam sahabatnya.
Marshal menunjukkan sesuatu yang sejak tadi dilihatnya.
“Belum update ya?”
“Sudah tahu nanya,” ketus Marshal sambil menarik lagi gadgetnya.
“Bukannya aku sudah bilang, jangan-jangan itu bukan tulisannya, karena itu kemarin terlalu bagus untuk ukuran karya pertama,” ujar David mengingatkan pendapat yang pernah ia sampaikan pada Marshal sebelumnya.
“Tapi sistematikan penulisannya sangat baik. Ia bahkan punya beberapa karya dalam bentuk outline. Mana ada penulis baru yang paham outline?” balas Marshal menjelaskan keputusannya mantap mempertahan kan keputusan untuk memenangkan Hana.
“Ya siapa tahu itu kebetulan.”
“Aku yakin dengan potensi yang ia miliki,” kata Marshal yang masih kekeh dengan keputusannya.
David menyerah. Ia menyugar rambut gondrong yang lupa tak ia bawakan kuncir sekarang. “Kamu sudah coba hubungi dia?” tanya David basa-basi. Padahal ia sudah tahu jika Marshal sudah melakukanya sejak tadi.
“Udah nih…” Marshal menunjukkan ponselnya dan oleh David langsung di terima.
David mencep saat melihat DP yang terpampang di hadapannya. Seorang wanita cantik yang tersenyum dan dipeluk dari belakang oleh seorang pria yang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita tadi.
Ini kan perempuan pagi itu. Kok bisa pas gini? Batin David.
Saat David masih asik melihat dengan seksama, tiba-tiba tangan Marshal menarik ponsel yang dipegangnya.
“Udah sini. Jangan lama-lama. Gawat kalau naksir pacar orang,” ujar Marshal mengingatkan.
David tersenyum remeh mendengar apa yang baru Marshal ucapkan. Ia bangkit dan meninggalkan rekannya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Bersambung…
__ADS_1