Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Menduga-duga


__ADS_3

HAPPY READING


Sekarang tinggal Hana dan Andre berdua saja karena Dedi langsung membawa Rista pergi setelah kejadian tadi.


“Masih nggak nyangka...”


“Apanya yang nggak nyangka..?”


Hana hanya membalas pertanyaan Andre dengan tatapan. Dengan begini saja, ia yakin jika Andre sudah paham tanpa perlu imbuhan kata yang harus ia ucapkan.


“Sejujurnya aku nggak tahu bagaimana hubungan mereka dulu sebenarnya. Hanya saja, mereka sempat tinggal bersama sebelum keduanya mengungkap jika tengah mengikat suatu hubungan. Dan tak lama setelah Dika kembali dari bulan madunya, Dedi justru terbang ke Amerika. Jadi semua dugaanku hanya muncul dari perkiraanku saja, karena yang nampak kala itu menurutku sudah luar biasa...”


Andre masih setia merangkul Hana. Sesekali ia mendaratkan kecupan di puncak kepala. "Sudah jangan dipikirkan..."


“Dika tahu? Orang tua Rista tahu…?” Batu saja Andre meminta Hana untuk tak lagi memikirkan mereka, namun justru Hana kembali mengajukan tanya.


“Aku nggak yakin. Tapi mungkin nggak tahu, karena mereka pasti menyembunyikan kelakuannya itu.” Meski begitu Andre tetap saja menjawabnya.


“Terus kenapa mereka bisa seperti sekarang?” Hana kembali bertanya. Sepertinya ia juga penasaran dengan kisah sejoli ini.


“Aku nggak tahu Hana. Yang jelas ada kesalah pahaman yang Dedi dan Rista tak terungkapkan sampai sekarang.”


“Kamu yakin mereka masih saling sayang sampai sekarang?”


“Menurut kamu?” Cukup lelah Andre meladeni Hana, akhirnya ia memilih untuk kembali melempar tanya.


“Mereka masih sering curi pandang satu sama lain meski mulutnya sama-sama diam,” jawab Hana.


“Nah itu. Kamu juga bisa menyimpulkan sendiri kan…”


Hana mengangguk. “Itu tadi nggak apa-apa mereka kita biarkan pergi berdua?”


Andre tak menggubris lagi obrolan tentang pasangan lain yang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan mereka. Ia justru focus pada bagian yang sejak tadi menjadi incarannya.


“Andre, Andre. Jangan Andre.” Hana menahan tangan Andre kala ia merasa pria ini akan melakukan pergerakan.


“Kenapa Han. Ini semua milikku kan?” protes Andre yang tak dihentikan.


“I, ihh. Tapi kalau kebablasan gimana? Belum juga, iihhhh…”


Andre sudah berhasil melepas tiga kancing dengan cepat, dan kini besiap membuka kancing keempat sebelum Hana berhasil mendorongnya. Dadanya sebenarnya bergejolak, namun otaknya masih menunjukkan fungsi meski sedikit. Jadi Hana masih berusaha untuk tak mau kembali tercebur dalam nikmatnya dosa, meskipun yang sekarang mereka lakukan tak


jauh beda sebenarnya.


“Kok masih bisa sih, apa sama sekali nggak ada rasa malu setelah kepergok seperti tadi?” kesal Hana.


Apa Andre akhirnya takut dan menurut?


Tentu tidak. Ia kembali menyasar kancing-kancing yang belum berhasil ia lepaskan.


“Andreeee…” Hana berusaha mempertahankan pakaian dengan kedua tangannya. Ini kalau sampai lepas gimana? Batin Hana kala melihat Andre tak bisa diajak bicara lagi.


Bukan Andre yang sebenarnya menjadi sumber ketakutan Hana, tapi dirinya sendiri kalau sampai terlena dan kembali menyetujui kemauan Andre untuk menyatukan dosa.


“Anddrreee!!!”


Setelah semua tenaga ia kerahkan, akhirnya Hana berhasil benar-benar lepas. “Urat malu kamu sudah putus apa gimana sih. Bisa banget nggak peduli seperti ini setelah tadi jelas-jelas ada yang melihat kelakuan kita.”

__ADS_1


Andre menyugar rambutnya dengan sebelah tangan mencengkeram erat tepian meja. “Putus nggak ya?”


“Ya nggak tahu? Yang lagi dibahas kan urat malu kamu, eh…” Hana kaget saat tubuhnya terasa melayang seketika.


“Kamu mau ngapain?”


“Mau ngajakin kamu buat ngecek urat yang mungkin putus tadi…”


“Andre, Andre…” Hana memukul-mukul Andre, berharap pria ini akan segera menurunkan tubuhnya.


Dengan langkah santai Andre terus berjalan membawa tubuh Hana meninggalkan dapur dan melewati ruang tamu. Hingga keduanya tiba di depan pintu, Andre mendorong pintu tersebut dan seketika terbuka dengan mudahnya.


Hana sudah lelah berteriak. Ia diam saja bersiap dengan adegan apa saja yang akan terjadi setelahnya. Namun saat ranjang sudah terlihat, Andre masih tetap memegangi Hana dengan kuat. Alih-alih menghempaskan tubuh Hana seperti biasanya, Andre justru duduk dengan Hana di atas pangkuannya.


“Kamu mau ngapain?” tanya Hana yang jujur saja sedikit kecewa. Pergolakan di dalam dadanya dimenangkan oleh sudut hitam mengalahkan sudut putih dengan skor beda tipis.


“Gimana uratnya. Putus nggak?”


Hana paham dengan cepat. Ia pun menggeliat dalam posisi duduk di atas pangkuan kekasihnya.


“Udah ngeceknya?” tanya Andre sambil menyingkirkan anak rambut Hana.


“Udah, dan masih berfungsi dengan baik sepertinya…”


“Aku belum yakin untuk hal itu. Sepertinya butuh pemeriksaan lanjutan untuk memastikan fungsinya, apakah masih…” Suara Andre tercekat di tenggorokan kala Hana kembali menggerakkan pantatnya.


Dan kedua insan ini benar-benar melakukan pemeriksaan lanjutan tanpa banyak berkata-kata.


***


“Hana bener-bener ya…”


“Ya seenaknya saja ninggalin kamu kayak gini. Terus kamu juga terima-terima aja gitu…”


“Kenapa harus nggak terima Mbak, orang dia nggak minta uang sama saya.” Risma berusaha tak tersulut kompor yang baru saja Haning nyalakan.


“Ya tapi kamu nampung dia di kontrakan kamu.” Haning masih berusaha menyulut kekesalan Risma.


“Nggak juga Mbak. Dia juga kadang nginep di tempat temannya,” jawab Risma.


“Dia pernah ngajakain kamu ke tempat temannya?” tanya Haning penasaran.


“Pernah. Pernah juga ngajakin nginep di sana, tapi saya pilih pulang…” jelas Risma lebih lanjut.


“Kenapa sih Hana nggak nyewa kos sendiri saja, daripada numpang sana-sini.”


Risma menghela nafas. “Biarin lah Mbak, dia nggak ngerepotin siapa-siapa juga.”


“Ya numpang sana-sini itu merepotkan namanya.”


Risma lelah juga meladeni seniornya ini. Semua juga tahu jika Haning tengah kecewa, karena ia bukanlah kandidat yang terpilih, sehingga mereka paham bahwa wanita ini tengah mencari pelarian untuk rasa kecewanya.


“Mbak ngerasa direpotkan?” ujar Risma balik bertanya.


“Ya nggak sih, tapi baru ngebayangin aja ribet.”


“Ya udah jangan dibayangin,” timpal Eka yang merasa lelah karena ocehan Haning tak juga berhenti.

__ADS_1


Haning mendengus dan mendelik menatap Eka. “Heran deh, kamu kenapa lagi kayak ngebela Hana terus. Emangnya kamu pernah dikasih apa?”


Yang disindir Eka, yang mendelik Risma. Jika ia tak malu mengungkap fakta memiliki kakak yang tak bekerja tapi doyan foya-foya, mungkin sekarang ia sudah cerita kalau Hana sudah membantunya melunasi hutang yang jumlahnya puluhan juta.


“Ya pertemanan itu nggak cuma berhenti di ngasih apa dan dapat apa Mbak, karena semuanya itu tak harus diukur dengan materi,” sahut Risma akhirnya.


“Tck… Anin saja yang kenal Hana belum lama sudah bisa masuk ke Surya Group, lha kamu yang sejak awal sudah ditumpangi malah nggak dapat apa-apa. Kalau aku jadi kamu pasti nggak akan terima.”


Risma mendengus. Sebenarnya apa sih maunya Haning ini. Racaunya dalam hati.


Haning melanjutkan omelannya terkait Anin yang lolos diantara mereka berempat. Dan dari sekian yang ada di sana, tak satu pun yang membalas atau menyela ucapannya.


Oh, jadi ini yang bikin Haning uring-uringan. Cukup beralasan sih, karena sejak awal dia paling berambisi, tapi ternyata malah Anin yang dapat rejeki. Batin Risma akhirnya.


“Ya emang Aninnya punya kemampuan yang dibutuhkan perusahaan, jadi nggak masalah kan Mbak,” sahut Eka yang mulai capek kupingnya.


“Kamu nggak ngerasa ini nggak adil gitu?” tanya Haning yang belum menyerah menyulut emosi.


Risma dan Eka menggeleng. Sementara Anin masih cukup shock dengan apa yang diterimanya.


“Atau jangan-jangan kamu juga sudah dikenalkan orang dalam sehingga tinggal menunggu waktu saja kamu bisa masuk ke perusahaan itu,” tuduh Haning pada Risma. “Iya pasti gitu. Iya kan Ris?”


Risma mendengus. Dia yang tanya dia juga yang ngejawabnya.


Tiba didepan sebuah bangunan kos-kosan, taxi yang


mereka tumpangi pun berhenti.


“Mbak Haning mau mampir atau nginep sini?” tawar


Risma sebelum membuka pintu.


“Nggak, makasih. Aku bukan Hana yang nggak punya tempat tinggal yang jelas.”


Risma menghela nafas dan tersenyum. “Ya sudah. Aku duluan semua…”


Risma sempat melambaikan tangan sebelum taxi kembali berjalan.


“Kalau nolak ya nolak saja, nggak usah menghina kali


Mbak…” ujar Risma setelah taxi itu benar-benar pergi.


Risma balik badan dan berjalan ke kamarnya.


“Eneng cakep kok ngomong sendiri…”


Setelah sempat terkejut sebelumnya, Risma pun segera mencari sumber suara. Ternyata ada Bayu sedang duduk di sebuah anak tangga menuju kamar mereka.


“Hai Bay…” sapa Risma.


Bayu menyerahkan satu cup cokelat hangat yang sejak tadi sudah ada di tangannya.


“Buat aku?” tanya Risma sebelum menerima uluran Bayu.


“Iya lah. Mau dikasih Hana tapi sepertinya dia nggak pulang ke sini lagi ya sekarang?” ujar Bayu asal.


Risma tersenyum kecut. Jadi sebenarnya Bayu mau ngasih Hana bukan aku ya? Ah Risma, kenapa juga harus kecewa. Hana memang cantik, jadi wajar lah banyak yang naksir.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2