
HAPPY READING
Sesuatu menghentikan ucapan Rina. Dia lantas merintih dan memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa bergejolak dengan sedikit rasa nyeri yang menyertai.
“Kenapa?” panik Dika saat melihat perubahan raut wajah istrinya.
“Ini…” Rina yang masih meringis menunjuk perutnya yang nampak bergerak. “Lagi salto kayaknya…” lanjut Rina sambil mengusap lembut di salah satu sisi perutnya. Ada senyum tipis di tengah wajahnya yang meringis.
Kepanikan Dika berangsur memudar, berganti dengan senyum dengan disertai binar bahagia yang terpancar. Ia kemudian mengikuti apa yang Rina lakukan pada perutnya. Mengusap lembut dan menyatakan cinta tanpa kata.
Keduanya tak lagi berkata. Mereka hanya sesekali saling menatap dan kembali berinteraksi dengan buah cinta yang masih harus berlindung di dalam kandungan Rina.
Tak ada kata, tak perlu ada usaha untuk mencerna ucapan masing-masing antara Dika maupun Rina, namun pasangan ini dapat dengan jelas memahami maksud satu sama lain kini.
“Baik-baik ya sayang, nanti kalau sudah tiba waktunya, jangan lupa kirim sinyal cinta untuk Mama...” ujar Rina dengan wajah yang tersenyum namun menahan rasa tak nyaman di waktu yang sama.
Benar-benar ya anak Dika dan Rina ini, masih di dalam perut saja sudah pandai menginterupsi orang tuanya. Apa jadinya jika sudah lahir nanti, bisa-bisa kalau sudah bicara tak akan bisa ada yang menandingi.
“Sepertinya kita memang harus ke rumah sakit…” ujar Dika yang kini sudah menempelkan telinganya di perut besar Rina.
“Kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran begini?” heran Rina. Padahal dengan jelas tadi Dika sudah menolak keinginannya.
“Aku sudah menempelkan telingaku di sini, tapi tak ada satu pun suara yang bisa aku dengarkan,” ujar Dika.
“Ya mana ada suara sayang, gerakan saja tak semua janin seusia anak kita bisa seaktif ini…” jelas Rina.
“Gerakan saja sudah di larih sejak masih dalam kandungan, mestinya suara kan juga,” kekeh Dika memperjuangkan isi kepalanya.
Rina menghela nafas. Dia tak ahli dalam bidang ini, lantas bagaimana caranya menjelaskan.
Dika nampak mendengus sekarang. Jawaban yang ia tunggu nampaknya tak dapat Rina berikan, sehingga ia dengan mudah mengambil keputusan.
“Oke, pokoknya aku mau melihat keadaan anak kita sekarang.”
Nah kan. Jika sudah semaunya seperti ini sulit bagi siapa pun termasuk Rina untuk tak menuruti.
“Kan belum jadwal periksa sayang.” Meski sudah tahu hasilnya, namun Rina masih berusaha mencegah keinginan gila suaminya.
“Nggak peduli. Pasti ayah bisa atur untuk kamu…”
Tepat sekali alasan DIka. Dika yang punya kuasa ditambah punya ayah tiri yang berpower luar biasa juga membuat sikap seenaknya paripurna.
“Ya..., tapi dokter Halima punya banyak pasien sekarang.” Sepertinya Rina belum mau menyerah dengan usahanya. Semula ia memang ingin ke rumah sakit karena untuk mengeok Indah yang baru melahirkan. Ia punya banyak pertanyaan seputar proses melahirkan.
“Di rumah sakit nggak hanya dokter Halima dokter kandungannya. Bahkan aku bisa minta sama ayah yang khusus memeriksa kamu sekarang.”
“Tapi dokter yang menanganiku sejak sebelum hamil kan memang beliau, jadi…”
__ADS_1
“Tapi aku benar-benar ingin melihatnya sekarang.” Dika berbicara dengan nada rendah tak terbantahkan.
Rina menghela nafas. Kenapa sifat kekanakan Dika harus muncul sekarang. Padahal selama ini Dika sudah mampu menjadi dewasa sejak ia memutuskan untuk menjadi dewasa sebelum waktunya.
“Kalau kamu nggak mau ke rumah sakit ya tidak masalah. Biar dokternya saja aku datangkan ke sini sekalian sama semua peralatannya…”
Rina membulatkan mata. Mentang-mentang punya uang dan kekuasaan enteng banget ngomongnya. “Ya mana bisa…” ujar Rina.
“Kamu meragukan kemampuanku?” tantang Dika.
Rina menghela nafas. “Maksudnya nggak gitu. Dokter itu banyak yang harus dikerjakan selain menangani pasien yang memang butuh penanganan. Masa iya mau seenaknya kamu suruh datang ke sini hanya untuk memeriksa ku yang sebenarnya bukan jadwal periksa dan juga tak butuh diperiksa.”
“Nggak masalah. Aku mau kamu diperiksa, itu sudah cukup dijadikan alasan.”
“Tapi...”
“Ya sudah, aku akan menyewa dokter kandungan pribadi dan membeli semua alat yang diperlukan agar bisa digunakan kapan saja dan di mana saja,” ujar Dika panjang lebar kali tinggi tanpa menunggu Rina menyelesaikan ucapannya.
“Dika jangan ngawur deh…” Rina kesal juga harus tawar menawar dengan suaminya. Menggunakan cara halus tak bisa, sekarang ia harus menggunakan cara langsung untuk menolak keinginan suaminya.
Dika tak lagi menjawab, ia nampak sibuk dengan ponselnya. Melihat suaminya demikian, Rina merasa ia sudah memang dengan berhasil menghentikan suaminya. Ia kemudian bangkit dari pangkuan Dika dan hendak kembali ke ruangannya.
“Dika mau satu dokter kandungan sama alat untuk memeriksanya lengkap…”
What!
“Kamu apa-apaan?!” kesal Dika saat Rina mengambil begitu saja ponsel yang tengah ia tempelkan di telinga.
“Aku mau ke rumah sakit sekarang,” ujar Rina cepat.
“Tapi itu aku lagi ngobrol sama ayah,” ujar Dika yang hendak mengambil lagi ponselnya namun dengan cekatan RIna hindarkan.
“Ayah, maaf ya. Nggak jadi,” ujar Rina setelah berhasil menempelkan ponsel Dika di telinganya. Ia memang belum bertanya atau bicara apa-apa dengan ayah mertuanya. Tapi sekilas mendengar ucapan Dika ia tahu jika suaminya ini meminta sang ayah untuk memuluskan keinginan tak masuk akalnya.
“Yang mana yang nggak jadi?” tanya Rudi sepertinya bingung di seberang sana.
“Ya itu tadi. Kalau begitu sementara sudah ya, kita mau ke rumah sakit. Sampai ketemu Ayah. Assalamu alalikum…”
“Waalaikum salam…”
Rina tak peduli akan ada kalimat apa yang akan Rudi ucapkan setelahnya, yang jelas mertuanya ini sudah menjawab salamnya sehingga ia merasa sudah pantas untuk segera memutus panggilannya.
“Nih.” Rina mengembalikan ponsel suaminya. “Sekarang ayo berangkat,” ajaknya kemudian.
“Kemana?” Tadi dia kekeh, sekarang kenapa mendadak linglung.
“Ke rumah sakit lah.”
__ADS_1
Dika menyambut bahagia ucapan ina. tanpa terlebih dahulu membereskan pekerjaannya, Dike membawa Rina segera ke rumah sakit untuk dapat melihat sang anak yang dalam waktu kurang dari dua bulan lagi akan menyapa dunia.
Setibanya di rumah sakit, Rudi sudah menyambut Dika dan Rina. Sudah sering Dika seenaknya seperti ini, tiba-tiba datang tanpa mengindahkan jadwal atau sekedar terlebih dahulu membuat janji. Namun untungnya dia anak Rudi sehingga semua bisa diatur sesuai dengan keinginannya saat ke sini.
“Ada apa?” tanya Rudi begitu ia berhadapan dengan putra tirinya.
“Hanya ingin mengintip baby saja Yah…” jawab Dika dengan entengnya.
“Tidak ada keluhan?” tanya Rudi memastikan.
“Tidak ada…” jawab Dika masih dengan ekspresi yang sama.
“Baiklah, ayo…”
Ketiganya berjalan bersama menuju poli kandungan yang ada di rumah sakit ini.
“Ayah tidak ada yang harus dikerjakan? Kok ikut kita masuk ke sini?” tanya Dika saat melihat Rudi turut masuk ke dalam ruang yang tak begitu besar itu bersama Dika dan Rina juga.
“Sebenarnya semua dokter kandung di rumah sakit ini sedang tidak free, jadi kali ini kalian ayah damping,” ujar Rudi menjelaskan untuk apa dia ada di sana sekarang.
Mendengar hal tersebut wajah Rina berubah pasi. Meski Rudi ini adalah dokter, namun akan canggung jika ia harus membuka perut besarnya di depan sang ayah mertua.
“Tenang saja, saya hanya mendampingi, akan ada suster yang bantu memeriksa cucu ayah di dalam kandungan Rina.”
Tanpa bisa dicegah, helaan nafas lega keluar dari mulut Rina. Hal kecil ini nyatanya tak luput dari perhatian Rudi membuat pria yang nampak tampan di usianya yang matang ini tertawa geli karenanya.
“Mari Nona, saya bantu berbaring…” ujar seorang perawat yang sudah bersiap sejak Rina dan Dika belum muncul di sana.
“Yang beginian ayah juga bisa?” tanya Dika yang nampaknya ragu dengan apa yang akan dilakukan Rudi pada istrinya.
“Kamu meragukan saya?” sarkas Rudi dengan dagu yang diangkatnya.
Dika menggeleng. “Hanya saja Ayah kan spesialis neurologi, menguasai ilmu bedah dan juga syaraf. Masa iya kandungan juga paham?”
“Syaraf itu lebih umum dari neurologi jadi sebelum mengambil sub spesialis ini, syaraf menjadi syarat untuk saya kuasai.” Rudi menjelaskan sedikit tentang perjalanan kuliahnya.
“Entah lah. tapi intinya untuk masalah kandungan ayah belajarnya kapan?”
“Hal ini secara garis besar dipelajari saat kulaih awal kedokteran. Sebelum menjadi dokter spesialis semua dokter terlebih dahulu menjadi dokter umum. Bagaimana, kamu ingin pemeriksaan ini dilanjutkan, atau menunggu dokter Halima saja yang entah berapa jam lagi baru free.”
Dika diam sejenak. “Lanjut saya Yah…” ujarnya kemudian.
“Lagi pula saya hanya perlu menjelaskan apa yang monitor tampilkan dan menjawab jika kalian ada pertanyaan. Kalau yang seperti ini saja saya bisa. Tapi kalau ada keluhan, baru Rina harus ditangani oleh ahlinya.”
Dika mengangguk paham dan mengambil kursi. Sepertinya dia sudah tak lagi meragukan kemampuan ayahnya ini.
Bersambung…
__ADS_1