Zona Berondong

Zona Berondong
Hamil?


__ADS_3

...*HAPPY READING*...


"Sayang, sorry, hey..."


Dika masih berusaha membuat Rina yang kini berpaling agar bersedia menatap wajahnya.


Rina hanya mampu ngedumel dengan ekspresi tak karuan, antara menahan mual, kesal entahlah. Dika pun nampak panik sambil meraih apa pun untuk membersihkan wajah gadisnya.


"Udah, kamu diem, udah!"


Dika langsung diam mendengar suara tinggi Rina yang sudah jarang ia dengar. Rina merebut kain dari tangan Dika dan menggunakannya untuk membersihkan wajahnya.


"Sayang, ma...."


"Udah diem, atau aku marah."


Dika menatap nyalang pakaian serba hitamnya. Ya Tuhan. Ini nutupinnya gimana?


Keduanya memutuskan untuk bersama dalam diam.


"Aku juga salah..." lirih Rina tiba-tiba.


"Sayang..."


Dika membawa Rina ke dalam pelukannya.


"Kita nikah ya, kamu mau kan?"


Rina menggeleng.


"Apa kata orang kalau kita nikah sekarang, nyangkanya pasti aku hamil duluan."


"Itu kan sangkaan manusia, yang penting kita aman di mata Allah."


"Tapi..."


Dika melonggarkan pelukannya, meraih wajah Rina dan dibawa ke hadapannya.


"Akan selalu seperti ini jika kita bersama, tapi kalau harus jauh darimu aku nggak akan bisa."


Dia menatap lekat mata bulat Rina. Setelah mendaratkan ciuman di kening gadisnya, ia kembali membawa Rina ke dalam dekapannya.


"Aku siap Rin, siap lahir batin."


"Nanti aku kalau hamil gimana?"


"Aku bisa nunda kalau kamu belum siap, aku bisa nahan diri buat nggak nyentuh kamu kalau kamu nggak mau, tapi kalau pun kamu nggak bisa nahan aku kayak barusan, seenggaknya kita udah halal sayang."


Rina diam. Ingatannya kembali ke satu jam yang lalu, dimana keduanya diselimuti kabut gairah, hingga membuatnya lupa daratan.


Rina bahkan mencari sesuatu yang mati-matikan Dika sembunyikan hanya karena penasaran.


Dika juga kepalang tanggung saat Rina terus mempermainkannya. Rina tak dapat menolak saat Dika memintanya. Ia merasa bersalah melihat Dika yang tersiksa akibat ulahnya.


Dan aktifitas terlarang itu tak dapat terelakkan.


"Mau ya...?" tanya Dika


"Dan..."


Dika menghela nafas.


"Kalau kamu belum siap kita bisa sembunyiin status pernikahan kita, dan kamu bisa melakukan semua seperti biasa, kecuali..."


"Kecuali apa?" tanya Rina.

__ADS_1


"Kecuali saat denganku kamu adalah istriku, kamu adalah milikku."


"Dika..."


"Be my wife if you really love yourself."


"Nyadar nggak sih kita makin hari makin parah. Emang aku masih bisa nahan dan kamu pun masih perawan, tapi..."


Dika mengacak rambutnya frustrasi.


Hanya hembusan nafas yang menjadi jawaban Rina.


"Kamu nggak harus jawab sekarang."


Dika pun melepas Rina dari pelukannya. Ia mulai gusar karena tak paham dengan pemikiran gadisnya.


"Rapihin baju kamu. Aku udah minta Dedi kesini bawain kita ganti."


"Dedi?"


"Dia lagi di bawah sama Rista," jawab Dika tanpa menatap Rina.


Keduanya meminum soft drink yang sedari awal tersedia di sana.


Rina benar-benar tak nyaman ketika Dika mendadak diam seperti ini. Namun ia sendiri tak tahu harus berbuat apa.


Menikah bukan perkara mudah. Menikah bukan hanya menyangkut dua kepala tapi menyatukan dua keluarga. Memang orang tua dia dan Dika tak ada yang melarang hubungan mereka, tapi jika untuk menikah, Rina tak yakin.


Dia baru berusia 18 tahun, dan Dika masih 17 tahun. Usia keduanya belum bisa dikatakan matang untuk menikah dan membina keluarga.


Tapi jika tak segera menikah, mau tak mau mereka harus berpisah. Itu yang diminta Dika karena ia khawatir akan melakukan lebih banyak dosa jika masih sering bertemu.


Mereka tahu benar hal-hal yang mereka lakukan adalah dosa, namun ketika sudah berdua entah mengapa mereka gampang sekali untuk lupa.


Derap langkah mendekati dua sejoli yang masih bertahan dalam diam itu.


Setelah meletakkan sesuatu, derap langkah itu kembali menjauh.


"Thanks," kata Dika tanpa mengalihkan tatapannya.


Orang itu terus melangkah dan kembali meninggalkan Dika dan Rina hanya berdua.


Keduanya segera mengganti pakaian dengan yang baru.


"Kita pulang."


Dika berjalan terlebih dahulu tanpa menggandengan tangan Rina.


Mau tak mau Rina harus berjalan dengan cepat jika tak mau Dika meninggalkannya.


Mereka benar-benar langsung pulang, bahkan tak menggubris Rista yang meminta keduanya untuk jalan-jalan bersama. Mereka terus diam hingga Dika tiba di rumah Rina.


Keduanya turun dan ternyata Reno dan Ririn sedang menunggunya di teras rumah.


"Assalamualaikum Om, Tante."


Dika mengucap salam dan mencium tangan kedua orangtua Rina.


"Cuma berdua to, saya kira sama adiknya juga?" tanya Reno yang tak melihat orang lain bersama keduanya.


"Rista masih jalan-jalan Om, sedangkan kami sudah capek." Capek hati tepatnya. Lanjut Dika dalam hati.


"Ayo masuk dulu..."


"Makasih Tante, tapi saya mau pulang. Mau nengok rumah, soalnya seminggu ini saya sering tidur di tempat mama," jawab Dika segan karena menolak permintaan orangtua Rina.

__ADS_1


"Ya udah, saya pamit dulu, Om, Tante..."


Dika mencium tangan Reno dan Ririn bergantian. Saat melewati Rina ia hanya tersenyum dan berlalu begitu saja.


Selepas kepergian Dika, Rina ingin segera masuk ke kamarnya.


"Kalian ada masalah?"


Pertanyaan itu berhasil menghentikan langkah Rina. Ia sempat melihat sekitar, ternyata di dekatnya hanya ada mamanya saja.


"Enggak Ma," jawab Rina dengan senyum dipaksakan.


Ririn berjalan dan berhenti tepat di samping putrinya.


"Mau bohongin Mama?"


Rina menghela nafas. Percuma usaha dia jika ingin membohongi mamanya. Bagaimana pun juga sejak kecil ia tumbuh bersama sang mama, jadi tak heran jika Ririn hafal benar berbagai ekspresi Rina.


"Ke kamar yuk Ma..."


Dua wanita beda usia ini berjalan beriringan menuju kamar Rina. Rina berjalan menuju balkon dan duduk di sana.


"Coba cerita sama Mama."


Rina sejenak menatap wanita yang telah melahirkannya ini, kemudian melempar pandangannya ke hamparan bintang di langit malam.


"Mama nggak nuntut apa pun pada hubungan kalian."


"Jika memang harus kandas, dan mungkin papa akan merasa sedikit tak nyaman, itu tak masalah Nak. Yang penting kamu bahagia."


Rina menghela nafas.


"Rina sayang sama Dika Ma."


"Terus?"


"Dika juga."


"Lah, terus masalahnya apa?"


Rina kembali menatap langit untuk menutupi kegugupannya. Ya Alloh, mama bisa pingsan kalau aku cerita apa yang sudah sering kami lakukan.


"Nak..."


"Mama dulu pacaran sama papa lama nggak?"


"Emm.... Kita tipe pacaranya nggak yang sering ketemu terus kemana-mana bareng gitu, soalnya waktu itu papa mahasiswa pasca sarjana. Kita pacaran saat Mama skripsi dan papa kamu tesis dan salah satu dosen pembimbing papa itu dospemnya mama."


"Konsultasi sambil pacaran gitu ya Ma."


"Nggak juga. Tapi ya nggak tahu gimana mulainya."


"Mama yang genit ya jangan-jangan."


"Enak aja. Meskipun Mama suka sejak maba, tapi nggak pernah tuh ngirim surat hadiah atau apapun."


"Terus..."


"Kamu sebenarnya mau ngomong apa sih Nak?" potong Ririn cepat saat merasa ada yang tak beres dengan putri semata wayangnya.


"Jangan-jangan kamu..., astaga?" Ririn berusaha mengusir pikiran buruknya.


"Kamu hamil..."


Rina terduduk lesu. Nah kan, belum ngomong aja udah disangka hamil.

__ADS_1


TBC


__ADS_2