Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Ketinggalan


__ADS_3

HAPPY READING


“Ken, aku nggak bisa!” Dian menghempaskan tangan Ken saat pria ini hendak membawanya kembali ke dalam mobilnya.


“Oke, oke. aku nggak akan maksa. Tapi sekarang kita pulang.” Kali ini Ken berusaha menurunkan intonasinya.


Tapi Dian tetap monolak. “Tinggalin aku di sini,” ujar Dian sambil berjalan menyusuri pantai.


“Nggak Di. Ini tuh sudah tengah malam. Mana mungkin aku ninggalin kamu sendirian di sini?” ujar Ken.


“Tenang aja. nggak akan ada orang jahat keluar jam segini.”


Ken meraih tangan Dian.” Diii…” Ken menarik Dian ke dalam pelukannya.


“Aku janji, aku nggak akan maksa kamu buat nerima aku. Aku akan tetap jadi teman kamu seperti permintaanmu.”


Dian membiarkan Ken terus memeluknya. Keduanya yang setengah mabuk sama-sama kesulitan mengendalikan dirinya. Baru saja Andre berjanji untuk menjadi teman Dian, namun nyatanya sekarang ia lupa. Ia mulai menyerang Dian dengan membabi buta. Dian yang semula hendak hanyut mulaisadar bahwa ini tak bisa dibiarkan.


Plak!


Ia mendorong Ken dan menamparnya.


Ken tersenyum miring. Ia menyentuh pipinya yang terasa panas. “Aku berusaha menutup mata tentang masa lkamu yang telah lalu. Tapi melihatmu seperti ini, aku jadi penasaran apa yang sudah kamu dan mantanmu lakukan saat bersama dulu.”


Andre sedikit menunduk untuk mensejajarkan wajah dengan Dian. Dia bergerak ke samping dan berhenti di depan telinga. “Apakah kamu tak ingin menjajalku agar tahu permainan ranjangku mungkin saja lebih baik dari dia.”


“Egh… Lepas!”


Ken menahan tangan Dian yang hendak kembali melayangkan tamparan.


“Apa, nggak terima iya?!”


Dian masih berusaha melepaskan tangannya.


“Kenapa? Kamu tak terima, iya!?”


Dian tersentak saat Ken membentaknya. Ken memang bukan seorang pendiam, tapi ia tak pernah berkata kasar atau menggunakan intonasi tinggi kepada Dian selama ini.


“Lepasin…”


“Nggak. Kamu harus ikut aku.” Ken mulai menarik Dian.


“Enggak Ken, lepasin, please.”


Ken sama sekali tak menghiraukan permintaan Dian. Ia terus menarik wanita ini menuju mobilnya. Dian mulai panic dan berteriak. Meskipun ia tahu di pantai sesepi ini mustahil akan ada orang yang mendengarnya.


Saat Ken hendak membuka pintu, tiba-tiba seseorang menahannya.


“Jangan kasar sama perempuan.”


Setelah tangannya terlepas, Dian langsung menyadari ternyata Andre yang baru saja datang. Spontan ia memeluk sahabatnya ini.


Andre langsung menahan Ken saat ia ingin kembali menarik Dian.


“Saya harus antar Dian balik Pak Andre.”

__ADS_1


“Anda pikir saya tidak melihat bagaimana kasarnya anda sama Dian. Jadi biarkan saya yang mengantar dia.”


“Tidak bisa. Dia perginya sama saya,” kekeh Ken.


“Tapi dia takut dengan anda.”


Tanpa banyak kata, Andre segera membawa Dian ke mobilnya. Setalah itu dia menjalankan mobilnya meninggalkan Ken yang tampak begitu tak suka.


“Agghhh!!!” Ken mengepalkan tinju ke udara untuk meluapkan kesalnya.


“Apa yang kamu lihat dari Andre Di. Kanapa kamu sama sekali tak menghargai keberadaanku.”


Ken terduduk di atas pasir. Dinginnya udara pantai tak mampu mengusik hatinya yang tengah kacau.


“Kamu abis minum?” tanya Andre pada Dian.


Dian hanya mengangguk saat Andre menanyainya. Percuma saja berbohong, karena dari baunya saja jelas jika Dian baru saja minum alcohol. Saat keduanya masih pacaran, ini salah satu hal yang selalu mereka perdebatkan. Dian sudah mengenal alcohol sejak remaja, sementara Andre tak mau minum dengan alasan dilarang agamanya.


“Kenapa harus sama Kenzo?”


Dian memandang lekat Andre di balik kemudianya. Karena aku nggak bisa ngajak kamu untuk minum.


“Karena minum alcohol haram di agamaku, iya?”


Dian membulatkan mata. Spontan Andre memukul setirnya.


“Nggak usah kamu jawab.”


Keduanya diam beberapa saat.


Dian mengangguk. “Di dekat sini ada penginapan, aku bermalam di situ saja.”


“Aku antar ke rumahmu.”


“Penginapan itu punya keluargaku.”


Andre tak membantah lagi. Ia segera mengantarkan Dian ke tempat yang diminta. Di depan penginapan mereka keluar dari pintu yang berbeda. Andre dan Dian pun berjalan beriringan.


Agak ragu, tapi Dian memutuskan untuk bertanya. “Kamu tadi ngapain di sana?”


Degh!


Hana.


Andre urung masuk bersama Dian. Tiba-tiba dia ingat seseorang yang entah bagaimana bisa ia lupakan. Ia berlari masuk mobil kemudian pergi dengan tergesa.


"Andre! Kamu mau kemana? Ndre!!!" panggil Dian yang terkejut karena Andre tiba-tiba pergi tanpa menjelaskan apapun padanya.


Andre tak menghiraukan panggilan Dian dan terus berjalan untuk menjemput Hana.


“Ya ampun. Kenapa aku bisa lupa kalau tadi aku sama Hana.”


Andre mengumpati kecerobohannya. Ia tiba-tiba cemas memikirkan Hana yang hanya sedniri di sana. Terlebih wanita ini mengenakan dress yang pasti tak cukup menghangatkan tubuhnya di dinginnya angin pantai malam hari.


Andre berjalan dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia ngebut seperti orang gila, hingga akhirnya di persimpangan ia melihat mobil Kenzo dari arah berlawanan.

__ADS_1


Ckiiitttt!!!!


Bbrrmmmm!!!!


Andre berhenti mendadak dan segera memutar haluan. Ia langsung ngebut untuk mengejar Kenzo. Ia tak ingin Kenzo membawa Hana pergi saat tak sengaja menemukannya.


Tiinn tiin ttiiinnn


“Kenzo!!! Berhenti!!!” Andre membuka jendelanya dan meneriaki Kenzo. Karena Kenzo tak juga mengikuti intruksinya iya menambah kecepatan dan menghadang Kenzo di depannya.


Ckkitttt!!


Brak!!


Andre tak menghiraukan rasa sakit di kepalanya yang terbentur. Ia segera membuka pintu dan keluar dari mobilnya.


Andre berhenti di samping kemudi dan mulai mengetuk kaca jendela. “Kenzo! Kenzo!!”


Perlahan Kenzo menurunkan kaca jendelanya.


“Aku belum mau mati Andre…” ujar Kenzo dengan suara lemas. Sepertinya pria ini masih shock karena ia tak sengaja menabrak mobil Andre yang tiba-tiba menghadangnya.


Andre tak menjawab. Ia justru tampak memperhatikan bagian dalam mobil Kenzo.


“Kamu cari siapa? Bukankah Dian tadi sudah bersama kamu?”


Kayaknya aku yang mabuk tapi kenapa Andre yang linglung.


“Maaf, yang aku cari tidak ada.”


Andre menegakkan tubuhnya dan pergi begitu saja.


Kenzo memegangi kepalanya yang sedikit pusing dan segera menyandarkannya. Ia mencari air mineral yang selalu ada di mobilnya dan segera meminumnya. Ia menatap ngeri saat melihat Andre masuk dengan tergesa ke mobilnya dan memutar haluan sebelum melesat ke arah pantai.


Ken kemudian menghidupkan mobilnya dan perlahan menjalankannya. Ia belum mau mati sekarang, jadi ia memutuskan untuk berjalan pelan-pelan.


Di tepi pantai Andre memarkirkan mobilnya dengan sembarang. Ia keluar tanpa menutup mobilnya dan langsung berlari.


“HANAAAA!!!!!”


Andre berteriak seperti orang gila dan berlari tanpa arah dengan bertelanjang kaki.


“Kamu dimana Hana. HANAAAA!!!”


Andre lelah berlari dan berteriak seperti orang gila. Pantai ini sangat sepi. Ia takut kalau Hana ada yang mencelakai. Lebih takut lagi jika wanita ini sampai bunuh diri. ia sadar ia sering kelewatan mengerjai Hana, tapi sungguh ia tak ingin wanita ini mati sia-sia.


Andre duduk sembarangan di atas pasir. Dengan lutut ditekuk, ia memukul pasir dengan sekuat tenaga.


“Ya Tuhan, kenapa aku bisa ninggalin Hana sih…”


Andre mendongak menatap langit yang bertabur bintang.


“Aku titip Hana. Jaga dia dimanapun dia berada. Aku tahu tak ada tempat yang benar-benar aman untuknya.” Andre bicara seolah bintang dan malam paham dengan bahasanya. Ia kemudian bangkit dan berjalan dengan langkah gontai menuju mobilnya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2