
HAPPY READING
“Kalian kenapa ngeliatin aku kayak gitu?” tanya Andre yang meraa tak nyaman karena Dika dan Rina menatapnya sedemikian rupa.
Andre pun balik menatap pasangan suami istri di hadapannya dengan seksama. Rina sedang duduk dengan mesra di pangkuan Dika dan keduanya dengan fokus pandangan ke arahnya.
“Kamu sedang bekerja atau kenapa sih? Mesti banget ya aku berteriak dulu untuk mendapat jawaban saat manggil kamu?” kesal Rina.
Sementara Dika hanya mengusap lengan istrinya, berharap dengan cara ini akan mengurangi kesal yang Rina rasa.
“Ya kerja. Dika memintaku untuk membantunya melakukan ini semua, kalau aku nggak fokus aku bisa salah dalam mengambil keputusan. Kalau sampai hal ini terjadi, maka aku akan mendatangknn kerugian untuk perusahaan.” Andre menjelaskan dengan detail apa yang ia lakukan. Sepertinya ia memang tak tahu apa yang baru saja dua orang ini bicarakan.
Dan sesaat setelah menyelesaikan ucapannya, Andre kembali fokus pada kertas-kertasnya.
Mata Andre membulat dan langsung menatap Rina yang menarik paksa kertas yang berada di tangannya. “Kamu ngapain Nyonya Restu?!” kesal Andre karena merasa Rina menganggunya.
Rina meletakkan dengan asal di atas meja berkas yang baru direbutnya. Dika tak mencegahnya karena merasa Andre perlu bernafas barang sejenak sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Aku cuma minta tolong kamu telfonin Dian, soalnya hp aku
ketinggalan,” ujar Rina pada Andre to the point.
“HP Dika kan ada.” Andre ingin meraih lagi kertas yang semula
dipegangnya namun Rina lebih dulu menyingkirkannya.
“Rinaaaa…”
“E e e eh. Apa hak kamu memanggil istriku dengan cara itu,” protes Dika pada cara Andre yang terlihat kesal saat memanggil istrinya.
“Ya tolong anda kondisikan Nona Malinda ini Bapak Andika…”
Andre hendak merebut apa yang Rina pegang, namun Dika justru menatapnya dengan tajam.
Andre yang kesal mengacak rambutnya dan menyandarkan punggungnya dengan keras. Astaga, yang hamil Rina kenapa Dika juga ikut menyebalkan. Untung atasan, kalau bukan pasti sudah ku ajak duel sekarang. Andre hanya mampu ngedumel dalam hati. Karena seberapa dekatnya pun mereka, Dika tetaplah atasannya. Dan malanganya Rina yang semula teman sekolahnya ini merupakan istri dari atasan yang harus dihormatinya ini.
“Gimana tadi?” tanya Andre yang memutuskan untuk berdamai lebih awal.
Rina mendengus. “Aku mau minta tolong sama kamu buat hubungin Dian, tanya posisi dia dimana, mau aku samperin.”
Tanpa menjawab Andre segera mengeluarkan ponselnya. Ia menekan icon WA dan mulai mengetikkan pesan di sana. Setelah pesan terkirim, ketiganya menunggu tanpa suara.
“Masuk sih, tapi nggak dibuka sepertinya,” kata Andre sambil
menunjukkan layar ponselnya.
“Coba kamu telfon,” pinta Rina.
Sekali lagi Andre segera melakukan apa yang ibu hamil ini instruksikan tanpa menjawab dan tanpa menjeda sebelumnya.
“Halo Di…” ucap Andre begitu panggilannya tersambung.
__ADS_1
“Ehm…” Sebuah deheman terdengar di seberang sana.
Andre mengernyit saat dan mengecek ponselnya untuk memastikan bahwa ia tak salah menghubungi orang. Namun ia tahu dengan pasti itu bukan suara Dian karena Dian adalah seorang perempuan bukan laki-laki yang berdehem barusan.
“Sorry Ndre, gue Ken. Dian sedang mandi.” Ternyata yang sedang menjawab panggilan Andre adalah Ken.
Andre mengernyit dan menyandarkan punggungnya. Sementara Dika dan Rina hanya menatapnya penasaran.
“Apa ada hal penting, biar nanti aku sampaikan?” tanya Ken saat mendengar Andre tak menyahutnya lagi sejak tadi.
“Emm, Rina mau nanya posisi Dian dimana?” ujar Andre akhirnya.
“Kita lagi di Beijing.”
“Beijing?” kaget Andre. Belum juga ia melanjutkan ucapannya Rina sudah keburu menarik ponselnya.
“Di kamu dimana?”
“*Kita lagi di*…”
“Loh kok suaranya…” potong Rina cepat saat mendengar suara laki-laki bukan suara Dian temannya.
Terdengar suara tawa di seberang sana. “Rina ya ini?”
“Iya, kamu…” Rina menggantung ucapannya karena ia sama sekali tak mengenali suara ini.
“Aku Ken. Sekarang Dian lagi sama aku di Beijing,” jelas Ken kemudian.
“Mungkin dia nggak sempat karena memutuskannya pun mendadak.”
“Mendadak? Memangnya ada hal penting apa sehingga kalian harus buru-buru ke sana?” Sepertinya Rina masih belum bisa menghalau kebingungannya.
“Ulang tahun Nenekku tak bisa ditunda, jadi aku buru-buru membawa Dian ke sini.”
“Maksudnya?” Rina masih bingung sambil melempar pandangan pada Andre dan suaminya. Padahal dari kedua orang yang ditatap itu tak ada satupun yang mendengar obrolannya dengan Ken.
“Biar nanti Dian saja yang bercerita. Sekarang aku harus bicara dengan Andre.”
“Kenapa dengan Andre, apa urusan kamu dengan dia?”
Mendengar namanya disebut, Andre kemudian menatap Rina seolah bertanya. Rina sepertinya terlibat perdebatan dengan Ken, setidaknya itu yang ditangkan Dika dan Andre sekarang.
“Nih…” tiba-tiba Rina menyerahkan ponselnya pada Andre dan berjalan dengan cepat ke ruang istirahat suaminya lagi.
Ken mengacuhkannya dan membiarkan Dika menyusul istrinya.
“Halo Ken,” buru-buru Andre bersuara. Ia penasaran juga kenapa Ken tiba-tiba ingin bicara dengannya.
“Hai Ndre selamat ya…”
“Selamat untuk apa ya?” bingung Andre karena tanpa tahu sebabnya Ken mengucapkan selamat untuknya.
__ADS_1
“Aku sempat bertemu dengan Hana beberapa hari yang lalu.”
Ingatan Andre melayang di hari dimana akhirnya ia bisa menemukan Hana setelah selama dua hari ia tanpa kabar begitu pergi dari apartemennya.
“Oh iya, aku ingat beberapa hari yang lalu.”
“Bagaimana kabar Hana sekarang?”
“Dia baik-baik saja. apa kamu bisa menceritakan bagaimana kamu bisa bertemu dengannya?”
“Siang itu aku menemukannya sedang duduk di pinggir jalan. Saat aku ingin menyapanya, tiba-tiba dia pingsan.”
“Selanjutnya...”
“Ya menurut kamu aja Ndre kalau pingsan aku apain. Yang jelas ya aku bawa ke rumah sakit lah, dan yaaa. Aku kaget saat tahu ternyata Hana... Emm, kamu sudah tahu kan?”
Andre tersenyum dan menyandarkan punggungnya. “Thanks ya.”
“Yes papa. Dan kamu teganya membiarkan Hana sendirian di jalan seperti itu.”
“Sekarang tidak lagi.”
“Jaga dia Ndre. Aku khawatir jika kamu tak menjaganya dengan baik, akan ada orang yang siap membawa Hana pergi.”
“Apa kamu sedang mengancamku?”
“Tidak, aku hanya memperingati.” Ken mengakhiri ujarannya dengan tawa.
Keduanya mulai mengobrol dan Ken juga sudah menceritakan bahwa ia telah melamar Dian sesaat sebelum acara ulang tahun neneknya. Dan saat ini mereka telah sepakat untuk bersama.
“Selamat juga untuk kalian,” ujar Andre akhirnya.
Andre dan Ken mengakhiri obrolannya setelah tak terasa mereka menghabiskan hampir setengah jam lamanya. Saat Andre melihat sekeliling, ternyata Dika belum kembali juga ke tempatnya. Saat lebih memperhatikan lagi, ternyata kini ada Lili yang berdiri di pojok ruangan.
“Kamu ngapain di situ?” tanya Andre yang melihat Lili berdiri tanpa fungsi di ruangan bosnya ini.
“Anu itu…” Lili bingung cara mengatakannya. Ia memang tak melihat, tapi ia bisa menduga apa yang sedang nona dan tuannya perbuat di dalam sana. Namun jika harus mengatakan apa yang ada di pikirannya, ia sendir belum dapat membuktikan kevalidan isi kepalanya.
“Tadi kamu disuruh keluar?” tebak Andre.
Lili menjawabnya dengan anggukan.
Setelah menghela nafas, Andre kembali meraih berkasnya.
“Kamu istirahat saja, nanti juga kalau dibutuhkan kamu akan
dipanggil.”
Lili penasaran juga dengan maksud Andre. Tapi melihat wajah serius pria ini, ia jadi mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Bersambung…
__ADS_1