Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Pernah Lebih Jahat


__ADS_3

HAPPY READING


Saat jam makan siang seperti ini, pelanggan di tempat kerja Hana bukannya senggang malah kian membeludak. Semua yang ada di sana tak bisa istirahat bersamaan melainkan harus bergantian karena pelanggan yang datang tak peduli  dengan jam makan siang.


Hari ini Hana yang mendapat giliran istirahat paling belakang. Hal ini karena ia merasa tak enak dengan kejadian tak menyenangkan sehari sebelumnya yang disebabkan oleh dia. Sehingga ia mengajukan diri untuk istirahat paling akhir.


Sudah hampir jam dua, dan Haning yang mendapat giliran istirahat tepat sebelum Hana belum juga muncul dari belakang. Padahan yang lain termasuk Nuke hanya butuh tak lebih dari 15 menit untuk makan dan sholat bagi yang tidak tengah berhalangan.


“Udah Han, kamu istirahat saja, jangan-jangan mbak Haning ketiduran lagi di dalam,” kata Risma yang tiba-tiba muncul di dekat Hana.


“Enggak Ma. Palingan mbak Haning sebentar lagi kelar,” tolak Hana.


“Dia sengaja deh kayanya,” ujar Risma yang sepertinya sedikit kesal dengan kelakuan rekan kerjanya ini.


“Udah Ma, jangan suudzon.”


Tiba-tiba Nuke datang menghampiri Hana dan Risma. “Kata Anin Hana belum istirahat ya?” tanya Nuke begitu tiba di dekat keduanya.


“Iya nih Mbak. Sudah setengah jam lebih loh mbak Haning di dalam, tapi sampai sekarang belum kelar juga,” adu Risma.


“Nggak apa-apa. Mungkin mbak Haning belum selesai


makan,” bela Hana.


“Kamu ke ruangan saya saja, di sana ada mukena juga kalau kamu mau sholat,” ujar Nuke memberi solusi.


“Nggak apa-apa Mbak. Biar saya nunggu mbak Haning


selesai saja.” Hana masih kekeh menolak karena ia tak enak jika mendapat perlakuan sebaik ini dari bosnya.


“Tapi saya tidak mengasuransikan kesehatan kalian,” ujar Nuke dengan senyum lebarnya.


Risma meraih bahu Hana dan mendorongnya. “Ih, sudah sono. Orang baru sakit juga…”


Hana mengedip-ngedipkan matanya berharap Risma tak lebih banyak berbicara. Risma yang paham segera menggigit bibirnya.


“Ya udah Han, kamu ke ruangan saya, biar saya gantikan kamu,” ujar Nuke lagi. Sepertinya ia tak mendengar apa yang baru saja Risma katakan.


“Makasih Mbak Nuke…” ucap Hana sambil sedikit menundukkan badan.


Hana berjalan perlahan ke ruangan Nuke, saat dia hendak menarik handel pintu, tiba-tiba Haning muncul dengan tatapan tak suka terarah dengan jelas padanya. “Dasar tukang ngadu,” ujarnya saat melewati Hana.


Hana tak menanggapi serius ucapan Haning. Ia urung masuk ke ruang Nuke dan berbelok ke ruang yang biasa digunakan oleh karyawan untuk istirahat dan makan siang. Di dalam ia membuka makan siang yang tadi tiba-tiba datang tanpa tahu siapa yang memesan. 6 porsi makanan yang Hana terima termasuk untuk kelima rekannya. Hana terpaksa berbohong kalau itu dari teman lamanya padahal ia tahu benar jika Andre lah yang mengirimkannya.


Setelah hampir dua minggu tinggal bersama Risma makan dengan banyak karbo dan sedikit protein, akhirnya ia bisa makan dengan porsi berisi kebalikannya.

__ADS_1


"Selamat ya perut, akhirnya kamu bisa kemasukan makanan yang biasa kamu makan," gumam Hana seakan perutnya bisa diajak bicara.


Hana tak bisa menahan kedua sudut bibirnya yang tertarik sempurna sambil mengunyah makanan. Ia kadang masih belum percaya jika pria yang saling mencinta dengannya ini adalah Andre atasannya dulu. Semua serba tak terduga, semua serba tiba-tiba. Memang hidup ini penuh kejutan yang merupakan rahasia Tuhan. Tinggal bagaimana kita sebagai manusia menyikapi dan menjalaninya.


“Cuma makan doang lama bener. Sengaja ya biar


istirahatnya lama.”


Hana hanya menghela nafas mendengar ucapan Haning


yang melewatinya menuju kamar mandi. Wanita ini mulai kelihatan kesal dengannya sejak pagi, tepatnya ketika ia menyadari pakaian yang Hana kenakan merupakan salah satu dari yang diborong Andre sehari sebelumnya. Ia yang sudah lama bekerja di sana tak pernah menjumpai pelanggan yang seperti itu, kenapa Hana yang beru bergabung dengan mereka bisa mendapat keberuntungan sebesar itu.


Tak berselang lama Haning sudah muncul lagi dari kamar mandi. Ia berjalan dan berhenti di samping Hana yang belum selesai makan. “Sebenarnya kamu siapanya sih? Dalam rangka apa kamu dibelikan baju sebanyak itu?” tanya Haning dengan nada rendah namun masih terdengar sinis di telinga Hana.


Hana tak menggubris sama sekali pertanyaan Haning. Ia justru dengan sengaja segera memasukkan makanan ke dalam mulutnya yang telah kosong sebelumnya.


“Heh, kalau ditanya itu jawab!”


Hana menelan makanannya terlebih dahulu baru kemudian mendongak menatap Haning yang berdiri di sampingnya. “Mbak Haning nanya saya?” tanya Hana dengan santainya.


“Kamu… igh!!!”


Haning menghentakkan kakinya sebelum berjalan meninggalkan Hana segera.


Hana kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan perlahan. Ia harus segera menyelesaikan makan siangnya agar ia bisa kembali bekerja.


***


“Beneran Non?”


“Iya Li.”


“Syukur deh. Bunda sempat khawatir pas Lili bilang Hana ngilang. Temunya dimana Non?” Lili bahagia saat Rina memberitahunya bahwa Andre sudah menemukan Hana.


“Andre masih nggak mau info,” ujar Rina sambil mengotak-atik ponsel pintarnya.


“Yah pelit pak Andre mah.” Lili mendesah kecewa karena semula ia ingin segera menemui Hana. Hana adalah pribadi yang baik dan sederhana, makanya Lili yang sebenarnya belum lama kenal bisa sayang dan care pada Hana.


“Iya gitu deh. Andre sejak dulu memang suka seenaknya, bahkan hingga kini dia tahu aku istri bosnya,” ujar Rina sambil meletakkan ponselnya di atas meja.


“Oh iya, ada agenda apa yang harus saya kerjakan hari ini?” tanya Rina pada Lili kemudian.


Memang tepat julukan asisten untuk Lili. Ia kini lebih mirip asisten Rina ketimbang pengawal atau semacamnya, ditambah pengalaman kuliahnya yang bisa digunakan sekarang membuat Lili benar-benar multi fungsi. Namun bukan itu saja yang menjadi berkah untuk kehidupannya melainkan gaji berlipat ganda yang diberikan atas pekerjaan-pekerjaannya yang mampu dilakukannya.


“Jadi Nona masih ada 3 jam sebelum pertemuan,” ujar Lili mengakhiri rentetan kalimatnya saat membacakan agenda untuk Rina hari ini.

__ADS_1


“Emm, kalau agenda suami saya bagaimana?” tanya Rina lagi.


“Sebentar saya cek kan…”


Sembari menunggu Lili, Rina memeriksa ulang berkas-berkas yang sudah ia periksa sebelumnya. Ia belum punya cukup kepercayaan diri untuk langsung taken hanya dengan sekali periksa layaknya yang para profesional lainnya lakukan, seperti Dika dan Andre misalnya.


“Jadwal pak Restu sangat padat, dan jadwal pak Andre juga sama, jadi keduanya tak bisa menggantikan satu sama lain,” ujar Lili setelah mendapatkan informasi yang baru saja Rina minta.


“Oke…” Rina kembali fokus pada kertas-kertas di tangannya, sementara Lili melanjutkan pekerjaan yang sudah dibebankan padanya sebelumnya.


Hingga kurang lebih setengajam kemudian, Rina berhasil membubuhkan tanda tangan pada berkas yang ia setujui dan menyingkirkan yang belum pas menurutnya.


“Tolong minta Levi untuk merevisi ini ya, setelah itu kamu siap-siap pergi dengan saya,” kata Rina sambil menyerahkan berkas yang ia maksud pada Lili.


“Baik Nona.”


Lili langsung meninggalkan pekerjaannya dan melaksanakan apa yang Rina perintahkan untuknya. Ia berjalan meninggalkan ruangan Rina dan tak butuh waktu lama kini Lili sudah kembali.


“Sudah Nona,” ujarnya sebelum kembali ke tempatnya.


Rina pangkit dan menyambar tas brandednya. Setelah itu keduanya pergi beriringan meninggalkan ruangan.


“Memberi kejutan pada Hana sepertinya akan


menyenangkan,” gumam Rina di tengah ayunan langkah mereka.


“Tapi Nona. Saya bisa kena marah pak Restu kalau membiarkan Nona kelelahan.” Lili terkejut dan takut mendengar keinginan nonanya. Selain karena ia takut jika terjadi apa-apa dengan Rina yang tengah hamil, ia juga takut akan sanksi yang akan Dika berikan jika ia tak melaksanakan tugas dengan baik. Memang dibalik gajinya yang fantastis untuk ukuran Lili, ia mengemban tanggungjawab yang besar untuk keselamatan Rina. Dan ia tahu benar membuat Dika marah bukan lah sesuatu yang patut untuk di coba.


“Kelelahan bagaimana?” ujar Rina balik bertanya.


“Ya kan setelah itu kita harus meeting dengan client Nona,” ujar Lili menjelaskan.


“Terus masalahnya apa?”


Lili mendesah. Please Nona, jangan bawa saya ke situasi yang sulit. Saya masih ingin bekerja bersama anda. “Ya kan Nona bisa kelelahan kalau harus ke tempat Hana setelah itu ke resto tempat meeting.” Lili berusaha menjelaskan dengan sabar.


Rina menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Lili yang semula berjalan di belakangnya. Ia kemudian mengangkat ponselnya dan menunjukkan persis di depan wajah Lili.


“Nih baca…”


Lili melihat dengan sekmasa alamat yang Rina tunjukkan. “Ini wilayah dimana kita kan janjian Nona, tapi kok di toko baju, bukan di restoran?” tanya Lili setelah mengenali lokasi ini.


Rina menarik dan menyimpan lagi ponselnya. Ia berjalan begitu saja meninggalkan Lili yang sepertinya belum paham dengan apa yang terjadi.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2