
HAPPY READING
“Ini rumah siapa?” tanya Hana begitu Andre membawa mobilnya berjalan melewati sebuah gerbang besar. Di dalamnya ada rumah yang tak begitu besar namun tampak begitu nyaman. Yang membuat Hana merasa tak biasa, di rumah ini penjagaannya sangat ketat bahkan lebih banyak dari pada di rumah Andre yang baru saja mereka tinggalkan.
Entah karena tak dengar atau bagaimana, Andre sama sekali tak menanggapi pertanyaan Hana. Begitu mobil berhenti ia segera keluar meninggalkan Hana dan Novi yang masih di dalam.
“Nona…” panggil Novi dari jok belakang.
“Apa kamu takut…?” tebak Hana.
Dapat Hana lihat Novi mengangguk dari kaca.
“Sebenarnya ini ada apa?” tanya Novi kepada Hana dengan hati-hati.
“Saya sendiri tak tahu pastinya. Tapi satu hal yang saya minta. Kamu harus yakin dan percaya pada Andre. Ya…” Hana menatap Novi sekilas sebelum kembali menatap Andre yang nampak masuk ke dalam.
Entah apa yang ada di pikiran Novi, yang jelas kepalanya mengangguk begitu saja. Tak lama kemudian Andre muncul bersama seorang pria tinggi dengan tubuh berbalut piyama berwarna hitam.
Setelah mengenali sosok itu, seketika Hana membeku di tempatnya. Namun berbeda dengan Novi yang justru takjub dengan manusia di hadapannya. Ternyata di dunia nyata ada juga manusia yang tampan bak oppa-oppa korea.
Ya ampun. Aku pikir pak Andre itu satu-satunya orang paling bening yang mungkin aku temui di dunia ini, ternyata masih ada satu lagi. Apa aku punya keberuntungan dengan dia? Batin Novi dalam hati.
Novi baru kembali ke dunia nyata saat pintu di depannya terbuka. Ternyata Andre sedang membukakan pintu untuk Hana dan membawa wanita ini keluar bersamanya.
“Lah, aku gimana?” gumam Novi begitu pintu tertutup kembali.
Beberapa hari tinggal bersama Andre dan Hana, Novi mulai hafal jika pria ini bukan tipe seseoran yang mau diajak tawar-menawar. Sekali berkata iya, berarti harus iya. Jika sudah bilang no, ya tidak ada yang boleh melangkah. Dan Novi benar-benar tak berani bergerak sebelum Andre mengijinkannya untuk bergerak.
“Novi kamu keluar…”
Novi mengurut dadanya lega. Ia kemudian membuka pintu dan menyusul Hana yang sudah keluar terlebih dahulu.
Novi takjub begitu masuk ke dalam rumah ini. Kemewahan tak dapat terbendung lagi di berbagai sisi. Dan satu lagi, bahkan di malam selarut ini, para asisten masih bersiaga untuk membuka pintu, dan baru saja ia duduk, sudah ada yang datang membawa nampan berisi minuman hangat.
__ADS_1
“Sorry Bos, saya harus merepotkan kamu selarut ini,” ujar Andre pada pria ini.
What? Bos? Gila sih. Bosnya pak Andre masih muda sekali. Tampan lagi. Kira-kira sudah punya pacar apa belum ya?
Novi mulai meracau dalam hati. Dia memang bekerja di rumah sakit Rudi, tapi tak mengenal secara personal pemilik rumah sakit berserta anggota keluarganya. Jadi tak heran jika ia tak pernah bertemu dengan Dika sebelumnya.
“Never mind." Dika menatap remeh sekertarisnya saat melihat kekacauan yang nampak jelas di wajah. "Semula aku pikir kamu memang tak membutuhkan bantuanku dan akan menghandle semuanya sendiri,” ledek Dika kemudian.
Andre tertawa miris. Is menertawakan ketidak mampuannya mengatasi masalah pribadinya hingga harus melibatkan bosnya seperti ini.
“Andre, sudah banyak kali kamu membantu saya membereskan banyak masalah. Masalah pribadiku pun tak terhitung yang sudah kamu bantu mengatasinya. Apa kamu tak mau sedikitpun memberiku kesempatan untuk merasakan bahagianya membantumu…”
Andre mengangkat wajahnya yang masih berhias lengkung di kedua sudut bibirnya.
“Keadaan Rina gimana?” tanya Andre kemudian.
“Baik. Dia sedang istirahat." Dika menghela nafas dan menatap Hana sekilas. "Saya rasa Hana lebih baik juga istirahat sekarang,” lanjut Dika.
“Kamu istirahat ya.” lirih Andre pada Hana.
“Tangan kamu dingin, apa kamu takut?” tanya Andre setelah menyentuh tangan Hana.
Dika menyandarkan punggungnya dengan tangan bersedekap dada.
Novi tak bergeming di tempatnya. Rina itu siapa? Pacarnya kah? Apa dia seperti Nona Hana dengan Pak Andre? Ya Tuhan…
“Andre, bawa Hana istirahat dulu. Selanjutnya saya tunggu di ruang kerja…”
Dika bangkit begitu saja meninggalkan ruang tamu dengan tiga orang yang masih di sana.
Setelah kepergian Dika, Hana langsung menghambur ke pelukan Andre. Saat Dika pergi baru lah Novi teringat dengan barang-barangnya yang baru saja ia boyong ke rumah Andre beberapa hari yang lalu.
Laptop aku ya ampun, nasib drama yang belum sempat aku tonton gimana? Baju-baju, semuanya. Ya Tuhan. Terus kalau bajuku kotor aku kudu pake apa.
__ADS_1
Novi menatap melas ponsel di sakunya. Kamu jadi satu-satunya benda berharga yang aku bawa. Dompetku, uangku, ya ampun. Ini boleh protes nggak sih…
Novi menatap Andre dan Hana yang masih saling memeluk. Andre terlihat mengusap punggung Hana, dan Hana masih diam tanpa suara. Orang kaya mah beda. Rumah ditinggal biasa saja, sedangkan aku ninggalin koper aja galaunya tak karu-karuan. Racau Hana dalam hati.
Sebenarnya kenapa pak Andre buru-buru bawa kita pergi dari sana tadi, atau jangan-jangan… Astaga, jangan-jangan rumah itu ada bomnya. Novi terus meracau dalam hati, pasalnya ia tak punya orang yang bisa ia tangani kini.
Gara-gara tergiur gaji besar, aku malah terancam kehilangan banyak hal yang sudah aku kumpulkan selama ini. Jadi nyesel deh nggak memperpanjang kontrak di rumah sakit.
“Novi…”
“Ya…”
Meskipun pikirannya sedang sibuk berkelana, namun Novi masih bisa menjawab dengan cepat panggilan dari Andre.
“Bawa Hana istirahat, saya masih ada urusan yang harus saya
selesaikan,” titah Andre kemudian.
Baru saja Novi hendak membuka mulutnya, Andre sudah bangkit begitu saja. Perawat ini hanya mampu menghela nafas. Ini mau istirahat di mana? Kan saya belum pernah ke sini sebelumnya.
“Nona…”
“Permisi. Mari ikut saya…” Tiba-tiba seorang perempuan dengan seragam pelayan datang dan memotong ucapannya untuk Hana.
Hana nampak terkejut. Saat baru saja mereka datang tadi sudah di sambut dengan dengan pelayan yang membawa minuman hangat yang bahkan hingga kini belum sempat mereka sentuh. Sekarang baru saja Andre memintanya membawa Hana beristirahan sudah ada perempuan berseragam pelayan yang datang bersiap mengantar mereka.
Apa di rumah ini semua bekerja secara otomatis tanpa perlu menunggu perintah dari majikannya? Tanya Novi dalam hati.
Novi membantu Hana berdiri dan mengikuti perempuan berseragam pelayan tadi membawa keduanya ke dalam sebuah kamar.
“Maaf, kamar anda bukan di sini,” cegah wanita ini saat Novi hendak masuk ke kamar yang sama dengan Hana.
Novi menatap Hana seakan bertanya. Hana mengangguk mengisyaratkan pada Novi bahwa semua akan baik-baik saja. Ia tahu kepala Novi sekarang dipenuhi tanda tanya.
__ADS_1
Jangan kan Novi yang baru saja masuk ke dalam kehidupan seperti ini, Hana saja sekarang belum paham benar apa yang terjadi. Mulai dari Andre yang pulang larut dengan beberapa lebam di wajahnya, hingga penjaga yang disiagakan sudah tergeletak tak berdaya saat mereka pergi tadi. Yang Hana tahu sekarang ada masalah yang harus Andre hadapi. Entah ini hanya masalah Andre yang membuatnya terpaksa terlibat, atau sebenarnya masalah Hana sendiri yang terpaksa harus Andre hadapi karena sekarang mereka telah bersama.
Bersambung…