Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Pertama


__ADS_3

HAPPY READING


“Shal, Lu yakin sama orang ini?”


Pria berambut gondrong ini menghela nafas. "Yakin."


“Tapi berdasarkan track recordnya, ia baru tulisan pertama. Jadi dari ciri khas, gaya penulisan, karakter ya yang semacam itu belum kelihatan. Khawatirnya ini hanya kebetulan, hasil plagiat, atau lebih parahnya ini karya orang yang ia post dengan namanya...”


“Udah Vid. Jangan berfikir terlalu jauh. Keputusan sudah dibuat dan kita sudah berkomunikasi dengannya…” potong Marshal atas ucapan David padanya.


“Kan bisa bilang kalau kita salah menghubungi orang, beres kan…”


“Tapi nyatanya sejak awal tak ada kesalahan. Dan satu lagi, ini juga bukan hanya pertama untuk Black Pearl tapi juga untuk kita. Ini adalah kontes pertama yang kita buat setelah beberapa waktu meluncurkan produk. Dia mempercayakan karyanya pada kita lantas kenapa kita tak coba percaya padanya...”


David menghela nafas. “Oke… “ Ia menyerah.


“Tangani semuanya, aku mau pulang dulu…” pamit Marshal setelah merasa semua selesai di bahas.


“Gua nggak ditungguin?” tanya David yang nampaknya tak rela ditinggal sendiri.


“Sorry Vid, sudah terlanjur janji sama Mama,” ujar Marshal yang tahu maksud David ingin numpang pulang bersama seperti biasa.


Pria berkulit putih ini tertawa remeh. “Mama?” godanya.


Marshal menghela nafas. “Anak temennya Mama…” ujar Marshal memperjelas maksudnya.


“Hwa ha ha ha ha…” David tertawa dengan puas  melihat derita sahabatnya.


Marshal pergi begitu saja karena tak ingin berdebat dengan sahabatnya. Melajang di usia 30 memang rasanya tak nyaman, terlebih ia merupakan anak pertama yang punya adik perempuan yang sudah siap menikah. Sehingga saat ini sang mama sedang gencar-gencarnya mencarikan jodoh agar Marshal tak kelangkahan adiknya.


Di tempat lain, Hana sedang bersorak penuh euforia. Jika tadi ia sempat berteriak-teriak bak orang gila karena mencari charger yang ternyata Andre simpan di ruang kerjanya. Kini ia sedang bersorak bahagia diiringi senyum lega dari semua orang yang ada di sana.


Kontes cerpen pertama yang Hana ikuti menuai keberhasilan olehnya dengan mudah. Melihat ini merupakan karya pertamanya sebagai Black Pearl, ini dapat disebut luar biasa. Atau tak salah juga kalau ia dikata beruntung karena belum ada karya lain sebagai pembandingnya.


Tapi Hana bertekat tak akan mengecewakan editor yang telah meloloskan karyanya. Ia akan memberikan yang terbaik di setiap karya yang kelak dibuatnya.


Jika tujuan akhir Hana hanya emiliki karya fisik, itu bukan perkara yang sulit karena dia memiliki Andre yang tak punya kendala masalah koneksi dan pendanaan. Namun ia ingin menjadi author yang dikenal karena karyanya layak diminati bukan punya banyak karya karena punya dana untuk mempublikasikannya.


“Bibi, semua, kalian. Saya benar-benar berterimakasih untuk hari ini. Tapi sebelumnya saya mohon maaf karena harus merepotkan kalian untuk membereskan semua.”


“Tidak masalah Nona,” serempak semua.

__ADS_1


Setelah itu, Hana melenggang ke kamar mandi membiarkan semuanya membereskan kekacauan yang mereka buat bersama. Sedangkan ia sendiri sangat tak sabar untuk menyusul Andre demi memberitahukan kabar bahagia ini kepada kekasihnya.


Selesai mandi, Hana kini siap pergi.


“Nona mau kemana?” tanya sopir yang Andre siagakan namun sepertinya Hana acuhkan. Ia mencegat Hana yang sudah membawa kunci dan siap pergi.


“Saya mau menemui Andre,” jawab Hana kemudian.


“Biar saya antar,” tawar pria ini.


“Tapi…” Hana nampak ragu untuk meneruskan ucapan.


“Tuan berpesan agar tak membiarkan Nona pergi sendirian,” ujar pria ini saat melihat Hana tak bicara lagi.


Hana meletakkan kembali kunci mobil yang semula ia ambil. Memang selain tidak punya SIM, Hana merasa lebih praktis jika diantar sopir saja. Jika Andre ingin mengajaknya bersama, tak perlu memikirkan mobil akan ditinggal di mana.


“Ya sudah, antarkan saya…”


Hana pun pergi diantar sopir kali ini. Sepenjang perjalanan, pikirannya berkelana kemana-mana. Sebentar-sebentar galak, sebentar-sebentar baik, sebentar-sebentar dingin, sebentar sebentar romantis, sebentar-sebentar semaunya sendiri. Tapi satu hal yang tak pernah berubah sejak kemunculannya, yaitu perasaan Hana padanya.


“Pak, sop buntut yang enak di dekat sini ada nggak ya?” tanya Hana setelah lelah dengan lamunannya.


“Saya kurang tahu Nona, tapi saya tahu ada yang selalu ramai di dekat McD,” jawab pria ini sambil menatap Hana dari pantulan cermin di atas kepalanya.


“Baik Nona.”


Jam makan siang sudah lewat, tapi Hana yakin jika Andre tak bersedia meluangkan waktu untuk hal ini. Sehingga ia ingin datang dan membawakan makanan. Setelah Hana mendapatkan apa yang dia cari, perjalanan pun dilanjutkan.


Setibanya di kantor Surya Group, Hana merasa atmosfirnya. kini sungguh berbeda. Meski ia tampil seadanya, namun semua nampak segan terhadapnya. Ia berjalan dengan cepat karena tak siap dengan banyaknya sapaan yang dialamatkan padanya membuatnya sungguh tak nyaman. Tapi keinginannya untuk bertemu Andre mengalahkan segalanya..


“Hai…”


Hana melambaikan tangan kala menyapa ketiga mantan rekan kerjanya. Ketiganya hanya membalas dengan hal serupa karena mereka tengah sibuk bekerja.


“Ada?” tanya Hana sambil menunjuk pintu ruangan Andre


yang tertutup.


Ketiga sempat saling memandang sebelum serempak mengangguk kemudian.


“Aku masuk ya…” ujar Hana.

__ADS_1


“Ja…” Rahma menelan suaranya karena sadar kedua rekannya hanya diam saja. Dan sepertinya Hana juga tak mendengar suaranya.


Cklek


Hana membuka pintu dan dia langsung membeku.


“Bohong kalau kamu bilang tidak suka. Aku membuatnya bersama tante Heni.”


“Karena ada campur tangan kamu makanya rasanya beda,” ketus Andre pada wanita di hadapannya.


“Tidak mungkin, karena aku tinggal memindahkannya ke wadah ini.”


Brakk!!!


“Cukup Cindy! Kamu sudah sangat mengganggu waktuku hari ini. Apa pun yang kamu rencanakan bersama mama aku tak peduli.” Andre terlihat sangat kesal pada perempuan ini.


“Andre, tapi aku…”


“Silahkan pergi!” potong Andre sambil menunjuk pintu. Ia yang sebelumnya tak menyadari kemunculan Hana langsung tahu di sana ada kekasihnya. Tanpa mau membuang waktu, Andre segera bangkit untuk segera membawa Hana masuk ke ruangannya.


“Kenapa nggak bilang kalau mau ke sini,” tanya Andre sejujurnya cukup terkejut dengan kemunculan Hana yang tiba-tiba.


“Sekarang siapa yang kamu bawa? Kurir pengantar makanan, iya?” Cindy sempat melihat kantong berlogo sebuah rumah makan yang Hana bawa, sehingga ia dengan seenak jidatnya menerka wanita yang dianggap pengganggu olehnya.


“Jangan sembarangan. Dia adalah pacarku namanya Hana,” ujar Andre tak terima.


Cindy menatap remeh Hana. Ia menelisik penampilan wanita bertubuh kurus di hadapannya. Saat ini Hana memang bukan dalam performa terbaiknya baik dari dress up maupun make up. 


“Asal sekali kamu ini. Kenapa selera kamu jadi buruk begini. Kalau dibanding Diandra ini mah jauh. Masih mending aku kemana-mana...” Cindy belum puas menilai sepertinya.


Andre mengepalkan tangannya tak terima. “Cindy, kamu lebih baik pulang." Andre menghela nafas. " Aku harap lain kali kamu jangan pernah mau mengikuti ide mama, karena..."


Kembali Andre menjeda ucapannya. Ia menatap Hana dan meraih tangannya. “Karena semua tak akan ada artinya,” ujar Andre sambil menatap Hana.


Andre melepaskan tatapannya dengan Hana kemudian kembali pada Cindy yang masih juga belum pergi. “Aku rasa semuanya sudah jelas, jadi aku harap kamu pergi.”


“Kamu mengusirku? Iya? Berani kamu?!”


Andre tak menjawab. Ia hanya menunjukkan jalan keluar pada Cindy.


Hana menelan ludah. Tiba-tiba ia merasa insecure dengan dirinya. Dia memang punya pengetahuan tentang fashion dengan baik, kemampuan make upnya juga tak bisa dikatakan biasa, tapi satu hal yang pasti, Hana tak terlalu suka dengan semua itu dan lebih nyaman tampil apa adanya.

__ADS_1


Enak dipandang terkadang membuat tubuh kehilangan rasa nyaman. Itu lah yang membuat Hana percaya diri dengan tampilan seadanya. Ia merasa Andre mencintai dia apa adanya, namun jika dipikirkan lagi, tampil cantik bukan hanya untuk membuat Andre terpukau, tapi juga demi menjaga kepercayaan dirinya. Terbukti sekarang ia kehilangan rasa percaya diri saat berhadapan dengan Cindy.


Bersambung…


__ADS_2