
...*HAPPY READING*...
"Menikah itu bukan perkara main-main loh. Persiapan ya bukan sebatas ijab kabul dan resepsi tapi mempersiapkan kehidupan setelah pernikahan."
"Saya tahu Om."
"Setelah menikah kalian nggak bisa seenaknya sendiri, ada pasangan yang harus kalian libatkan dalam setiap aspek kehidupan."
"Saya paham Om."
Reno masih belum dapat mempercayai ucapan pemuda di hadapan ini.
"Saya masih belum bisa percaya sama kamu. Saya takut setelah mendapatkan putri saya kamu akan dengan mudah meninggalkan dia dengan seribu alasan," jujur Reno akhirnya.
Dika tak langsung menjawab. Jadi itu yang dikhawatirkan Om Reno. Tepat seperti yang saya duga.
"Saya tak dapat memastikan masa depan seperti spa yang akan putri Om jalani jika bersama saya, namun satu yang bisa saya janjikan yaitu saya tak akan pernah mempermainkan pernikahan."
Reno bangkit namun tak lama kemudian ia kembali duduk.
"Astagfirullah, apa kalian nggak bisa tahan."
Reno benar-benar kewalahan menghadapi kegigihan Dika.
"Setidaknya sampai lulus. Iya, hanya sampai kamu lulus SMA." Setidaknya masih ada satu setengah tahun untuk bernafas, lanjut Reno dalam hati.
"Baik Om. Saya akan menikahi Rina begitu saya lulus SMA," sahut Dika cepat. Samar-samar sudut bibirnya terangkat.
Reno menyandarkan punggung sambil memijat pelipisnya.
"Pa, tehnya."
Ririn menyodorkan teh hangat untuk suaminya.
"Silahkan tehnya." Ririn juga mempersilahkan Dika untuk meminum teh yang sudah ia sajikan sejak tadi.
Dika meraih teh yang sudah mulai dingin itu dan meminumnya perlahan. Ekor matanya mendapati Rina yang menunduk dan memainkan jemarinya.
Keadaan menjadi sunyi dalam beberapa waktu.
"Om."
Reno mendongak tanpa suara.
"Kalau lamaran boleh kan dalam waktu dekat?"
Reno mengusap wajahnya kasar.
"Kan menikahnya masih lama, apa nggak sebaiknya lamaran mendekati hari pernikahan saja?"
Dika menghela nafas.
"Saya hanya ingin memastikan Rina sebagai calon istri saya sebelum saya larut bekerja dan belajar dalam waktu yang sama. Saya akan merasa lebih tenang meskipun intensitas pertemuan akan jauh berkurang dan bahkan mungkin sementara ditiadakan."
Reno melayangkan tatapan bertanya pada pemuda di hadapannya.
"Saya harus bekerja ekstra Om untuk dapat menjalankan perusahaan dengan baik dan lulus dengan nilai yang baik pula."
Reno menatap lekat wajah Dika yang sarat keyakinan.
"Sebelumnya saya ingin memastikan satu hal," Ucapan Reno menggantung.
Dika menelan ludah ditatap seperti itu.
"Kamu tak menghamili anak saya kan?"
Degh!
__ADS_1
"Bukan adanya kehamilan yang menjadi alasan saya ingin segera menikah Om, tapi karena saya ingin mulai menata kehidupan lebih awal."
Reno menghela nafas. Sudahlah, sepertinya ia menang harus menyerah.
"Baiklah. Saya pegang kata-kata kamu sebagai seorang laki-laki."
"Terimakasih Om."
Keduanya melanjutkan perbincangan dengan lebih santai. Mereka bahkan membahas masalah lamaran dan pekerjaan secara bersamaan.
Hingga akhirnya malam semakin larut dan Dika memutuskan untuk segera pamit.
...***...
Keesokan harinya di kantin sekolah.
"Cowok elu gokil banget tahu nggak. Bokap pas gue ceritain cuma bisa geleng-geleng."
Rina hanya tersenyum menanggapi ucapan Andre.
"Iya, meskipun papa kamu kerja di perusahaan besar dengan gaji fantastis, kayaknya nggak bakal deh ngasih fasilitas wow kayak gitu," timpal Dian.
"Sebenernya gue juga baru tahu kalau Dika sekaya itu. Bahkan gue suka mikir kalau fasilitas wow itu semua sewaan," jujur Rina.
"Meskipun sewaan tetep aja butuh budget yang nggak sedikit Nying," sahut Nita.
"Iya juga sih," cicit Rina.
"Seinget gue dulu Dika juga suka bawa motor?" tanya Nita.
"Iya. Waktu itu gue suka ngeluh, eh nggak tahunya sekarang kangen momen-momen naik motor sama dia, jalan sepuasnya tanpa kenal waktu, jajan dan makan diemperan. Pernah juga diajakin dorong motor karena kehabisan bensin."
Rina tertawa kecil mengingat bagaimana masa-masa awal ia dan Dika pacaran.
"Sekarang mau ketemu seminggu sekali aja susah banget, kalau pas ketemu pun masih harus nyambi kerja."
"Eh btw, kira-kira cowok lu kenal nggak ya sama bokap? Soalnya kemaren bokap lagi ninjau proyek di deket tempat kita main."
Rina menatap Andre tanpa ekspresi.
"Nggak tahu juga ya. Kemaren dia cuma bilang mau nengok kerjaan bentar."
"Ah tapi, tempat kerja bokap tu perusahaan yang menggurita dengan banyak cabang di Indonesia dan mancanegara. Setajir-tajirnya Dika, masa iya dia owner perusahaan tempat papa kerja. Kalau pun kebetulan, ini adalah kebetulan yang susah duwujudkan. Dan kalau Dika bukan owner, nggak mungkin perusahaan sebesar itu menerima pegawai umur belasan, terlebih untuk jabatan penting."
Rina tak tahu perusahaan apa yang Andre maksud, yang jelas perusahaan besar di Indonesia nggak hanya Surya. Dan lagi jika membahas kemungkinan papa Andre bekerja untuk Dika, jawabannya sangat mungkin. Karena bahkan papa Rina sendiri bekerja di perusahaan kekasihnya.
"Udah lah, ngapain bahas Dika terus. Mending bahas abis lulus kita mau lanjut kemana?"
"Emang lu sendiri udah ada planing Di?" tanya Nita.
"Entahlah. Gue tertarik sama bidang kuliner, tapi nggak tahu deh papa sama mama gimana. Kalian?"
Dian menyapukan pandangan pada Andre dan 3 orang lainnya di sana.
"Gue ambil bisnis, untuk dimananya belum tahu." Andre yang pertama bersuara.
"Kalian ketawa nggak sih kalau gue masih mempertahankan cita-cita masa kecil gue?"
"Hhahahahaha....."
"Gue belom ngomong, Dian..." gerutu Nita.
Dian menghentikan tawanya.
"Oh, belum ngomong ya? Ya udah ngomong aja, kita siap ketawa kok, ya kan sayang." Dian menyenggol bahu Andre.
Andre hanya menaikkan alisnya sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.
__ADS_1
Nita menatap enggan.
"Udah ah, jangan dibecandain mulu," sela Rina. "Rencana kamu emangnya apa Nit?"
Nita menghela nafas, "Aku lagi siap-siap buat ikut seleksi kuliah kedokteran?"
Dian membelalakkan mata dengan mulut terbuka.
"Wow. Kalau ceritanya gini jadinya kagum bukan ketawa."
Dian bangkit dari kursinya dan memeluk Nita.
"Kita seneng kalau salah satu dari kita bertiga ada yang mengemban tugas mulia seperti dokter."
Rina pun turut memeluk Nita.
"Eh kok diem." celatuk Dian. Ia tiba-tiba melepaskan pelukan nya kemudian.
"Maksud lu?" tanya Nita.
"Rina tuh, kirain ikut nemplok sekalian kasih quotes atau apa gitu..."
"Quotes apa, gua aja belum ada gambaran lulus SMA mau ngapain."
"Tinggal kawin aja sama Dika beres kan."
"Betul kata Nita. Lu bakal hidup enak, dan nggak akan ada tuh ceritanya takut kelaperan," imbuh Dian.
Rina mencebikkan bibirnya.
"Eh Rin, gue pengen nanya, serius pengen nanya."
"Jangan seriusin gue, seriusin Dian aja."
Rina mulai tak sungkan untuk bercanda dengan Andre karena pada dasarnya Andre juga gampang sekali bercanda.
"Aw...!"
Rina mengeluh kepalanya yang ditimluk kacang atom oleh Dian.
"Iya, iya. Mau nanya apa sih?" tanya Rina kemudian.
"Sebenarnya usaha yang dikelola cowok lu apa sih? Kalau jadi juragn kos sih oke ya, nggak susah-susah banget kalau tinggal nerusin usaha orang tua. Tapi seumur-umur gue belum pernah ngerti ya, ada juragan kosan yang mobilnya alpard, punya pesiar pribadi villa mewah dan outfit Dika itu branded semua loh."
Rina hanya menatap datar.
"Sorry nih ya, awalnya gue bahkan sempet mikir kalau lu itu matre, tapi kata Dian lu bahkan pernah mati-matian mau mutusin Dika, dan justru balik di saat kalian semua ngira Dika lagi dalam kesulitan ekonomi. Dan ternyata ekonomimya sama sekali nggak susah bahkan hidupnya serba wah dan mewah."
Rina tak bereaksi dengan ucapan Andre yang menggebu. "Gue juga nggak tahu?"
"Beneran?!"
Dian mendorong tubuh Nita ke belakang, agar tak menghalangainya berbicara dengan Rina.
"Lu nggak takut apa kalau Dika itu mafia," ucap Dian setengah berbisik.
Nita memajukan tubuhnya dan kembali berada di tengan Dian dan Rina.
"Atau jangan-jangan dia germo," imbuh Nita sebelum membekap mulutnya.
Tak mau terus menjadi bulan-bulanan, Rina pun bangkit dari tempat duduknya.
"Iya, dan kalian bakal jadi target selanjutnya."
Rina melanggang begitu saja meninggalkan dua pasangan kekasih itu yang masih melongo di tempatnya.
TBC
__ADS_1