
HAPPY READING
“Sah...!!!”
“Baarakallaahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khair. Allaahumma aliif bainahumaa kamaa allafta baina Adam wa Hawwa, wa allif bainahumaa kamaa allafta baina baina sayyidinaa Ibraahim wa Saraah, wa allif bainahumaa kamaa allafta baina sayyidinaa Yuusuf wa Zulaikha, wa allif bainahumaa kamaa allafta baina sayyidinaa Muhammadin shalallahuu ‘alaihi wa sallama wa sayidatinaa Khadiijatal kubraa, wa allif bainahumaa kamaa allafta baina sayyidinaa ‘Aly wa sayyidatinaa Faatimah az-Zahraa…”
Andre menengadahkan tangan untuk mengaminkan setulus hati dan jiwa setiap doa yang dipanjatkan. Ia memang tak menitikkan air mata seperti Hana yang kini di sampingnya tapi jujur rasanya masih campur aduk dengan kenyataan yang dialaminya.
Hana mencium tangan Andre dan dibalas dengan ciuman di kening dari pria yang kini sah menjadi suaminya ini. Andre menatap lekat wanita cantik yang kini telah resmi menjadi miliknya ini. Meski hanya berbalut kebaya putih, rambut digelung sederhana dan riasan minimalis, tak melunturkan kecantikan Hana.
Mengingat bagaimana lika-liku hubungan mereka, ternyata takdir dengan berhasil menyatukan Andre dan Hana. Dalam waktu kurang dari 4 jam, Andre dan Hana yang semula hendak dipisahkan oleh Rio kini malah telah berhasil disatukan oleh takdir dengan mudahnya.
Pernikahan mendadak di rumah sakit ini tentunya bukan menjadi pernikahan yang diidam-idamkan. Namun saat semua percaya ini adalah jalan Tuhan, maka khidmad dapat mereka rasakan. Tak ada sahabat tak ada kerabat. Hanya ada dua keluarga utama dan beberapa staf rumah sakit saja.
Andre yang semula bingung harus bagaimana, nyatanya dapat mengucapkan kalimat ijab kabul dalam satu tarikan nafas dengan lancarnya.
Satu minggu kemudian.
Acara resepsi menjadi hal yang tak bisa dilewatkan. Andre yang anak tunggal keluarga terpandang dan Hana yang merupakan calon penerus Rahardja. Itulah mengapa pesta meriah pun harus diadakan untuk membagi kebahagiaan dan memberi tahu pada dunia bahwa telah terjadi ikrar janji suci antara dua anak manusia untuk terus bersama di hadapan Tuhan Sang Maha Pencipta.
Dalam acara ini banyak sekali yang datang. Tak hanya keluarga seperti saat ijab kabul dilakukan seminggu sebelumnya.
Dengan menggandeng Andre, Hana nampak menawan dengan gaunnya. Andre juga tak kalah gagah setelan jas yang pas ditubuhnya. Tema putih nampak dominan dalam ballroom tempat resepsi mereka. Nampak mewah, elegan, dan indah di waktu yang sama.
Semua yang disana turut merasakan suka cita. Dika yang datang bersama anak istrinya pun tak pelak juga turut berbahagia.
“Hanaaaa…” Rina memberikan selamat pada Hana sembari menggendong putrinya. “Semoga cepat nyusul ya,” lanjut Rina saat melihat Hana yang begitu gemas dengan putri cantiknya.
Sejenak Hana membeku sebelum senyuman itu kembali ia paksa. “Nyusul kemana?” tanya Hana berusaha biasa saja.
“Ya nyusul punya momongan dong,” jelas Rina. “Nggak niat nunda kan?” tanya Rina kemudian. Tentu saja ia takut salah bicara karena kadang kala permasalahan ini sensitive untuk beberapa orang.
Hana tersenyum menanggapi. “Sedikasihnya aja,” jawab Hana sambil tetap mempertahankan senyumnya.
Dan Rina bersama Dika pun lengser dari pelaminan. Mereka mempersilahkan tamu lain untuk memberikan ucapan selamat pada mempelai sekalian.
Setengah jam berdiri, Hana benar-benar merasa lelah. Tapi ia diselamatkan oleh sepatu flat berdesain cantik yang dikenakan di kakinya. Sempat merasa aneh saat menerima gaun beserta printilannya pilihan Heni dan Mustika. Terutama pada sepatu yang umumnya berhak tinggi untuk acara seperti ini, tapi untuknya malah dipilihkan yang flat.
Di luar dugaan, ternyata ini sangat bermanfaat untuknya sekarang. Akhir-akhir ini Hana begitu gampang pegal saat harus berdiri dengan heels.
“Mbak…”
__ADS_1
“Eh, Mbak Mustika. Kok di sini. Saya pikir sedang ngobrol dengan tamu,” ujar Heni.
“Mbak Juga disini…” balas Mustika.
Dua wanita yang merupakan besan ini pun duduk bersama sambil ngobrol.
“Mbak sejak kapan tahu Hana hamil?” bisik Mustika bertanya.
“Sejak di rumah sakit itu,” ujar Heni sebelum memasukkan kue ke dalam mulutnya.
“Terus langsung yakin gitu?” tanya Mustika.
Heni mengangguk. “Emang Mbak nggak tahu?” Heni balik bertanya. Ia bicara dengan begitu hari-hati takut menyembur makanan yang masih belum habis ditelannya.
Mustika menghela nafas. “Jujur enggak. Tapi Hana sering mengeluh pusing dan enggan untuk makan. Tapi aku pikir itu karena dia terlalu lelah dengan urusan pekerjaan. Karena sekarang perusahaan sudah dihandle dia,” jelas Mustika.
Heni manggut-manggut mendengar penjelasan Mustika. Mungkin ini yang namanya karma. “Kalau dibilang yakin tidak juga, tapi hanya feeling saja. Ya kan…” lanjut Heni tak mengungkap apa yang ada di pikirannya.
“Iya Mbak. Saya paham,” sahut Mustika cepat.
“Maafkan anak saya,” ujar Heni.
Heni mengusap punggung Mustika. Sebagai wanita Heni tahu pasti berat rasanya menerima anak dari madu suaminya.
“I’m okay Mbak,” ujar Mustika meyakinkan.
“Hana memang selamat dengan bertahan di jalan yang benar. Tapi malah kepeleset bareng-bareng anak saya...”
Heni berhasil membuat senyum terbit di wajah Mustika. Keduanya kini mengamati Andre dan Hana yang ada di pelaminan. Beberapa kali mereka harus menyapa tamu yang menghampiri.
Saat Mustika harus menjamu temannya yang datang sebagai undangan, Heni kembali sendiri. Dalam sendirinya pikirannya berkelana. Ia ingat bagaimana kacaunya Andre bahkan hingga menangis dan mogok makan saat Heni meminta Hana pergi dari apartemennya waktu itu. Ia tak tahu jika Hana saat itu belum punya tempat untuk pulang. Jadi Andre sulitan untuk menemukannya kembali.
“Kenapa Mbak kok senyam-senyum?” tanya Mustika yang tanpa Heni sadari sudah kembali.
“Enggak Mbak. Saya cuma lagi ingat bagaimana Andre bisa berubah saat kenal dengan Hana. Jadi kekanakan, nggak professional, ah…” Heni tak sanggup melanjutkan. Tak mungkin juga ia jujur dengan apa yang dipikirkan.
“Maafkan Hana ya Mbak,” ujar Heni penuh sesal.
“No, no, no. Maksud saya, Andre mendapatkan kebahagiaan yang ia tak pernah rasakan.” Heni menggela nafas dengan tatapan menerawang. “Andre harus dewasa sebelum waktunya. Tidak ada waktu untuk bermain dan bersenang-senang sebagaimana teman seusianya.” Kembali Heni menghela nafas. “Kalau dipikir-pikir kasihan juga.”
Mustika menatap Andre dengan bangga. “Tapi sekarang lihat…” ujarnya.
__ADS_1
“Tampan kan anak saya,” gumam Heni.
“Karena anak saya juga cantik,” balas Mustika tak mau kalah.
Dan dua orang yang seminggu lalu masih kaku ini sekarang sudah benar-benar akrab.
Sementara itu di pelaminan.
“Dokter Dedi,” sambut Andre merangkul Dedi. “Truk aja gandengan masa kamu sendirian,” goda Andre setelah lepas pelukan keduanya.
Dedi mendengus mendengar candaan ini. “Hana lelah tuh. Nggak pengen kamu ajak sitirahat?”
Andre menatap Hana yang kini bergelayut di lengannya. “Kamu lelah?” lirihnya.
Hana menggeleng.
“Masih saja tanya. Nggak mau kan mengulangi kesalahan yang sama?” sarkas Dedi.
Andre mengusap tengkuknya yang tak gatal. Ia lantas meminta Hana untuk duduk.
“Ngomong apa sih kamu?” tanya Andre berlagak pilon.
Dedi menghela nafas dan memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku. “Trisemester pertama itu adalah masa rawan. Apa aku harus lanjut menjelaskan?”
Andre meringis. “Apa sih...”
“Remember. Aku itu dokter.”
Andre berusaha mempertahankan senyum lebarnya, meski Dedi kini telah lengser dari pelaminan. Ia lanjut menyalami tamu sementara Hana diminta untuk istirahat saja. Entah apa yang akan orang pikirkan. Yang jelas kondisi Hana dan anak yang dikandungnya menjadi prioritas utama.
Andre dan Hana pun dapat merengkuh bahagia.
T H E E N D
Gimana-gimana?
Thank you ya buat yang sudah setia menunggu Senja menyelesaikan cerita.
Terimakasih tak terhingga Senja ucapkan.
See you di next cerita.
__ADS_1