Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Tak Gentar


__ADS_3

HAPPY READING


“Hey…” Andre menoel dagu Hana membuat wanita ini makin sibuk mengalihkan pandangannya. “Kamu mikir apa? Gitu banget matanya…” sarkas Andre kala melihat Hana melotot matanya namun bersemu merah wajahnya. So, tahu dong pikiran macam apa yang bersarang di kepala wanita cantik ini sekarang.


Hana mendengus.”Nggak apa-apa…” Meski sudah jelas, namun Hana masih berusaha mengelak. Hana masih punya cukup rasa percaya diri untuk berkata seperti ini, toh mulutnya sama sakali tak bersuara sebagaimana kotor otaknya. Sehingga kalau pun Andre bisa menebak isi kepalanya, tak akan mungkin berbuntut panjang jika Hana tak menanggapinya.


“Sekarang aja galak, tadi ngangis-nangis…” Ternyata Andre belum puas menggoda Hana, sehingga ia terus mencari topik yang mengesalkan kekasihnya.


“Apa sih Ndre…” Hana maunya cuek, tapi masih juga keluar suara karena pancingan receh Andre.


“Itu Hana…” Entah apa maksudnya yang penting ngablak saja.


“Apa?!” Han mulai terpancing dan suaranya mulai meninggi..


“Itu…” Jelas sekali Andre asal bicara, karena tak jelas sama sekali apa yang dimaksudnya.


“Itu apa sih?!” Hana tak bisa menutupi kekesalannya karena Andre yang masih usil di saat seperti ini.


Plak!


Belum juga Hana selesai dengan ucapannya, tangan nakal Andre sudah berhasil mengenai sasaran yang tanpa Hana duga.


“Ndre, tahu sikon dong…” Hana merasa Andre benar-benar tak bisa dibiarkan. Ia tak habis pikir di sana ada Mustika tapi masih saja kekasihnya ini punya pikiran me*um terhadapnya.


“Berarti kalau cuma berdua boleh dong…” .


Hana menghela nafas kesal. “Ya nggak gitu juga…” pekiknya tertahan.


Hana lantas bersedekap dada dengan wajah cemberut karena meski kesal ia merasa harus tetap menjaga sikapnya.

__ADS_1


Sebenarnya Andre masih ingin sekali menggoda Hana, namun sepintas ia melihat siluet Mustika turun dari tangga.


“Andre Hana, kita makan dulu ya, tadi saya sudah minta Mbaknya untuk menyiapkan makan siang,” ujar Mustika begitu ia melewati tangga terakhirnya.


“Tapi kita sudah makan Tant, ehm, Mama…” Hana tersenyum diakhir kalimatnya. Sedikit perih saat ia harus memanggil Mustika dengan panggilan mama, karena dalam hati kecilnya ia tak mau posisi mendiang sang mama tergantikan oleh orang lain meskipun itu Mustika.


Tapi Hana sadar, ia tak boleh egois. Sudah bagus ia diterima seperti ini, kenapa ia seakan tak ada puas-puasnya dengan semua kemudahan yang ia terima.


“Kamu sekarang kurus sekali, Mama yakin Nak Andre juga nggak akan suka kalau kamu sekurus ini,” ujar Mustika saat tiba di dekat Hana.


“Tuh dengerin,” timpal Andre yang merasa punya pendukung untuk masalah ini.


Mustika tersenyum dan menatap Hana.


Hana ingin mendengus, namun ia masih berusaha memasang senyum selebar mungkin.


Melihat Andre yang salah tingkah dan Hana yang mandadak bersemu merah membuat Mustika sedikit mulutnya yang dengan tega hampir menyemburkan tawa.


“Sudah, sudah. Saya paham anak muda seperti kalian. Pesan saya hanya satu, jangan sampai kebablasan. Itu saja...”


Andre dan Hana meringis. Terlalu susah untuk menciptakan senyum yang natural sehingga pamer gigi menjadi satu satunya solusi untuk kegugupan mereka.


Tak ada yang salah memang dengan perkataan Mustika. Ia sama sekali tak menghakimi atau menyalahkan Andre dan Hana meski ia tahu kemungkinan yang sedah terjadi dalam hubungan keduanya. Ia bahkan masih bisa berfikir positif dengan menasehati dengan cara lembut seperti ucapannya tadi.


Selepas makan siang, ketiganya segera menuju rumah sakit tempat Indah akan melahirkan. Rio mengabarkan jika jadwal operasi Indah ditetapkan dalam waktu satu satu jam yang akan datang. Sebelum operasi dilakukan, Indah punya keinginan yaitu terlebih dahulu melihat kedua anaknya. Alhasil Rangga yang masih tidur harus dibawa ke rumah sakit dengan digendong sementara Rida sudah bangun karena memang ia sudah tidur cukup lama sejak masih dalam perjalanan pulang bersama Andre dan Hana.


Setibanya di rumah sakit, ternyata Indah sudah dapat ruang rawat. Ruang yang Indah gunakan nampak begitu besar dan terbagi menjadi beberapa bagian. Jika sepintas dilihat, ruangan ini bahkan lebih mirip hotel dari pada ruang rawat inap di rumah sakit. Namun hal ini tak usah di bahas ya, namanya orang kaya mah sebebasnya saja yang oenting ada dana dan rumah sakit punya fasilitasnya.


Namun yang kini menarik perhatian adalah keberadaan orang-orang di dalam ruangan Indah. Saat sepasang pasutri paruh baya nampak cerah menatap kedatangan Andre dan Hana, namun Galih yang juga ada di sana sepertinya sama sekali tak peduli meski di sana ada seorang wanita yang katanya adalah putrinya.

__ADS_1


Andre yang masuk paling belakang harus terhenti langkahnya karena Hana dengan seenak jidatnya mematung di depan pintu.


Andre menghela nafas. Ia merasa mode yang biasa ia gunakan saat menghadapi Galih dalam situasi bisnis tak boleh dimunculkan saat ini. Sehinga ia dengan cuek dan tak tahu dirinya mendorong Hana untuk masuk ke dalam ruang tempat Indah beristirahat kini.


Seketika ruangan menjadi sepi seakan tak ada orang lain di ruangan ini selain Galih, Andre dan Hana. Bahkan bocah-bocah kecil seperti Rida dan Rangga juga mendadak tenang dan diam seakan paham dengan apa yang para orang dewasa rasakan.


“Hai semua… Om, Om, Tante…” Seakan tak ada apa-apa, Andre justru menyapa para orang tua dengan gaya pecicilan yang kontras dengan penampilannya yang mengenakan setelan jas rapi.


Jika biasanya Hana akan geli melihat yang modelan seperti ini, tapi sekarang nampaknya tak mempan lagi. Bukan alasan Andre menyapa Om sebanyak dua kali, karena di sini memang ada dua pria paruh baya yang harus ia sapa. Yang pertama Galih yang kedua adalah ayahnya Indah. Sedangkan yang Andre sapa tante juga bukan Mustika melainkan bunda Indah yang ketiganya langsung datang begitu Rio mengabarkan bahwa Indah akan melahirkan.


Saat Galih terlihat enggan menjawab, kedua orang tua Indah nampak tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai jawaban atas sapaan Andre kepada mereka.


Namun bukan Andre namanya yang akan gentar hanya dengan ditatap seperti ini oleh Galih. Meski dia tak gentar bukan berarti juga ia akan membuat onar.


Hana yang baru saja Andre dorong untuk masuk melewati pintu sekarang harus rela Andre tarik untuk memberi salam pada ketiga orang tua di sana.


“Om…” Andre dan Hana secara bergantian mencium tangan ayah Indah.


“Tante…” Andre dan Hana kembali melakukan hal yang sama dengan Bunda Indah.


Dan terakhir Andre membawa Hana untuk menghampiri Galih yang nampak memegang ponsel di sebelah tangannya. Hana nampak enggan dan sesekali menahan langkahnya, namun Andre lebih kuat menariknya.


Dan setelah tarik ulur beberapa kali, akhirnya Andre berhasil membawa Hana berdiri di hadapan pria paruh baya yang dipanggilnya papa.


“Om...”


Setelah menyapa, Andre mulai menggerakkan tangannya untuk meraih tangan kanan Galih yang masih menggantung bebas di samping tubuhnya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2