Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Nggak Kuat


__ADS_3

HAPPY READING


“Andre, aku nggak kuat…” ujar Hana dengan nafas terengah.


“Nanggung sayang, belum kerasa nih…” balas Andre yang masih ingin berpacu.


“Tapi aku udah, hhh, nggak kuat, hhh…” ujar Hana yang sudah hampir putus nafasnya.


"Aku belum apa-apa Sayang... Masa kamu sudah nggak kuat aja..." ujar Andre yang masih beelum rela berhenti.


Hana terduduk. Ia sudah tak mampu berdiri apa lagi lari. Sehingga menuruti kemauan Andre sama dengan bunuh diri saat ini.


Hana yang jarang sekali olah raga dipaksa Andre untuk ikut jogging dengannya, sehingga baru dapat beberapa puluh meter saja, dia sudah tak sanggup melanjutkan seperti permintaan kekasihnya.


“Sayang, ayo sayang…” Andre masih berusaha mengajak Hana untuk bangkit. Namun Hana sama sekali tak bergeming. Ia bahkan ingin berbaring meski hanya beralas aspal sekarang.


Untuk masalah stamina, Hana memang sangat payah, terlebih dibanding Andre yang meskipun tak rutin tapi masih sering menyempatkan diri untuk berolahraga. Sehingga saat Andre menyeret Hana untuk jogging pagi ini, ia sudah mau pingsan padahal belum juga mereka dapat satu putaran.


“Aku nggak kuat…” ujar Hana memelas.


Andre yang bahkan belum merasakan hangat di tubuhnya terpaksa ikut berhenti bersama Hana.


“Beneran berhenti?” tanya Andre yang masih sangat tak rela.


“Aku beneran nggak kuat…” ujar Hana saat Andre menarik tubuhnya untuk berdiri.


“Kita satu putaran saja belum dapat Hana, masa iya sudah nggak kuat…”


Hana menggeleng dan ambruk lagi. Andre kemudian berjongkok dan meraih dagu Hana untuk mengangkat wajahnya. Wajah cantik Hana memang sudah terlihat merah dan bermandikan keringat hingga basah. Namun kulitnya terasa dingin saat disentuh membuat Andre urung untuk memaksa. Ia yakin jika kegiatan ini diteruskan, bisa-bisa Hana pingsan.


“Tck…” Andre berdecak dan menggeleng beberapakali. Ia


kemudian mengulurkan lengannya dan segera mengangkat tubuh Hana. Ia berjalan sembari menggendong tubuh kurus kekasihnya.


“Apa nggak berat?” lirih Hana yang untuk bicara saja ia sudah tak punya tenaga.


Andre tak menjawab. Ia hanya tersenyum sembari menatap wajah Hana sekilas.


Tampan sekali. Batin Hana dalam hati.


Tanpa sadar, Hana perlahan mengalungkan kedua lengannya di leher Andre sambil terus menatap wajah tampan kekasihnya yang jadi berlipat jika dilihat dari posisi ini.


“Ini mau ke mana sih?” tanya Hana setelah sadar dari lamunan.


“Cari sarapan,” jawab Andre dengan santai sambil terus melangkah tanpa beban.


“Mana ada jam segini…”


“Kita lihat saja…”


Andre terus berjalan dengan Hana di gendongannya. Mereka hanya lari keliling kompleks. Di kompleks elit seperti ini memang tak terlalu banyak penghuni sehingga Hana santai saja saat keduanya terus bertahan pada adegan seperti ini. Saat Andre tiba di depan rumahnya, bukannya membawa Hana masuk namun justru memasukkan kekasihnya ini ke dalam mobilnya.


“Kemana ini?” tanya Hana begitu Andre masuk lewat pintu di sampingnya.


“Cari sarapan Hana. Kenapa kamu harus menanyakan pertanyaan yang sama sih…” gerutu Andre sembari menyalakan mesin mobilnya.


“Ya tapi bukannya bibi juga masak.”


“Di dalam ada banyak orang yang juga harus makan, jadi jangan khawatir masakan bibi akan terbuang jika kita makan di luar seperti sekarang.”

__ADS_1


Andre mulai menjalankan mobilnya perlahan. Ia keluar melewati gerbang rumahnya dan menyusuri jalan kompleks sebelum benar-benar pergi dari area perumahan tempat mereka tinggal sekarang.


“Jauh nggak?” tanya Hana yang merasa oksigen sudah lebih banyak masuk ke rongga parunya.


“Tergantung…” jawab Andre yang menduakan Hana dengan benda bulat yang tengah dipegangnya.


“Tergantung apa?”


“Tergantung segera ada makanan yang membuat kita tertarik atau enggak…” jawab Andre sambil melihat Hana sekilas dengan senyum malas namun nampak begitu mempesona.


Hana yang sempat terhipnotis segera memutus kontaknya. “Jadi sejak tadi kamu belum tahu kita mau kemana?” protesnya yang sebenarnya hanya bertujuan untuk menutupi salah tingkahnya.


Andre menggeleng dengan santainya juga dengan senyum lebar tanpa menunjukkan giginya.


Hana mendengus dan melipat tangannya di depan dada.


“Kenapa kamu gitu? Nggak suka?”tanya Andre saat menyadari perubahan raut Hana.


“Ya… ih!” Hana mendengus dan membuang muka setelah sempat bertemu tatap dengan Andre beberapa saat. Pengennya marah tapi kok nggak bisa sih, gerutu Hana dalam hati.


“Udah, jangan marah. Sekarang lebih baik kamu cepetan mikir, menu apa yang kamu mau untuk sarapan.”


“Apa, kamu mau apa?”


“Terserah kamu saja.”


“Beneran terserah aku?”


“Iya…”


“Dipinggir jalan nggak apa-apa?”


“Beneran?”


“Nggak apa-apa sayang.”


Hana tersenyum jahil. Sesekali ngerjain Andre nggak masalah kali ya, racaunya dalam hati.


“Sayang…” panggil Hana.


“Aku mau sarapan di depan,” lanjut Hana saat yakin Andre mendengarkannya.


“Di depan ada apa sih?” tanya Andre yang memelankan laju kendaraannya.


“Itu… tuh tuh tuh. Stop Andre. Akh…” Hana harus merelakan dahinya terbentur karena tadi ia tak sempat mengenakan sabuk pengaman.


“Kira-kira dong…” protes Hana sambil mengusap-usap kening malangnya.


“Ya kamu main stop-stop aja. Lagian mana coba, aku nggak nemu resto yang kamu maksud.” Andre tak mau kalah. Ia balas menyalahkan Hana.


Hana mengulas senyum dan menunjuk seorang penjual makanan yang menggelar dagangan di emperan rumahnya. Seorang ibu-ibu paruh baya dengan banyak menu di hadapannya.


“Ini apa?” tanya Andre yang nampak asing dengan pemandangan seperti ini.


“Pecel. Kamu mau kan?” todong Hana karena merasa Andre pasti mau apa pun makanan yang dipilihnya.


Andre diam memandangi banyaknya orang yang berkerumun. “Mereka pada ngapain?”


“Ngantri makan sayang, masa kamu nggak ngerti?”

__ADS_1


Andre menggeleng masih dengan tatapan linglungnya.


“Ini enak, apa kamu belum pernah makan?”


Sekali lagi Andre menggeleng.


“Ya udah, kita coba makan ya, enak kok aku jamin.”


Hana bersiap membuka pintu disampingnya, namun dengan cepat Andre tahan. “Bersih nggak?”


“Bersih kok. Lihat aja, ibunya selalu ngelap daun yang mau di pakai alas.”


“Nggak dicuci tapi. Gimana kalau masih ada kumannya terus perut jadi sakit kalau makan.”


Hana menutup senyum yang dengan lancangnya muncul dengan punggung tangan. Kenapa kamu lucu sekali sih kalau ketakutan. Batin Hana kemudian.


“Cobasaja nanti. Kalau nggak cocok kita pindah tempat.”


Andre melepaskan pergelangan tangan Hana yang ia tahan sebelumnya, dan sedetik kemudian, Hana segera keluar untuk mulai memesan. Hana bergabung bersama banyak orang di sana untuk mengantri makan yang sama. Andre nampak memperhatikan sekeliling dimana tak hanya perempuan yang mengantri, tapi terlihat banyak diantaranya, ibu-ibu, bapak bapak bahkan beberapa diantaranya terlihat beberapa pria muda yang nampak baru saja berolahraga seperti dirinya.


“Tck…”


Andre yang semula enggan berdesakan akhirnya keluar dengan tak sabar. Ia tak bisa membayangkan Hana berada diantara pria yang mungkin akan menggodanya.


“Eh eh eh…”


Belum usai keterkejutan Hana karena merasa tubuhnya ditarik dari kerumunan, tiba-tiba dari sisi berlawanan ia merasa di tahan.


“Siapa anda?” tanya Andre pada seorang pria muda yang baru saja menahan Hana yang ingin ia tarik dari kerumunan.


“Anda tak seharusnya kasar dengan perempuan,” balas pemuda itu tanpa melepaskan cekalan tangannya. Ia mengacuhkan pertanyaan dan tatapan tak suka Andre terhadapnya.


“Jangan campuri urusan saya. Dan satu hal yang harus anda ketahui,” ujar Andre sambil menunjuk pemuda ini. “Saya tak mungkin kasar pasa kekasih saya sendiri,” lanjut Andre melepas paksa tangan Hana yang dipegang oleh pemuda tadi.


“Tunggu…”


Tanpa mereka sadari, saat ini Andre telah menjadi pusat perhatian sejak pertama kemunculannya. Bagaimana tidak, ia muncul dari sebuah mobil mewah yang jarang sekali ada di warung sederhana seperti ini. Parasnya yang tampan menjadi nilai plus lainnya. Terlebih lagi ia menarik seorang wanita yang cantik jelita yang semula mengantri pecel di dalam kerumunan.


Setelah Hana menyadari situasi macam apa yang dialaminya, ia memutuskan untuk segera mengambil sikap dengan segera.


“Maaf. Saya harus permisi…” Hana berusaha melepaskan tangan pemuda ini.


“Kamu aman?” tanya pemuda tadi yang nampaknya masih enggan untuk melepaskan.


“Jangan…”


Hana menahan Andre dengan memegang dadanya saat sadar kekasihnya sudah dalam kondisi emosi dengan tangan terkepal. Seketika Andre menelan suaranya.


“Saya minta maaf, dan ini kekasih saya. Kami permisi dulu…” pamit Hana segera.


Hana tak ingin lebih lama di sana karena menjadi tontonan seperti ini benar-benar tak nyaman rasanya.


“Cantik sih Shal, tapi sudah ada yang punya...”


Pemuda yang menahan Hana tadi diketahui bernama Marshal. Ia tak sengaja mencari sarapan di sana sekalian membawa untuk rekan-rekannya.


“Udah kelar belum?” tanya Marshal pada David.


“Gua lihat…”

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2