Zona Berondong

Zona Berondong
Bukan Pacar Tapi Tunangan


__ADS_3

...*HAPPY READING* ...


Berbaring seorang diri di dalam kamar. Rina terus memikirkan obrolan dengan papanya tadi siang.


"Jadi istri orang kaya itu susah ya ternyata. Nggak ada yang bener-bener mudah di dunia ini," gumamnya seorang diri.


Ini kan hari pertama ujian, apa Rina tak belajar untuk ujian hari kedua?


Sudah, dan ia terus belajar sepanjang waktu selama dua bulan ini. Rina memang bukan jenius, tapi ia bukan gadis bodoh yang hanya mengandalkan kecantikan dan uang saja. Dia tak pernah juara pertama tapi dia termasuk jajaran siswi dengan nilai tinggi.


Jadi jelas kan kalau masalah sekolah Rina tak ada masalah.


Sekarang ia tengah sibuk memikirkan apa yang ingin ia lakukan. Tapi sayang saat membayangkan masa depan, otaknya hanya berisi Dika, Dika, dan Dika.


"Ya Tuhan. Kenapa aku bisa tergila-gila sama dia kayak gini. Padahal aku dulu mati-matian pengen putus sama dia."


Rina segera mematikan lampu kamarnya. Ini sudah larut malam, dan ia harus segera istirahat sebelum esok tiba.


...***...


Beberapa hari kemudian. Serentetan ujian telah berhasil diselesaikan.


Seluruh siswa SMA tengah bersuka cita. Memang ini bukan akhir perjuangan mereka, namun setidaknya mereka akan bebas dari tugas untuk beberapa waktu. Sembari mempersiapkan seleksi memasuki perguruan tinggi. Namun bagi mereka yang kurang beruntung, banyak yang langsung hunting pekerjaan. Pekerjaan jenis apapun yang dapat mereka kerjakan karena ketidak mampuan untuk mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.


"Perhatian-perhatian!"


Kelas XII IPA 1 mendadak sunyi mendengar teriakan dari Sigit, ketua kelas mereka.


"Sesuai kesepakatan, hari ini kita akan makan siang bareng. Nah tempat sudah terbooking dan kita bisa langsung ke sana."


Pengumuman dari Sigit mendapat tepuk tangan riuh dari teman sekelasnya. Sebentar lagi memang bulan ramadhan, tapi mereka takut tak bisa mengagendakan buka bersama seperti tahun sebelumnya karena mungkin saja setelah lulus akan ada bagian dari kelas mereka yang meninggalkan kota. Jadi lebih baik acara semacam ini dilakukan tepat setelah selesai ujian mumpung formasi masih lengkap.


"Lokasinya dimana Git?"


***Krik


Krik


Krik***


"Dimana ya, gue lupa alamatnya."


"Huuuuu......!"


Sigit hanya menggaruk kepala saat semua teman menyorakinya.


"Tapi jalan kesananyamasih inget kan?" sela salah satu dari mereka.


Sigit mengangguk mantab.


"Inget, inget banget kok."


"Ya udah, nggak ada masalah berarti. Kita kesananya juga bareng kan?" imbuh yang lainnya.


Sembari menunggu yang ke toilet ataupun yang punya urusan lain, seluruh anak kelas XII IPA 1 berjalan menuju parkiran. Mereka yang tak membawa kendaraan nebeng ke yang bawa begitu sebaliknya.


"Ini beneran nggak boleh ngajak kelas lain apa?"


"Ya jangan dong Nit, nanti qtime kelas kita terganggu. Si Sigit bahkan sampai ke resto mewah cuma biar kita bisa bareng-bareng tanpa tercampur dengan yang lain."


"Mana gue berangkat sama Miko tadi pagi," gerutu Nita.


"Ada masalah?" Sigit datang menghampiri Nita dan Rina.


"Kayaknya kita nggak dapet tumpangan deh," terang Rina.


"Sama," jawab Sigit dengan memamerkan deretan gigi putihnya.

__ADS_1


"Atau kita pesen taksi online aja," usul Rina.


"Bisa deh, lu pesenin," putus Sigit sebelum ia kembali berlalu untuk mengecek kesiapan teman-temannya.


Rina segera merogoh ponselnya. Baru saja hendak menggeser unlock, ponsel itu sudah bergetar.


"Dika."


Bersama gumaman itu, Rina langsung menjawab panggilan kekasihnya.


"Halo."


"Halo sayang..."


Rina tak mampu menahan kedua sudut bibirnya untuk tertarik lebar.


"Kamu udah selesai ujiannya?"


"Udah."


"Aku lagi di gerbang sekolah kamu nih."


Tanpa babibu Rina langsung menuju gerbang sekolah untuk menemui kekasihnya. 2 bulan lebih tak bertemu itu sungguh sangat menyiksa. Rina sudah tak mampu menahan diri untuk segera bersua dengan pujaan hatinya.


Rina nyelonong begitu saja meninggalkan kawan-kawannya. Ia bahkan lupa tujuan awalnya meraih ponsel tadi untuk apa.


Saat Rina berjalan memisahkan diri, tak sengaja Sigit melihatnya. Ia segera mengikuti langkah Rina.


Sigit mempercepat langkahnya saat Rina berjalan menuju gerbang.


"Rin..."


Rina sama sekali tak menggubris panggilannya.


Begitu sampai di luar gerbang, Sigit melihat Rina yang tengah memeluk erat seorang pria muda yang mengenakan kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam.


"Rin..."


Rina melepas pelukannya saat merasa namanya dipanggil.


"Sigit? Ngapain ngikutin gue?" tanya Rina.


"Enngg..., cuma mau tanya, taksi online gimana?" jujur ini cuma alasan saja. Karena sebenarnya saat melihat Rina berjalan tadi yang ada di pikiran Sigit adalah ia tak mau Rina melewatkan acara kelasnya ini. Bisa saja ini menjadi kesempatan terakhirnya mengungkapkan isi hati pada gadis yang ditaksirnya ini.


Rina menepuk jidatnya.


"Astaga lupa."


Rina segera meraih ponselnya.


Sigit masih berdiri dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, dan Dika sadar itu. Ia kemudian mengulurkan tangannya pada teman calon istrinya ini.


"Saya Dika, tunangannya Rina."


Sigit membeku. Jelas sudah apa yang pemuda ini rasakan sekarang. Keterkejutan dan kekecewaannya tak dapat terelak lagi.


Perlahan Sigit menjabat tangan Dika, sementara Rina masih mengotak-atik ponselnya.


"Sa, saya. Ehm," Sigit bahkan harus berdehem untuk menetralkan kegugupannya.


"Saya ketua kelasnya Rina."


Kedua tangan itu terlepas.


"Ada masalah?" tanya Dika pada Sigit.


Sigit menggeleng. "Nggak ada."

__ADS_1


"Yah, ini yang eror appku apa hpnya sih."


"Kenapa sayang?"


"Kita mau pesen taksi online, kelas kan mau ada acara makan-makan kan, ya abis ini kita nggak tahu masih bisa ngumpul dengan formasi lengkap atau enggak," jelas Rina.


"Enggg..., pakai mobil aku bisa kalau mau."


Sigit dan Rina beradu pandang.


"Sayang, kamu nggak salah?" tanya Rina.


Pasalnya kini tak ada mobil bersama Dika. Ia datang dengan motor sport hitam yang sudah lama tak digunakannya.


Dika terkekeh saat paham kebingungan calon istri dan temannya ini.


Dika kemudian menunduk dan membisikkan sesuatu kepada Rina.


"Aku tadi sama Dedi bawa mobil, terus aku nyuruh orang anter motor ini. Pengennya ngajak kamu jalan pake motor."


Rina mengangguk.


"Kamu tadi bawa apa?" tanya Rina.


"Range Rover."


"Git, gimana kalau pakai mobil dia aja."


Sigit nampak ragu, karena ia mati-matian tak ingin melibatkan orang di luar kelasnya.


"Pinjam gitu?" tanya Sigit Ragu.


Dika tersenyum. Ia paham maksud Sigit.


"Nggak masalah kok kalau aku nggak bisa gabung, anak homeschooling udah biasa sendiri," ucapnya sambil memyunggingkan tawa.


"Eh, nggak gitu, boleh kok, kalau satu aja..." suara Sigit memelan di ujung kalimat.


"Oke, aku calling Dedi dulu."


Sigit mohon diri untuk mengecek semua temannya yang masih di dalam, sementara Rina dan Dika menunggu di luar.


Tak lama berselang, semua sudah berkumpul di gerbang. 4 orang anak IPA 1 yaitu Rina, Nita, Sigit dan Rara sudah pula ada di sana.


"Maaf ya semua, saya gabung, soalnya saya nggak punya teman sekolahnya," kata Dika menyapa teman-teman Rina.


"Hai..." balas teman-teman Rina.


"Emangnya kamu sekolah dimana?" tanya Rara penasaran.


"Homeschooling dia," sahut Nita.


"Kok kamu tahu?" tanya Rara penasaran.


"Iya lah, tunangan temen sendiri masak nggak tahu."


"Tunangan....!?"


Jelas sekali teman-teman Rina terkejut mendengar ini. Sebelumnya mereka bahkan mengira kalau Rina sedang jomblo saat ini, karena nyaris tak pernah terlihat jalan dengan laki-laki. Ternyata begitu muncul orangnya sudah jadi tunangan aja bukan pacar lagi.


Sigit diam-diam tersenyum kecut. Belum juga ia memulai sudah harus gagal seperti ini.


"Ya udah, berangkat sekarang aja yuk..."


Dika bersama Rina dan ketiga orang lainnya segera memasuki mobil. Mobil ini berjalan paling depan karena keberadaan Sigit yang menjadi satu-satunya penunjuk jalan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2