Zona Berondong

Zona Berondong
Takut Terpisahkan


__ADS_3


^^^Pernah nggak ngejalanin hubungan tanpa restu?^^^


...*HAPPY READING*...


"Loh, Mama sama Ayah sudah di sini?" kaget Dika saat melihat Rudi dan Santi yang sedang duduk santai di teras villa.


"Kenapa? Apa kemarin kamu tak serius mengajak kami?" tanya Rudi.


"Ya maksudnya kita kok nggak tahu kapan nyampeknya." Dika berjalan menghampiri kedua orang tuanya dan segera menyalami mereka.


"Gimana mau tahu, lha wong lagi asik kejar-kejaran, ya kan Mas?" ucap Santi tepat saat Rina menyalaminya.


"Tante lihat kita?!" kaget Rina.


Santi tersenyum dan membawa Rina duduk di sampingnya.


"Kita mau bersih-bersih Ma...," ucap Dika saat melihat Santi menahan Rina. Sementara Rina wajahnya sudah memerah karena merasa tertangkap basah.


"Iya deh iya." Santi akhirnya melepaskan Rina meskipun sebenarnya ia masih ingin mengobrol dengan dia.


"Permisi Tante Om." Rina segera meninggalkan Rudi dan Santi mengikuti Dika yang akan menunjukkan kamarnya.


"Aku malu banget ya ampun," ucap Rina dengan sedikit berbisik kepada Dika ketika mereka berjalan menaiki tangga.


Dika yang berjalan di depannya segera menoleh. "Muka kamu sampai merah banget tahu nggak," Dika terkikik geli membuat Rina merengut kesal.


"Terus ini gimana?"


"Gimana apanya?" tanya Dika yang masih sibuk dengan tawanya.


"Kamar aku di mana?" ketua Rina.


Dika membuka pintu kamar yang berada di hadapannya. "Yuk masuk, kamu tidurnya sama aku," kata Dika dengan santainya.


"Ihhhhhh." Rina mengepalkan tangannya dengan lengan yang mengencang di samping tubuhnya. "Dikkaaaaaa!" teriak Rina dengan segenap kesalnya.


Tubuh Dika mundur otomatis dengan tangan yang sigap menutup kedua telinganya sambil tertawa.


"Bisa nggak sih kamu nggak ngomong aneh-aneh!" Rina memundurkan tubuhnya dan bersandar di tembok kamar yang berseberangan dengan kamar yang pintunya dibuka oleh Dika. Dia merosot hingga pantatnya menyentuh lantai dengan lutut ditekuk. "Kamu mempersulit posisi aku tahu nggak..." kata Rina sambil memandangi ujung kakinya.


Dika berjalan ke arah Rina dan ikut duduk di sana. "Aku bercanda sayang, maaf ya."


"Bercanda kamu nggak lucu." Rina menghela nafas. "Meskipun diam, aku yakin orang tua kamu pengen kamu dapat yang terbaik. Jadi kalau bercandaan kamu tadi di lihat mereka, takutnya mereka akan nggak suka dan ngelarang hubungan kita. Aku..." Rina kesulitan melanjutkan kata. Setelah banyak hal yang dialaminya, ia kini begitu takut kehilangan Dika.


"Mereka nggak kaya gitu kok orangnya."

__ADS_1


Derap langkah perlahan menghampiri mereka. Rudi tak dapat mencegah istrinya untuk bergabung dengan kedua muda-mudi di hadapan keduanya itu. Mereka tadi buru-buru datang karena mendengar teriakan Rina. Awalnya mereka takut jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan, ternyata yang terjadi tak seperti yang mereka duga.


"Tante..." Rina terkejut saat melihat kedatangan Santi.


Santi tersenyum meraih gagang pintu yang terbuka. "Bicara di balkon yuk..."


Rina dan Dika berjalan mengikuti Santi dari belakang. Di balkon, ada beberapa buah kursi dan meja.


"Maaf ya, Mama tadi nggak sengaja denger pembicaraan kalian jadi Mama nggak tahan deh pas mas Rudi nyuruh diam." Santi berbicara dengan senyum yang nampak tulus.


Rina mendadak di dera rasa cemas. Takut-takut kalau Santi akan melarang hubungannya dengan Dika.


"Rina, jangan takut gitu dong." Santi berusaha membuat Rina mengurangi ketegangannya.


"Gimana nggak takut, kamu udah kayak hakim lagi nyidang mereka sayang..."


"Mas..." Santi berdiri dan mengambil alih nampan yang dibawa Rudi.


"Ayah yang bikin?" tanya Dika.


"Iya lah. Ayah bikin teh biar enak ngobrolnya."


Rina hanya mampu memaksa bibirnya tersenyum, karena ia begitu segan untuk ikut berbicara.


"Kamu cepetan ngomong, jangan kelamaan nyandera mereka?"


"Ia Mas, ini baru mau ngomong..." Santi menuang 4 cangkir teh hangat dan menatanya.


Melihat Santi berbicara seperti itu kepada Rudi membuat Rina makin cemas. Saking gugupnya tangannya bahkan langsung berkeringat.


Sementara itu Dika masih menantikan apa yang hendak Santi bicarakan.


"Benar banget yang Rina bilang tadi, meskipun diam kami selalu memantau kamu Nak, dan ingin kamu dapat yang terbaik."


Degh!


Mata Rina memanas. Apa ini benar-benar akan berakhir?


Tiba-tiba Santi meraih tangan Rina. "Maafkan saya yang sudah diam-diam mencari tahu banyak hal tentang kamu. Karena meskipun yakin siapa pun yang Dika pilih pastilah yang terbaik untuknya, namun kami tetap ingin tahu latar belakang orang yang dicintainya."


"Sayang, ngomongnya langsung aja bisa," ujar Rudi yang melihat kecemasan di wajah Rina.


Sebenarnya Dika juga menyadari itu, namun ia memilih diam, karena bagaimana pun juga, tetap tak sopan namanya jika ia memotong ucapan sang mama.


"Oke-oke," ucap Santi dengan senyum lebarnya.


"Kami memyukaimu, terlebih saat tahu siapa orang tua kamu. Mereka orang baik yang kami pun yakin jika mereka mendidikmu dengan baik pula. Jadi jangan mikir macam-macam ya tentang kami. Cukup pertahankan kebaikan di diri kamu dan mantabkan hati kalian."

__ADS_1


"Hiks..."


Santi dibuat terkejut dengan isakan yang menyapa indra pendengarannya. "Loh, Mama salah ngomong ya?" Santi meraih bahu Rina dan memeluknya.


Rina menggeleng di pelukan Santi. "Nggak Tante, nggak salah. Rina yang salah."


Santi menarik tubuh Rina agar keduanya dapat saling menatap.


"Rina tadi mikirnya Tante mau kita pisah..." ucap Rina dengan senyum bercampur air mata yang terurai membasahi pipinya.


"Ya Allah..." Santi menghapus air mata itu dengan lembut. "Alasannya apa Nak kami melarang hubungan kalian?"


Santi kembali memeluk Rina sambil menatap wajah putra dan suaminya yang juga berhias bahagia.


"Makanya, kamu kalau ngomong jangan suka muter-muter. Jadi nangis kan anak orang..."


Bercandaan Rudi ini berhasil memecahkan tawa semua yang ada di sana.


"Biar dramatis Mas..."


Rina menarik tubuhnya dari pelukan Santi. "Makasih Om Tante..."


"Untuk apa terimakasih. Kami tak mengupayakan apapun untuk hubungan kalian. Kami hanya mendukung apapun asalkan itu baik," jawab Rudi.


Dika bangkit dan meraih tangan Rina membawanya mendekat ke pagar balkon.


"Mau ngapain kamu, ngajak aku lompat?" tanya Rina sambil tertawa dan sesekali membersihkan sisa air matanya.


Rina mengernyit saat Dika tak menanggapi candaannya dan justru berjongkok di hadapannya. "Kamu ngapain?"


Dika masih diam dan mengelurkan sesuatu dari kantongnya dan setelah dibuka ternyata ada sebuah kalung di sana.


"Aku nggak tahu ini cara yang kamu suka atau enggak, yang jelas sejak pertama kita bertemu aku suka sama kamu dan hingga saat ini aku makin sayang sama kamu." Dika menghela nafas.


"Rina Malinda, kamu mau nggak balikan sama aku?"


Mata Rina kembali terasa panas, dan tak lama setelahnya kembali cairan itu meleleh dari sana. "Dika, nggak harus kayak gini..."


Santi hendak kembali bersuara, namun Rudi berhasil membuatnya diam. Ia mengajak istrinya segera pergi dari sana untuk memberi ruang pada putranya.


"Rin, aku nggak mau gantung kamu..."


"Tapi aku udah sadar sekarang kalau yang kamu lakuin itu sudah lebih jelas dari sekedar status konyol yang aku minta."


"Dan aku akan tetap memberikan status konyol ini dan kembali melanjutkan perjalanan dengan bahagia..."


"Dika..."

__ADS_1


"Rina..." sahut Dika cepat. "Mau kah kamu kembali menjadi pacarku, kekasihku hingga kelak jika Allah berkehendak menjadi pendamping hidupku?"


TBC


__ADS_2