
Abis ini mau nambah satu part lagi nggak, xexexexe
HAPPY READING
“Rio…”
Merasa namanya dipangil, Rio segera menoleh ke arah sumber suara. “Andre?”
Rio nampak cukup terkejut dengan keberadaan Andre di rumah sakit ini. “Kamu ngapain di sini?” tanya Rio kemudian.
“Ehm…”
“Andre?”
Kedua pria ini langsung menoleh pada seorang wanita yang baru saja muncul di antara mereka. Andre yang semula ingin menjelaskan perihal keberadaannya di rumah sakit ini pun langsung menelan kembali ucapannya saat muncul Indah dengan baju longgarnya.
“Hai Indah…” jawab Andre sembari tersenyum dan melambaikan tangan ke arah wanita yang merupakan kaka ipar dari calon istrinya ini.
“Lagi ngapain di sini?” tanya Indah lagi.
“Ibu Indah…”
Tepat saat Andre hendak membuka mulut, tiba-tiba naman Indah dipanggil.
“Eh waktunya kita,” ujar Indah pada suaminya. “Ndre maaf ya, sudah jadwalnya aku periksa,” pamit Indah pada Andre.
“Kamu lagi hamil?” kaget Andre saat sadar ini adalah ruangan dokter Halima. Dokter yang sama dengan yang menangani Hana.
Indah mengamit lengan Rio dan menyandarkan kepalanya di lengan suaminya ini. Ia kemudian mengangguk dengan senyum cerah di wajahnya.
Kedua sudut di bibir Andre tertarik. “Selamat ya…” ujar Andre sambil mengulurkan tangannya.
“Makasih,” jawab Indah sambil menjabat tangan Andre, dan setelahnya Rio juga melakukan hal yang sama.
“Ya udah Ndre, kita masuk dulu,” ujar Rio sambil membawa istrinya masuk ke ruang pemeriksaan.
Andre kemudian mempersilahkan keduanya dengan anggukan. Ia masih diam ditempat hingga pasangan suami istri ini menghilang di balik pintu ruangan dokter Halima.
Andre tersenyum miris masih dengan menatap pintu yang sudah tertutup itu. Rio, adik kamu juga lagi hamil. Apa kamu benar-benar tak ingin tahu apa kabarnya? Batin Andre dalam hati. Ia kemudian segera pergi karena Hana merengek minta tumis daun papaya. Ya meskipun ini adalah varian makanan yang tak Andre sukai, tapi setidaknya ini lebih mudah dicari dibanding dengan dua permintaannya sebelumnya.
Hingga tiba di depan rumah makan yang diyakini menghidangkan menu ini, Andre kemudian berhenti dan segera keluar dari mobilnya. Ia menahan langkah sejenak sebelum melewati pintu untuk masuk ke dalam sana.
Anak daddy sayang, habis ini kalau mau makanan yang bergizi aja ya jangan yang aneh-aneh gini. Andre tertawa kecil dengan apa yang ada di pikirannya, sebelum ia memacu langkah untuk segera mendapatkan apa yang Hana minta.
“Tumis daun pepayanya ada?” tanya Andre begitu ditanya menu apa yang ingin dipesannya.
__ADS_1
“Tumis daun papaya ya..." pegawai ini tampak mengecek menu. “Habis sepertinya,” lanjutnya setelah yakin.
“Ya ampun, kok habis. Dikit aja nggak masa nggak ada?” kaget Andre yang langsung panic wajahnya.
“Tapi menu kita masih banyak kok yang lain,” lanjutnya lagi.
Andre langsung bingung. Ia celingak-celinguk untuk mencari apa yang ia sendiri tak tahu. “Nah itu, itu daun apa. itu daun papaya kan?” Andre langsung berbinar dengan apa yang ditemukannya.
Ia sama sekali tak tahu yang mana tumis daun papaya, daun singkong, daun kelapa atau semacamnya. Ia hanya tahu kalau daun itu warnanya hijau, dan yang ia tunjuk asal itu adalah tumisan daun yang warnanya hijau.
“Tapi itu sudah dipesan orang Mas…”
“Yah…” Andre mendesah kecewa. “Dikiiiittt aja. Ini masalahnya istri saya lagi ngidam…”
Andre terus bernegoisasi agar bisa mendapat daun papaya barang sedikit saja. Ia takut jika bukan daun papaya Hana tak mau makan apa-apa seperti sebelumnya.
“Nah, nah ini Mbak yang pesan daun papaya ini.”
Andre langsung menatap orang yang dimaksud. “Elis?”
“Pak Andre?” kaget Elis. “Pak Andre suka daun papaya ternyata…” lanjutnya tak percaya.
“Eh, hehehe…” Andre menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Mbak, Masnya ini kepengen daun papaya yang sudah Mbak pesan, katanya istrinya lagi ngidam…” jelas pegawai rumah makan ini lagi.
“Istri?” Elis membeo tak percaya. Lagi ngidam lagi, lanjut Elis dalam hati. Ia menelan ludahnya dan tersenyum meski terpaksa, membalas senyuman Andre yang terlihat tak ikhlas juga.
“Pak Andre sudah menikah?” tanya Elis hati-hati.
Andre hanya tersenyum menanggapi.
“Kok nggak undang-undang sih Pak, kita kan jadi nggak bisa ngucapin selamat…” kilah Elis dengan wajah kecewa. Bukan kecewa karena terlambat memberi selamat tapi kecewa karena orang yang dikaguminya sudah ada yang punya.
“Ehm…, itu boleh kan untuk saya.” Alih-alih menanggapi ucapan Elis, Andre lebih memilih untuk membahan tumis daun pepaya yang menjadi incarannya yang diklaim milik Elis ini.
Sebenarnya Elis tak rela karena itu adalah pesanan mamanya. Namun apa daya, ia tak tega untuk berkata tidak pada atasan yang sudah lama dikaguminya ini. Akhirnya dengan berat hati ia menganggukkan kepala.
“Thanks ya…” ujar Andre sambil menyodorkan credit cardnya. “Bisa pakai ini kan, maaf saya nggak bawa cash,” lanjut Andre kemudian.
“Bisa…” ujar kasir yang menerima uluran Andre.
“Sekalian punya dia ya…” imbuh Andre.
“Aaa…, nggak usah Pak Andre,” tolak Elis segan.
__ADS_1
“Sudah terima saja…”
Andre segera pergi setelah membayar dan membawa daun papaya beserta beberapa makanan lainnya.
Elis kemudian melangkah pergi karena taksi yang ia pesan sudah menunggunya di depan.
“Masih nggak percaya gue kalau pak Andre sudah nikah, mana mau punya anak lagi,” lirihnya begitu taksi membawanya berjalan untuk pulang.
“Pupus sudah harapanku,” ucap Elis seorang diri.
Elis menyandarkan punggung dan menyeruput boba yang ia pegang di tangannya. “Gue emang nggak pernah terlibat cinta, tapi aku pikir aku dan pak Andre akan terlibat asmara karena sama-sama single dan fokus terhadap karir. Kita juga atasan dan bawahan yang mana sering berinteraksi satu sama lain.”
Elis kembali menyeruput bobanya untuk meredam resahnya. “Sepertinya aku nggak jelek-jelek banget deh kalau bersanding dengan pak Andre. Tapi aku penasaran juga dengan bagimana wajah wanita yang berhasil membuat pak Andre bertekuk lutut secepat ini.”
“Mana sekerang sudah hamil lagi. Pak Restu aja yang nikahnya sudah lama belum ada kabar hamil istrinya, lha ini yang nggak tahu kapan nikahnya udah bunting aja bininya.”
Elis kembali menyeruput bobanya dan segera menelannya bersama dengan kecewa yang ia rasa.
Setibanya di rumah sakit, Andre segera bergegas ke ruang Hana. Tanpa ia sadari, ada yang menatapnya masuk ke sebuah ruang rawat.
“Siapa yang sakit ya?” tanya Indah pada suaminya.
“Mau coba cek ke sana?” Rio kembali bertanya pada Indah.
“Boleh…” jawab Indah menyetujui.
Keduanya mulai berjalan menuju ruang yang baru saja Andre masuki.
“E tunggu deh.” Mendadak Indah menghentikan langkahnya dan menahan suaminya juga.
“Kenapa?” tanya Rio heran.
“Ya kalau kita nggak kenal sama yang di sana gimana?”
“Ya nggak masalah lah. Bilang aja nyusulin Andre,” usul Rio.
“Tapi masa mau jenguk orang nggak bawa apa-apa.”
“Ya kalau kita kenal sama yang ada di sana, kalau enggak. Malah aneh kan kesannya kalau tiba-tiba ngasih buah tangan.”
“Iya juga.”
“Ya udah yuk.
Rio dan Indah kembali berjalan untuk melihat siapa yang sedang sakit dan sedang Andre tunggui.
__ADS_1
Bersambung…