Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Tamparan


__ADS_3

Makasih yang sudah mampir.


*Free***cuap-cuap di kolom komentar.


Apa pun yang kalian tulis, itu adalah amunisi buat Senja.


Silent readerjuga makasih, karena tanpa kalian diriku hampa.


**Big hug, luv, luv, luv....


HAPPY READING


“Kamu suka?” tanya Andre saat melihat binar bahagia yang tak mampu Hana sembunyikan saat ini.


“Sangat,” jawab Hana dengan senyum yang terpatri indah di wajahnya.


Tuhan, jika ini mimpi, jangan pernah biarkan aku bangun karena aku sangat bahagia saat ini.


Andre membawa Hana untuk makan malam di sebuah restoren mewah. Restoran dengan konsep outdoor di lantai atas gedung yang di lantai bawahnya juga masih bagian restoran yang sama.


Lampu yang temaram ditambah cahaya lilin yang begitu memukau membuat Hana tak berhenti merasa takjub. Tak cukup di situ, malam yang cerah membuat bintang tanpa malu menampakkan dirinya seolah tak ingin ketinggalan menyemarakkan hati Hana.


Andre menarik sebuah kursi dan meminta Hana duduk di sana. Ia berjalan ke samping dan duduk di satu lagi kursi yang telah disiapkan pula sebelumnya.


“Apa ini semua kebetulan?” tanya Hana sambil menyapa langit yang bertabur bintang.


“Apanya?” tanya Andre sambil menatap lekat wajah ayu wanitanya.


“Semua ini…”


Hana menatap sekeliling. Andre paham maksudnya hanya dari menatap sorot mata Hana.


“Menurutmu, apa mungkin semua yang ada di sini bisa seperti ini jika hanya mengandalkan kebetulan saja?” ujar Andre balik bertanya.


Hana yang tersipu dan segera memutus kontaknya dengan Andre.


“Apakah setidak menariknya itu aku untuk ditatap?” tanya Andre saat melihat Hana terus berusaha menghindari tatapannya.


Lelah terus menghindar, akhirnya Hana putuskan untuk menunduk saja. “Aku malu…” lirihnya kemudian.


“Apa kah masih harus malu setelah…”


“Andrreee…”


Andre sungguh senang mengoda Hana. Wajah cantiknya akan memerah seketika. Hana yang ada bersamanya ini sedikit berbeda dengan Hana yang dikenalnya dulu. Hana yang ini gampang ditaklukkan dan terlihat manja, sedangkan Hana stafnya dulu, sangat mandiri dan tangguh sekali. Tapi entah mengapa dia suka versi yang ini. Ia akan merasa berwibawa sebagai laki-laki saat bersamanya.


Andre meraih tangan Hana dan menggenggamnya.

__ADS_1


“Hana, aku…”


Tiba-tiba ponsel Andre berdering. Ia melepaskan tangan Hana begitu saja dan segera meraih ponsel yang ada di kantongnya. Ia menggeser tombol hijau setelah tahu siapa yang menghubunginya.


“Andre…” suara itu langsung menyapa indera pendengarannya begitu ia menempelkan ponselnya di telinga.


“Ada apa?” tanya Andre to the poin.


“Andre kamu lagi sibuk nggak?” tanya seseorang di seberang sana.


“Ada apa?” Andre tak langsung menjawab, ia justru balik bertanya.


“Kamu sekarang dimana, sama siapa, lagi sibuk nggak?”


“Di, kamu sebenernya mau ngomong apa?” tanya Andre tak sabar.


Degh!


Hana langsung tahu siapa yang tengah dihubungi prianya ini hanya dari sepenggal kata ketika Andre memanggilnya.


Dian menghela nafas. Suara cerianya langsung berganti resah. “Aku boring, jalan yuk.”


“Sorry. Aku lagi…”


“Aku tahu.” potong Dian cepat sebelum Andre menyelesaikan kalimat penolakannya. "Kamu pasti mau bilang nggak bisa kan? Nggak bisa lagi sibuk. Oh, pasti enggak ya, karena sekarang sudah di luar jam kerja. Atau pacarmu melarangmu jalan dengan wanita meski itu hanya teman lama."


“Aku tadi lupa kamu sekarang sudah punya pacar, jadi tak mungkin aku bisa ngajakin kamu kapan pun seperti dulu.  Keadaan memang sudah membuat kamu berubah.”


Dian berbicara panjang lebar tanpa jeda, hingga membuat Andre kesulitan untuk menjelaskan. Andre menghela nafas. Ia yakin sahabatnya ini sedang tak baik-baik saja.


“Kamu lagi dimana?”


Hana menggigit bibirnya. Perasaannya tak enak seketika.


“Aku lagi di tempat bakal resto aku yang baru. Aku cuma ngerasa kita udah lama nggak jalan berdua, jadi aku ngerasa kangen aja sama momen-momen saat kita menghabiskan waktu bersama.”


Andre menatap Hana yang sepertinya masih begitu mengagumi tempat ini. Terbukti saat Andre mendapati Hana yang kini nampak asik melihat kesana-kemari. Tapi sayangnya yang Andre lihat bukanlah yang sebenarnya Hana rasa. Yang terjadi sebenarnya adalah Hana tengah galau karena ia takut mimpi indahnya akan buyar seketika karena Dian, wanita yang ia yakini masih Andre sukai tengah muncul di tengah mereka.


“Besok aku akan watur waktu," ujar Andre yang masih sesekali menatap Hana.


Andre mendengar desah kecewa di seberang sana. “Kamu lagi sama Hana ya? Ya udah kalau nggak bisa sekarang mending nggak usah. Aku harus membiasakan diri untuk tak mengubungimu lagi.”


“Kamu shareloc,” sahut Andre cepat.


Andre tak tahu benar atau salah keputusan yang sudah ia buat. Yang jelas ia benar-benar tak tahan jika sampai membuat Dian kecewa karenanya.


“Oke aku kirim, see you…”

__ADS_1


Andre meletakkan ponselnya di atas meja sembari menunggu pesan dari Dian. Ia baru sadar jika sekarang ternyata pesananannya sudah ditata rapi di atas meja.


“Hana ayo makan.”


Andre yang hangat kini hilang sudah, menyisakan Andre yang dingin dan terlihat kaku saat berbicara. Hana segera melakukan apa yang Andre minta dengan meraih alat makan dan mulai menyantap hidangan yang sudah tersedia itu dengan enggan. Ia benar-benar merasa terancam. Ia merasa bahwa kebahagiaan yang baru saja ia rasakan akan langsung hilang dalam sekejap.


Andre bukan milikku, tapi kenapa aku merasa tak rela saat wanita mendapat perhatian darinya?


Hana kehilangan selera makan. Ia sudah berhenti makan setelah suapan kedua dan melatakkan alat makan yang semula dipegang di kedua tangannya.


“Kenapa nggak dilanjut?” tanya Andre begitu Hana terlihat berhenti makan.


Hana hanya menggelengkan kepala. Ia enggan berbicara karena ia sendiri tak tahu apa kata-kata yang tepat untuk menjawab jika Andre mendebatnya seperti biasa.


“Apa kamu tak suka makanannya?” tanya Andre saat Hana diam saja.


“Suka.”


“Lantas kenapa?” tanya Andre yang juga menghentikan makannya.


“Aku…” Hana menggigit bibirnya.


“Tak bisa kah kamu bisa menghargai usaha orang yang dilakukan untukmu?”


Mata Hana memanas. Kata-kata Andre benar-benar menghujam dadanya. Ia kini sedang kecewa, kenapa juga Andre masih dengan mudah menyalahkannya.


“Ndre… Kapan kamu akan membiarkanku pergi?” Hana merasa ini lah saatnya ia bertanya.


Andre meletakkan perlatan makannya. Ia mengambil tissue untuk mengelap mulutnya. Wajah dinginnya kini berapi-api. Sepertinya ia benar-benar tak suka dengan apa yang baru saja diucapkan Hana.


“Kenapa kamu harus menanyakan pertanyaan itu lagi. Bukankan aku sudah bilang tak akan melepaskanmu selamanya?!”


Andre berbicara dengan nada tinggi. Untung tak ada satu pun orang di sana selain mereka berdua, jadi dapat dipastikan tak ada orang yang melihat kemarahan Andre yang muncul tiba-tiba.


“Ndre, apa kamu serius dengan ucapanmu itu?”


“Iya. Apa kamu takut? Tenang saja, aku tak akan membiarkanmu kelaparan. Aku juga tak akan menyuruhmu melayani laki-laki selain aku seperti yang dilakukan mereka yang berada di dunia tempat kamu berasal.”


Plak!


Hana tak dapat menahan air matanya. Selama ini ia berjuang keras menjaga kehormatannya. Namun semua hilang sejak Andre datang. Bukan hanya kehormatannya yang direnggut, tapi harga dirinya terus direndahkan tanpa henti. Apa belum cukup yang Hana korbankan untuk menebus kerugian yang telah ia timbulkan?


Andre mengusap bekas tamparan Hana. Sebenarnya tak seberapa sakit, hanya saja hal ini berhasil membuat emosinya berada di puncak.


Andre meraih tangan Hana dan menariknya dengan kasar. Ia berjalan dengan langkah cepat itu pergi dari sana. Hana hanya mampu menundukkan kepala saat melewati orang-orang yang menunduk hormat pada pelanggan VIP yang membawanya ini. Namun sedikitpun Andre  tak menghiraukan mereka. Ia terus berjalan dengan menggenggam erat pergelangan tangan Hana.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2