Zona Berondong

Zona Berondong
Bersabar Untuk Sebuah Kebenaran


__ADS_3


Gini nih kalau udah baikan, 😘😘😘


^^^Cewek mengedepankan feeling.^^^


^^^Cowok mengedepankan logika.^^^


Faktanya atau katanya?


...*HAPPY READING*...


"Ristanya nggak diajak?" tanya Ririn saat menemani Dika di ruang tamu sementara Rina sedang bersiap di kamarnya.


"Nggak tahu Tan, katanya pengen ikut, tapi mungkin nyusul sama Dedi."


"Mereka pacaran?"


Dika menyadarkan punggungnya. "Entahlah Tan, Dika nggak bisa ngelarang kalau Rista mulai tertarik sama lawan jenis, dan Dedi ternyata juga suka sama adik saya."


"Tapi kamu kudu kontrol mereka lo, bagaimana pun juga Rista masih kecil."


"Iya Tan, makanya Dedi saya ajak homeschooling bareng. Maksudnya ya biar ada jarak kalau pas Dedi juga ngantor."


"Dedi kamu tarik juga ke Surya?" tanya Ririn.


"Iya Tan. Dia pinter, dia cukup bisa saya ajak sharing ketika saya harus mempelajari banyak hal dalam dunia bisnis, selain itu pemikirannya juga boleh. Hanya dia beda nasib saja dengan saya. Mungkin kalau dia berada di posisi saya sudah sejak 2 tahun lalu dia turun ke perusahaan, nggak perlu nunggu perusahaan mati suri dulu baru mau ngurusin." Dika menyunggingkan tawa terpaksa karena nasib tak beruntungnya kehilangan masa remaja dan harus bekerja.


"Kamu juga hebat. Oh iya, apa nggak ganggu kerja kamu kalau kamu ngajak Rina ke villa?"


"Saya harus lembur tiap malam Tan agar bisa free di akhir pekan."


"Maafin anak Tante ya."


Dika mendadak canggung, merasa bahwa candaannya mungkin saja menyinggung mama dari gadisnya. "Saya cuma bercanda Tante."


"Tapi emang iya kan, karena pengen nyenengin anak Tante kamu harus susah payah."


Dika menggela nafas. "Sebenarnya kami ada masalah Tan sejak terakhir ketemu hari Senin waktu itu. Saya membiarkan Rina dengan kemarahannya demi segera menyelesaikan pekerjaan saya. Untung tadi pas ketemu saya nggak dilempar sepatu karena tak berkomunikasi hampir seminggu." Dika tertawa kecil membayangkan Rina benar-benar melemparnya dengan sepatu.


Ririn terdiam.


"Kenapa Tan?" tanya Dika saat menyadari perubahan wajah Ririn.


Ririn menghela nafas. "Saya sebenarnya ragu, apa Rina bisa bertahan di samping kamu? Kita tak hanya bicara hati Nak, tapi kehidupan berat yang akan kalian lalui."


Dika nampak berfikir. "Itu lah yang akan saya bicarakan dengan Rina Tan. Saya membawa dia bersama mama dan ayah agar mama bisa menjelaskan bagaimana posisi yang mungkin saja Rina hadapi nanti jika dia bersedia mendampingi saya."


"Maksud kamu?"


"Saya ingin Rina punya gambaran bagaimana kehidupan kami kedepannya jika kami memang ditakdirkan bersama. Jika Rina siap melangkah, saya akan kembali menyatakan cinta dan mengajaknya balikan. Karena..." Ucapan Dika menggantung.


"Karena apa?" tanya Ririn.


"Karena kami belum sempat balikan setelah kemarin putus. Makanya kami perang dingin selama hampir seminggu salah satunya karena ini."


Ririn tertawa dan segera menutup mulutnya karena tak ingin ada orang lain yang mendengar ucapan Dika. Sementara Dika hanya menatap segan pada ibu dari kekasihnya ini.


"Bukankah kamu sudah menyatakan keseriusan di depan kami para orang tua?" tanya Ririn begitu tawanya mereda.


"Tapi bagi Rina saya masih mempernainkan perasaannya Tan, selama saya belum memberikan status yang jelas setelah mengajaknya balikan."


Ririn hanya geleng-geleng tak percaya mendengar penuturan Dika." Maafin anak Tante ya..."

__ADS_1


"Nggak apa-apa Tan. Dika sayang sama Rina."


"Makasih ya. Tante suka nggak percaya kalau kamu umurnya masih 17."


"Dika kelihatan tua ya?"


"Bukan." Ririn sampai harus mengibaskan tangannya saking seriusnya. "Tapi kamu bisa bersikap jauh lebih dewasa dari Rina."


Dika tersenyum segan.


"Tante coba susulin Rina ya, kok belum turun-turun."


"Iya Tan."


Saat di depan tangga Ririn berhenti. "Itu, jangan lupa dicicipin kuenya."


"Iya, makasih Tante."


Ririn berbalik dan kembali menyusuri tangga menuju kamar putrinya.


Tok tok tok


Cklek


"Belum selesai siap-siapnya?" tanya Ririn.


"Udah Ma, tinggal turun aja," jawab Rina sambil membawa ranselnya.


"Nggak lupa bawa jaket kan?"


"Nggak Ma..."


Keduanya berjalan meninggalkan kamar dan menuruni tangga.


"Lama ya?" tanya Rina begitu ia sampai di dekat Dika.


"Ih...." Rina cemberut namun jujur saja hatinya begitu senang. "Jadi berangkat nggak nih?"


"Jadi dong, kan emang tinggal nungguin kamu." Dika kemudian bangkit dari kursi. "Tante, kita berangkat dulu ya." Dika kemudian menyalami Ririn.


"Iya hati-hati," jawab Ririn.


Rina pun melakukan hal yang sama. Setelah itu kedua berjalan menuju mobil Dika.


"Ini kita berdua doang?" tanya Rina.


"Ada mama sama ayah. Kalau Rista sama Dedi nggak tahu jadi ikut apa enggak."


"Kamu ninggalin Rista sama Dedi, maksudku kalau mereka nggak ikut mereka cuma berdua?" kaget Rina. Dia ingat betul bagaimana interaksi Rista dan Dedi yang tak sengaja ia pergoki waktu itu.


"Kenapa muka kamu? Iya lah, mereka kan sering aku tinggal berdua." Dika membalas kepanikan Rina dengan begitu tenang.


"Ya tapi kan..."


"Udah tenang aja."


Rina menghela nafas. Kamu nggak akan tenang kalau tahu apa yang sering mereka lakukan. Lagian kamu mikir apa mereka juga bisa melakukan hal di luar dugaan jika cuma berdua.


"Emm, kamu sengaja ngajak om sama tante?"


Dika mengangguk. "Aku takut kalau cuma berdua, suka nggak waras akunya kalau cuma sama kamu."


"Emang kalau Dedi sama Rista bisa waras terus kalau lagi berdua?" Rina dengan cepat menyambut umpan yang ia tunggu-tunggu.

__ADS_1


Dika nampak berfikir. "Iya juga ya."


Dika segera membawa mobilnya menepi. Dia nampak meraih ponsel dn menempelkan di telinga.


"Halo, Ded..."


"Apa Dik?"


"Kalian jadinya ikut apa stay?"


"Sesuka Rista aja. Aku masih mau otw jemput dia, soalnya baru kelar urusan di sekolah," jelas Dedi.


"Kalian nyusul aja ya, aku shareloc."


"Oke deh."


"Thanks ya."


"Oke."


Bip


"Beres," kata Dika pada Rina.


Mereka berdua kemudian melanjutkan perjalanan. Mereka harus menempuh perjalanan selama hampir 2 jam dan melewati 2 kota. Hingga akhirnya trek yang sedikit menanjak menyambut mereka.


"Ini hampir nyampe?" tanya Rina yang masih belum hilang betul kantuknya karena tadi ia sempat tertidur.


"15 menitan lagi nyampe."


"Kamu capek?" tanya Rina dengan sedikit menggeliat.


"Mau gantiin nyetir?" tanya Dika.


Rina menatap Dika dengan cemberut. "Aku nggak bisa kalau naik turun gini jalannya."


Dika terkekeh. "Aku cuma bercanda sayang, lagian aku udah biasa kok..."


Rina mulai menyamakan duduknya dan menikmati pemandangan di kanan kiri mereka. "Di sini adem ya..." gumam Rina.


Dika mengangguk. "Rin, selama aku nggak ada di deket kamu, kamu ngapain aja?" tanya Dika.


Perasaan cemas tiba-tiba menghampiri Rina. "Aku galau, aku nyesel, aku bahkan sampai berantem sama Dian cuma gara-gara dia nanyain kamu." Rina mengucapkan kalimat itu dengan cepat.


Dika menepikan mobilnya. "Keluar yuk. Di sini view nya bagus dan dengan matahari secerah ini kita nggak kepanasan."


Keduanya kemudian keluar dari mobil dan berjalan menyusuri jalan setapak.


"Dik, aku nyesel karena terakhir ketemu sama kamu aku marah. Aku cuma ngerasa ketangkap basah padahal aku ketemu sama Awan nggak sengaja, jadi aku ngerasa nggak terima aja kalau kamu sampai mikir macem-macem."


Dika dapat melihat sebuah penyesalan yang besar dari wajah Rina. "Kamu cerita ya, aku cuma pengen tahu."


"Setelah itu aku nggak sengaja ketemu Awan lagi di rumah Nita pas acara ultah Nina adiknya Nita. Dia sepertinya ingin mendekatiku, tapi untung Nita melihat jadi Awan langsung dijewer tuh, dimarahin sama Nita."


"Kamu lama pacaran sama dia?"


Rina menggeleng. "Nggak ada 2 minggu. Aku mutusin dia saat aku tahu ternyata dia masih kelas 3 SMP. Kejadiannya sekitar tahun lalu sebelum aku jadian sama kamu."


"Kenapa kamu putusin?"


"Ya malu lah! Masa iya aku pacaran sama anak SMP." Rina menaikkan suaranya saat merasa Dika menggodanya.


Dika menarik pinggang Rina dan memeluknya. "Kalau sama aku gimana?"

__ADS_1


Rina mendongak menatap Dika. "Aku sayang banget sama kamu."


TBC


__ADS_2