
Hai, hai...
Makasih yang udah baca, buat yang ninggalin jejak makasih banget. xexexe
HAPPY READING
Hana membeku saat menyadari dimana tempatnya sekarang ini. Ia masih trauma dengan tempat ini karena di sini tersimpan banyak kenangan jatuh pahit manis kehidupannya dengan mamanya dan juga tempat dimana ia harus menerima kenyataan jika mamanya tak lagi pernah bisa menemaninya lagi.
Hana memegangi tangan Andre yang masih setia menunggunya di balik kursi kemudi.
“Andre…”
Andre menoleh dan mendapati Hana yang menggelengkan kepala. Ia terlihat murung dan tak bergairah seperti biasanya.
Andre meraih tangan Hana yang memeganginya. Ia kemudian mengenggam tangan itu dengan kedua tangannya. “Kamu takut?”
Hana menjawabnya dengan anggukan.
Andre menyentuh wajah Hana dengan sebelah tangannya. “Aku akan terus disampingmu. Percayalah, kamu akan aman selama ada aku.”
Dalam ruang yang ukurannya terbatas ini, Hana dapat melihat wajah Andre dengan sangat jelas. Hana kurang paham dengan cara menemukan kejujuran dari sorot mata. Namun satu yang pasti, raut wajah dan cara bicara Andre terlihat serius saat ini.
Hana menghela nafas. Ia kembali menyandarkan tubuh lemasnya.
Andre mendesah lelah. “Hana ayo lah. Mana Hana yang tegas dan ambisius dulu?”
Hana menatap Andre dengan wajah sendu. “Dia sudah mati, dibunuh oleh mantan bosnya karena kasus criminal yang tak dapat ditolerir atau pun sekedar untuk mendapatkan meringanan hukuman.”
Rumput liar ini mulai berani bicara rumanya. Tiba-tiba ide jahil melintas di kepala Andre. Dengan senyum jahil ia mulai menyusun strategi untuk melancarkan misinya.
“Aaaaaaaa!!!!!”
"Ha ha ha ha ha...."
Bukannya merasa kasihan, Andre justru tertawa dan mengencangkan cubitannya pada pipi Hana.
“AAAAaaaa, aa, aa, aa, aaaaaa!!!!!”
Hana memukul-mukul Andre sekenanya. Namun hal ini tak mempengaruhi Andre sama sekali. Dipukul hingga berdarah saja dia tak gentar, apalagi jika hanya seperti ini.
Baru setelah ia merasa puas, barulah Andre melepaskan pipi Hana. Wajah hana terlihat tak karu-karuan, antara menahan sakit dan kesal dalam waktu bersamaan.
“Puas kamu," ketus Hana sambil mengusap-usap pipinya.
“Belum lah. Aku puasnya kalau…”
“Ayo keluar…” potong Hana cepat. Ia tak mau Andre meneruskan ucapannya. Karena jika Andre sudah mau Hana belum pernah punya cara yang berhasil mencegahnya.
Hana kemudian membuka pintu di sampingnya untuknya keluar. Andre tersenyum kecil melihat tingkah Hana.
Hanya cara ini yang bisa aku lakukan agar kamu bisa lebih kuat. Hana, sampai kapan kamu harus berpura-pura tegar. Aku tahu kamu lemat, aku tahu kamu rapuh. Tapi demi apa pun, aku akan terus melindungimu.
__ADS_1
Andre menyusul Hana keluar dari mobilnya. Di luar, Hana masih berdiri kaku dengan pandangan menerawang.
“Perlu pegangan?” tawar Andre sambil mengulurkan tangannya.
Hana menatap tangan itu dengan ragu.
"Ayo..."
Hana sempat menatap Andre yang tersenyum padanya, sebelum ia meraih dan mengenggam tangan yang diulurkan untuknya.
Baru selangkah Andre berjaan, tiba-tiba Hana menahannya.
“Ndre,” lirih Hana.
“Apa lagi?”
“Aku bener-bener nggak bisa mikir sekarang.”
Andre mambalikkan tubuhnya dan menatap Hana.
“Aku nggak tahu aku harus apa sekarang. Aku juga nggak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku…” Hana tak mampu menatap ke depan.
“Hana.”
Wanita ini perlahan mengangkat wajahnya lagi.
“Kamu tenang ya. Ada aku.” Andre berusaha meyakinkan Hana.
“Permisi…”
Suara Andre langsung membuyarkan lamunan Hana. Hana mendongak menatap sekeliling. Tempat ini sedikit berubah, namun masih tersimpan dengan baik di memory Hana tentang kejadian apa saja yang pernah ia alami di sana.
Seorang pria paruh baya membuka pintu rumah yang tadi diketuk Andre sebelumnya. Ia menatap Andre dan Hana secara bergantian.
“Maaf, cari siapa ya?” tanya pria paruh baya itu kepada Andre dan Hana.
Hana nampak menghela nafas. Andre yang semula ingin menjawab langsung menelan kembali suaranya. Ia ingin memberi kesempatan pada Hana jika memang ia ingin melakukannya.
“Pak RT ingat saya?”
Pria yang disebut pak RT ini menatap Hana dengan lekat. Ia nampak sekali tengah mengingat-ingat.
“Saya Nana Pak. Nana anaknya Erika,” lanjut Hana lagi.
Pria ini menggerakkan jarinya seakan baru saja mendapatkan kembali ingatannya.
“Oo, iya, iya, iya. Mari silahkan masuk.” Pria ini dengan ramah mempersilahkan Andre dan Hana untuk masuk ke dalam rumahnya.
Hana berjalan terlebih dahulu melewati Andre setelah genggaman tangan keduanya terlepas.
Kamu harus kuat Hana. Kamu harus kembali menjadi Hana yang tangguh seperti dulu.
__ADS_1
Hana mulai menjelaskan tujuan kedatangannya ke sana. Ia yang semula takut hanya untuk menatap ke depan, ternyata dalam waktu sekejap sudah mampu menguasai keadaan. Andre yang tak dapat tugas apa-apa melanjutkan koordinasinya dengan Melvin. Ia harus mendapat titik terang sebelum habis masa liburnya.
“Jadi Pak RT juga tak melihat mama saya?” kaget Hana begitu mendengar penuturan dari pria itu.
“Tidak Nana. Waktu itu malam hari. tiba-tiba ada segerombolan orang dengan pakaian rapi datang ke kediaman kamu. Tak lama kemudian mereks melapor jika telah ada kematian. Dan saat aku ingin melapor polisi, kata mereka semua sudah otomatis ditangani oleh yang berwajib.”
Keraguan Hana tentang kematian sang mama semakin kuat. Hati kecilnya selalu menolak jika ia ingin memaksa untuk menerima kematian sang mama.
“Apa bapak tahu siapa kira-kira orang-orang itu?” tanya Andre begitu melihat Hana sibuk dengan pikirannya. Ia ingin mendapat info sebanyak-banyaknya sebelum pergi dari sana. Entah mengapa ia merasa tak nyaman dengan cara pria paruh baya ini menatap wanitanya.
Pak RT menggeleng. “Saya kurang tahu. Mereka datang dalam jumlah banyak dengan mengendarai beberapa mobil yang terlihat mahal.”
Andre mengangguk paham. Ia kemudian berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan informasi yang mungkin bisa ia jadikan clue untuk membongkar misteris kematian mama Hana.
“Hana…”
Hana langsung menoleh saat Andre tiba-tiba memanggilnya dengan suara rendah. Pria ini ternyata tengah menunjukkan sesuatu di ponselnya.
“Kita harus pamit ya?” tanya Hana.
Andre mengangguk.
“Pak RT, terimakasih banyak atas bantuannya kali ini. Kami harus permisi sekarang,” ujar Hana berpamitan.
“Iya Nana. Lama tak bertemu, kamu jadi makin cantik saja. Kalau senggang, sesekali main ke sini bisa lah.”
Tatapan tak suka Andre tak bisa disembunyikan lagi. Jika saja dia bukan orang tua dan bukan informan yang dibutuhkan informasinya, mungkin Andre sudah mencongkel matanya sejak tadi.
“Ehm…” Andre berdehem cukup keras kala pria ini terus saja menatap Hana.
“Pak RT. Saya selaku suami Hana sangat berterimakasih atas bantuannya."
Pria ini nampak terkejut dengan apa yang baru saja Andre ucapkan. Seandainya Andre tahu, Hana juga tak kalah terkejutnya mendengar apa yang baru ia katakan barusan.
"Terimakasih juga sudah menerima istri saya dan mamanya dulu tinggal di lingkungan yang bapak pimpin. Sebagai ucapan terimakasih…”
Andre menyerahkan selembar kartu nama pada pria paruh baya ini.
“Barang kali ini akan berguna nanti. Kami permisi.”
Andre pergi membawa Hana secepatnya dari sana.
Hana, kehidupan macam apa yang kamu lewati dulu?
Andre terus berjalan tanpa melihat bagaimana kondisi Hana yang mengekorinya di belakang. Hingga tiba di dekat mobil, Andre langsung membuka pintu dan meminta Hana untuk segera masuk ke sana. Ia segera berlari memutar dan masuk dari sisi yang lain. Andre benar-benar muak jika harus berlama-lama berada di sana. Bagaimana hari-hari yang Hana lalui di lingkungan seperti itu?
Belum usai kesal dengan pria tua tadi, kini Andre kembali dibuat kesal dengan tingkah Hana. Hingga ia hendak menjalankan mobilnya, Hana masih belum juga memasangkan sabuk pengamannya.
“Sabuknya dipake, jangan diam saja.”
Hana tergagap dan melakukan apa yang Andre minta dengan cepat. Semula ia tengah terpesona dengan apa yang Andre lakukan, tapi sekarang penilaiannya berubah dalam sekejap. Andre kembali berubah menjadi monster berdarah dingin yang tak mengenal ampun dan belas kasihan.
__ADS_1
Bersambung…