
Hai hai.
Kalau ada yang nanya ini novel genrenya apa, Senja jawab ya apa aja bisa.
**Biarlah genre menjadi **support sistem untuk menyampaikan cerita.
HAPPY READING
Rina kembali gelisah saat ia harus kembali berkutat dengan pekerjaan. Ia benar-benar kehilangan fokusnya sekarang. Keinginannya makan es krim tak bisa dibendung lagi. Es krim merupakan salah satu kudapan favoritnya yang cukup lama
tak dinikmatinya.
“Sayang…”
“Ada apa?” tanya Dika tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas yang dibolak-baliknya.
Rina menarik nafas. Terlalu egois jika aku harus mengajak Dika keluar hanya untuk es krim padahal ia sangat sibuk sekarang.
“Sayang. Kamu tadi apa apa manggil aku?” Sepertinya Dika sudah memebereskan berkas yang semula dipegangnya. Sekarang tangannya kosong dan tengah menatap Rina.
“Aku kalau keluar sebentar boleh nggak?” tanya Rina akhirnya. Sebenarnya ia ingin sekali mengajak Dika, tapi sepertinya kondisinya tidak memungkinkan.
“Mau ke mana?”
“Mauuu…” Rina terlihat tak enak, bahkan ragu hanya untuk sekedar menuntaskan kalimat.
“Sayang,” panggil Dika dengan nada suara berbeda.
Kemampuan acting Rina memang jelek sekali. Sedikit pun ia tak bisa mengelabui mata jeli Dika bahkan hanya untuk hal sesederhana ini.
“Cepat katakan.”
Rina menghala nafas. Gini banget punya suami pinter.
“Aku pengen es krim. Yang di deket rumah nenek tempat pertama kita ketemu,” ujar Rina akhirnya.
Dika mengengguk paham. “Kapan-kapan kita atur jadwal ya.”
Rina menghela nafas dan menundukkan kepalanya. Tak seberapa lama ia kembali mengangkat kepalanya.
“Kalau aku kesana sekarang boleh nggak, aku sendiri aja nggak apa-apa.”
“Sayang.”
Dika sudah mengeluarkan nada tak terbantahkan. Jika seperti, akan sulit mengajaknya berkompromi.
“Kamu sabar dulu ya, aku janji tak akan mengulur waktu setelah ini selesai,” putus Dika.
Tak ada pilihan selain mengangguk. Aku benar-benar ingin sekarang.
Rina melipat kedua tangannya dan menyembunyikan wajahnya di sana. Moodnya benar-benar kacau. Ia tak tahan jika tak menjatuhkan air mata.
Di sisi lain Dika masih fokus pada pekerjaannya. Ia tak menyadari sedikitpun jika saat ini istrinya sedang menangis di tempatnya.
***
__ADS_1
Hana menatap aneh Andre yang terlihat tak tenang. Dengan gerakan perlahan, Andre terlihat mengambil sejumlah uang. Dengan gerakan hati-hati, Andre menaruh uangnya di bawah gelas.
“Ndre… Kenapa kamu kayak…”
Jantung Hana rasanya melompat saat Andre tiba-tiba menariknya dan langsung berlari dengan kencang. Kaki Hana cukup panjang meski kaki Andre lebih panjang lagi. Nafasnya berpacu dengan langkah kaki namun otaknya masih belum bisa mencerna dengan baik kejadian macam apa yang mereka alami ini.
Hana makin terkejut saat merasa ada yang tiba-tiba menahan bahunya. Andre yang mengetahui hal itu langsung menendang sekuat tenaga pria berpakaian hitam yang mengejar mereka. Tendangan kerasnya tepat mengenai dada membuat pria itu
jatuh seketika. Saat bahu Hana sudah lepas, Andre kembali mengajaknya berlari.
Dalam kebingungannya, Hana tak punya pilihan selain memacu langkahnya. Saat menoleh ke belakang, Hana baru sadar jika ternyata di belakang mereka sedang ada beberapa orang yang mengejarnya. Kenampakan mereka menyerupai seorang pria yang dilumpuhkan Andre tadi.
Ya Tuhan. Ada apa ini sebenarnya.
Brugh!
Andre yang tiba-tiba berhenti membuat Hana yang berlari langsung menubruk punggungnya. Hana melihat dengan jelas orang yang mengejar mereka tadi berhenti tak jauh di belakangnya. Saat menoleh kedepan ternyata ada beberapa orang lagi yang telah menghadang jalan mereka.
“Andre…”
Andre yang dadanya masih naik turun menoleh Hana yang berada tepat di belakangnya. Dapat dengan jelas dilihat bahwa sekarang Hana sedang ketakutan.
“Hana, apa yang ada di pikiranmu sekarang?” tanya Andre dengan santai.
“Ndree, aku takut.”
“Jangan takut. Apa kamu bisa lari?”
Hana mengangguk.
“Ndre…”
“Dalam hitungan ketiga kamu lari dan cari bantuan.”
“Tapi Ndre…”
“Satu…”
Andre mulai mengikat syal Hana di tangannya.
“Dua…”
Andre melilitkan syal itu untuk menyatukan keempat jari tangan kirinya.
“Go Hana…”
Andre mendorong Hana agar segera berlari dari sana. Ia menghalangi setiap orang yang akan mengejar Hana. Baru beberapa langkah berlari Hana, ia sudah berhenti karena tak tega melihat Andre berjuang sendiri.
“Go on, Hana!”
Bugh!
“Andre!!!” Hana memekik saat sebuah pukulan berhasil mengenai Andre.
Andre terlihat mengelap sudut bibirnya. Ia menarik seseorang yang hendak memukulnya dan menguncinya di depan tubuhnya. Dengan gerakan yang cepat orang-orang yang hendak memukulnya akhirnya mendaratkan serangannya pada orang yang dijadikannya tameng itu.
__ADS_1
Andre melemparkan tamengnya yang sudah tak berdaya. Kemudian ia mulai melawan beberapa orang yang masih tersisa.
Dengan nafas ngos-ngosan, Andre menatap ke sekelilingnya. “Hana…”
Yang ada di pikirannya sekarang adalah menemukan Hana secepatnya. Ia segera pergi dari sana saat itu juga. Andre menyusuri jalan, mengecek setiap gang, tapi belum juga Hana berhasil ia temukan.
Ya Tuhan, Hana kemana?
Andre berlari kesana-kemari tak tentu arah. Ia mengumpati keegoisannya yang tak memberi Hana alat kamunikasi selama ini. Jika saja ia tak terlalu protektif dan takut Hana lari, mungkin sekarang ia tinggal menghubungi Hana dan tahu dimana posisinya.
Andre makin kacau saat ingat bagaimana setiap pria yang memandang penuh damba saat menatap Hana. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Hana?
“HHAANNNAAA….!!!!
Andre berteriak di sela langkahnya. Ia sediri cukup parah lukanya. Tubuh babak belur dan tak mampu berjalan tegak karena merasakan nyeri di area perut. Sehebat apapun dia, kalau melawan hampir 10 orang tetap sulit juga.
Ssrrk ssrrkk ssrrkk
Andre langsung menoleh saat mendengar suara langkah kaki yang berada tak jauh darinya. Ia langsung berlari saat tahu jika itu adalah sosok yang dicarinya. Ia memegang kedua bahu Hana dan langsung mendekapnya. “Kita obati luka kamu.”
Hana masih membeku di tempatnya bahkan ketika Andre sudah mengajaknya berjalan.
“Apa kakimu sakit?” tanya Andre saat Hana tak sedikitpun bergeser dari tempatnya.
Hana menggeleng.
Andre hendak menggendong Hana, tapi lagi-lagi Hana menahannya.
“Ndre…” lirih Hana. Sayang setelahnya tak ada kata-kata lagi yang mampu diucapkannya.
“Kita harus segera pergi dari sini.”
Andre tak mau mendengar pendapat Hana lagi. Ia langsung mengangkat tubuh Hana dan membawanya pergi dari sana. Tubuh Hana berlumuran darah tapi tak ada raut kesakitan atau semacamnya. Yang terlihat dominan adalah wajah yang pucat
dan terlihat sangat ketakutan.
Andre hingga lupa rasa sakit yang mendera tubuhnya. Ia terus berjalan menuju tempat mobilnya berada.
Andre menyesalkan posisinya yang sangat jauh dari rumah. Ia tak mungkin mampir kemana pun untuk sekedar membersihkan diri, jadi mau tak mau mereka harus tetaplah pulang.
“Hana, aku tak bisa keluar walau hanya sekedar cari minum. Kamu tahan sampai rumah ya.”
Pandangan Hana masih kosong. Andre merasa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya.
Andre meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Halo, apa kamu di rumah?”
“…”
“Aku ke sana.”
Andre segera memutus panggilannya dan kembali menyimpan ponselnya. Ia sempat menggenggam tangan Hana sebentar sebelum kembali fokus pada kemudinya.
Bersambung…
__ADS_1