
HAPPY READING
Setelah berkeliling, Risma berhasil menemukan 7 orang dan sialnya semua adalah laki-laki. Mereka yang semula harus Risma bangunkan dengan susah payah, sekarang matanya sudah membulat sempurna saat melihat wanita cantik yang ada di tempat Risma.
Sil. Sebentar lagi sepertinya ketenganganku akan terganggu.* Gerutu Risma dalam hati.
“Sudah selesai kan. Saya harap kalian tak akan pernah mencari Risma lagi meskipun yang berhutang adalah kakaknya,” ujar Hana pada dua orang penaghi hutang di hadapannya.
“Baik. Kami permisi,” ujar kedua pria ini.
Hana kini bisa bernafas lega saat melihat Risma terbebas dari ancaman orang-orang tadi.
“Udah kan?!”
Hana terkejut saat mendengar Risma membentaknya.
“Udah,” lirih Hana yang belum dapat menetralkan keterkejutannya.
“Sekarang pergi, ngapain lagi di sini?!”
Hana mematung di tempatnya. Apa tindakanku salah. Aku kan cuma mau bantu Risma biar dia tak dikejar-kejar rentenir terus. Tapi kenapa dia malah marah?
“Ma, aku salah ya…?” tanya Hana masih dengan wajah bingungnya.
“Bukan kamu tapi mereka,” ketus Risma sambil menunjuk pria-pria yang memandang Hana penuh damba. Para pekerja yang mendapat shift malam sehingga sekarang mereka sedang istirahat di kosan. Dan tak tahunya saat semula mereka kesal karena Risma ganggu istirahatnya, sekarang mereka ingin mengucapkan terimakasih yang tak habis habisnya karena bisa melihat bidadari di dunia nyata.
“Oh…” Hana baru ngeh sekarang. Ia kemudia berbalik dan tersenyum pada mereka semua.
“Terimakasih banyak ya atas bantuannya.”
“Sama-sama. Kita seneng kok bisa bantu Risma dan…”
Saat mendengar pria ini menggantung ucapannya, Hana kemudian mengulurkan tangannya.
“Saya Hana…”
Ketujuh pria itu berebut untuk berkenalan dengan Hana sebelum akhirnya serempak mengumpati Risma karena wanita ini mengusir mereka dari kamarnya.
“Ya ampun Hana, terancam gue jadinya, astaga…”
“Kenapa Ma, kan penagih hutang itu tak akan mencarimu lagi?”
“Pertama jangan panggil aku Ma. Panggil aku Risma, kalau kepanjang Ris juga nggak apa-apa. asalkan jangan Ma.”
“Kedua, hidupku bakal kehilangan ketenangan karena aku yakin para penghuni kost yang sebagian besar pria ini aku terus nyariin kamu."
__ADS_1
"Dan malangnya tak hanya sampai di situ penderitannku. Bagaimana kalau jam itu katahuan palsu. Bisa mati aku.”
Kedua sudut di bibir Hana tertarik lebar. “Tenang saja Risma. Jam itu asli kok.”
Risma menggeleng tak habis pikir. “Dengan kondisi kamu yang seperti ini memang aku bisa percaya kamu bisa punya harga ratusan juta?”
“Ya nyatanya aku punya.”
“Terus bisa kamu jelasin nggak kamu dapatnya dari mana?”
Hana terdiam karena dadanya masih terasa nyeri saat sadar tak lagi ada Andre di sini.
“Nah kan, diem kan, nggak bisa jawab kan?”
Hana hanya mampu menghela nafas. “Sudah lah. Yang jelas tak ada kejahatan yang aku lakukan untuk memperoleh jam itu, dan sekarang yang penting kamu aman. Jadi masih boleh kan kalau aku tinggal beberapa hari lagi.”
Risma mendengus. “Ya kalau begini ceritanya mana mungkin hanya beberapa hari.”
“Maksudnya?”
“Ya setelah apa yang kamu lakukan buat aku ya mana mungkin aku tega ngusir kamu.”
“Jadi?”
“Ya terserah kamu aja mau tinggal sampai kapan sama aku.”
“Emang aku kelihatan main-main.”
Hana mendadak girang. “Makas, aw…”
Saking senangnya Hana sampai lupa kalau ia tengah terluka, dan ingin memeluk Risma tiba-tiba.
“Hati-hati anying. Jahitan kamu bisa lepas kalau gitu,” ujar Risma sambil memegangi Hana.
“Aku lupa,” lirih Hana sambil meringis.
Risma perlahan melihat luka Hana. “Duh Bayu belum pulang lagi.”
“Bayu siapa?” tanya Hana.
“Perawat yang aku mintai tolong buat jahitin luka kamu semalam. Kamarnya ada di sebelah," jelas Risma.
“Namanya Bayu ya, cowok dong,” panik Hana.
“Kurang lebih,” cuek Risma.
__ADS_1
“Kok kurang lebih?”
“Ya aku belum pernah lihat kejantanannya, hahaha, hbf…”buru-buru Risma membungkam mulutnya sebelum ada content tak pantas lainnya yang keluar dari sana.
Sementara Hana hanya meringis. “Berarti dia buka baju aku dong.”
“Ya menurut kamu gimana. Orang dia yang ngejahit tuh luka sobek. Eh tahu kamu punya jam ratusan juta mending itu dijual saja. Sisa buat bayar hutang kan masih banyak. Bisa buart, shoping, bisa buat makan enak, hidup enak. Eh nggak ding. Mending buat usaha aja. Kalau aku punya usaha kan aku nggak perlu secapek ini untuk dapat sesuap nasi,” ujar Risma dengan pandangan menerawang.
Tiba-tiba wajah sumringah Risma berubah sendu.
“Ih kamu sih. Kenapa nggak bilang-bilang kalau punya harta karun. Ngarepin dikasih kelebihan bayar utang sepertinya nggak mungkin,” lanjut Risma lagi.
“Udah lah Ma, kita kan bisa cari uang lagi buat beli,” ujar Hana menyemangati.
“Aku itu udah bertahun-tahun kerja dan belum pernah tuh dapat puluhan juta apa lagi ratusan juta. Cari duit itu susah, ngerti nggak. Emosi aku ngomong sama kamu.”
Hana paham. Kondisi social tempatnya sekarang dan sebelumnya sangatlah berbeda. Dimana sebelumnya Andre dapat menghasilkan puluhan juta ratusan juta hingga milyaran sebulan sedangkan Risma yang harus banting tulang setiap hari penghasilannya tak sampai menyentuh angka lima juta. Begitu pun dengan kehidupan Hana saat masih bersama papanya dulu. Setidak punyanya uang Galih, hanya sekedar ingin beli mobil saja bukanlah sebuah hal mustahil diwujudkan dalam sehari.
Namun Hana bukan berarti tak bisa hidup seperti Risma, dimana ia menghabiskan belasan tahun dengan keadaan serba kekurangan dengan sang mama, sehingga kini ia tak begitu terkejut saat bertemu dengan Risma yang seperti
ini dan bahkan juga akan menjadi kehidupannya kedepan.
“Ya kalau aku sudah sembuh, aku akan kerja juga, jadi kamu akan bisa melihat uang ratusan juta.”
“Emang kerja apa?” Risma bangkit dan berkacak pinggang. “Aku tahu kamu cantik, tapi buat jadi artis juga tak hanya bermodalkan cantik tapi kamu juga harus punya duit. Sedangkan kamu punya barang berharga satu saja sudah hilang untuk membayar hutang… Hutang ku maksudnya,” ujar Risma dengan nada yang mendadak turun di akhir kalimatnya.
“Tapi ya, ah capek aku. Makan aja nih. Aku pengen cepet-cepet tidur biar bisa mimpi punya uang ratusan juta,” ujar Risma sambil melahap nasi goreng yang sebelumnya ia beli untuk mereka berdua.
Hana sama sekali tak berusaha menjawab atau mendebat Risma. Ia cukup lelah terlebih dengan kondisinya yang masih lemah. Ia yang kesulitan menegakkan punggungnya perlahan menjatuhkan kepalanya di atas meja. Pikirannya melayang
mengingat mendiang sang mama.
Hingga Risma sudah selesai makan, Hana masih belum juga menyentuh makanannya.
"Jangan lupa dimakan, mubadzir," ujar Risma sebelum meninggalkan Hana.
Hana tak menyahut. Ia masih tenggelam dalam lamunannya.
Mama, Hana lelah Ma. Hana minta maaf karena Hana tak bisa menjadi kuat seperti yang mama minta.
Tak terasa air mata Hana menetes. Ia memejamkan mata untuk menahan air mata agar tak lebih banyak keluar saat ini. Begitu matanya terpejam, wajah Andre langsung memenuhi bayangannya.
“Andre… Aku kengen sama kamu,” lirih Hana hampir tak terdengar. Tapi aku tak mau jadi perusak kebahagiaanmu. Andre bahagialah di sana. Aku akan berjuang untuk kehidupanku, lanjut Hana dalam hati.
Bayangan Andre perlahan pergi bersama gelap dan sunyi yang menyergap Hana kini.
__ADS_1
Bersambung…