Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Tidur Bersama


__ADS_3

Apa yang terjadi jika Andre dan Hana berada di tempat yang sama dalam waktu semalam?


HAPPY READING


Hana segera mandi setelah Risma pergi. Ia harus meminjam baju Andre untuk ia pakai karena sudah tak punya satu pun bajunya di apartemen ini. Tengah malam seperti ini, ia tak mungkin mandi dalam waktu lama. Jadi ia menyelesaikan


mandinya dalam waktu kurang dari satu jam.


“Kenapa kamu mandi lama sekali?” kesal Andre.


“Mana yang lama. Aku bahkan tak yakin kalau sudah menggosok semua bagian tubuhku,” ujar Hana sambil menggosok rambut basahnya.


“Sini aku bantu…”


“Ogah. Mending kamu cepat stirahat Andre, katanya lagi sakit?”


“Aku sudah sembuh Han. Dan sekarang aku lapar.”


“Ha? Terus gimana dong. Aku yakin kamu juga tak punya makanan apa pun sekarang?”


“Ada. Aku punya makanan istimewa sekarang,” ujar Andre dengan mata mengerling nakal.


Perasaan Hana tak enak. “Kamu jangan macam-macam Andre. Belum juga kita bisa mengatasi masalah yang sebelumnya timbul, masa kamu sudah mau bikin masalah yang baru lagi?”


Hana segera meninggalkan Andre untuk menyampirkan handuk basahnya. Namun belum juga ia berbalik, sudah ada sepasang tangan yang melingkar manis di pinganggangnya.


“Ndreee…”


“Apa sayang?” Bukannya menjauh Andre justru mengeratkan pelukannya.


“Kamu jangan mulai ya?”


“Mulainya sudah lama sekarang tinggal melanjutkan.” Dengan gerakan pelan, Andre menelusupkan wajahnya di ceruk leher Hana.


“Andreeee….” Hana menggigit bibirnya saat tangan Andre mulai merambat di bagian depan tubuhnya. Sisi manusiawi Hana bangkit seketika. Ia hanya wanita biasa yang punya ***** dan hasrat. Ditambah rindu yang sebenarnya ia pendam sekuat tenaga, namun kini justru bangkit dan menggelora di dadanya. Ia pasrah saja saat Andre dengan mudah mengangkat tubuhnya.


Andre merebahkan tubuh Hana dengan bibir tertaut entah sejak kapan. Andre menindih tubuh wanitanya dan mencari posisi ternyaman untuk meluapkan hasratnya.


Andre melepaskan tautannya dengan mata menatap dalam pada wanitanya. “Hana. Aku nggak mau kehilangan kamu….” ujar Andre dengan suara berat.


Hana langsung menarik tengkuk Andre dan menyambar bibir yang sering kali berkata nylekit ini. Ia memimpin ciuman hingga Andre dengan mudah menyingkirkan satu-satunya kancing pakaian yang menghalangi tubuh molek Hana ini. Namun saat ia hendak menyempurnakan pelucutannya, tiba tiba Hana sadar dan menahan tangannya.


“Kenapa Han…” Andre nampak kesal karena usahanya yang tinggal sedikit lagi harus Hana gagalkan.


Hana hanya menggeleng dengan nafas terengah. Sepertinya ia belum mampu bersuara sekarang.


“Kalau kamu takut hamil aku nggak akan ngeluarin di dalam.” Andre ingin kembali menenggelamkan tubuhnya namun masih Hana tahan. Wanita cantik ini menggeleng lagi karena nafasnya belum berhasil ia normalkan.


Dengan perasaan campur aduk, Andre menarik tubuhnya dan duduk sambil mengacak rambutnya. “Si joni bisa ngamuk kalau kamu permainkan seperti ini.”

__ADS_1


Hana ikut duduk sambil menarik kedua sisi kemeja Andre yang ia kenakan. Ia segera bangkit dan berlari keluar kamar dengan bertelanjang kaki. Tak berselang lama Hana kembali dengan dua gelas susu hangat di tangannya.


“Aku cuma bisa nemu ini yang layak konsumsi…” ujar Hana karena Andre tak segera menerima ulurannya.


“Aku nggak butuh itu. Aku maunya kamu.”


“Tck. Jangan terlalu dimanjain. Nanti juga akan tidur sendiri.”


“Nggak akan Han. Kalau sudah terlanjut bangun tak akan bisa tidur kalau belum keluar lahar.”


“Yang punya lahar itu aku sedangkan kamu punyanya ingus.”


“Kok bisa?"


"Lahar itu warnanya merah sedangkan ingus warnanya putih.”


“Iya. Terus hubungannya apa Hana?”


“Andre, aku itu masih mengeluarkan darah sejak keguguran waktu itu.”


“Kok masih. Kan sudah 2 minggu.”


“Ya mana aku tahu.”


“Terus sekarang kondisi kamu gimama?” Andre yang tadinya kesal sekarang langsung panik seketika.


“Ya kamu lihatnya gimana?”


Degh!


Hana baru ingat jika besok ia ada janji dengan Rina. “Nggak usah,” tolaknya dengan suara yang tak lagi melengking seperti tadi.


“Kenapa nggak usah. Aku takut kalau nggak tuntas akan mendatangkan masalah nantinya.”


“Yang seperti ini saja kamu bisa takut, tapi tadi sudah mau bikin masalah lagi,” sarkas Hana.


“Sekarang enggak, sekarang enggak.” Andre mengeratkan pelukannya pada Hana.


“Ya udah nih minum. Biar tidur kamu nyenyak.”


Andre menerima gelas yang Hana ulurkan. Namun alih-alih minum, Andre justru hanya memandanginya. “Minum yang ini boleh nggak?” ujar Andre sambil menyenggol jelly favoritnya.


Hana mendengus, spontan Andre melepaskan tangannya. Ia segera meminum susu hangat yang Hana bawa dan menandaskannya dalam sekali tenggak.


Hana membereskan gelas yang sudah tidak ada isinya ini, kemudian mulai mencari posisi nyaman sebelum memejamkan mata. Keduanya malam ini benar-benar tidur bersama tanpa melakukan apa-apa.


***


Karena tak ada baju yang bisa ia kenakan pagi ini, ia kembali meminjam kemeja Andre yang berwarna abu-abu seperti warna pakaian yang disepakati di tempat kerjanya untuk hari ini.

__ADS_1


Saat Hana kenakan, kemeja Andre mampu menutup hingga setengah pahanya. Ia menekuk lengannya menjadi ¾ dan mengikat pinggangnya mengginakan tali piyama. Sekarang Hana nampak cantik dengan dress dadakan hasil kreasinya.


“Kok cantik sih?” jelas sekali nada menyesal dalam ucapan Andre.


“Apanya?” tanya Hana tak mengerti.


“Bajunya.”


Hana mendengus dan kembali mematut wajahnya di depan cermin. Kali ini ia menggunakan make up karena hasil karya Andre masih sangat jelas terlihat. Jika kemarin masih terlihat merah, sekarang berubah biru keunguan. Jadi ia harus menutupnya dengan foundation termasuk ke bagian wajahnya agar tak terlihat belang.


Setelah selesai dengan foundationnya, Hana mulai mengaplikasikan concealer dan membacking kemudian. Tangannya dengan terampil menggunakan eyeshadow, eyeliner dan mascara di area mata. Hana menskip pensil alis karena alisnya sudah terbentuk dengan sempurna. Dan terakhir ia menggunakan blush on tipis-tipis di pipi dan dagunya. Ia melewatkan highlighter dan shading karena wajahnya tak terlalu membutuhkan semua itu.


“Hana, nikah yuk…” Andre menunduk dan memeluk Hana dari belakang.


“Nikah itu bukan hanya urusan ranjang Andre…”


“Tapi nikmatnya urusan ranjang akan jadi pahala jika kita menikah Hana.”


Hana menghela nafas. “Sudahlah, ayo kita berangkat.”


“Ini masih pagi.”


“Tapi aku tak ingin kamu melewatkan sarapan.”


“Kenapa nggak delivery saja.”


“Lama Andre. Dan kalau di sini ada bahan, mungkin aku akan lebih memilih memasak ketimbang mencari di luar seperti ini.”


Andre menyerah dan mengikuti ucapan Hana. Ia menyambar kunci mobil dan kedua ponselnya sebelum berjalan keluar bersama Hana di sampingnya. Mereka berjalan bersama dengan tangan saling tertaut erat.


“Kamu nanti pengen makan apa?” Tanya Andre saat keduanya sudah berada di dalam lift.


“Bubur saja ya.”


“Kenapa bubur?”


“Karena bubur lebih mudah dicerna oleh perut kamu yang bermasalah.”


Andre mengangguk dan menerima begitu saja usulan Hana. Setelah keduanya sampai ke lantai dasar, mereka kembali berjalan dan berbalas sapa beberapa orang yang dijumpainya. Ini cukup berbeda dengan Andre biasanya yang kerap kali mengacuhkan sapaan orang yang ia rasa tak ada kepentingan.


“Aku pikir putus ternyata balik lagi,” ujar seorang security pada rekannya.


“Siapa?” tanya rekan yang diajak bicara ini.


“Itu Pak Andre sama pacarnya,” ujar security itu sambil menunjuk Andre dengan ekor matanya.


Pria bertubuh besar ini mengikuti arah pandang rekannya. “Yang seperti itu memang sayang untuk cepat-cepat dilepas. Lagian wanita mana juga yang bisa menolak pak Andre, sudah kaya, tampan, masih muda pula.”


Kedua security ini tertawa kecil setelah mengakhiri obrolan mereka. Mereka memang tak tahu bagaimana awal mula Hana dibawa Andre ke apartemennya. Yang mereka tahu ini kali pertama Andre membawa wanita untuk tinggal bersamanya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2