Zona Berondong

Zona Berondong
S 2 Yakin


__ADS_3

HAPPY READING


“Aku ke belakang sebentar ya…” pamit Dian.


Ken melepaskan melepas genggamannya dan mengangguk sembari menatap istrinya. Setelah itu Dian pergi meninggalkan dua orang pria ini untuk ke kamar mandi.


Sebenarnya tak ada hajat mendesak yang tak dapat Dian tahan saat ini. Hanya saja ia merasa Ken dan Andre butuh ruang lebih untuk bicara. Jadi ia merasa lebih baik meninggalkan mereka untuk memberi ruang pada kedua pria ini.


“Ken, kamu serius sama Dian?” tanya Andre to the point setelah mereka tinggal berdua.


“Ya serius lah. Kenapa? Apa kamu berfikir ingin mengajak Dian kembali?” tuduh Ken.


Andre berdecih. “Aku hanya penasaran kenapa kamu begitu peduli pada Hana padahal kamu sudah berhasil mendapatkan Dian akhirnya. Jangan-jangan kamu juga masih tertarik dengan wanita lain sekarang.”


“Ndre, kalau kamu punya masalah, jangan menganggap orang bermasalah juga. Dari pada kamu membuang waktu untuk memikirkan orang, lain lebih baik kamu pikirkan saja bagaimana mengatasi masalahmu sendiri,” kesal Ken.


Andre terdiam. Perkataan Ken berhasil menamparnya. Andre merasa terlalu banyak masalah yang menerpanya, membuat ia menjadi pengecut dan hilang arah.


“Ken…” Andre mencengkeram kepalanya sebelum ia memutuskan untuk menyugar rambutnya. “Tell me, aku harus bagaimana?”


Ken diam sejenak. “Sebenarnya apa sih yang menjadi masalah terbesarmu Ndre?”


“Aku mencintai Hana, tapi aku tak tega saat melihat gurat kecewa di wajah papa dan mama.”


“Apa mereka menentang hubungan kalian berdua?”


Andre menggeleng. “Mereka tak suka, tapi tak ada larangan yang langsung mereka layangkan setelah tahu Hana sedang mengandung.”


Ken membulatkan mata. “Terus apa kamu malah diem-diem dan nggak bertindak?”


“Apa kamu benar-benar tak tahu siapa Hana?” Bukannya menjawab, Andre justru balik melempar pertanyaan.


Ken menggeleng.


“Lantas bagaimana kamu bisa begitu peduli kepada Hana kalau kamu tak tahu siapa dia?”


“Udah lah Ndre. Jangan mengalihkan pembicaraan lagi. Kita lagi bahas kamu bukan lagi bahas aku.”


Andre memejamkan mata. Terlihat sekali ia kini tengah menahan sesuatu.


“Oke aku cerita. Terserah kamu mau nganggep aku apa, yang jelas ini yang terjadi. Dan sekalian aku juga ingin tahu apa yang terjadi dalam hubungan kalian karena aku tanpa sengaja sudah terlanjur terlibat,” jelas Ken sebelum memulai ceritanya.


Andre menghela nafas. Ia bersiap mendengarkan apa yang hendak Ken katakan.


“Tapi tunggu Dian dulu.”


Andre mendesah kecewa. “Kenapa harus nunggu Dian?”


“Karena ini ada hubungannya sama dia juga.”


“Kok bisa?”


“Ya udah, makanya tunggu aja. Biar clear semua.”


Dian yang seberarnya tak benar-benar ke kamar mandi segera kembali dari persembunyiannya. Tahu gini nggak usah ngumpet tadi. Aku pikir mereka butuh waktu berdua, kesal Dian dalam hati.

__ADS_1


“Nih balik orangnya,” ujar Andre yang terlebih dahulu menyadari kemunculan Dian.


“Kenapa?” tanya Dian seolah tak tahu apa-apa.


“Ken nungguin elu,” jawab Andre.


Dian tersenyum manis kepada suaminya sebelum ia kembali memegang alat makannya.


“Oke, aku cerita." Andre menjeda ucapannya dengan sebuah helaan nafas. "Saat menemukan Hana pingsan saat itu aku sedang berada di tengah keputus asaan, karena Dian menolak untuk aku ajak ke Beijing.”


Andre terlihat menyimak, sementara Dian menghentikan kunyahannya.


“Memang kenapa kamu harus putus asa, kan bisa ngajak lagi lain kali?” tanya Dian setelah selesai menelan makanannya.


“Oke, mungkin ini akan aneh didengar, tapi ini adalah sebuah


kebenaran.”


“Saat melihat Hana di pinggir jalan, aku memang tak punya niat apa-apa dengan dia. Baru setelah hasil dari dokter keluar dan Hana melarangku untuk memberitahumu, aku jadi punya niat untuk membawa Hana ke Beijing untuk menggantikan Dian.”


“Untuk apa?” kaget Dian karena mendengar namanya dibawa-bawa.


“Sebenarnya aku dijodohkan, dan aku benar-benar tak mau menjalani pernikahan bisnis seperti ini,” jujur Ken.


“Jadi sebenarnya keluargamu nggak suka sama aku?” Belum usai keterkejutannya tadi, sekarang ia sudah mendapat kejutan fakta lagi.


“Nenekku mungkin iya, karena aku merupakan cucu laki-laki


satu-satunya.”


“Tapi kamu tenang saja, aku tidak akan membiarkanmu diperlakukan tak adil saat bersama keluarga besarku,” ujar Ken sambil menyentuh puncak kepala Dian.


“Terus apa hubungannya dengan Hana?” tanya Andre tak sabar.


Ken menurunkan tangannya dan membalas tatapan Andre yang nampak gusar. “Saat tahu Hana hamil, aku ingin membawa dia ke Beijing dan mengakui anakmu sebagai anakku.”


“Apa?” serempak Dian dan Andre.


“Kaget kan?” ujar Ken dengan santainya.


“Kenapa harus Hana?” tanya Andre tak terima.


“Ya karena aku tak tega melihat Hana terlantar dalam keadaan hami, dan di satu sisi aku tak mau dijodohkan dengan perempuan yang aku nggak mau sama sekali.”


“Pertanyaanku kenapa harus Hana?” ulang Andre dengan kesal yang tak tertahankan.


“Berarti aku cuma kamu jadikan alat menolak perjodohan?” susul Dian saat ken belum juga memberikan penjelasan pada Andre.


Ken jadi pusing saat diberondong seperti ini.


“Not at all, sayang. Kalau Hana mungkin iya, kalau kamu aku sudah lama sayang sama kamu.”


“Kurang ajar,” umpat Andre.


“Lebih kurang ajar mana sama kamu yang sudah bikin hamil tapi membiarkan dia menderita sendiri,” sarkas Ken.

__ADS_1


Andre merasa ditampar lagi.


“Intinya begini, Hana menolak saat aku mengajaknya, dan untungnya Dian berubah pikiran di saat terkahir sebelum keberangkatan. Makanya meskipun target nenek hanya sampai aku bisa membawa pasangan, tapi aku tak mau buang waktu dan segera mengikatmu di hadapan Tuhan,” ujar Ken dengan menatap lekat Dian disampingnya.


Dian yang semula kesal langsung lunak seketika, sementara Andre benar-benar merasa dipermalukan. Ken bisa seberani ini, meskipun di tentang. Ia tanpa ragu datang pada Tuhan. Lalu kenapa Andre tak pernah terfikir untuk melakukan hal yang sama?


Hana, kamu dimana? Bagaimana sekarang keadaanmu?


“Andre, sekarang giliran kamu menjawab pertanyaanku. Kenapa sampai terjadi kejadian semacam itu,” tanya Ken yang sudah merasa lega karena telah mengungkapkan semua.


Andre menghela nafas. “Sebenarnya Hana sudah tinggal bersamaku sejak 2 bulan yang lalu.”


“What…” Ken tak dapat menyembunyikak keterkejutannya. Dan meskipun tanpa suara, Dian juga sama terkejutnya dengan suaminya.


“Berani sekali kalian…” lanjut Ken.


Andre menggeleng. “Semula kami saling membenci.”


“Maksudnya?”


“Oke aku jelaskan, Hana itu adalah penyusup di perusahaan. Dia berhasil membocorkan beberapa informasi penting dan bahkan menjadi dalang penggelapan dana dengan nominal besar.”


“Lantas kenapa kamu justru mengajak dia tinggal bersama...” heran Dian terhadap keputusan Andre.


Andre menghela nafas. “Hana tak hanya membahayakan perusahaan, tapi juga sempat ingin mencelakakan Rina.”


“Terus kenapa kamu bisa berhubungan sama dia?” Dian benar-benar gemas sekarang.


“Aku nggak tahu. Aku nggak tahu bagaimana aku malah jatuh cinta sama dia. Berkali-kali dia berusaha lari, tapi aku terus menahannya. Awalnya aku hanya ingin memberi pelajaran padanya, sekarang entahlah. Aku nyaris gila karena dia.”


“Siapa Hana sebenarnya. Kenapa nyalinya besar sekali?” tanya Dian penasaran.


“Dia tak hanya bernyali besar, tapi juga pintar.”


“Aku tadi nggak lagi muji dia Ndre,” sarkas Dian.


“Dia anak Rahardja.”


“Tunggu deh. Bukannya Om Galih cuma punya satu anak, yaitu Rio,” kata Dian.


“Buktinya Hana juga anaknya, dan semua yang Hana lakukan bukan atas kemauannya, melainkan atas desakan papanya,” ujar Andre.


“Ah jadi bingung,” kata Dian.


“Intinya sekarang langkah kamu gimana?” tanya Ken.


“Setelah mendengar cerita kamu, aku ingin segera menemukan Hana. Apa pun yang terjadi aku tak ingin menunda untuk menikahinya. Aku sudah benar-benar yakin dengan keputusanku saat ini.”


“Good. Dalam hidup jalan kita tak selamanya mulus. Pro dan kontra akan selalu ada di setiap aspek kehidupan kita. Dan remember, kita tak akan pernah bisa memenuhi harapan semua orang. So, straight forward jika kamu merasa apa yang kamu pilih itu adalah hal baik,” ujar Ken sambil meraih tangan Dian. Pasutri ini saling memandang dan tersenyum kemudian.


“Terimakasih Ken…” ujar Andre.


“Sama-sama.”


Dian tak tahan untuk tak menghambur ke pelukan suaminya. Ia menyesal karena telah mengabaikan pria sebaik Ken selama ini. Ia menyesal karena mengabaikan pilihan Tuhan untuknya ini.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2