
Yuk, yuk bikin kolom komentar banjir.
Biar Senja juga banjir idenya.
HAPPY READING
“Lain kali jangan gitu ya. Untung nggak ketahuan…”
“Lain kali jangan gitu ya, kalau marah bilang…”
Andre dan Hana yang kini saling memandang tertawa bersamaan. Keduanya lelah dan ingin mengendurkan syaraf barang sejenak. Hana yang sudah menyampaikan kabar besar yang baru saja dicapainya kini masih ditahan oleh Andre di ruangannya. Andre belum rela Hana pergi sehingga ia enggan melepaskan pelukannya. Jika saja Hana tak merasa letih, mungkin ia sudah melarikan diri sejak tadi.
Kenapa mereka lelah? Ya karena mereka baru olah raga. Olahraga haram untuk menyelesaikan masalah dengan cara mendesah.
Setelah pintu terkunci Andre mulai meledak tak terkendali. Ia kesal karena Hana merasa marah begitu saja karena ada Cindy di ruangannya. Hana tak bertanya siapa atau untuk apa wanita itu ke sana. Ia justru merasa rendah dan ingin menyerah tentang hubungan mereka.
Setelah sama-sama basah, barulah otak bisa diajak berdiskusi. Saling mengakui apa yang menjadi duri, dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Hal ini pula yang dilakukan kemarin, bedanya hari ini Andre tak membabi buta hingga Hana kehabisan daya.
Andre memang tak pernah main-main dengan ucapannya. Untung saja ia bisa menyelesaikan permainan dengan cepat sebelum atasannya datang.
“Aku hanya merasa aku tak pantas untuk kamu Andre…” kembali Hana mengungkap apa yang ia rasa, saat pikiran keduanya sudah sama-sama merasa nyaman jadi tanpa ragu ia mengungkap apa yang ia rasakan.
“Tapi aku nggak peduli Hana. Aku bahagianya sama kamu, bukan dengan pilihan mama.”
“Tapi dia wanita yang melahirkan kamu, mana mungkin kamu memilih aku dari pada beliau.”
“Aku nggak pilih satu diantara kalian, aku hanya tidak mau berhubungan dengan wanita yang mama pilihkan.”
Meski hatinya sedih, tapi Hana tak rela juga sebenarnya jika Andre harus pergi darinya. Tapi mau bagaimana, dia memang berada sangat jauh dan tak punya apa-apa disbanding Andre yang punya segalanya.
“Aku maunya kamu. Mau salah mau benar mau halal mau haram, aku maunya kamu, cuma kamu Hana...”
Saat bibir Hana nampak terbuka, Andre segera membungkamnya. Ia ingin Hana sadar, selain rasa bahagia Andre bisa memberi n*kmat.
“Aku pulang ya. Aku ada janji dengan editor,” pamit Hana saat waktu janjian mulai dekat.
“Apa kamu benar-benar tak bisa menungguku pulang. Biar aku bisa menemani.”
“Aku nggak sendiri kok, kan aku sama sopir...”
Andre tersenyum. “Baguslah kalau kamu menurut dan tak kemana-mana sendiri.” Andre baru tahu kalau Hana tadi tak sendiri, karena sejak tadi mereka sibuk dengan hal-hal lain.
“Itung-itung latihan jadi istri yang baik,” ujar Hana dengan senyum lebarnya.
“Kamu itu istriku, hanya saja kita belum terikat pernikahan…” ujar Andre seenak jidatnya.
Hana mingkem dengan rapat. Mendebat Andre sama dengan menunda waktu untuk pergi. “Aku pergi dulu ya…”
__ADS_1
“Kalau sudah selesai langsung pulang…”
Hana hendak bangkit namun Andre terlebih dahulu menahannya.
“Sayang, setangah jam lagi aku ada janji…” ujar Hana atas kelakuan menyebalkan kekasihnya.
Meski sebenarnya enggan, akhirnya Andre membiarkan Hana bangkit. Hana keluar setelah sempat melambaikan tangan pada Andre yang duduk diam di tempatnya. Ia pun keluar tanpa lupa terlebih dahulu menutup pintu.
“Saya pamit dulu ya…” ujar Hana saat melewati ketiga mantan rekannya.
“Kenapa buru-buru?” tanya Elis yang langsung bangkit dari tempatnya.
“Saya ada urusan…” Hana melambaikan tangan dan kembali melanjutkan langkah.
“Hana…”
Baru beberapa langkah berjalan, Hana mendengar suara Andre yang memanggilnya dari belakang.
Tanpa menjawab, Hana menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya. Ternyata kini Andre tengah berjalan ke arahnya.
“Yang kamu temui laki-laki apa perempuan?” tanya Andre begitu ia menjangkau Hana.
“Aku belum tahu…” jujur Hana.
“Apa masih kurang…”
Andre menghentikan ucapannya saat Hana meletakkan telunjuk di depan bibirnya.
Ucapan Hana ini berhasil membuat iri wanita yang mendengarnya. Termasuk Elis yang bahkan menyukai pria yang sama dengan Hana. Andre sangat posesif terhadap wanita yang dicintainya.
Keduanya sempat berpelukan sebelum Hana benar-benar pergi dari Kantor Surya. Dengan terpaksa Andre membiarkan Hana pergi karena ia harus kembali pada pekerjaannya.
“Tuh lihat… ada kita aja mereka nggak sungkan untuk berbuat mesra, apa lagi kalau cuma berdua,” ujar Rahma yang membuat panas telinga Elis yang belum benar-benar move on dari atasannya.
“Udah, udah. Apa yang mereka lakukan bukan urusan kita…”
Kedua wanita lajang ini mengangguk untuk membenarkan apa yang Riza katakan. Tak ada habisnya memang membahas masalah orang. Terlepas itu benar atau salah, yang jelas itu tetaplah perbuatan yang sia-sia.
Sementara itu Hana benar-benar langsung pergi ke tempat yang telah disepakati dengan editor platform online yang mengadakan kontes yang ia menangkan.
“Kira-kira orangnya seperti apa ya?” gumam Hana sambil menatap kendaraan yang berlalu-lalang.
Janjian pukul 3 tapi Hana sudah tiba 10 menit sebelumnya. Ia melangkah dengan percaya diri mencari tempat yang sekiranya nyaman untuk berbincang nanti. Setelah menemukan tempat yang tepat Hana segera menuju ke sana.
Di salah satu sisi caffe, ada seorang pria yang sekarang benar-benar ingin lari. Saat kepalanya benar-benar buntu, tiba-tiba sesosok yang menarik perhatiannya berhasil memberikan setitik cerah di kepalanya.
Kenapa rasanya aku familiar dengan wanita ini, batin pria tersebut sambil menatap wanita yang itu adalah Hana.
__ADS_1
Pria ini terus menatap Hana, hingga Hana duduk di salah satu meja.
Apa aku seharusnya menghampiri ke sana? Wanita ini pasti mau diajak kompromi jika aku memberi tahu alasan yang sebenarnya. Pikir pria ini.
“Sastra…”
“Hmm…” Pria yang dipanggil Sastra ini menjawab dengan malas. Wanita yang sedang bersamanya ini benar-benar membuat moodnya berantakan.
“Kenapa terus melihat jam tangan? Apa kamu ada janji lain?”
“Emm, iya,” bohong pria ini. Semula ia ragu, tapi kalau ingin pergi bukankah ia harus punya alasan.
“Kata Tante kamu sudah mengosongkan jadwal untuk pertemuan kali ini…” ujar wanita mungil ini.
Sastraini menelan ludah. Ia menarik kedua sudut bibirnya dengan kuat berharap akan tercipta sebuah senyuman yang menyamarkan kebohongannya. Saat ia sibuk mencari alasan, tiba-tiba dering ponsel menjadi alarm yang sangat ia nantikan.
“Halo…” Dengan cepat, Sastra menjawab panggilan tersebut.
“Shal, motor gue mogok…” ujar seseorang di seberang sana.
“Terus gimana?”
“Gantiin aku buat nemui Black Pearl ya. Dia udah di Planet Caffe, dia…”
“Kebetulan, kirim kontaknya sekarang,” potong Sastra cepat sebelum yang menelfonnya melengkapi kalimatnya.
Sastra adalah Marshal, Marshal adalah Sastra. Ia adalah pemuda yang tengah menjalankan kencan buta dengan wanita yang mamanya pilihkan. Ini adalah pertemuan pertama, dan Marshal sama sekali tak menunjukkan minat untuk mengadakan pertemuan kedua dan selanjutnya..
“Kenapa Tra…” tanya wanita ini setelah Marshal menyelesaikan panggilannya.
“Sepertinya keperluanku tidak bisa ditunda,” jawab Marshal yang lega akhirnya ia punya alasan untuk mengakhiri pertemuan ini.
“Yah, terus aku gimana?”
“Maaf, aku tidak bisa antar kamu pulang. Tapi sebagai gantinya aku carikan taxi.”
“Kenapa aku tidak ikut kamu saja, aku janji tak akan mengganggu. Itung-itung mengenal kamu lebih jauh termasuk agar paham pekerjaanmu.”
Marshal tak langsung menjawab. Ia diam sembari memainkan ponsel di tangannya.
“Tidak bisa. Ehm, aku sudah selesai memesan taksi, kamu silahkan tunggu di luar.” Ternyata barusan itu Marshal sedang memesan taxi.
Dengan gusar wanita muda ini bangkit. “Tapi itunya…”
“Sudah aku bayar,” jawab Marshal yang enggan membalas tatapan wanita yang ada di hadapannya ini.
Akhirnya wanita itu bangkit meninggalkan pria berusia matang yang belum jua memiliki pasangan. Namanya Marshal Sastra. Saat kebanyakan orang memanggilnya Marshal, perempuan yang baru pertama bertemu dengannya itu nekat memanggilnya Sastra. Ia beralasan agar berbeda dengan yang lain, sehingga Marshal akan lebih mudah menerimanya.
__ADS_1
Marshal adalah founder sebuah platform menulis online yang yang tengah naik daun sekarang. Seperti namanya, ia memang sangat menyukai dunia satra. Sebelumnya ia sudah punya perusahaan penerbitan yang hingga kini masih berjalan. Menyadari bahwa saat ini pembaca mulai berganti trend dari fisik ke elektronik, sehingga ia mulai membentuk tim membuat platform membaca online semacam ini. Dan baru beberapa bulan diluncurkan, pfnya sudah mendapat tempat dihati penulis maupun pembaca. Ia berharap akan terus bisa bekerja dibidang yang disukainya.
Bersambung…