
^^^Selamat menunaikan ibadah puasa hari pertama. ^^^
...*HAPPY READING*...
Ini udah nggak bener.
Brak!
"Astagfirullah, aku harus gimana."
Dedi panik. Kalau aku ngasih tahu yang lain, sama aja aku mempermalukan mereka, tapi kalau enggak...
Aku harus gimana ya Allah?
...***...
"Sekarang tinggal elu Dik. Elu cowok, dan elu nggak boleh diem aja menjadi penikmat dan mengkambing hitamkan keadaan."
Dika frustrasi berada di posisi terdakwa seperti ini. Sementara Rina masih menangis di dalam pelukannya.
Dedi menatap Rina yang menangis di pelukan Dika. Entahlah dia menangis untuk apa. Untuk dirinya atau untuk rasa malu yang mendera.
"Gue selama ini nahan diri buat sama elu Rin, tapi kali ini nggak bisa!"
"Ded, please. Ini salah gue," ucap Dika mengiba.
"Ini akan jadi kesalahan gue juga kalau sampai gue diem saja!" balas Dedi tak mau kalah.
Satu hal yang menjadi kesamaan Dedi dan Dika. Mereka akan sangat tegas jika ada hal yang bertentangan dengan prinsip mereka. Itu lah salah satu alasan kenapa mereka bisa begitu dekat dan memahami satu sama lain.
"I know semua nggak mudah, tapi kalian harus tegas." Nafas Dedi memburu. "Menikah atau berpisah."
Bahu Rina bergetar hebat. Dedi tak mau mendengar apa-apa lagi. Ia melangkah menuju pintu.
Brak!
Dedi membanting pintu dan hendak kembali bergabung dengan yang lainnya.
Degh!
Dedi membeku saat melihat Rista berdiri di dekat tangga.
"Kak..."
Dedi segera mendekap Rista.
"Kamu sendiri?"
"Aku nyuruh mereka nunggu di atas," lirih Rista.
Dedi mengusap lembut rambut panjang gadisnya. Ia sedikit tenang karena Rista juga tahu apa yang harus diperbuat. Syukurlah. Jadi mereka tak perlu melihat drama kami bertiga.
"Kak Dedi kenapa marah?"
Sebelah tangan Dedi terkepal.
"Apa mereka..."
"Ta..." Dedi memotong ucapan Rista. Ia tak ingin membahas apa yang Dika dan Rina lakukan hingga membuatnya begitu marah.
"Apa hal yang paling ingin kamu lakukan sekarang?" tanya Dedi masih dengan posisi yang sama.
Rista menarik dan menegakkan tubuhnya.
Rista tahu kalau Dedi hanya ingin mengalihkan pembicaraan.
"Mama sering bilang kalau pengen salah satu anaknya jadi dokter. Karena kakak nggak mungkin, jadi mama berharap aku mau."
"Terus?"
Rista mendongak menatap Dedi. "Kakak tahu hobiku?"
__ADS_1
"Menyanyi?" terka Dedi.
Rista mengangguk.
"Kejar kalau itu memang cita-cita kamu."
Dedi membawa Rista menaiki tangga.
"Apa mungkin?"
"Mungkin."
Keduanya berjalan hingga tiba di bagian atas kapal dan bergabung bersama empat orang di sana.
...***...
"Aku gimana, sekarang aku gimana?" racau Rina di tengah tangisnya.
"Aku boleh tanya nggak?"
Rina mengangguk dengan wajah yang basah akan air mata.
"Sebenarnya apa sih masalahnya hingga om Reno belum mengizinkanku menikah denganmu, dan apa pula yang membuatmu ragu untuk aku nikahi?"
Rina menghela nafas.
"Papa cuma bilang, aku harus jadi wanita yang mapan, sebelum memutuskan untuk menikah. Papa nggak mau kalau sewaktu-waktu ada masalah dengan rumah tanggaku, aku akan terhempas begitu saja, tanpa bisa memilih untuk melawan atau bertahan."
Dika terdiam. Kata-kata Rina membuat otaknya berpikir keras. Bukan untuk mencerna, tapi mencari jalan keluarnya.
"Kalau kamu sendiri?"
Rina nampak ragu.
"Katakan saja apa yang ada dalam pikiran kamu."
Kata-kata Dika terdengar begitu tegas. Dika seakan tahu keraguan yang Rina rasa.
"Aku..."
"Sayang. Katakan saja. Karena cepat atau lambat aku juga pasti akan tahu."
Dika melunakkan suaranya. Dengan begini ia berharap Rina akan lebih nyaman berbicara.
Rina mengangkat wajahnya untuk dapat berhadapan langsung dengan kekasihnya.
Tangan Dika terulur untuk membersihkan lelehan air mata kekasihnya. Ia mengusap lembut hingga semua air mata tersapu bersih olehnya. Terakhir Dika menggunakan telunjuk dan ibu jarinya untuk membersihkan ingus di hidung Rina.
"Ihhh, jorok..."
Rina berusaha menjauhkan tangan Dika dari area hidungnya.
Bukannya menurut, Dika justru menahan kedua tangan Rina dengan tangan kirinya dan sebelah tangannya kembali mengelap lelehan ingus yang tersisa.
"Lebih jorok lagi kalau nggak dibersihin, terus kering, jadi upil. Masa cewek aku upilan."
"Diikkkkaaa..." Rina merengek karena malu dengan ucapan kekasihnya.
Dika menangkup wajah Rina yang sudah bersih dari ingus dan air mata. Dia tersenyum sambil menatapnya.
"Ingus kamu aja aku bersihin, apa lagi yang mau kamu tutupin?"
"Kamu bilang ya, apa yang bikin kamu ragu buat nikah sama aku."
"Aku..."
Rina menghela nafas.
"Aku nggak bisa apa-apa..."
Rina menjeda ucapannya, namun Dika masih diam saja. Ia tak ingin membuat Rina takut dan tak dapat mengungkapkan semua keraguannya.
__ADS_1
"Nggak bisa masak, nggak bisa beres-beres, nggak bisa apa-apa. Semua aku diurusin, semua aku disiapin. Aku cuma bisa ngurus badan doang, itupun masih sesekali ke salon untuk ngurus rambut, muka, badan sampai kaki."
"Aku susah bangun, aku nggak rapi, aku..."
"Aku bingung gimana cara ngurus suami," ungkap Rina akhirnya disertai helaan nafas panjang.
"Dan lagi..." Rina menghela nafas. "Aku takut hamil, aku takut kemaluanku sobek saat melahirkan."
Dika iba saat melihat mata Rina berkaca-kaca.
"Aku juga takut kalau harus menyusui bayi. Pasti rasanya nggak nyaman," ucap Rina sambil menyilangkan lengan di depan dada.
"Tapi aku yang nyusu gimana?"
Rina menatap Dika tanpa ekspresi.
Bego Dika. Kenapa mesti ngomong gitu sih? Ini kan lagi mode serius. Dika merutuki ucapannya yang tak sesuai sikon.
"Ekh, ekh, ekhm..." Dika berdehem untuk menormalkan situasi.
"Aku nikahin kamu buat jadiin kamu pendamping aku, bukan pembantu, produsen anak atau baby sitter."
"I love you just the way you are. Jadi cukup jadi diri kamu, dan cintai aku. Aku nggak bakal maksain apapun yang nggak kamu suka."
Dika menatap lekat kekasihnya, dan saat itu juga perlahan Rina mengangguk.
"Jadi mau nikah sama aku?"
"Kamu ngomong sama papa ya?"
Dika segera membawa Rina dalam pelukannya.
"Love you."
Kebahagiaan membuncah di dada keduanya.
...***...
Minum kelapa muda dengan iringan deburan ombak di tepi pantai merupakan perpaduan yang luar biasa. Kini mereka tengah menikmati wahana ciptaan Tuhan, bukan lagi wahana hasil campur tangan manusia.
Tak ada yang berani bertanya terkait perkara yang membuat Dedi murka pada sahabatnya karena nyatanya dua bersahabat ini sudah kembali bersenda gurau seperti biasa.
"Enaknya balik jam berapa entar?" tanya Dika pada ketujuh orang di sana.
"Ngikut bosnya aja lah, ya nggak?" sahut Andre.
"Oke." Dika bangkit dari tempat duduknya.
"Puas-puasin dulu di sini ya, aku ada urusan bentar."
"Oke Bos."
Dika hanya tersenyum menanggapi Andre. Ia udah lelah meminta Andre untuk tak memanggilnya bos, tapi permintaannya sama sekali tak dihiraukan.
"Sayang, aku tinggal dulu ya," pamit Dika sambik mencium puncak kepala Rina.
Rina mengangguk.
Dika berjalan menjauh dengan Dedi mengekorinya.
"Gue suka serem lihat mereka," bisik Nita pada Dian.
"Gue juga."
Dian dan Nita serempak membulatkan mata karena Rina yang tiba-tiba berada di dekat mereka bahkan turut nimbrung dalam percakapan diam-diamnya. Mereka segera memamerkan deretan gigi putihnya karena merasa tertangkap basah tengah membicarakan seseorang.
"Emmm." Dian tak tahu harus berkata apa.
"Gue nggak pernah ngebayangin sebelumnya kalau gue bakal secinta ini sama orang yang sikapnya suka berubah-ubah kaya Dika. Kadang konyol, kadang manis, kadang ramah, kadang serem, entahlah."
Dan bahkan mungkin sebentar lagi gue akan jadi istri orang aneh kaya dia.
__ADS_1
Keenam orang yang tersisa itu menikmati pantai beserta back sound deburan ombak yang membelai lembut indra pendengar mereka.
TBC