
HAPPY READING
Tanpa lebih banyak membuang waktu, Hana dan Anin segera menemui Nuke setelah bosnya ini tiba di toko. Mereka segera berpamitan setelah sempat berbincang dengan Nuke sebentar.
“Terimakasih kalian sudah mau membantu saya selama ini…” ujar Nuke pada dua wanita yang sebenatr lagi resmi menjadi mantan karyawannya ini.
“Kita yang makasih sama Mbak Nuke, karena Mbak sudah memberikan kesempatan pada kami…” ujar Hana.
“Semoga kalian sukses di luar sana…”
Nuke merangkul bergantian Hana dan Anin.
“Kami pamit Mbak…” ujar Hana.
Hana dan Anin sempat menjabat tangan Nuke sebelum berjalan meninggalkan ruangan bosnya ini. Sejak masuk tadi Anin memang lebih banyak diam. Ia seperti berat meninggalkan toko yang beberapa waktu terkahir menjadi tempatnya mengandu keberuntungan dan menggantung harapan. Anin beberapa kali nampak menyeka air matanya. Namun ke sempatan untuk menjadi karyawan Surya Group sungguh sayang untuk dilewatkan.
Hana mengajak ANin berhenti saat keduanya sudah beada di luar ruangan Nuke. “Jangan nangis dong,” ujar Hana sambil mengusap punggung rekan kerjanya ini.
Anin hanya mengangguk dan pasrah kala Hana membimbingnya untuk berjalan lagi. Di luar Haning, Risma dan Eka sudah menunggu kemunculan keduanya. Dan ketika keduanya muncul, Haningyang paling terdepan menyambut keduanya dengan pelukan. Ia menangis tersedu-sedu layaknya anak kecil yang baru saja kehilangan mainan.
“Kalau kalian nggak ada, siapa yang bakal aku kerjain…” ujar Haning di sela tangisnya.
“Jahat banget sih Mbak…” ujar Hana yang masih berusaha tertawa.
Haning masih sesenggukan disusul Anin yang akhirnya menumpahkan air mata yang sejak di dalam sudah ia tahan.
“Kamu juga Nin, kalau kamu nggak di sini siapa yang bakal aku bully. Mereka berdua nggak sepasrahan kamu kalau aku kerjain…” Haning masih meracau mengabsen kelakuan buruknya selama ini.
Mungkin kalau tak seperti ini suasananya, sekarang Eka sudah menjitak Haning karena akhirnya ia mengaku juga kalau sering semena-mena terhadap rekan kerjanya.
Anin dan Hana tak lagi menjawab. Eka dan Risma pun turut bergabung memeluk dua rekannya yang baru saja mengundurkan diri ini.
“Sudah, sudah. Kita kan masih bisa sering bertemu atau jalan bareng…” Hana yang paling bisa menguasai diri segera mengurai kesedihan yang tercipta diantara mereka. Kelima orang wanita ini perlahan mengendurkan dekapan.
“Nangisnya sudah ya. Sekarang kita harus mengangkat wajah dan menatap masa depan. Pokoknya keep in touch dan jangan sampai lost…”
Adegan nangis-nangis berubah seketika dan kini keempat wanita ini kompak menatap Hana dengan wajah masam.
“Kalau mau jadi bule pas sama pak Andre saja Han, jangan sama kita,” ujar Haning yang paling jelas terlihat wajah kesalnya.
“Sudah tahu kita nggak ngerti, masih nekat saja ngomong pake bahasa alien,” imbuh Eka.
Hana tertawa geli mendapat reaksi seperti ini. Tahu gitu dari tadi saja kaya gini. Jadi nggak ada acara nangis-nangis dan pelukan teletubbies.
__ADS_1
“Ya sudah. Kita pamit ya…” ujar Hana sekali lagi, karena semakin mereka menunda kepergiannya, semakin tertunda pekerjaan ketiga mantan rekan kerjanya ini.
“Kamu mau ke mana Han?” tanya Risma saat ingat Hana belum punya tempat tinggal.
“Aku mau mengantar Anin ke Surya Group, ” Hana menghela nafas sehingga membuat ujarannya terjeda. “Setelah itu aku belum punya rencana,” ujarnya diakhiri cengiran yang menampakkan deretan gigi putihnya.
“Kamu kalau mau, kamu bisa tinggal di kosku dulu…” tawar Risma sambil menyerahkan kunci kamarnya.
“Makasih Ma. Nanti malam saja aku ke tempat kamu untuk mengembil beberapa barang.”
“Kamu boleh mengambilnya sekarang.” Risma masih berusaha menyerahkan kuncinya.
“Nanti malam saja Ma. Aku masih ingin menemui…," menggaruk pelipisnya karena mendadak kehilangan ide. "Kakakku,” lanjut Hana dengan suara pelan. Benar Rio yang ingin coba ia temui, tapi mengakuinya sebagai kakak sungguh bukanlah hal yang mudah.
“Oh, ya sudah. Semoga masalah kamu cepat terselesaikan,” ujar Risma menyemangati.
Hana mengangguk. Ia memeluk singkat ketiga rekannya yang masih bertahan untuk bekeja di toko ini. Setelahnya ia menunggu Anin yang nampaknya masih cukup berat meninggalkan tempat ini. Karena bagaimana pun juga ia sudah bekerja di tempat ini bersama tiga orang lainnya jauh sebelum ia datang.
“Ayo. Kamu harus tiba di kantor sebelum jam sepuluh kan?” ujar Hana mengingatkan.
Anin mengangguk. Ia kemudian memeluk lagi ketiga rekan kerjanya sebelum berjalan bersama Hana menuju mobil Andre yang masih ia gunakan hingga sekarang.
Tin tinn!
Hana membunyikan klakson untuk membalas lambaian tangan dari ketiga rekannya. Kemudian, ia segera menginjak pedal gas meninggalkan Spark Shop beserta sejumlah pengalaman berharga yang ia dapat selama bekerja di sana.
Anin mendengarkan apa yang baru saja Hana katakan. Ia segera mencari-cari tissue di dalam tasnya untuk membersihkan wajahnya dari jejak air mata yang berhasil membuat kacau penampilannya. Setelah ia yakin wajahnya telah bersih, Anin kemudian mengambil bedak dari dalam tasnya. Saat jemari Anin membuka bedak itu, Hana langsung tahu jika shade yang Anin gunakan tak sesuai dengan tone kulit wajahnya.
“Jangan pakai itu…” cegah Hana saat Anin hendak mengaplikasikan bedak itu di wajahnya.
“Kenapa?” tanya Anin yang tak paham kenapa Hana tiba-tiba mencegahnya.
“Itu akan membuat kulitmu nampak kusam,” jelas Hana.
“Kenapa emang. Ini merk termahal yang pernah aku beli.”
“Bukan masalah mahal atau tidak mahal, tapi masalah pemilihan shade yang tak sesuai. Jadi bedak mahal pun bukannya menyempurnakan penampilan namun justru membuatnya kian kacau.”
“Terus gimana?” Anin memandangi bedak yang segelnya pun baru dibuka ini.
“Pakai punyaku saja. Tone kulit kamu hampir sama denganku.”
“Masa iya sih…?” Anin membuka lagi bedak itu dan memperhatikan kenampakan wajahnya dari pantulan cermin di dalamnya.
__ADS_1
“Iya Nin. Coba lihat sisi lengan bagian dalam kamu.”
Anin mengecek lengannya. Hana kemudian mengulurkan lengannya dan membiarkan Anin membandingkannya.
“Kok hampir sama sih…” ujar Anin kala membandingkan warna kulitnya dengan Hana. Namun yang membuatnya berbeda adalah kulit Hana benar-benar terasa halus saat ia tak sengaja menyentuh. Berbeda dengan kulitnya yang nampak kering dan terasa kasar.
Hana segera menarik lengannya karena ia sedang menyetir sekarang. “Emang hampir sama Nin. Aku bilang juga apa…”
“Tapi bagian ini kan memang paling jarang kena matahari Han, makanya warnanya bisa secerah ini.”
“Iya, tapi dari sana kita bisa melihat tone asli kita dan menentukan shade yang pas untuk memilih make up,” jelas Hana.
“Tapi kamu kan putih banget Han, apa aku nggak buluk kalau pake punya kamu.”
“Malam itu kelihatan buluk nggak?” tanya Hana.
“Enggak sih. Berasa jadi Cinderella tahu nggak,” ujar Anin dengan wajah berbinar.
Hana tersenyum. “Ya sudah, nanti biarkan aku menjadikan kamu Cinderella di hari pertama kamu kerja.”
“Makasih Hana…”
“Sama-sama Anin…”
Hana melanjutkan perjalanannya dengan sesekali mengobrol dengan Anin. Ponselnya masih tenang sejak terakhir Andre menghubungi tadi pagi. Memang yang tahu nomer Hana ini hanya Andre dan mantan rekan kerjanya di spark shop saja. Jadi tak ayal jika tak ada siapa pun yang menghubunginya hingga sekarang karena dapat dipastikan Andre juga tengah sibuk dengan pekerjaannya.
“Kamu di kantor mana Nin?” tanya Hana untuk memastikan kemana ia harus mengantar.
“Di kantor pusat Han. Aku di tunggo nona Rista di sana…”
Hana menelan ludah. Kenapa harus kantor pusat? Kenapa dari sekian banyak cabang, harus kantor ini yang Anin tuju.
“Kenapa Han? Apa terlalu jauh?” tanya Anin saat melihat air muka Hana berubah.
Hana menggeleng dan berusaha tersenyum tenang.
“Kalau kamu sibuk, turunin saja aku biar aku ke sana naik taksi,” ujar Anin segan.
“Emang kesibukan apa yang dimiliki pengangguran seperti aku…” kata Hana dengan tawa di wajahnya.
“Ya kali…”
Hana kembali mengulas senyum. “Ya sudah. Kita berhenti sebentar kali ya, buat beresin make up kamu…”
__ADS_1
“Boleh…”
Bersambung…