
HAPPY READING
“Rahma belum kembali?” tanya Andre yang tiba-tiba muncul dari salam ruangannya dan menghampiri kedua stafnya.
Hal ini sontak membuat Elis terkejut karena sejak tadi ia masih sibuk memperhatikan Dedi yang nampak berbincang dengan seorang wanita cantik. Tepat setelah kemunculan Andre, Rahma tiba-tiba datang dan berjalan seperti zombie menuju tempat mereka.
Andre meletakkan dengan kasar dokumen yang semua ia pegang di atas meja kerja Elis sehingga membuat sang pemilik meja terjingkat saking terkejutnya. Ia kian terkejut lagi saat mendapati Andre menatap tak suka ke arah rekan kerjanya.
Loh, kok pak Andre kayak marah. Perasaan Rahma nggak lelet-lelet banget kerjanya. Duh, kasihan Rahma dong. Sudah hatinya hancur melihat pak Dedi datang dengan wanita, sekarang ia bahkan harus kena marah pak Andre juga. Batin Elis dalam hati.
Mata Elis terbuka lebar saat melihat Andre berjalan melewati Rahma dan terlihat menarik wanita yang sedang terlihat sebuah pembicaran dengan Dedi segera ke dalam pelukannya. Meski akhirnya wanita itu nampak melepaskan diri, namun Elis sangat yakin jika Andre tadi benar-benar memeluknya meski tak lama.
“Kenapa kamu nggak bilang kalau mau ke sini…” ucap Andre pada Hana
Setelah adegan Andre melepas paksa tangan Hana yang memegangi Dedi, ia ganti memegangi tangan wanita ini. Ia nampak tak senang dengan kemunculan dua orang ini secara bersamaan.
“Karena kamu sudah datang, aku mau ijin pinjam ruangan.” Dedi kembali melangkah meninggalkan sejoli ini.
“Kenapa? Di ruang bos nggak ada siapa-siapa,” ujar Andre yang paham jika rekannya ini mengira ada Rista di ruangan Dika.
Dedi urung berbelok dan memilih lurus menuju ruangan bosnya. Dan kelakuan Dedi ini dihadiahi dengusan oleh Andre yang masih bertahan di samping Hana.
“Dasar batu…” kesal Andre sebelum kembali memandangi kekasihnya yang sama sekali tak ia sangka akan muncul di kantornya.
“Kamu tadi kenapa bisa sama dia, bukannya nyari aku juga?” lanjut Andre menanyai Hana.
“Aku sudah berusaha hubungin kamu Ndre, tapi nggak kamu angkat sama sekali. Cek aja kalau nggak percaya. Entah sudah berapa puluh kali aku coba nelfonin kamu...” Hana menjelaskan agar kekasihnya ini tak marah karena ia sama sekali tak berminat melihat Andre dalam kondisi marah.
Andre sedikit merendahkan tubuhnya untuk dapat melihat lebih jelas wajah Hana. Ia kemudian mencium begitu saja pipi Hana yang langsung dihadiahi pelototan oleh kekasihnya.
“Ehm…”
Spontan Hana mendorong Andre saat tiba-tiba terdengar suara deheman dari jarak yang begitu dekat.
“Kakak, ini di kantor ya…” lanjut pendehem yang ternyata adalah Rista ini.
__ADS_1
Di sisi lain Elis yang semula menertawakan kemirisan nasib rekannya kini dibuat tak berkedip dengan pemandangan yang nampak jelas dalam jangkauan matanya. Di tempatnya, Rahma juga melihat adegan ini. Ia kemudian menatap Elis yang wajahnya berubah hancur seperti dirinya.
Selepas beradu tatap, Elis dan Rahma kembali melihat pemandangan yang berhasil mengombang-ambing hati mereka.
Riza tak mau ambil bagian kali ini. Biarlah kedua rekannya larut dalam dilema. Nanti kalau sudah selesai, baru ia akan menasehati layaknya sahabat untuk keduanya.
Tiga staf ini memang tak mendengar jelas apa yang para atasannya ini bicarakan, namun dari melihatnya saja mereka sudah bisa menafsirkan jika mereka sudah cukup mengenal dan dekat satu sama lain.
“Ini kantor Kak. Lihat tuh staf kamu, matanya sudah mau keluar semua gegara kamu suguhin adegan tak senonoh di tempat kerja seperti ini.” Rista menunjuk Elis dan Rahma yang belingsatan karena ketahuan Rista tengah memperhatikan Andre dan Hana.
“Ya kan kalian dulu, akh…”
Untung tangan Hana bergerak dengan cepat, mencubit bagian tubuh Andre yang mana pun asal pria ini tak kelepasan membicarakan yang macam-macam tentang Rista.
Rista menatap seakan menagih Andre melanjutkan ucapannya.
“Emm, Rista maaf. Apa Anin sudah menemui kamu, tadi aku yang antar dia, tapi pas dia masuk malah ponselnya ketinggalan,” jelas Hana sambil menunjukkan ponsel Anin yang sejak tadi di pegangnya.
“Sudah tadi di bawah…” jawab Rista.
“Mau kemana?” Andre menahan Hana yang hendak berlalu.
“Saya masih ada urusan,” bohong Hana. Bagaimana mungkin pengangguran yang baru kehilangan pekerjaan seperti dirinya bisa punya urusan sehingga tak ada waktu barang sebentar untuk sekedar mampir sesaat.
“Aku antar ya…” Andre mengajak Hana segera berjalan namun tiba-tiba langkahnya terpaksa ditahan lagi.
Setelah berhasil menghentikan langkah dua sejoli ini, Rista menarik Hana membuat wanita ini terlepas dari Andre saat itu juga.
"Kita masuk dulu," uja Rista sambil membawa Hana berjalan melewati jajaran staf sekertaris yang dua diantara ketiganya masih dalam mode memandangi Hana.
“Apa kalian sudah bosan bekerja?” sarkas Andre yang kini berhenti di dekat para stafnya. Jelas sekali pekerjaan di depan Elis dan Rahma masih menggunung di hadapannya, namun bukannya bekerja, mereka malah nampak melamun dan memperhatikan Hana.
Rahma dan Elis menggeleng dan segera meraih apa pun seakan tengah mereka kerjakan. Andre mengetuk-ngetuk dengan telunjuk dokumen yang ia bawa tadi di depan Rahma sebagai perintah untuk segera di selesaikan. Ia kemudian berjalan menyusul Dedi dan kedua wanita cantik yang baru saja masuk ke ruangan bosnya.
Setelah Andre menghilang, Elis meletakkan apa pun yang ia pegang dan beralih mencengkeram erat kepalanya. “Gue nggak bisa mikir. Sumpah otak gue buntu.”
__ADS_1
“Sama,” balas Risma dengan wajah mengenaskannya.
“Kalian cuci muka saja dulu, setelah itu segera kembali ke sini untuk melanjutkan pekerjaan,” saran Riza.
Rahma dan Elis tak punya pilihan selain menuruti saran seniornya ini. Mereka berjalan beriringan ke kamar mandi untuk membasuh wajah agar kesadaran mereka segera kembali.
“Jadi ini gimana?” tanya Elis saat keduanya sudah berada di kamar mandi.
“Wanita tadi sebenarnya dekat dengan siapa? Pak Andre apa pak Dedi. Nggak mungkin kan dekat dengan keduanya. Kalau iya enak bener dia nggak bagi-bagi…” ujar Rahma meracau sendiri.
Elis menatap tanpa urat. Ia hanya mendengarkan rekannya mengoceh sendiri tanpa minat. Ia mengajukan pertanyaan, kemudian di jawab. Setelah selesai dijawab kemudian dipatahkan. Apakah tak mirip orang gila jika seperti ini?
“Tapi sepertinya wanita tadi punyanya hubungan sama pak Andre deh. Lihat sendiri kan tadi pak Dedi langsung pergi begitu pak Andre datang.”
Wajah Elis berubah seketika. Jelas sekali ia tak terima dengan pikiran Rahma yang sama sekali tak menguntungkan dia ini.
“Eh tapi situ nggak lupa kan gimana pak Dedi dan wanita tadi pegangan tangan,” balas Elis yang masiih berusaha melepaskan tali yang mungkin mengikat atasannya, meski itu hanya sebatas di pikirannya saja.
“Tapi pak Andre tadi kayak nyium tuh wanita deh, eh aku pernah bertemu dengan wanita itu di sebuah acar makan malam yang pak Andre adakan." Rahma menghela nafas dan menundduk setelah mengingat satu fakta tambahan. "Tapi di sana ada pak Andre dan Nona Rista juga,” lanjut Rahma saat mengingat pertemuannya dengan Hana saat diminta mengantarkan obat Andre yang ketinggalan malam itu.
“Tapi bukan berarti mereka ada hubungan khusus kan. Lagian tadi kayaknya bukan lagi nyium deh. Lebih mirip kayak sedang berbisik.” Elis masih berusaha menyangkal pikiran jika atasannya sedang dekat dengan perempuan.
“Tapi intinya perempuan tadi lebih mungkin dekat dengan pak Andre ketimbang pak Dedi,” balas Rahma.
Elis menyerah. Ia mendesah dan menyalakan kran untuk mengambil air yang ia harap akan menjernihkan pikiran saat air itu menyentuh wajahnya.
“Meski perempuan tadi bukan pacar pak Dedi, tapi bukan berarti kamu juga yang akan menjadi tambatan hati pak Dedi,” ujar Elis yang tak rela jika temannya bahagia sementara ia akan terluka.
“Ya aku memang sudah ditolak, tapi setidaknya aku nggak akan menyesal karena terus memendam perasaan…”
"Hallah. Intinya takdir kita berada jauh dengan mereka."
Rahma pun melakukan hal yang sama dengan yang Elis lakukan. Kedua wanita ini segera membenahi riasannya sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.
Bersambung…
__ADS_1